
Ternyata pintu rumahnya sama sekali tidak terkunci. 'Bagaimana bisa?' pikirku.
Aku penasaran untuk membukanya. Sehingga, "Krekkk!" Aku mendorong pintu itu dan mulai melangkah masuk.
Debu, banyak debu dimana-mana. Tiba-tiba aku terkenang pada momen pertama kami ketika berada di dalam rumah ini. Aku memandangi kursi rotan di ruang tamunya saat ini. Itu masih kursi rotan yang sama dengan kursi yang menjadi saksi pertengkaran kami ketika memperebutkan bedak.
Aku berbalik ke belakang, menatap jendela yang dulu kacanya aku pecahkan. Dalam sekejap ada getaran bergemuruh di hatiku. Ada perasaan ngilu yang tak bisa kujelaskan. Aku hanya bisa menggigit bibirku yang bergetar.
...****************...
Aku pulang ke rumah dengan perasaan bahagia. Meskipun Mimi tampak tak senang aku antar pulang, tapi aku merasa sangat senang dan terus terbayang-bayang ekspresi wajahnya. Entah mengapa aku jadi seperti ini? Apakah ini yang dinamakan cinta?
Aku tak sabar untuk menunggu hari esok. Aku akan menjemputnya untuk pergi sekolah bersama. Aku harus menjemputnya sangat pagi. Jika tidak, Reno mungkin akan mendahuluiku atau bisa jadi gadis cerewet itu akan lebih dulu berangkat sekolah. Sehingga, pagi-pagi sekali aku sudah siap berangkat dari rumah. Mama berkata, "Rhama, ini terlalu pagi. Bahkan, sekarang belum sampai pukul enam."
"Tidak apa, Ma. Hari ini aku ingin berangkat pagi-pagi sekali."
"Kau sangat bersemangat. Ada apa sebenarnya?" gumam mama. "Energi apa yang membuatmu akan berangkat sepagi ini?"
Aku tersenyum dan berkata, "Energi cinta, Ma." Lalu, aku menyalimi tangan mama dan berangkat sekolah.
Mama tak bisa memprotes lagi. Ia hanya geleng-geleng kepala sambil berceloteh, "Rhama benar-benar sedang mabuk cinta."
"Pada siapa, Ma?" tanya papa yang tiba-tiba saja hadir di belakang mama.
Mama menoleh dan berkata, "Yaa... pada siapa lagi jika bukan pada Mei."
"Gadis itu sudah membuat Rhama jatuh cinta sejak hari pertama masuk sekolah."
"Mama kenal dengan gadis itu?" tanya papa.
"Mama belum berkenalan secara langsung. Rhama belum memperkenalkannya pada kita. Tapi, mama sudah pernah melihatnya dan menyelidiki kesehariannya. Dia gadis yang baik, sangat manis, dan luar biasa jelita. Keluarganya juga keluarga baik-baik. Mama sangat mendukung hubungan mereka." Mama begitu bersemangat menceritakannya pada papa.
Papa hanya mengangguk-anggukkan kepala. Lalu, mama lanjut berkata, "Pa, bagaimana jika kita minta Rhama untuk mengenalkan Mei secara resmi pada kita? Mama sebenarnya sangat penasaran dan tidak sabar ingin berkenalan secara langsung dengannya."
"Rhama adalah penerus kita satu-satunya, Pa. Mama harus memastikan kelak Rhama mendapat pasangan hidup yang benar-benar baik dan berkompeten. Dan, mama rasa Mei sangat memenuhi kriteria itu. Mama bahkan berpikir bagaimana jika setelah tamat SMA Rhama bertunangan saja dengan Mei?"
__ADS_1
"Ma...." Ucapan papa segera menghentikan ocehan mama yang menggebu-gebu.
"Papa rasa masih terlalu dini, terlalu cepat untuk meresmikan hubungan mereka. Rhama masih muda, labil. Mungkin itu hanya cinta monyet," ucap papa.
"Haaaahhh... tapi, mama sangat setuju dan suka jika kelak Mei menjadi menantu kita, Pa," rengek mama.
Papa menggeleng-gelengkan kepala. "Sebaiknya Mama fokuskan dulu Rhama untuk belajar. Sebentar lagi dia akan ujian kelulusan. Jika memang mereka berjodoh, maka pasti mereka pada akhirnya akan bersatu. Jika tidak, mama jangan memaksa dan kecewa," ucap papa sehingga membuat bibir mama menjadi manyun.
Sementara itu, di saat yang sama bibirku sejak tadi tak bisa kuhentikan untuk terus tersenyum. Sepanjang menyetir aku terus saja tersenyum dan sangat bersemangat. Hingga tanpa terasa aku sudah sampai di depan rumah Mimi.
Kulirik jam tanganku. Masih pukul 06.06. Pintu rumahnya masih tertutup rapat, sunyi. Sepertinya ia belum berangkat sekolah. "Dia sering datang terlambat bukan? Mungkin dia biasa berangkat siang," gumamku. Sehingga, aku memutuskan untuk menunggunya di dalam mobilku yang terparkir di sisi jalan.
Aku melihat tampangku di cermin mobil sambil sesekali bersiul riang. "Kau sangat tampan, Rhama," gumamku narsis dan penuh percaya diri. "Wanita mana yang bisa menolak pesonamu?"
"Reno -si preman pura-pura tobat itu- bukan tandinganmu, tidak akan kubiarkan dia merebut gadis cerewet dariku," ucapku sengit.
Lalu, seolah ada kontak batin... suara motor Reno tiba-tiba terdengar mendekat di telingaku. "Hehh, baru saja kusebut dia sudah datang."
Aku melihat motornya semakin mendekat dan akhirnya berhenti di hadapan mobilku. Ia bergegas turun dari motornya dan menghampiriku. Sehingga, dengan malas aku terpaksa membuka kaca mobil karena ia terus mengetuknya.
"Wuawwwh! Kakak sepupu," sapanya. Aku berekspresi datar. Ia lanjut berkata, "Sangat tidak biasanya sepagi ini kau sudah berada di sini. Angin apa yang menggerakkanmu ke sini?"
Aku tetap diam dan tak menatapnya sama sekali. Aku mengacuhkannya.
Ia berkata lagi, "Mengapa kau sendirian, tidak berangkat bersama Mei, hahh?"
"Bukan urusanmu," jawabku kesal.
"Baiklah, aku menghargai privasimu. Tapi, mengapa kau sendiri sangat senang mencampuri urusanku?" Perkataan Reno terdengar semakin menjengkelkan.
"Kau terlalu ge-er. Aku tak punya waktu untuk mencampuri urusanmu." Ucapanku bernada kesal.
"Lalu, mengapa sepagi ini kau punya banyak waktu untuk mencampuri urusanku dengan Mimi?" Perkataannya terdengar menantangku.
Aku turun dari mobilku dan kini berdiri di hadapannya. Kami saling pandang dengan tatapan sinis. "Karena aku tak suka dia dekat dengan pria berandalan sepertimu," ucapku sengit.
__ADS_1
"Mengapa?" tanyanya. "Kau begitu perhatian padanya."
"Aku hanya ingin melindunginya dari pria busuk sepertimu."
"Mengapa? Mengapa kau sangat tak suka aku mendekatinya? Siapa kau? Ada hak apa kau melarangku mendekatinya?"
Aku diam, tak bisa menjawab ucapan Reno lagi. Kenyataannya aku memang bukan siapa-siapa, aku tak memiliki hubungan apapun dengan Mimi.
"Siapa kau?" Reno mengulangi pertanyaannya lagi dan aku tetap diam.
"Kau kakak sepupunya?" tanyanya lagi.
Aku mengangguk-angguk sembari berkata, "Tentu saja."
Reno menjadi menyeringai seketika. Ekspresinya bagiku terkesan sangat mengerikan. Ia kemudian bergumam, "Kau pembohong hebat."
Aku spontan terkejut mendengar ucapannya. Sementara itu, dengan santainya dia berkata, "Aldo dan Yoga sudah menyelidiki latar belakangmu dan faktanya ternyata sangat mencengangkan."
Aku menatapnya. Ia balik menatapku dengan sinis sambil berkata, "Semalam aku baru tahu... kau dan Mimi tidak memiliki hubungan saudara apapun."
Aku hanya diam dan sama sekali tak mencoba untuk membantah ataupun mengelak dari kebenaran ucapannya.
"Hhhh...." Reno mendengus. "Kau bintang drama yang hebat."
"Kau memutuskan hubunganmu dengan Mei. Untuk apa? Mengapa?"
Aku tetap diam. Tak ingin menjelaskan apapun padanya.
Tiba-tiba Reno menarik kerah seragamku sambil berkata, "Selama ini kau sengaja kan menjauhkan aku dengan Mimi? Kau menyukainya bukan?"
Aku tak gentar dengan tatapan tajamnya. Dengan berani aku menjawab, "Ya, aku menyukainya."
"Bukkk!" Satu tonjokan spontan menghantam rahangku. Tubuhku terdorong ke belakang.
"Beraninya kau membodohiku." Reno mengamuk. "Berpura-pura menjadi sepupunya." Ia mengayunkan kaki panjangnya untuk menendang perutku.
__ADS_1
"Hakkh!" Aku sama sekali tak siap menerima tendangannya. Ia kembali mengayunkan kakinya. Namun, kali ini aku bergegas menyingkir. Aku bangkit dan berusaha membalas pukulannnya. Kami berkelahi dan saling serang.
"Hei, stoppp!" Suara berat seorang lelaki mengejutkan kami berdua.