
"Terima kasih sudah mengantarku pulang." Mimi berkata pada Reno.
"Masuklah ke dalam rumah segera!" ucap Reno. "Aku harus pastikan kau benar-benar aman hingga masuk ke rumahmu."
Mimi menatap Reno dan kembali berkata, "Terima kasih sudah membantuku... menyelamatkan diri dari preman itu. Kau jadi terluka karena aku."
"Tidak masalah. Lain kali berhati-hatilah! Jaga dirimu baik-baik!"
Gadis cerewet mengangguk dan Reno kembali berkata, "Sekarang masuklah!" Lalu, Mimi melangkah menuju pintu rumahnya dan Reno terus memperhatikannya hingga Mimi benar-benar masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu. Setelah itu, ia baru pergi meninggalkan rumah Mimi.
Sementara itu, di dalam rumah Mimi tertegun. Ia menyadari bahwa Reno selalu baik padanya. 'Bagaimana aku bisa membalasnya?' pikirnya.
Saat beberapa hari lalu Mimi sakit demam, seseorang mengetuk pintu rumahnya di pagi hari. Ternyata itu Reno. Sebelum pergi ke sekolah ia mampir dan membawakan bubur ayam untuk Mimi sarapan dua hari berturut-turut. Ia bahkan tak peduli hal itu telah membuatnya terlambat datang ke sekolah.
'Tak usah repot mengantarkan sarapan untukku. Aku sudah makan. Kau bisa terlambat,' ucap Mimi saat itu. Namun, tetap saja Reno melakukannya. Lalu, sepulang sekolah ia juga mampir hanya untuk mengantarkan buah-buahan.
'Kau harus banyak makan buah agar kau cepat sembuh,' ucap Reno saat itu.
'Berhentilah mengantarkan makanan padaku setiap hari seperti ini!' ucap Mimi.
'Aku akan berhenti jika kau telah sehat. Karena itu, cepatlah sehat!'
'Beristirahatlah! Aku lihat tadi pagi kau menyapu teras saat aku baru datang,' ucap Reno. 'Bukankah kau demam? Harusnya kau beristirahat. Tidak usah mengerjakan pekerjaan rumah dulu!'
'Kau terlalu berlebihan. Aku hanya demam biasa,' ucap Mimi. 'Aku biasa selalu mengerjakan pekerjaan rumah meskipun sedang sakit. Malah, jika banyak bergerak, aku akan lebih cepat sembuh daripada terus-terusan berbaring saja.'
Reno terdiam sejenak kemudian ia berkata, 'Kau mengingatkanku pada ibuku. Ia sama sepertimu.'
Mimi segera menatap Reno yang raut wajahnya mendadak murung. Ia berkata, 'Saat demam pun... ibu masih menjemur pakaian, membereskan rumah, memasak untuk Ayah dan aku. Dia ibu terbaik dalam hidupku.'
Saat itu Mimi bisa merasakan Reno begitu merindukan ibunya. Seorang pria yang dicap berandalan ini ternyata begitu mellow dan terlihat seperti anak kecil yang ingin menangis.
__ADS_1
...****************...
Aku kesal pada diriku sendiri karena tidak bisa mengendalikan emosi dan perasaanku pada Mimi. Aku kesal karena ternyata aku menjadi pria yang tak setia. "Mengapa kau selalu ada dalam pikiranku?" Aku berkata dengan geram.
Perasaan ini tidak indah, malah menyiksaku. Aku juga begitu kesal dan cemburu pada Reno. Aku sangat tak ingin gadis cerewet itu membalas perasaan Reno. Semua tercampur aduk membuatku sungguh tak bisa berpikir jernih.
'Aku harus melepaskan salah satu,' pikirku. Aku tidak mungkin memiliki keduanya dan selama ini aku sudah berusaha melepaskan Mimi. Tapi, kejadian tadi membuat hatiku benar-benar terbakar. Aku tak rela ia bersama Reno.
"Aku tak bisa membiarkannya," gumamku.
'Tapi, bagaimana dengan Mei?' pikirku. Aku harus menjaga perasaannya. Jika terus begini, aku akan menyakiti perasaannya. Aku terbebani dengan ikatan kami dan janjiku pada Ibu Mei.
"Haaaakkkhhh!" teriakku kesal di kamar mandiku.
Lalu, dalam hitungan detik derap langkah kaki terdengar berlarian mendekati kamar mandiku. "Rhama! Kamu baik-baik saja, Nak?" suara mama terdengar panik.
"Dukk! Dukk! Dukk!" Mama menggedor pintu kamar mandiku, membuat aku bergegas membukanya. Dan, mama bisa bernafas lega seketika. "Hooooh... kamu baik-baik saja. Syukurlah," ucapnya.
"Memangnya aku kenapa?" tanyaku seperti orang bodoh.
"Oh, tidak ada apa-apa, Ma. Aku hanya tak sengaja melihat lipas," jawabku pelan untuk menutupi alasan sebenarnya.
"Hakhhhh! Lipas!" Ekspresi mama begitu kaget dan jijik. Mama begitu tak suka lipas. Ia langsung berteriak, "Bibiiiii! Bibiiiiii!"
Bibi pun segera berlarian ke kamarku. "Ada apa Nyonya!"
"Bersihkan kamar mandi Rhama! Pastikan tidak ada lipas lagi di sana!" ucap mama lantang dan tegas. Sedangkan, aku sejak tadi tak berekspresi apapun.
Mama jadi menyadari kejanggalan sikapku. "Ada apa, Rhama?" tanya mama segera. Mama menyentuh pipiku. "Apa yang kamu pikirkan, Sayang? Mengapa melamun?"
"Hmmh...." Aku hanya menggelengkan kepalaku.
__ADS_1
"Mengapa kau tutupi dari mama? Kau pasti punya masalah. Mama tahu."
Aku tetap diam. Ini membuat mama segera menebak, "Apa ini masalah dengan Mei?"
Aku tetap diam dan mama terlihat begitu menunggu jawabanku. Namun, aku tetap tak ingin cerita. Sehingga, akhirnya mama berkata, "Jika masalahmu tentang cinta, mama yakin kau akan bisa menyelesaikannya dengan baik. Tapi, hal itu tidak boleh merusak masa depanmu."
"Merusak masa depan?" Aku langsung bingung dengan arah ucapan mama.
"Tidak sampai dua bulan lagi kau akan ujian nasional, Rhama. Kau harusnya belajar, mempersiapkan dirimu. Jangan terlalu santai dan fokus pada masalah cinta! Kau juga harus mematangkan persiapanmu menghadapi ujian."
Ucapan mama membuatku tersadar bahwa selama ini aku benar-benar telah melupakan hari ujian yang semakin mendekat di depan mata. Aku terlalu fokus dengan masalah perasaanku.
"Mama sudah memesan guru privat untuk datang ke rumah. Mulai minggu depan ia akan mengajarimu setelah jam pulang sekolah," ucap mama.
Aku hanya mengangguk kecil. Lalu, ketika mama ingin meninggalkan kamarku. Aku segera bertanya, "Ma, mengapa Mama memilih Papa?" Mama sering bercerita dulu banyak pria yang menyukai mama.
"Karena, papa mencintai mama pastinya. Mama dulu tidak mencintai papa," jawab mama dengan entengnya.
"Apa yang membuat papa mencintai mama?"
"Mengapa tidak kau tanyakan langsung pada papa, Rhama?" ucap mama.
"Mama tidak tahu alasannya?" tanyaku.
"Untuk apa kau bertanya seperti ini?" Mama menatapku. "Untuk mencintai seseorang itu tidak perlu ada alasan. Perasaan cinta itu tumbuh sendiri tanpa kau rencanakan dan inginkan."
"Jika kau mencintai seseorang karena ada alasannya, mungkin itu bukan cinta. Cinta sejati tak memerlukan alasan untuk muncul." Perkataan mama hanya membuatku terdiam, tak berkata lagi. Sehingga, mama pun meninggalkan kamarku.
Namun, sebelum benar-benar pergi mama berkata, "Jangan terlalu fokus pada percintaan! Bukankah cinta Mei sudah kau dapatkan? Jodoh tak akan lari. Ia seperti magnet yang akan tertarik padamu karena kau adalah pasangannya. Fokuslah pada masa depanmu, Rhama! Ujianmu tinggal menghitung hari."
Aku pun menghempaskan tubuhku ke atas kasur. 'Perasaan cinta itu tumbuh sendiri tanpa kau rencanakan dan inginkan.' Perkataan mama terngiang di telingaku.
__ADS_1
'Benar kata mama,' gumamku dalam hati.
'Cinta sejati tak memerlukan alasan untuk muncul.' Lagi-lagi perkataan mama terngiang di telingaku. Aku benar-benar tak tahu apa alasanku menyukai Mimi. Sebenarnya dia benar-benar bukan tipeku. Tapi, perasaan cinta itu muncul begitu saja tanpa bisa kutolak.