Rhama Dan Cinta

Rhama Dan Cinta
Seragam Putih Abu-Abu


__ADS_3

Akhirnya jam pulang sekolah pun tiba. Aku bingung mau mengajak Mimi jalan-jalan kemana. Akhirnya, aku memutuskan untuk mengajak Mimi ke sebuah mall. Karena, kami bisa makan siang di sana lalu melihat-lihat hal yang kami suka. Bahkan, jika waktunya cukup panjang nanti, aku berencana mengajaknya menonton bioskop di mall.


Setelah menghabiskan makan siang kami, Mimi bertanya, "Rhama, apa mamamu tidak mencarimu jika kau tidak langsung pulang?"


Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. "Sejak kemarin mama sibuk, banyak acara karena kakak sepupuku akan menikah. Lalu, hari ini mama ada arisan. Mama akan pulang sore. Lagipula, aku sudah bilang pada mama tidak langsung pulang karena harus menyelesaikan tugas kelompok." Aku menjelaskan dengan rinci.


Mimi langsung bergumam, "Kau membohongi mamamu."


"Ya, mau bagaimana lagi? Mama pasti tidak mengizinkan aku jalan-jalan. Ia akan menyuruhku les privat. Apalagi, ini sudah mendekati ujian."


"Seharusnya memang kita tidak di sini. Seharusnya kita mempersiapkan diri untuk ujian," ucap Mimi.


"Besok kita belajar. Hari ini kita refreshing dulu!" sahutku segera dengan ceria dan terkesan masa bodoh. Lalu, aku pun mengajak Mimi masuk ke sebuah arena permainan.


Kami membeli koin di loket dan memainkan beberapa permainan. Lalu, aku mengajaknya bermain memasukkan bola basket ke ring. Ia mencoba memasukkan berkali-kali. Tapi, tak ada satupun yang masuk.


'Dia memang bodoh,' gumamku dalam hati.


"Sini! Aku ajarkan!" Aku mengambil bola basket dari tangannya.


Aku mencontohkan dan memberitahunya teknik memasukkan bola. Lalu, "Blushhh!" Bola basket yang kulempar masuk ke dalam ring. Sekali lagi kulempar bola itu dan kembali masuk.


"Wawww! Kau hebat sekali!" puji Mimi dan aku tersenyum bangga.


"Rhama!"


"Hahhh!" Aku menoleh ke arah suara dan sangat terkejut. "Mama!"


"Dalam waktu setengah jam... kau harus sudah sampai di rumah."


Aku dan Mimi terdiam. Dalam hitungan detik Mimi mengulurkan tangan ingin menyalami mama. Namun, lirikan mama begitu tajam dan ia mengakhiri ucapannya dengan berkata, "Mama tunggu."


Lalu, mama melangkah pergi begitu saja tanpa basa-basi dan aku langsung tahu bahwa mama sedang sangat marah besar padaku. Kami pun memutuskan untuk segera pulang.


Begitu sampai di rumah mama sudah menunggu di kamarku. "Mengapa kau tidak menuruti ucapan mama, Rhama?"


Aku terdiam, menundukkan kepalaku. Aku tahu aku salah.


"Hanya untuk gadis seperti itu kau mengkhianati kepercayaan mama," ucap mama begitu tegas.

__ADS_1


Mama menggeleng-gelengkan kepala lalu berkata, "Mama tak habis pikir apa yang kau lihat dari gadis itu?"


"Kau membuang Mei hanya untuk bersamanya."


"Kau melempar permata hanya untuk menggenggam kerikil. Dimana akal sehatmu, Nak?"


"Apa kau sudah buta? Kau lihat penampilannya yang benar-benar tidak berkelas, urak-urakan."


"Ma...." Ucapanku menghentikan ocehan mama. "Aku menyukainya... apa adanya dia."


"Bodoh!" teriak mama langsung.


"Mama pikir gadis yang bernama Mimi itu lebih baik dari Mei. Ternyata... sangat jauh, benar-benar tak sebanding. Jangan sia-siakan masa depanmu hanya karena gadis itu! Fokuslah belajar! Jangan sampai nilai ujianmu hancur karena sibuk berhubungan dengannya!"


"Tidak, Ma. Mimi malah semakin membuatku semangat untuk sekolah dan belajar...." Belum sempat ucapanku selesai, mama segera mencetus dengan keras, "Hentikan omong kosongmu!"


"Mama tak ingin lagi kau berhubungan dengannya. Dia hanya akan membawa pengaruh yang buruk untukmu."


"Tapi, Ma... Mimi gadis yang sangat baik. Aku yakin Mama akan menyukainya jika sudah mengenalnya." Aku terus membela Mimi.


"Kau benar-benar keras kepala, Rhama," keluh mama.


"Percayalah Ma! Mimi gadis yang baik dan tidak memberi pengaruh buruk padaku." Mama hanya diam.


"Akan kubuktikan... nilai ujianku akan sangat bagus dan aku akan tetap jadi juara umum di sekolah." Aku begitu percaya diri. Sedangkan, mama tampak kesal dengan sikapku.


'Bagaimanapun juga aku akan mempertahankan dan memperjuangkan hubunganku dan Mimi,' tekadku dalam hati.


Hari-hari berikutnya meskipun mama melarang, aku tetap terus berhubungan dengan Mimi. Kami menghabiskan waktu istirahat bersama, ke perpustakaan bersama, pulang bersama, pergi sekolah bersama. Dan, aku tak merasa bosan sedikitpun. Selalu ada rasa bahagia menyelimuti hati ketika bersamanya. Aku bahkan tak peduli pada apa yang para siswa lain bicarakan tentang kami. Kami menikmati hari-hari indah kami bersama hingga tibalah hari ujian.


Di hari pertama ujian dengan tidak bersemangat Mimi berkata, "Aku rasa nilai ujianku tadi tidak cukup bagus."


"Tidak masalah," sahutku dengan ringan. "Apapun yang terjadi, ada aku di sini... Aku siap sedia untukmu. Kau tak perlu nilai bagus untuk membuatmu bahagia. Aku akan membahagiakanmu dan selalu mencintaimu apapun keadaanmu." Aku berkata dengan benar-benar jujur dan sungguh-sungguh.


Sedangkan, Mimi tetap tak bersemangat. "Tak ada hubungannya dengan cintamu," ucapnya. "Aku bicara tentang nilaiku yang jelek."


"Mengapa kau terlalu mengkhawatirkannya?" ucapku. "Kadang kesuksesan itu tidak selalu ditentukan oleh nilai yang baik."


"Mungkin nilaimu jelek, kau tak pintar dalam pelajaran. Tapi, menurutku kau itu multi talenta. Kau punya banyak keahlian." Aku menghiburnya. Sementara itu, dia hanya terdiam, mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Kau pintar memasak, kau pintar berkebun, kau pintar membereskan rumah, kau pintar mengecat...." cerocosku.


"Hahh, kau meledekku," ucapnya.


"Tidak, aku serius," ucapku. "Bagiku itu semua sudah sangat cukup untuk memenuhi persyaratan... untuk menjadi...." Aku agak sedikit gugup untuk melanjutkan. "... istriku," ucapku kemudian.


"Hahhh!" Mimi begitu terkejut. Ia melotot. Lalu, ia terbahak-bahak.


"Mengapa kau tertawa?" tanyaku.


"Kau lucu sekali," ucapnya. "Lihat! Berkacalah! Kau bahkan masih memakai seragam putih abu-abu. Hahahaha... Sudah berpikir menikah. Kau sama seperti anak SD yang baru berpacaran... berjanji akan sehidup semati dan saling panggil dengan panggilan mami papi."


"Hahahahaha...." Ia terus tertawa. Sedangkan, aku sedikit kecewa dengan sikapnya.


Aku bertanya dengan serius, "Apa kau tak serius denganku?"


"Apa kau hanya ingin main-main?"


"Tidak begitu," ucapnya. "Kita masih muda, labil. Kita tak tahu apakah kita akan berjodoh atau tidak? Kita jalani saja dulu."


"Mungkin saja suatu hari ... kau akan bosan denganku dan berubah pikiran...."


"Tidak," tegasku segera. "Aku ingin suatu hari... kau menjadi pengantinku." Aku begitu serius mengatakannya, membuat Mimi tercengang.


"Maukah nanti kau menjadi istriku?" tanyaku dengan terus menatapnya.


Ia tercengang, matanya membola. Entah apa yang dipikirkannya. Lalu, setelah beberapa saat ia berkata, "Aaahh... hmmmh... Itu masih lama, kita pikirkan lagi nanti!"


"Bagaimana jika begitu lulus SMA, aku langsung melamarmu?" tanyaku. "Apa kau akan menerimanya?"


"Deg, deg, deg, deg!" Degup jantung Mimi berkejaran. 'Mengapa Rhama tampak begitu serius?' pikirnya.


"Mengapa kau diam saja?" tanyaku.


"Hahh... Tamat SMA langsung menikah! Apa kau tidak ingin kuliah?" Ia jadi salah tingkah.


"Tidak ada aturan yang melarang mahasiswa untuk menikah," jawabku. "Kau juga tetap bisa kuliah setelah menikah. Aku takkan melarangmu."


"Aku rasa pembicaraan kita sudah terlalu jauh," ucap Mimi dengan tegas. "Tak usah terburu-buru. Nanti kau akan menyesal."

__ADS_1


Aku terdiam sesaat. Aku menatapnya. "Aku akan menyesal jika akhirnya tidak menikah denganmu," ucapku kemudian dan Mimi hanya terdiam, tercengang.


__ADS_2