
Aku berjalan mendekatinya hingga sampai di hadapannya. Kami bertatapan. Hatiku bergetar. Kemudian, aku berkata, "Aku harus segera memutuskan ... untuk berusaha melupakanmu atau terus mempertahankan memoriku bersamamu."
Mimi hanya diam dan masih mengernyitkan dahi. Otaknya yang kecil mungkin tak mampu mencerna maksud ucapanku. Sehingga, aku menegaskan, "Akhir-akhir ini kau membuatku tersiksa dengan sikapmu. Aku terus menanti penderitaan ini berakhir. Sekarang kau harus jujur dan tegas padaku... sebenarnya kau memiliki perasaan padaku atau tidak? Apakah aku punya kesempatan untuk ada di hatimu?"
"Kau harus menjawabnya. Aku... tidak mau terombang-ambing dalam kegalauan ini. Jika aku punya kesempatan, aku akan bertahan walaupun sulit. Jika tidak, setelah ini maka aku akan berusaha keras untuk benar-benar melupakanmu, menghilang dari hidupmu, tidak akan mengganggumu lagi, tidak mencarimu lagi. Bahkan, aku akan menghindar darimu."
Mimi tercengang dan hanya diam. Sedangkan, aku segera mendesaknya, "Bisa bukan kau memberikan jawaban padaku?"
Dia masih saja hanya diam. Sehingga, aku melanjutkan ucapanku, "Setelah kelulusan aku akan pergi melanjutkan pendidikanku... tidak di sini, tidak di kota ini. Itu artinya setelah kelulusan mungkin kita tidak akan bertemu lagi. Aku ingin kau terus terang padaku, kesempatan kita bertemu sudah tidak banyak lagi."
Aku masih menatapnya dengan lekat. Sementara itu, ia malah menunduk, membuang muka. Kurasakan angin berhembus semakin kencang, menerbangkan rambutnya yang pendek menutupi sebagian wajahnya.
"Kau yang bisa mengakhiri rasa galauku ini. Aku akan terima apapun jawabanmu. Tapi... jujurlah pada hatimu! Buatlah keputusan yang tidak akan membuatmu menyesal!"
Ia menengadahkan kepala, menatapku. Daun-daun pohon yang runtuh berterbangan di antara kami. "Aaaa... apa kau ... serius?" tanya Mimi dengan cukup gugup.
"Hahhhkhhh...." Aku menarik nafasku dengan dalam. Aku mendadak kesal. "Apa kau tidak lihat aku sudah menjatuhkan harga diriku sejatuh-jatuhnya di hadapanmu? Apa kau pikir aku sedang melawak?"
'Dasar gadis bodoh,' ucapku dalam hati. Sedangkan, ia hanya terbengong, membuatku menggeleng-gelengkan kepala.
Dalam hitungan detik titik-titik hujan yang sangat kecil mulai berjatuhan. Gerimis pun datang.
"Pikirkan baik-baik apa yang aku katakan! Jika kau memiliki perasaan padaku, temui aku besok sepulang sekolah di halte! Sebaliknya, jika kau tidak memiliki perasaan apapun untukku, kau tak perlu datang dan jangan pedulikan aku!"
Mimi hanya diam, tak bergeming. Lalu, di tengah riuhnya gerimis hujan dengan pelan aku berkata, "Aku harap kau datang. Karena, aku akan menunggumu."
Setelah itu, aku melangkah mundur dan meninggalkan Mimi yang mematung di halaman rumahnya.
...****************...
Esoknya...
'Aku harap dia datang,' batinku.
Setelah menunggu lebih dari setengah jam di halte dekat sekolah, aku mulai merasakan kecemasan. 'Apa dia tidak datang?' pikirku.
__ADS_1
Setelah semalaman aku tidak bisa tidur karena memikirkan pertemuan hari ini, ternyata kenyataan yang aku dapatkan hari ini adalah Mimi tak kunjung datang. Suasana sekolah dan halte sudah tampak sepi. Semua siswa sepertinya sudah meninggalkan sekolah. Bahkan, di halte saat ini hanya ada aku duduk menyendiri. Aku mulai berpikir mungkin memang Mimi tak menyukaiku. Perasaan putus asa mulai muncul di benakku.
'Tapi, tidak... mungkin dia hanya belum datang. Aku akan tetap menunggunya di sini,' batinku bersikeras. Aku sangat mengharapkan kedatangannya.
Lima belas menit kemudian... 'Mengapa dia tak kunjung datang juga?' Aku mulai gelisah. Aku benar-benar berharap dia datang.
'Aku akan menunggunya sebentar lagi.' Aku berusaha membesarkan hatiku. Lalu, aku memperhatikan sekitarku, berusaha menemukan sosok Mimi yang tak kutemukan. 'Dimana dia?' pikirku.
Sementara itu, di saat yang sama Mimi ternyata sedang berada di kamarnya. Pantas saja ia tak kunjung datang. Ternyata ia sudah pulang sejak tadi. Ia tak ingin mempedulikanku. Ia berusaha keras bersikap wajar seperti tak terjadi apapun.
'Aku tak percaya Rhama akan menungguku,' batinnya. 'Anak manja itu pasti sudah pulang.'
'Dia tak mungkin serius dengan ucapannya. Itu hanya cinta monyet. Bahkan, hubungannya dengan Mei saja tidak bertahan lama. Padahal, dia begitu mengejar Mei dulu.'
'Siapalah aku dibanding Mei? Aku bukan tipenya sama sekali. Mana mungkin ia jatuh cinta padaku. Kalaupun iya, itu pasti cinta sesaat, cinta monyet. Tak lama ia akan bosan dan mencari gadis lain. Aku tak ingin bermain-main dengannya. Aku harus fokus untuk ujian.'
Mimi membuka buku latihan soal UAN. Ia membaca soal pertama dengan lantang, namun ucapannya terhenti. Ia terdiam. Pikirannya tak bisa fokus. Ia teringat padaku. Ia teringat saat kami belajar bersama.
Ia juga teringat saat aku berkata, 'Jika seorang pria tampan dan jenius menikahi wanita jelek dan bodoh. Maka, bagaimana kemungkinan yang terjadi pada keturunan mereka?'
'Pria itu adalah Rhama... wanita itu adalah aku,' gumamnya.
Lalu, ia juga teringat saat aku berkelahi dengan Reno di depan rumahnya. 'Apa itu karena aku?' pikirnya lagi.
'Apa Rhama serius dengan ucapannya?'
"Itu tak mungkin," gumamnya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Jangan banyak berkhayal Mimi!" Lalu, ia kembali menundukkan kepalanya hendak melanjutkan membaca buku.
Tapi, ucapanku terngiang di telinganya, '... jujurlah pada hatimu!'
Mimi spontan memejamkan matanya. Tiba-tiba ingatan itu terlintas di kepalanya. Ia teringat saat kami berlari dan aku menggenggam tangannya. Saat itu ia terdiam dan merasa begitu canggung. Ia teringat saat aku mendukungnya menaiki pagar, hatinya bergejolak. Ia teringat di awal pertemuan kami, aku bergegas berlari menghampirinya saat preman menganggunya. Saat itu untuk pertama kalinya Mimi merasa ada seseorang yang berusaha melindunginya. Meskipun, kenyataannya saat itu aku tak bisa melindunginya.
'Dia pria pertama yang memperlakukanku seperti itu, membuat hatiku bergetar,' ucap Mimi dalam hati.
Saat dulu aku berlutut di halaman belakang rumahnya, mempersiapkan diri untuk dipukulinya... saat itu entah mengapa Mimi merasa tak tega padaku dan kemarahannya berlalu begitu saja. Mimi ingat hal itu. 'Dia pria pertama yang membuatku jadi bersikap lembek.'
__ADS_1
'Dia pria pertama yang selalu mengganggu pikiranku.'
'Aku ingin menghindarinya. Dia hanya ingin bermain-main perasaan denganku. Aku tak ingin berharap terlalu banyak padanya.'
'Jangan sampai aku benar-benar jatuh cinta menggebu-gebu padanya! Cukup sampai di sini perasaan itu!'
'Ini hanya kegilaan sesaat.'
Lalu, ucapanku kembali terngiang di telinganya, '... Setelah kelulusan mungkin kita tidak akan bertemu lagi... Buatlah keputusan yang tidak akan membuatmu menyesal!'
"Hmmmhhh... mengapa dia tak lari dari pikiranku?" ucap Mimi kesal.
Sementara itu, aku mulai kecewa dan rasanya sangat menyesakkan dada. 'Dia benar-benar tidak datang,' pikirku tanpa senyuman sedikitpun di wajahku.
"Hheeehh...." desahku lemah. 'Mengapa aku begitu yakin dia akan datang?' Aku menundukkan wajahku.
'Dia benar-benar membuatku gila, menjadi tidak waras, dan tidak bisa lagi berpikir logis.'
'Aku terlalu berharap,' batinku dan entah mengapa aku merasa sangat sedih sekali. Air mataku nyaris menetes, namun tetap kutahan. Aku tak ingin menangis.
Aku mengeluarkan setangkai mawar segar yang kusimpan dalam tasku dan menatapnya. Warnanya sangat merah pekat. Tadinya aku mempersiapkan bunga itu untuk Mimi dan aku rasa dia akan senang menerima bunga itu. Tapi, kenyataannya dia bahkan tak datang sama sekali. Dia benar-benar tak menghargai perasaanku.
Aku kesal dan melempar bunga itu ke dekat kakiku lalu menginjaknya dengan sangat keras berkali-kali. 'Aku sudah jatuh cinta pada wanita yang salah. Bodohnya aku!' makiku pada diriku sendiri.
Aku mengusap wajahdan begitu putus asa. Aku sudah terlalu banyak berharap, percaya diri, dan jatuh terabaikan seperti saat ini rasanya sangat menyakitkan. Harga diriku bahkan sudah sangat rendah di hadapannya. 'Mengapa aku harus jatuh cinta padanya?' Aku sangat malu dan terhina. Ia sama sekali tak menganggapku.
Aku beranjak berdiri dari kursi halte. 'Untuk apa aku berlama-lama di sini?'
Aku ingin melangkahkan kakiku. Tiba-tiba, "Brrrrr... sssshhhhhh...." turun hujan dengan deras seketika sehingga aku terhenti. Aku harus menunggu hujan reda lebih dulu.
Akhirnya, dengan kekecewaan mendalam aku terpaksa kembali duduk di halte. Aku menatap butiran air hujan dan tetesannya yang mengingatkanku pada momen bersama Mimi. Dulu kami merayakan ulang tahunnya bersama saat hujan di halte ini. Dan, ingatan itu semakin menyesakkan hatiku. Kami juga pernah berpayung bersama di tengah derasnya hujan.
'Mengapa ada begitu banyak kenangan tentang dia di otakku?'
'Bisakah aku nanti benar-benar melupakannya?'
__ADS_1
"Rhama!"
Di tengah kerasnya suara hujan, kudengar seseorang memanggilku, membuatku menegakkan kepala dan menoleh ke samping.