
Mei menghentikan makannya dan mereguk air minumnya. Hal ini membuatku segera bertanya, "Mengapa tidak dihabiskan?" tanyaku. "Kau baru makan sangat sedikit?"
Mei memandang makanannya yang masih sangat banyak. "Kau tidak suka?" tanyaku.
"Masakannya tidak sesuai requestku," jawabnya. "Dagingnya terlalu matang. Tadi aku meminta setengah matang saja."
"Sayang jika tidak dihabiskan, makanannya akan terbuang," ucapku.
"Aku tidak suka," ucapnya.
"Kau mau pesan yang baru?" tanyaku.
Mei menggeleng. "Cukup. Lagipula, aku tidak mau makan terlalu banyak. Aku harus menjaga berat badanku."
Aku segera menatap Mei dan tersenyum. "Kamu tidak gemuk, Mei," ucapku. "Makanlah agar kau tidak lapar!"
Mei hanya menggeleng dan menyeruput air minumnya. Sedangkan, aku melanjutkan makananku sambil sesekali memandang makanan yang disisakan Mei. Tiba-tiba aku teringat pada kelakuan gadis cerewet yang rela memungut gorengan agar makanannya tidak mubazir.
Aku juga teringat pada kelakuannya yang makan dengan begitu bebas tanpa sibuk memikirkan berat badan. Ia makan kue cokelat dengan lahap, makan nasi bersama sambal tempoyak dengan lahap. 'Ahh, mengapa aku tiba-tiba teringat dengannya?' pikirku. Aku berusaha menghalaunya dari pikiranku.
Setelah makan kami pun mulai berburu hadiah untuk Ibu Mei. Mei memutuskan membeli jam tangan untuk ibunya. Sehingga, saat ini kami sudah berada di sebuah outlet jam tangan mewah.
"Menurutmu lebih bagus yang mana?" tanya Mei padaku. Ia memperlihatkan sebuah jam tangan berkelas. Kedua modelnya sama, hanya warnanya berbeda. Yang satu silver dan yang satu lagi berwarna keemasan.
"Yang silver lebih kalem. Tapi, yang gold kelihatan lebih mewah," gumamku. "Ibumu suka nuansa kalem atau mewah?" Aku balik bertanya.
"Menurutku lebih bagus yang gold. Tapi, ibu sudah punya banyak jam tangan warna gold dan rosegold. Hanya beberapa yang berwarna silver."
"Ohh, ibumu sudah punya banyak jam tangan," gumamku.
"Yaaa, ibu mengkoleksi banyak jam tangan," ucap Mei. "Dan, dia paling suka jam tangan merk ini."
'Keluarga Mei memang benar-benar berkelas,' pikirku. 'Ini jam tangan terkenal dan harganya fantastis.' Ibunya sudah punya banyak jam tangan merk ini. Ia sebenarnya tidak terlalu butuh jam tangan lagi. 'Orang yang seharusnya diberi jam tangan itu gadis cerewet,' pikirku. 'Supaya dia ingat waktu. Dia sering terlambat.'
'Opppps! Tidak, tidak, tidak!' Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. 'Mengapa aku malah memikirkan gadis cerewet?' gumamku dalam hati. 'Bayangannya benar-benar merusak hariku,' gerutuku dalam hati.
"Mengapa kamu geleng-geleng, Rhama?" tanya Mei yang berdiri di sampingku.
"Ohhh!" Aku bergumam karena baru tersadar.
"Apa jam tangan model ini menurutmu tidak bagus?" tanya Mei dengan lembut.
"Sangat bagus, Mei," ucapku segera. "Terlihat anggun."
__ADS_1
"Baiklah, jika begitu aku jadi membeli ini," ucap Mei. Ia memilih jam tangan berwarna gold. Lalu, ia membayarnya dengan sebuah kartu debit miliknya. Setelah itu, kami kembali ke mobil.
Begitu masuk ke dalam mobil aku segera berkata, "Mei, maaf! Maukah kau menunggu di sini sebentar? Tiba-tiba aku mau ke toilet dulu."
"Ya." Mei mengangguk.
Aku lalu menyalakan mesin mobil terlebih dulu dan menghidupkan AC-nya agar Mei tidak kepanasan saat menungguku. Lalu, aku bergegas kembali masuk ke dalam mall.
Sebenarnya aku tidak ingin ke toilet. Aku mendatangi sebuah toko kue yang tidak jauh dari outlet jam tangan tadi. Aku membeli sebuah kue ulang tahun berlapis keju di sana.
Ini kue dengan kualitas yang berbeda dengan kue yang kuberikan pada gadis cerewet. Kue coklat yang kuberikan pada gadis cerewet dulu adalah kue ulang tahun dengan bahan-bahan kualitas standar. Berbeda dengan kue ini, semuanya terbuat dari bahan premium dan rasanya juga jauh lebih enak. Aku membelikannya khusus untuk ibu Mei. 'Semoga dia suka,' pikirku.
Lalu, setelah menyelesaikan pembayaran aku bergegas ingin kembali ke mobil. Namun, ketika melewati outlet jam tangan tadi langkahku terhenti. Aku memandangi banyak jam tangan yang dipajang di balik dinding kaca outlet.
'Apa aku sebaiknya membelikan satu jam tangan untuk gadis cerewet?' pikirku. Aku nyaris melangkahkan kakiku ke dalam outlet. Tapi, kemudian aku segera berpikir, 'Hah, tidak! Tidak! Tidak! Mei sudah menungguku di mobil saat ini. Aku tidak boleh berlama-lama di sini.'
Sehingga, aku pun mengurungkan niatku. Aku bergegas kembali ke mobil dan menyodorkan satu kotak kue ulang tahun pada Mei dengan senyuman lebar.
"Apa ini?" tanya Mei agak terkejut.
"Ambillah! Hadiah ulang tahun dariku untuk ibumu," jawabku.
Mei tersenyum. "Seharusnya ini tidak perlu, Rhama. Kau tak perlu repot-repot...."
"Sstt!" Aku menghentikan ucapannya. "Nanti malam kejutanmu belum akan lengkap tanpa kue ulang tahun."
"Semoga Ibumu menyukainya," ucapku.
"Hmmh... Yaaa." Mei mengangguk.
Tengah malam pun akhirnya tiba. Mei mengendap-endap ke dalam kamar ibunya. Tidak ada seorangpun di kamar itu kecuali ibunya.
Ibu dan ayah Mei sudah lama bercerai sejak Mei berusia lima tahun. Ibu Mei adalah seorang single parent yang sangat mandiri. Ia membesarkan Mei seorang diri dengan limpahan cinta kasihnya. Sehingga, Mei sangat menyayangi ibunya.
Hari ini tepat ulang tahun ibunya. Ia mengec*up dahi ibunya yang sedang tertidur pulas. Ia lalu mengecu*pnya sekali lagi. Sehingga, Ibu Mei pun terbangun dan Mei telah siap dengan pel*ukannya yang erat.
"Selamat ulang tahun Ibu." Mei mendekap ibunya yang spontan membelai rambut Mei dengan lembut.
"Terima kasih," bisiknya.
"Aku punya sesuatu untuk Ibu." Mei melepas dekapannya dan menyodorkan sebuah paper bag berisi jam tangan yang dibelinya tadi.
"Wowww!" Ibu mengambil paper bag itu lalu menc*ium dahi Mei. "Terima kasih, Mei," ucapnya.
__ADS_1
"Hmmmhh... ada satu lagi," ucap Mei.
Mei bergegas berdiri. Ia meraih kue ulang tahun yang tadi diletakkannya di atas meja rias dan menyalakan lilinnya.
"Selamat ulang tahun! Selamat ulang tahun...." Mei bernyanyi sambil membawakan kue itu mendekati ibunya.
Ibu tersenyum, menggeleng-gelengkan kepala lalu berkata, "Terima kasih, Mei."
"Tiup lilinnya! Tiup lilinnya...." Mei terus bernyanyi hingga akhirnya ibu pun meniup lilin-lilin itu. Lalu, ia mengusap kepala Mei sambil berkata, "Terima kasih."
"Tapi... tumben sekali kamu membelikan ibu kue ulang tahun. Biasanya setiap ibu ulang tahun kamu tidak pernah memberikan kue," ucap ibu Mei dengan heran.
"Yaaa, ini kejutaaan," ucap Mei dengan cerianya. Lalu, ia berkata, "Sebenarnya bukan aku yang memberikan ini Ibu."
"Aku tahu Ibu tidak suka kue seperti ini. Ibu takut gemuk, menghindari diabetes. Makanya, aku tidak pernah memberikan kue ulang tahun pada Ibu."
"Lalu, kue ini dari siapa?" Ibu Mei sangat penasaran.
"Ini dari Rhama," jawab Mei.
"Rhama?" gumam Ibu Mei dengan nada heran.
"Rhama itu pacar baruku," ucap Mei dengan pelan.
"Hahhhh!" Ibu Mei sangat terkejut. "Kamu tidak cerita kamu sudah punya pacar baru," protes ibu.
"Iya, Bu. Ini masih sangat baru. Baru kemarin kami resmi pacaran."
"Mengapa begitu cepat Mei? Kamu jangan gegabah mengambil keputusan untuk menjalin hubungan dengan laki-laki!" ucap Ibu dan Mei menjadi manyun.
"Setelah Alvin, bad boy mana lagi ini yang kamu pilih?" ucap ibu.
"Rhama bukan bad boy, Bu. Dia sangat berbeda dengan Alvin. Rhama itu pria yang sangat manis, anak baik-baik, sangat jauh berbanding terbalik dengan Alvin," jelas Mei. "Jika bertemu dengannya, Ibu pasti suka."
"Yang jelas ibu tidak suka kamu berpacaran dengan laki-laki seperti Alvin... berandalan, tidak punya masa depan. Seperti ayahmu... hanya ingin terus bersenang-senang, tidak bertanggung jawab. Kamu tidak akan bahagia bersama Alvin."
"Iya, Ibu... kami sudah putus," tegas Mei.
"Seharusnya dari dulu kamu putus," ucap ibu.
"Nanti aku akan kenalkan Rhama pada Ibu." Mei berusaha mengubah alur pembicaraan ibu.
"Ya, ibu penasaran dengan Rhama. Sepertinya dia anak laki-laki yang perhatian," ucap ibu. "Dulu Alvin tak pernah sekalipun memberikan hadiah ulang tahun, bahkan ucapan selamat ulang tahun pada ibu... dia tak pernah mengucapkannya. Tapi, Rhama... baru dua hari menjalin hubungan denganmu... sudah memberikan kue ini pada ibu."
__ADS_1
"Meskipun, ibu tidak suka kue ini." Ibu melirik kue itu. "Tapi, ibu sangat menghargai perhatiannya."
"Yaa." Mei tersenyum. "Dia lelaki yang manis. Aku mulai jatuh cinta padanya."