Rhama Dan Cinta

Rhama Dan Cinta
Senyum Pertamamu


__ADS_3

Sebuah bis datang menghampiri. Aku hampir ingin naik. Namun, kudengar teriakan dari sebuah mobil, "Rhamaaa!"


Mobil itu segera merapat di belakang bis. Seorang wanita modis bergegas turun, berjalan ingin menghampiriku dengan membawa payung lebar. Mulutku seketika bergumam, "Mama!"


Aku tidak jadi menaiki bis sehingga bis itu pun kembali melaju. Sedangkan, mama tiba di hadapanku dengan gaya khasnya. Ia mengkhawatirkanku dan segera memayungi kepalaku.


"Mama sangat khawatir kau belum pulang. Mama pikir kau pasti kehujanan. Jadi, mama jemput saja," cerocos Mama dan aku berharap suara mama yang melengking tidak sampai terdengar ke telinga gadis cerewet di seberang jalan.


Aku benar-benar malu. Mama memperlakukanku seperti anak TK. Sehingga, aku pun bergegas masuk ke mobil dan duduk di kursi dekat jendela. Aku melirik gadis cerewet itu. Kulihat ia sedikit melambaikan tangannya padaku sambil tersenyum. 'Ini pertama kalinya,' pikirku menatapnya.


'Pertama kalinya ia tersenyum dengan hangat padaku, bukan senyuman sinis seperti biasanya.' Karena itu, aku pun membalas senyumnya. Aku tersenyum. Lalu, mobil yang kunaiki pun mulai melaju.


'Astaga! Aku tersenyum,' pikirku saat menyadarinya. 'Bukankah sejak kemarin aku tak bisa tersenyum?' batinku saat meraba bibirku. 'Senyumku telah kembali.'


'Sejak kapan?' pikirku. Aku tak menyadarinya. Dan, entah mengapa juga tanpa kusadari ternyata perasaanku jauh lebih membaik. Aku bisa melupakan masalahku sejenak dan menganggap itu tidak terlalu penting saat ini. Aku heran mengapa aku bisa melakukannnya. Aku  terus berpikir, 'Bagaimana bisa aku melakukannya?'


'Ada apa dengan diriku?' Hingga tiba di rumah aku terus bertanya-tanya pada diriku sendiri. Mengapa saat ini aku dapat dengan mudahnya merasa seakan tidak ada masalah? Padahal, sejak kemarin pikiranku terus berkecamuk dan satu-satunya hal yang kupikirkan saat itu adalah Mei. Tapi, kini perasaanku berubah. Aku tidak terlalu memikirkan Mei lagi dan sungguh aneh sejujurnya aku malah terus teringat pada gadis cerewet itu. 'Bagaimana mungkin aku bisa merasa seperti ini?'


Padahal, seharian kemarin masalah Mei begitu mengguncang perasaanku. Tapi, hari ini tanpa kusadari masalah itu bisa mengalir berlalu begitu saja dari pikiranku. Aku pikir aku akan begitu sulit mengusir semua pikiranku tentang Mei. Tapi, ternyata, “Wushh....” Semua menghilang begitu saja nyaris tanpa kusadari dan kini yang ada di kepalaku adalah ingatan tentang semua ucapan gadis cerewet itu.


Sejujurnya aku sama sekali tidak ingin mengingat memori itu. Tapi, entah mengapa ingatan itu terus menghantuiku dan memaksa diriku untuk memikirkan semua hal yang diucapkannya. Semua hal tentang kehidupannya. Ternyata, namanya Mimi. Ternyata, ia tak seperti yang kuduga. Kupikir ia wanita egois yang selalu merasa paling hebat sendiri. Tapi, ternyata aku salah. Ia hanyalah korban keegoisan orang-orang terdekatnya.

__ADS_1


Aku tak tahu apa yang aku lakukan dan bagaimana jadinya diriku jika berada di posisinya. Bertahan hidup dengan harapan-harapan yang nyaris tak akan pernah terwujud. Padahal, semua itu hanya harapan yang sederhana. Mungkin aku takkan mampu bertahan jika berada di posisinya.


Mungkin aku akan berhenti berharap dan frustasi. Sehingga, akhirnya aku akan  berbalik arah menjadi membenci kedua orang tuaku. Tapi, ternyata semua itu tak terjadi pada gadis cerewet itu. Ia malah semakin terus berharap kedua orang tuanya akan berubah, meskipun hal itu terasa begitu menyakitkan. Tak ada kebencian yang bisa kulihat pada dirinya kepada orang tuanya. Walaupun, sepertinya dia begitu merasa tersia-siakan dan terlahir tanpa dicintai.


Ternyata, ia begitu rapuh. Sikap kerasnya hanya selimut dari kerapuhan jiwanya. Ia tak seperti yang kubayangkan sebelumnya. Ia sama sekali berbeda dengan semua pikiranku tentangnya saat pertama kali bertemu.


Ia berbeda dari wanita-wanita lainnya yang pernah kutemui. Ia begitu tegar dan tidak peduli pada penampilannya sendiri. Sekilas aku merasa ia seperti pria. Tapi, jauh di dalam dirinya aku bisa merasakan ada sosok wanita yang lemah dan begitu membutuhkan perlindungan. Ia begitu merindukan kasih sayang kedua orang tuanya, tidak seperti diriku yang setiap saat bisa merasakan cinta dan kasih kedua orang tuaku.


'Ternyata aku benar-benar beruntung,' pikirku. 'Papa dan mama sangat memperhatikanku. Aku juga bisa mendapatkan hampir semua yang diinginkan orang lain dengan begitu mudah.'


'Seharusnya aku bersyukur kepada Tuhan,' pikirku. 'Jika saat ini aku belum bisa mendapatkan cinta Mei, harusnya aku bisa lebih bersabar menghadapi hal ini. Anggap saja ini ujian kecil dari Tuhan dan aku pasti bisa melaluinya,' batinku. 'Ujian ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan semua nikmat dan keberuntungan yang telah Tuhan berikan untukku selama ini.'


Esoknya ....


Aku merasa jauh lebih baik pagi ini. Perasaanku kembali ceria dan aku bersemangat sekali pergi ke sekolah. Dalam hati aku berkata, “Aku benar-benar ingin menikmati hidupku. Aku ingin selalu ceria dan tersenyum karena Tuhan telah memberikan kehidupan yang begitu indah untukku. Aku tak ingin menyia-nyiakannya. Hidup hanya sekali dan terlalu indah untuk disia-siakan.


Aku ingin mendapatkan cinta dari Mei. Karena itu, aku harus bisa membuatnya jatuh cinta padaku dan jika aku berusaha, aku yakin Tuhan akan memberikan jalan untukku. Aku begitu optimis hari ini, tidak seperti kemarin saat merasa begitu kecewa.


'Tak ada gunanya terus terpuruk dalam kekecewaan,' pikirku saat ini. 'Yang terpenting adalah pikirkan bagaimana caranya agar kekecewaan itu segera berakhir. Semua masalah pasti akan selesai dan memiliki jalan keluar. Aku harus bisa membuat Mei mencintaiku karena sepertinya itulah jalan keluar terbaik untuk masalahku saat ini.'


'Mei, aku mencintaimu,' batinku begitu optimis saat jam pelajaran pertama akan dimulai.

__ADS_1


Lalu, tiba-tiba ketua kelas diminta pak guru membagikan kertas ulangan Matematika beberapa hari yang lalu. Ternyata, aku mendapatkan nilai sempurna ... 100 dan nilai Mei hanya kurang 3 poin dari nilaiku. Nilainya 97, tapi ia tak tampak merasa bahagia. Apalagi, saat teman sebangkunya melirik kertas ulangannya dengan sinis.


Ia menatapku seolah ingin berkata, 'Ini bukan hasil ujianku.'


Lalu, pak guru segera berkata, “Semua nilai kalian telah bapak urutkan dalam daftar nilai ini. Mulai dari yang


terbaik hingga yang terendah.” Ia memperlihatkan selembar kertas daftar nilai lalu kembali berkata, “Nama-nama kalian tercantum di sini beserta nilainya. Jika nama kalian terletak di urutan bawah, artinya nilai kalian rendah. Karena itu, kalian seharusnya merasa malu dan belajar lebih giat lagi.”


Kemudian, ia pun menempelkan lembaran kertas itu di dinding kelas kami. Sehingga, usai jam pelajaran Matematika hampir semua teman-temanku pun berusaha ingin melihat urutan nama mereka karena merasa penasaran.


“Rhama, nilaimu tertinggi,” teriak Ken yang ternyata berada paling depan di antara siswa-siswa lainnya.


“Mei, kau berada di urutan kedua, setelah Rhama,” teriak Ken lagi. “Kalian hanya selisih 3 poin.”


“Hebat sekali,” ucap Ken sambil berlari ke arah aku dan Mei yang tetap mantap duduk di kursi kami masing-masing.


“Kalian berdua pemecah rekor menjawab soal ujian itu,” celoteh Ken dan Mei hanya terdiam. “Rhama seperti biasa kau mendapat nilai 100 dan Mei nilaimu 97. Hanya kalian berdua yang berhasil mendapatkan nilai di atas 80. Lili saja di urutan ketiga hanya mendapat nilai 79. Tapi, memang soal itu sulit dan jawabannya panjang sekali. Aku saja kemarin hanya sempat mengerjakan 2 soal.” Ken terus mengoceh dan aku sama sekali tak peduli.


Karena, satu-satunya yang kupedulikan saat ini adalah ekspresi wajah Mei. Sepertinya ia malah tampak kurang senang dengan hasil ujian yang diperolehnya saat ini. Mungkin tindakanku  menolongnya saat itu adalah sebuah kesalahan besar. Karena itu, aku segera berkata, “Mei, maaf jika kemarin saat ujian aku lancang....”


“Tak perlu dibahas lagi, Rhama,” ucap Mei menghentikan ucapanku.

__ADS_1


__ADS_2