Rhama Dan Cinta

Rhama Dan Cinta
Terjebak Rasa


__ADS_3

Aku agak tersentak dengan pertanyaan mama yang begitu to the point. Lalu, sambil menyalimi tangan mama aku menjawab, "Di rumah temanku."


"Teman yang mana? Pria atau wanita?" tanya mama lagi.


"Wanita," jawabku jujur.


"Berarti benar ucapan Pak Yuta." Mama terceplos dan aku menghentikan langkahku untuk menuju kamar.


"Tadi mama menelepon Pak Yuta. Mama pikir kau belajar bersama beberapa temanmu dan akan merepotkan Pak Yuta. Ternyata kau belajar bersama hanya dengan satu temanmu dan dia ... seorang wanitaaa."


"Dan, yang sangat mengejutkan dia bukan Mei. Pak Yuta bilang namanya Mimi. Sejak kapan Mei berubah nama menjadi Mimi? Mama pikir itu pasti Mei, kau pasti belajar bersama Mei."


"Namun, kata Pak Yuta rumahnya tak jauh dari sekolahmu. Sedangkan, mama tahu ... rumah Mei cukup jauh. Mama tak percaya kau belajar bersama gadis lain, bukan Mei."


"Aku memang tidak belajar bersama Mei, Mama." Ucapanku menghentikan semua ocehan kepanikan mama.


"Apa Mei tahu? Mengapa kau belajar berdua saja dengan gadis itu? Mei akan cemburu," ucap mama.


"Hmmmh...." Aku tersenyum. "Mama, aku dan Mei sudah putus. Hubungan kami sudah berakhir."


"Appppaaa??!" Mama begitu histeris. Mulutnya menganga lebar.


Aku memutuskan untuk melanjutkan langkahku menuju ke kamar. Sedangkan, mama bergumam, "Tidak mungkin. Bagaimana bisa?"


Aku terus berjalan dan mama langsung menggiring langkahku menuju ke kamar. la protes padaku, "Mengapa kalian putus, Rhama?"


"Sejak kapan hubungan kalian berakhir? Bukankah kau begitu menyukai Mei?"


"Pagi tadi mama baru saja ke butik ibunya. Tapi, ibunya tidak mengatakan apapun. Ia bahkan memujimu," cerocos mama.


Aku terdiam dan dahiku berkerut. "Untuk apa Mama menemui Ibu Mei?"


"Mama pikir hubunganmu dengan Mei akan cukup serius. Jadi, mama ingin mengenal keluarganya lebih jauh. Mama sengaja memesan sebuah kebaya pada ibunya agar mama punya alasan untuk bertemu dengannya." Ucapan mama membuatku menepuk dahi dan dalam sekejap ingatan mama melayang pada kejadian pagi ini.


Mama minta dirancangkan sebuah kebaya yang elegan pada Ibu Mei. Sambil mengambil ukuran badan mama berceloteh, "Aku lihat di atas meja Anda ada foto seorang anak perempuan. Apa itu anak Anda?"


Ibu Mei mengangguk. "Ya."


"Senangnya punya anak perempuan yang cantik," ucap mama. "Aku hanya punya seorang anak laki-laki. Namanya Rhama, sekarang dia kelas 3 SMA."

__ADS_1


"Rhama?" gumam Ibu Mei sambil sedikit mengernyitkan dahi.


"Iya," jawab mama. "Dia bersekolah di SMA Negeri 13."


"Ahh, itu sekolah yang sama dengan sekolah anakku," ucap Ibu Mei segera.


"Ohhhh, kebetulan sekali," seru mama dengan ekspresi terkejut. "Jangan-jangan anak kita saling mengenal. Anakku berada di kelas 3 IPA 1. Siapa nama anak gadismu?"


"Mei," jawab Ibu Mei. "Dia juga kelas 3 IPA 1."


"Ahhh... hahaha... hahhaha... ternyata Anda ibunya Mei. Anakku sangat sering menceritakan Mei padaku. Dia sangat menyukai Mei. Tak kukira kita akan bertemu di sini," ucap mama berpura-pura baru tahu kenyataan sebenarnya.


Sedangkan, Ibu Mei berekspresi senang sambil berkata, "Ohhhh... Anda ibunya Rhama. Tak kusangka kita akan saling mengenal seperti ini. Anak kita cukup dekat." Dan, obrolan mereka pun berlanjut dengan saling memuji anak. Mama sangat memuji Mei dan sebaliknya, Ibu Mei juga memujiku.


"Mengapa hubungan kalian belum seumur jagung sudah berakhir?" tanya mama padaku lagi dengan ekspresi kecewa.


"Ibu Mei orang yang sangat baik dan berpendidikan. Mei itu bibit unggul, calon menantu idaman setiap ibu-ibu," ucap mama menggebu-gebu. Sedangkan, aku hanya diam dan terduduk di kasur kamarku.


Kemudian, tak lama mama bertanya padaku, "Apa Mei mencampakkanmu, Rhama?"


"Apa ia tak mencintaimu? Apa kau bertepuk sebelah tangan?"


"Lalu, mengapa?"


"Aku rasa kami tidak cocok," jawabku.


"Aaaahh... hubungan kalian baru hitungan hari. Wajar jika masih banyak terdapat ketidakcocokan. Seiring waktu kalian akan saling memahami dan tak terpisahkan," ucap mama.


"Sebaiknya kau segera memperbaiki hubungan dengannya. Mama yakin dia masih akan menerimamu," bujuk mama.


"Tidak, Mama. Aku tidak bisa," tolakku dengan tegas.


"Mengapa?" desak mama.


Aku diam sejenak. Lalu, aku bersuara, "Aku tidak mencintainya lagi."


Mama terbengong dengan mulut yang menganga. Bahkan, aku harus mengguncang tubuh mama untuk menyadarkannya. Mama menutup mulutnya dengan kedua tangan kemudian perlahan ia berkata, "Bagaimana bisa?"


"Bagaimana secepat itu kau bisa berkata seperti itu, Rhama?"

__ADS_1


"Apa Mei melakukan kesalahan yang tidak kau sukai?"


Aku menggeleng. "Dia tidak salah apa-apa, Mama. Dia pantas mendapatkan laki-laki yang lebih baik, cinta yang lebih tulus."


"Apa maksudmu?" tanya mama segera.


Aku terdiam sejenak. Mama terus menatapku, menunggu jawaban dari bibirku. Lalu, dengan berat hati aku berkata, "Aku baru menyadari ternyata aku tak benar-benar mencintainya, Ma. Itu hanya sebuah kekaguman."


Mama terdiam. Aku lanjut menjelaskan, "Seperti anak kecil yang melihat mainan bagus luar biasa dan begitu menggebu-gebu sangat ingin memilikinya. Namun, setelah memilikinya untuk beberapa waktu, semuanya menjadi terasa biasa saja."


"Dan, anak kecil menginginkan mainan yang baru," lanjut mama dengan tegas.


"Kau menyukai gadis lain? Ada gadis baru dalam hidupmu?" Pertanyaan mama begitu menohokku dan akhirnya aku pun mengangguk pelan.


"Itu Mimi?" tanya mama lagi.


Lagi-lagi aku mengangguk dan membuat mama tercengang untuk kesekian kalinya.


"Mama tak percaya... semudah itu kau berpindah hati. Kau tidak setia, Rhama," ucap mama.


"Seorang Rama selalu setia pada Sinta," tambah mama. "Mama memberikanmu nama Rhama agar kau menjadi pria yang bertanggung jawab, ksatria hebat, setia dan pemberani."


"Mungkin Mei bukanlah Sinta untukku, Ma," ucapanku menghentikan semua ucapan mama dan ia terdiam. Lalu, mama berdiri, berjalan ke luar kamar, meninggalkanku.


Aku tahu mama kecewa dengan keputusanku. Tapi, ini hidupku. Aku tak bisa berpura-pura terus mencintai Mei. Perasaanku padanya sudah hilang, semua terasa hambar. Aku merasa ia bukanlah cinta sejatiku. Sangat berbeda dengan perasaanku pada Mimi.


Aku menyukainya meskipun ia bukan siapa-siapa. Entah apa yang membuatku tergila-gila padanya? Perasaan itu sukar untuk dideskripsikan. Tapi, seperti ada magnet yang terus-menerus menarikku untuk mendekat padanya. Kini aku mengerti mengapa pujangga sering mengatakan cinta itu buta. Karena, saat ini aku mengalaminya.


Aku tak peduli apapun penilaian orang tentang Mimi. Aku sudah terperosok dan tak ingin keluar dari perasaan ini. Ada rasa bahagia dan getaran hati yang tak bisa kuungkapkan saat aku bersama Mimi. Dia membuat jiwaku menjadi lebih hidup dan itu tak kurasakan saat bersama Mei atau dengan gadis-gadis lainnya.


'Aku mencintainya,' gumamku dalam hati saat merebahkan setengah tubuhku ke kasur.


Sementara itu, di kamar mama terlihat cukup kesal. "Bagaimana bisa Rhama melepaskan Mei begitu saja?" gumam mama. "Seperti apa sebenarnya sosok Mimi?"


Tiba-tiba terlintas di otak mama, 'Mungkin dia lebih cantik, lebih anggun, lebih pintar, dan lebih baik dari Mei.'


"Ya," gumam mama. "Dia pasti lebih segalanya dari Mei. Sehingga, dengan mudahnya Rhama berpaling."


"Aku sangat penasaran dengan gadis itu."

__ADS_1


Sehingga, keesokan harinya untuk menjawab rasa penasarannya mama mencari rumah Mimi.


__ADS_2