Rhama Dan Cinta

Rhama Dan Cinta
Tidak Kusangka


__ADS_3

Mei menatapku heran. “Mengapa kau terkejut sekali seperti itu?” tanya Mei.


“Hmmmhh ….” Sebenarnya aku pun juga berpikir mengapa aku tiba-tiba melonjak kaget. Tapi, kemudian dengan segera aku mengatakan, “Aku hanya terkejut saja jika ada pria yang menyukai gadis cerewet itu.”


“Gadis cerewet,” ucap Mei.


“Ya, aku menyebutnya gadis cerewet. Dia itu begitu menyebalkan, ganas, kasar seperti pria. Jadi, aku heran dan terkejut saja jika ternyata ada pria yang mau menyukainya.”


Mei diam, sedangkan aku terus melanjutkan ucapanku, “Aku pikir tidak akan ada pria yang menyukainya.”


“Sepertinya kau begitu mengenalnya,” ucap Mei dengan nada bicara sedikit berbeda dari sebelumnya.


“Aku terpaksa mengenalnya,” ucapku. “Sebenarnya dulu aku tidak ingin mengenalnya, tapi keadaanlah yang membuatku terpaksa harus mengenalnya.”


“Perempuan yang kau gendong saat upacara itu ….” ucap Mei. “Perempuan itu adalah dia, bukan?”


Aku menatap ekspresi Mei sesaat. Raut wajahnya tampak serius.


“Ya, saat itu dia pingsan, sedangkan petugas PMR sudah tidak ada lagi di lapangan. Jadi, aku tak sempat berpikir apa-apa lagi, aku spontan begitu saja menggendongnya ke UKS,” jelasku.


“Kau tidak menyimpan perasaan padanya, bukan?” tanya Mei dan aku tertawa seketika.


“Tentu saja aku tidak punya perasaan apa-apa padanya. Aku menganggapnya biasa-biasa saja,” jawabku.


“Mengapa kau bisa berpikir aku punya perasaan padanya dan mengapa kau mengira dia berpacaran dengan lelaki itu?” ucapku.


“Lelaki itu … Reno,” ucap Mei. “Aku mengenalnya. Dia teman Alvin. Setahuku dia tak pernah mempedulikan gadis mana pun. Dia selalu dingin dan bersikap cuek pada setiap perempuan karena dia tak suka dipusingkan dan direpotkan oleh urusan perempuan. Dia lebih suka bersenang-senang bersama teman-teman prianya, selalu menganggap dirinya paling hebat, dan selalu meremehkan perempuan … menganggap perempuan tidak penting.”


“Tapi, yang baru saja kulihat tadi sangat berbeda. Tak pernah kulihat Reno bersikap seperti itu pada wanita manapun sebelumnya. Sepertinya ia begitu ceria, meskipun gadis itu tak begitu mempedulikannya,” jelas Mei.


“Maksudmu Reno seperti sedang berusaha mendekati gadis cerewet itu?” tanyaku.


“Lebih dari itu,” ucap Mei. “Sepertinya gadis itu begitu spesial bagi Reno. Mungkin mereka sudah berpacaran.”


'Tidak mungkin,' gumamku dalam hati. 'Tidak mungkin gadis cerewet menerima cinta Reno begitu saja. Mereka baru kenal. Tidak mungkin itu terjadi,' ucapku dalam hati.


'Tidak mungkin,' ucapku berkali-kali seakan tidak terima dengan kemungkinan kenyataan yang diungkapkan Mei.

__ADS_1


'Ada apa dengan diriku?' tanyaku. 'Mengapa aku tak berhenti memikirkan gadis cerewet itu, bahkan saat sedang bersama Mei,' ucapku dalam hati begitu Mei turun dari mobilku.


'Apa karena aku merasa bersalah padanya, makanya aku selalu teringat padanya dan pikiranku terus memunculkan dirinya? Apa semua itu karena aku merasa bersalah,' pikirku.


'Lebih baik aku segera menemuinya sekarang,' batinku. 'Agar semuanya tak menjadi berlarut-larut.'


Oleh karena itu, usai mengantar Mei pulang, aku tak langsung pulang ke rumahku. Tapi, aku bergegas pergi ke rumah gadis cerewet itu untuk menemuinya.


“Ada apa kau ke sini?” tanya gadis cerewet dengan ketus dan sedikit terkejut ketika membukakan pintu untukku.


“Aku ingin … hmm, aku ingin ….” Berat sekali rasanya bagiku hanya untuk mengatakan aku ingin meminta maaf padanya.


“Hakh, kau membuang-buang waktuku saja,” ucapnya seraya menutup pintu rumahnya kembali.


“Hei, kau ….” ucapku segera. “Kau tidak sopan sekali, menutup pintu untuk tamu begitu saja.”


“Aku tidak punya banyak waktu untukmu,” ucapnya lantang dari dalam rumah.


“Dengarkan dulu!” teriakku. “Aku tahu aku salah padamu. Karena itu, aku ke sini. Aku ingin minta maaf padamu.”


“Kau tahu apa salahmu?” Gadis cerewet itu kembali membukakan pintu. Aku terdiam.


“Kau tak perlu memberikan sedikitpun harapan padaku. Harusnya kau tak perlu menulis surat seperti itu dan memberikannya padaku. Aku pun tak akan mengemis padamu jika sebelumnya kau tak menjanjikan ingin mengajariku.” Gadis cerewet itu meluapkan amarahnya.


Aku pun teringat pada isi surat yang kutulis untuknya. Di sana aku menulis akan mengajarinya jika ada pelajaran yang tidak ia mengerti, namun aku tak menepatinya.


“Aku tak pernah memintamu untuk menjanjikan apapun padaku. Kau ingat dan tahu itu,” ucapnya. “Kau sendiri yang menawarkan ingin membantuku, aku tak pernah meminta sebelumnya. Tapi, kenyataannya omong kosong. Ternyata, kau hanya basa basi padaku. Harusnya aku menyadari itu sejak awal. Aku memang bodoh … percaya padamu, mempermalukan diriku sendiri di depanmu dan di depan gadis itu.”


Aku sama sekali tak bermaksud seperti itu,” ucapku.


“Kau tak mengerti,” ucapnya segera.


Memang tak ada yang pernah mengerti perasaan Mimi. Ia terlalu keras, namun juga begitu rapuh. Seumur hidupnya –dari lahir hingga kini- ia selalu berusaha untuk tidak bergantung pada orang lain. Ia selalu berusaha untuk tegar, untuk kuat, untuk selalu bertahan apapun yang terjadi. Namun, jauh di lubuk hatinya ia begitu merindukan perhatian dan kasih sayang dari orang lain.


Ketika aku memberikannya janji untuk mengajarinya, ia menanggapinya dengan serius. Aku pun sebenarnya serius dengan apa yang kutuliskan dalam surat itu. Aku benar-benar ingin mengajarinya. Tapi, situasi dan waktunya saja yang tidak tepat.


“Aku bersungguh-sungguh saat berjanji padamu. Aku benar-benar ingin membantumu, hanya saja kemarin aku benar-benar tidak bisa.”

__ADS_1


“Kau pikir hanya itu kesalahanmu?”


Aku terdiam.


“Kau sudah menghancurkan kertas bertuliskan nomor ponsel ibuku. Kesalahanmu terlalu banyak dan terlalu berat untuk dimaafkan.”


“Hahh!” Aku pun teringat pada kertas bertuliskan nomor ponsel ibunya dan khayalanku pun buyar seketika.


Ternyata, aku masih di sini, di dalam mobilku yang terparkir di depan rumahnya. Aku belum turun dari mobilku dan secuilpun belum meminta maaf padanya. Ternyata, semuanya hanya bayangan dari kecemasanku. Aku terlalu cemas dan khawatir ia tak mau menerima permintaan maafku.


Tapi, bagaimanapun juga, apapun yang terjadi aku tetap harus mencoba meminta maaf padanya. Karena itu, aku turun dari mobilku, berjalan menuju pintu rumahnya.


“Tokk! Tokk! Tokk!” Aku mengetuk pintu rumahnya. “Tokk! Tokk! Tokk!”


Tak lama kemudian ia membukakan pintu untukku seraya berkata, “Ada apa kau ke sini?”


“A … Aku ingin minta maaf padamu,” ucapku dengan wajah yang tiba-tiba langsung memerah.


“Tidak perlu,” ucapnya segera.


“Hahh!” Aku mendadak cemas. “Seperti dugaanku … ia benar-benar tak mau memaafkanku,” pikirku.


“Tapi, aku bersungguh-sungguh ingin meminta maaf padamu,” ucapku bersikeras.


“Sudah kubilang tidak perlu. Kau tidak punya salah apapun padaku.” Ucapannya membuat mataku terbelalak.


“Kau baik sekali,” gumamku tak percaya. “Bagaimana bisa memaafkanku begitu saja?”


“Hakh, sudahlah. Aku tak punya banyak waktu untukmu. Aku sedang memasak,” ucapnya ketus.


“Krookk!” Perutku berbunyi saat aroma sedap tercium di hidungku dan ia mendengarnya. “Aku belum makan siang,” ujarku pelan.


“Hufhh ….” Ia menarik nafasnya panjang. “Masuklah!” ucapnya kemudian.


“Sungguhkah?” ucapku. Tak kusangka ia memperbolehkanku memasuki rumahnya. Kupikir ia akan mengusirku. Karena itu, aku bergegas masuk ke rumahnya dan duduk di kursi ruang tamu.


Aroma sedap masakan pun semakin menusuk hidungku. “Ternyata ia pintar memasak,” gumamku dalam hati. “Benar-benar tak kusangka.”

__ADS_1


__ADS_2