Rhama Dan Cinta

Rhama Dan Cinta
Pria yang Baik


__ADS_3

Ia terdiam menatapku yang berusaha untuk bersikap biasa agar tak terlihat salah tingkah. Lalu, aku pun berkata, "Nikmati harimu! Aku pulang dulu." Aku membalikkan badan, berjalan menuju mobilku yang terparkir di pinggir jalan.


Sementara itu, gadis cerewet bergegas mengemasi peralatan bekas kami makan yang masih ada di atas hamparan rumput. Kulihat dari dalam mobil, ia kemudian membawanya ke dalam rumah.


Aku nyaris menginjak gas mobilku, namun tiba-tiba telingaku menangkap suara bising, "Ngeeeeeeeenngggg...!"


Kulihat dari kaca spion motor Reno merapat. "Hehh... untuk apa lagi be*debah itu ke sini?" Aku jengkel.


Sebelum ia membuka helm dan turun dari motornya, aku sudah turun duluan dari mobilku. Aku mematikan mobilku, menguncinya, lalu berjalan mendekati Reno. Aku mencegatnya sebelum ia menginjak halaman rumah gadis cerewet.


"Mau apa kau ke sini?" tanyaku sinis sambil melihat penampilannya dari ujung kaki hingga ujung rambut.


Rambutnya bersinar mengkilat begitu rapi, wajahnya cerah begitu bersih. 'Dan... astaga! Ia memakai kemeja begitu necis. Aku saja hanya memakai kaos dan jeans,' pikirku. Kakinya pun menggunakan sepatu lengkap dengan kaos kaki, bukan sandal. 'Ia begitu rapi. Aroma badannya juga wangi.'


"Rapi sekali," ucapku. "Apa tujuanmu ke sini?"


"Aku ingin mengajak Mimi makan siang," jawabnya.


"Terlambat, dia sudah makan," ucapku cepat.


"Aku juga ingin mengajaknya jalan-jalan."


"Dia tidak suka jalan-jalan. Dia lebih suka di rumah," tandasku untuk mencegah pergerakan gesitnya.


"Aku tidak yakin. Aku akan tanyakan padanya langsung," ucap Reno lalu bergegas melangkah mendekati teras rumah Mimi.


"Sial!" gumamku lalu mengikutinya.


Lalu, sebelum kami sampai di teras rumah, Mimi muncul di ambang pintu. Tadinya ia ingin mengunci pintu rumah, namun ketika melihat kami berdua di halaman rumahnya, ia mengurungkan niatnya.


"Mimi!" panggil Reno segera.


Sedangkan, Mimi segera berkata, "Mengapa kau belum pulang?" Pandangannya tertuju padaku.


Reno segera menatapku. Ia tersenyum dan berkata, "Kakak Sepupu, pulanglah!" Ia mengusirku.


"Enak saja. Aku tidak akan membiarkanmu berduaan dengannya. Aku tidak akan pulang sebelum kau pulang," ucapku tajam. "Pria preman sepertimu tidak dapat dipercaya."

__ADS_1


"Aku tidak ingin macam-macam. Aku hanya ingin mengajak Mimi jalan-jalan." Reno lalu melangkah ke teras rumah Mimi dan mengeluarkan dua lembar kertas dari sakunya.


"Mimi, aku punya dua tiket menonton bioskop. Filmnya sangat bagus. Ayo kita pergi menonton!" ucapnya.


Mataku langsung menatap sengit. Aku bergegas mendekatinya dengan perasaan tidak senang. "Lihatlah! Kau bahkan naik ke teras tanpa membuka sepatumu terlebih dahulu. Terasnya jadi kotor," ucapku. "Pergilah sana! Menyingkir dari teras ini!"


Reno pun jadi bergegas turun dari teras. Ia lalu melepas sepatunya sambil berkata, "Maafkan aku Mimi! Terasmu jadi kotor."


"Kau memang tidak punya sopan-santun," omelku.


"Berhentilah mengoceh!" ucap Mimi padaku. "Mengapa kau begitu ikut campur urusanku? Pulanglah sana!"


"Aku tidak akan pulang. Sebagai kakak sepupu aku akan melindungi dan menjagamu dari pria bren*gsek seperti dia," ucapku mantap.


"Aku bukan pria bre*ngsek." Reno tak terima. "Aku hanya ingin mengajakmu menonton, Mimi. Aku tidak akan macam-macam." Mimi hanya diam saja.


"Percayalah padaku!" Reno tampak begitu memelas.


"Aku tidak suka menonton bioskop," ucap Mimi kemudian.


"Nahhh, sangat jelas terdengar." Aku senang.


"Dia tidak mau," tandasku keras. "Dia tidak suka jalan-jalan. Pergilah... pulanglah sa...!"


"Baiklah, ayo kita pergi!" Ucapannya seketika menghentikan ucapanku. Aku spontan berbalik menghadap ke arahnya dengan mata yang membola. Sungguh tak bisa kupercaya dia mengiyakan ajakan Reno.


Sementara itu, Reno tampak sangat kegirangan. Sedangkan, aku jadi gagu dan berkata, "Kauuu... kau... kau tak bercanda?"


Gadis cerewet mengangguk dengan mantap. "Bukankah kau bilang aku harus menikmati hidupku?"


"Kau serius ingin pergi menonton dengannya?" Aku masih tak percaya.


"Ya," jawabnya.


"Ayo bersiap-siap Mimi, kita pergi sekarang!" ajak Reno begitu bersemangat.


"Mengapa kau mau? Mengapa kau tiba-tiba berubah pikiran?" tanyaku segera.

__ADS_1


"Aku penasaran saja. Aku belum pernah menonton bioskop seumur hidupku," ucapnya.


"Aaaaa... aaaaa... apaaaaa? Hahahahahaha...." Seketika aku begitu terbahak-bahak menertawakannya. Sulit kupercaya ternyata ia belum pernah menonton bioskop seumur hidupnya. "Kau sangat kampungan," ucapku. "Hahahahahahaha...."


Sementara itu, Reno tak mempedulikanku sama sekali. Ia terlalu fokus pada Mimi. "Sungguhkah? Ini akan jadi pertama kalinya kau menonton bioskop. Aku jadi pria pertama dalam hidupmu... yang pergi menonton bioskop bersamamu."


Seketika itu juga tawaku terhenti mendengar ucapan Reno. Sedangkan, Mimi tak begitu menghiraukan ucapan Reno. Ia berkata, "Aku akan bersiap-siap dulu." Lalu, ia masuk ke dalam rumahnya.


Aku terdiam beberapa saat, menatap Reno dengan tatapan tidak senang. Lalu, aku membuka suara, "Hei, mana bisa begitu. Kau tidak bisa pergi berdua dengannya."


"Mengapa?" tanya Reno spontan.


"Aku harus ikut," ucapku. "Sebagai kakak sepupu aku akan melindunginya darimu, pria berbahaya dan berbisa. Aku akan mengawasimu." Aku menatap Reno tajam. Entah mengapa aku tak bisa membiarkan gadis cerewet pergi berduaan dengan Reno. Aku benar-benar tak suka.


Reno tampak tersenyum meremehkanku. Ia mendekatiku. "Mengapa kau tidak pergi menonton berdua bersama Mei saja, Kakak?" ucap Reno. "Mengapa ingin mencampuri momen kami berdua?"


"Aku tak akan membiarkanmu berduaan dengannya. Kau tak akan bisa pergi menonton dengannya tanpa aku, aku harus ikut." Aku bersikeras.


"Aku hanya punya dua tiket," ucap Reno agak risih.


"Aku akan beli sendiri tiket untukku di sana nanti. Pokoknya jika aku tidak ikut, kau tidak boleh pergi bersamanya."


"Hahhh, kau menyebalkan sekali," ucap Reno dengan kesal.


"Hooohh... mengapa? Karena kau tak bisa menjalankan rencanamu jika aku ikut, iya kan?" serangku.


"Rencana apa? Aku tak punya rencana apapun, aku hanya ingin mengajaknya jalan," ucap Reno.


"Ckkk, ckk, ckkk... Pria bre*ngsek yang baru tobat beberapa hari sepertimu tidak bisa dipercaya. Kau pikir dengan berpenampilan rapi ala anak baik-baik seperti ini bisa membuat semua orang lupa kelakuan brandalanmu?"


"Aku masih sangat ingat," tegasku. "Kau bukan pria yang baik."


Reno tampak sangat tajam menatapku. Lalu, dengan begitu dinginnya ia berkata, "Aku bisa menjadi pria yang baik untuk Mimi."


"Perkataan preman sepertimu tidak bisa dipegang," ucapku. "Kau hanya ingin mempermainkannya. Dan, dia hanya gadis bodoh yang sangat mudah tertipu olehmu. Aku tak akan tinggal diam. Aku tak akan membiarkannya."


Reno tampak mengatupkan kedua rahangnya. Lalu, ia berkata, "Terserah apapun anggapanmu. Aku tak butuh penilaian darimu."

__ADS_1


Setelah itu, kami berdua saling diam dan saling membuang muka. Hingga akhirnya Mimi muncul di depan pintu rumahnya.


__ADS_2