Rhama Dan Cinta

Rhama Dan Cinta
Bukit Sampah


__ADS_3

Aku menatap gunungan sampah di hadapannya. Sampah-sampah di sekolahku ini ternyata ditumpuk jadi satu dan sudah menjadi bukit sampah yang memanjang lebih dari lima meter. Tingginya pun sudah lebih dari satu meter.


“Bagaimana bisa kau menemukan kertas itu di antara sampah sebanyak ini?” ucapku pesimis.


“Aku pasti bisa,” ucapnya lalu bergegas naik ke atas bukit sampah itu.


'Dasar bodoh,' ejekku dalam hati ketika melihatnya mulai mengais-ngais sampah dengan kedua tangannya.


“Ada begitu banyak kertas di sini. Bagaimana kau bisa menemukannya?” ucapku.


“Aku harus menemukannya.” Ucapannya terdengar lirih.


"Kertas apa sih yang kau cari?" tanyaku penasaran.


"Potongan kertas kecil, berwarna hijau," jawabnya sambil terus memperhatikan setiap sampah yang dikaisnya.


Sepertinya kertas itu begitu penting baginya. Kulihat ia terus mengais-ngais sampah dan aku pun menjadi tak tega melihatnya. Sehingga, akhirnya aku pun mendekat ke tumpukan sampah dan ikut mencari kertas itu.


Aku mulai mengais-ngais sampah dari pinggiran bukit sampah menggunakan potongan kayu yang kutemukan. “Huekk!” Aku nyaris ingin muntah saat aroma sampah menyengat ke hidung mancungku. “Bau sekali,” keluhku sambil menutup kedua lubang hidungku.


“Pertama kalinya dalam hidupku aku harus merasakan semua penderitaan ini,” keluhku lagi sambil mengais sampah dengan penuh rasa jijik. Namun, tidak seperti biasanya gadis cerewet itu sama sekali tak mengomentari ucapanku. Mungkin ia terlalu fokus ingin menemukan kertas itu hingga tak mempedulikanku.


Sementara itu, bagaimana dengan mama? Hal yang aneh bukan jika dia tidak mengkhawatirkanku yang terlambat pulang. Hal itu hampir mustahil terjadi. Tapi, sekarang itulah yang terjadi. Mama sejak tadi belum sekalipun menghubungiku dan menanyakan kabarku. Mengapa aku belum pulang? Atau, aku ada dimana?


'Sebenarnya ada apa dengan mama?' pikirku.


“Rhama seperti wanita, Pa,” ucap mama saat ini dengan penuh isak tangis. Ia memandangi alas bedak dan bedak miliknya yang ia temukan di kamarku.


“Itu karena Mama terlalu selalu melindunginya. Mama selalu terlalu mengkhawatirkannya,” ucap papa. “Dia itu pria, Ma. Seharusnya Mama melepaskannya untuk bertindak seperti pria, tapi Mama malah selalu melarangnya melakukan hal-hal yang berbau pria.”


Suara tangis mama pun semakin menjadi. “Rhama itu putra kita satu-satunya, Pa. Tentu saja mama akan selalu melindungi dan mengkhawatirkannya. Karena, Mama ingin ia mendapatkan segala sesuatu yang terbaik dalam hidupnya. Mama sangat sayang padanya, Pa.”


“Mama melarangnya untuk membawa kendaraan sendiri. Mama melarangnya memanjat pohon. Mama ....” Papa belum sempat menyelesaikan ucapannya, mama segera berkata, “Mama takut terjadi apa-apa dengannya, Pa.”


“Mama takut dia kecelakaan jika dia membawa kendaraan sendiri. Mama memberikan sopir untuknya, tapi dia tidak mau. Mama takut dia jatuh dan terluka jika dia memanjat pohon,” ucap mama.


Papa menggeleng-gelengkan kepala menatap mama.


 Kemudian, mama segera berkata, “Sekarang Rhama belum pulang, Pa. Mama khawatir. Biasanya ia sudah pulang. Mama harus menghubunginya.”


“Sudahlah, Ma. Biarkan saja dia pulang agak terlambat. Anak lelaki memang kadang pulang terlambat. Biarkan saja dia bertindak seperti anak lelaki pada umumnya. Mama harus belajar melepaskannya.”


“Tapi, Pa ....”

__ADS_1


“Sampai kapan Mama akan memperlakukannya seperti anak kecil?” tanya papa. “Rhama sudah dewasa, Ma. Biarkan dia tumbuh menjadi lelaki dewasa, bukan menjadi anak kecil yang selalu berlindung dalam dekapan ibunya.”


“Mama sangat sayang padanya, Paaaaa,” jerit mama dan dalam waktu bersamaan gadis cerewet itu juga menjerit, “Dimanaaaaaaaaaaa...?”


“Hekh!” Aku terkejut mendengar jeritannya.


“Kertas itu ada dimana?” keluhnya sambil menundukkan wajah. Ia terduduk dengan posisi berjongkok di atas tumpukan sampah.


“Apa kertas itu begitu penting?” Pertanyaanku membuatnya segera menoleh padaku.


“Sudah hampir satu jam kita mencarinya,” ucapku. “Kau tahu ... ternyata mencari selembar kertas di bukit sampah seperti ini lebih sulit dari mencari jarum di tengah jerami,” lanjutku. “Lebih baik kau ikhlaskan saja kertas itu.” Aku segera beranjak dari atas bukit sampah itu.


Sedangkan, gadis cerewet itu sama sekali tak berkutik. Ia terdiam.


“Sudahlah ayo pulang!” Aku membalikkan badan dan mulai melangkahkan kakiku.


“Tunggu!” teriaknya tiba-tiba saat melihat kakiku melangkah.


Aku menoleh dan ternyata ia berlari ke arahku seketika.


“Angkat!” ucapnya.


“Hahh!” Aku tak mengerti maksudnya.


“Ada apa?” tanyaku sambil mengangkat kaki kanan dan kiriku secara bergantian dan ternyata, “Hakh!” Ada kertas kecil menempel di bawah sepatuku.


'Sejak kapan?' pikirku. 'Sejak kapan kertas itu menempel? Bagaimana bisa?'


Aku tak menyadarinya. Karena tergesa-gesa, sepatuku menginjak permen karet saat mengikuti gadis cerewet itu kembali menuju kelasnya.


Lalu, beginilah kejadian sebelumnya. Sebelum aku dan gadis cerewet itu tiba di kelasnya, anggota piket kelasnya membawa tong berisi sampah menuju ke sini. Lalu, angin berhembus... satu lembar kertas kecil tertiup keluar dari tong itu, melambai dibawa angin, dan jatuh tepat di lantai koridor sekolah yang kemudian kulewati. Akhirnya, kertas itu menempel di sepatuku saat ini.


“Itu persis seperti kertas yang kucari,” ucap gadis cerewet itu.


“Kertas ini,” ucapku sambil menariknya dari bawah sepatuku. Tapi, “Oughh ... apa yang kulakukan?”


Kertas itu robek. Aku ternganga seketika.


Kertas itu robek saat kutarik. Karena, kertas itu sudah begitu lengket dengan permen karet di sepatuku dan kertas itu sudah basah.


Dengan ragu aku memberikan robekan kertas di tanganku pada gadis cerewet itu. Lalu, ia menatap tulisan angka-angka yang sudah mengabur tak jelas lagi di kertas itu. Ia bergumam, “Ini kertas yang kucari.”


Lalu, “Tess!” Air mata menetes dari matanya.

__ADS_1


“Maafkan aku,” ucapku seketika.


“Hehh ... ehh ....” Hembusan nafas gadis cerewet itu menyiratkan bahwa ia tampaknya begitu kecewa.


“Sebenarnya itu nomor ponsel siapa?” tanyaku dengan perasaan bersalah.


“Ibu,” jawabnya pelan.


“Ibu?” gumamku.


“Satu-satunya nomor ponsel ibuku yang kuketahui.”


“Deg!” Jantungku berdetak keras mendengar ucapannya.


“Aku ingin ke wartel untuk menghubunginya pulang sekolah tadi. Tapi, kertas ini tercecer di kelas,” lanjutnya. Lalu, ingatannya pun melaju pada kejadian kemarin.


Ia melihat bagaimana mama begitu khawatir saat menjemputku di halte. Saat itu di dalam hati ia berkata, 'Bagaimana dengan ibu? Apa dia mengkhawatirkanku?'


'Mengapa ia tak pernah menghubungiku? Bagaimana keadaannya saat ini?' tanyanya di sepanjang perjalanan pulang. 'Aku rindu sekali pada ibu,' batinnya.


Karena itu, begitu sampai di rumah ia bergegas membongkar seluruh lemari dan buku-bukunya. Kemudian, setelah sekitar satu setengah jam akhirnya ia tersenyum sambil menggenggam kertas kecil bertuliskan sebuah nomor ponsel.


'Aku akan pergi ke wartel pulang sekolah besok. Aku harus menghubungi ibu,' tekadnya.


Tapi, kini hal itu takkan terjadi. Ia tak bisa menghubungi ibunya. Kertas itu robek dan nomor ponsel itu telah memudar karena basah. Kini yang dapat ia lakukan hanyalah menggenggam kertas itu sambil menghapus air matanya.


“Maafkan aku,” ucapku.


Ia begitu sedih dan tak mau menatapku. Sedangkan, aku tak begitu mengerti apa yang dipikirkannya saat ini. Yang kulihat hanya tetesan air matanya dan tak kudengar sedikit pun kata dari mulutnya. Lalu, ia berjalan meninggalkanku dan lagi-lagi aku merasa bersalah sekali padanya.


Aku benar-benar bingung. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Dia pasti tahu aku benar-benar tak sengaja menginjak kertas itu. Aku tak bermaksud mengaburkan seluruh tulisan nomor ponsel itu. Tapi, tetap saja aku merasa begitu bersalah padanya. Bahkan, aku belum sempat meminta maaf atas ucapan kasarku saat istirahat tadi padanya.


'Apa yang harus aku lakukan?' pikirku. “Apa yang harus aku lakukan?”


'Aku harus segera meminta maaf padanya,' bisik hatiku. “Harus.”


Karena itu, aku pun bergegas berlari untuk menyusulnya. 'Ia pasti bergegas pulang,' pikirku sambil berlari menuju gerbang sekolah.


Namun, “Uppss.” Langkahku terhenti. Gerbang sekolah tampak begitu sunyi dan parahnya gerbang itu sudah terkunci. Semua orang sepertinya sudah pulang dan aku masih berada dalam lokasi sekolah. Aku terkurung di sana.


'Dimana gadis cerewet itu,'.pikirku. 'Apa dia sudah meloncati tembok pagar ini?'


Lalu, tiba-tiba aku mendengar rintihan, “Ekh ... hhekhhh!”

__ADS_1


Aku menoleh ke arah suara dan ternyata gadis cerewet itu kulihat sedang terduduk di dekat pagar tembok.


__ADS_2