
Aku bergegas keluar dari rumah gadis cerewet dan berdiri di terasnya. 'Untuk apa Reno ke sini?' batinku.
Reno melihatku, ekspresinya agak terkejut. Ia memarkirkan motornya, membuka helmnya, dan membuka resleting hoodie yang ia pakai sejak tadi untuk menutupi seragam sekolahnya. Ia berjalan menuju teras dan segera menyapaku, "Hai, Kakak Sepupu! Ternyata kau ada di sini juga."
Aku sedikit risih dengan panggilan Reno terhadapku. 'Kakak sepupu,' gumamku dalam hati. 'Sok akrab sekali. Sok kenal sok dekat,' gerutuku dalam hati sambil memperhatikan ekspresi senyumnya yang begitu lebar, nyaris menampakkan ketiga puluh dua giginya.
"Untuk apa kau ke sini?" Aku segera mencegatnya dengan pertanyaan.
"Hmmmmhhhh...." Ia ragu untuk menjawab. Ia menggaruk-garuk kepalanya, padahal tidak gatal.
'Mengapa dia jadi salah tingkah?' pikirku.
"Kau sendirian ke sini?" tanyaku. "Biasanya kedua temanmu itu selalu membuntuti kemana pun kau pergi."
"Aku memang sengaja tidak mengajak mereka ke sini," ucapnya terlalu jujur. Sementara itu, aku berpikir, 'Pasti ada yang ia rencanakan. Tidak mungkin tanpa kepentingan dia tiba-tiba ke sini.'
"Sebenarnya kau mau apa ke sini?" tanyaku lagi.
"Mencari Mimi. Dia ada kan?"
"Ada, di dalam," jawabku. Lalu, tiba-tiba mataku menangkap sesuatu di balik baju hoodienya. "Itu bunga?" ucapku spontan menunjuk ke dalam hoodienya. "Untuk siapa? Untuk Mimi?"
Reno tampak gelagapan dan pada akhirnya ia pun mengeluarkan setangkai mawar merah segar yang ia sembunyikan di balik hoodienya. Ia jadi semakin salah tingkah. "Kakak Sepupu harus membantuku," ucapnya. "Aku ingin menyatakan perasaan pada Mimi."
Duarrrr! Seperti disambar petir, aku terkejut bukan main. Aku tercengang. Padahal, sebelumnya aku sudah mengira dan melihat gelagat Reno yang sepertinya berusaha mendekati gadis cerewet itu. Tapi, aku benar-benar tak menyangka secepat itu ia akan menyatakan perasaannya pada gadis cerewet. '
"Kau pasti playboy," ucapku karena merasa tidak senang.
"Tidak, Kakak," bantahnya segera. "Aku belum pernah berpacaran sekalipun. Aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya, hanya pada Mimi saja."
"Kakak harus membantuku. Aku tidak akan mempermainkannya. Aku serius. Aku menyukainya."
__ADS_1
"Hekh... Semudah itu kau langsung suka padanya. Aku tidak yakin. Kalian kan baru-baru ini saja mulai akrab," ocehku.
"Tidak perlu waktu lama untuk bisa suka padanya," ucap Reno. "Ayolah, Kakak setuju kan jika aku menjalin hubungan dengannya?"
"Tidak," jawabku segera dengan mata melotot.
"Mengapa?" tanyanya.
"Aku tak yakin kau pria baik-baik. Mimi itu mendambakan laki-laki yang benar-benar mencintainya, pria baik-baik."
"Oohhh, demi Mimi apapun akan aku lakukan. Aku bisa jadi pria yang baik," ucap Reno penuh percaya diri. Sementara itu, entah mengapa aku jadi semakin jengkel.
Melihat ekspresiku yang tidak senang, kemudian Reno menjadi berkata, "Terserah Kakak mau merestui atau tidak, pokoknya aku akan menyatakan perasaanku pada Mimi."
Aku melotot dan Reno berkata, "Memangnya hanya Kakak yang boleh menyatakan perasaan pada Mei? Aku juga ingin menyatakan perasaanku pada Mimi."
"Mengapa kau membawa-bawa urusanku dengan Mei?" tanyaku tak suka.
"Ehmmm... Ehhmmm... Ehmmm!" Suara batuk gadis cerewet membuat kami berdua segera terdiam. Dia sudah berdiri di ambang pintu rumahnya, entah sejak kapan. Reno segera menyembunyikan bunga mawar yang ia pegang di balik badannya.
"Bunga itu untukku?" tanya gadis cerewet segera, tanpa basa-basi.
Reno menunduk malu. Dalam sekejap kulihat keringat sebesar butiran jagung menetes dari pinggir dahinya. 'Astaga, dia grogi,' gumamku dalam hati. 'Ternyata siswa berandalan seperti dia bisa gugup juga menghadapi wanita.'
'Hekhhh, aku bahkan masih ingat betul gayanya saat memukuliku dulu. Sok paling hebat, ternyata berandalan ini meleleh seperti mentega mencair di depan gadis cerewet ini,' umpatku dalam hati.
Aku kesal sekali melihatnya dan aku masih cukup sakit hati karena dipukulinya dulu. Jika bisa, aku sangat ingin membalas semua pukulannya. Tapi, sekarang ia malah berusaha sok baik dan akrab denganku tanpa merasakan perasaan bersalah secuilpun.
"Kau memang pintar bersandiwara," gumamku mengingat semua perbuatan buruknya padaku.
"Sandiwara? Ini bukan sandiwara," ucap Reno segera. "Mimi, kau harus percaya padaku!" Reno salah mengira. Ia pikir aku membicarakan sikapnya terhadap Mimi, padahal aku membicarakan sikapnya padaku.
__ADS_1
"Aku benar-benar merasakan perasaan berbeda padamu. Ini bukan sandiwara. Sudah beberapa hari ini aku selalu terbayang-bayang wajahmu." Reno begitu serius dan aku dengan sigap langsung berkata, "Hahh... kau terbayang wajah jeleknya? Hahahhaa...." Ledekanku membuat mata gadis cerewet melotot padaku.
"Aku juga tidak nafsu makan," lanjut Reno.
"Makananmu yang tidak enak, tidak menggugah selera makan." celetukku.
"Aku juga tidak bisa tidur sudah beberapa hari ini."
"Mungkin kau insomnia," celetukku lagi, namun Reno tetap tak mempedulikan ucapanku. Ia terus melanjutkan ucapannya dengan serius.
"Baru kalo ini aku merasa seperti itu. Semua itu karenamu, Mimi. Sejak bertemu denganmu hari-hariku yang biasanya membosankan jadi lebih berwarna. Ada sesuatu yang berubah dalam diriku. Aku jadi lebih bersemangat untuk sekolah agar bisa melihatmu, bertemu denganmu. Biasanya aku tidak suka sekolah, aku suka membolos."
"Huekk... kau benar-benar gombal," ucapku lagi untuk menimpali ucapannya.
"Aku ingin kita lebih saling mengenal, lebih dari sekedar teman," ucapnya. "Maukah kau menerima ... menerima ...." Ia jadi gagu. Kulihat tangannya bergetar hebat ketika menyodorkan mawar merah pada gadis cerewet.
"Menerima... Hmmm... Menerima...."
Gadis cerewet menatap Reno dan kemudian berkata, "Aku terima bunga darimu." Ia menyambar setangkai mawar yang disodorkan Reno.
Reno tersenyum sumringah, sedangkan aku melotot tak senang. Lalu, gadis cerewet kembali berkata, "Tapi, aku tak bisa menerima cintamu." Ia berkata dengan sangat jelas, lugas, dan singkat.
Seketika itu juga Reno tercengang bukan main. Sedangkan, aku spontan berkata, "Yess! Hahahahhaha...." Entah mengapa aku begitu senang menertawakan Reno yang membeku seperti patung es.
"Kau sudah dengar bukan? Ia menolakmu, hahahahhahhaa...." Aku tertawa penuh kemenangan.
"Mengapa kau begitu senang menertawakannya?" ucap gadis cerewet karena tak senang dengan sikapku yang sejak tadi terus berkomentar dan ikut campur dengan urusannya. "Lebih baik kau segera pulang!"
Tawaku pun terhenti seketika. "Sebelum mamamu datang ke sini mencarimu, lebih baik kau pulang!" Lagi-lagi gadis cerewet itu mengusirku.
Sementara itu, Reno yang sejak tadi terdiam kemudian berkata, "Sebaiknya aku juga segera pulang." Lalu, tanpa berkata-kata apapun lagi ia bergegas membalikkan badannya dan berjalan menuju motornya. Ia naik ke atas motor dan menyalakannya lalu, "Brrmm brmm, brmm, brmmm! Ngeeeeeeenggggggg." Reno meninggalkan rumah gadis cerewet itu.
__ADS_1