Rhama Dan Cinta

Rhama Dan Cinta
Kencan Pertama


__ADS_3

Hari Kamis pun tiba. Saat jam istirahat sekolah Mimi berdiri di depan pintu kelasku. Tapi, aku tak melihatnya karena pandanganku terlalu fokus pada Mei. Lalu, tiba-tiba Mei berkata, "Sepertinya gadis itu mencarimu." Aku spontan langsung mengalihkan pandanganku dari Mei dan menoleh ke arah pintu.


Gadis cerewet berdiri di sana, memegang sebuah kertas yang terlipat. Aku pun bangkit dari tempat dudukku dan berjalan ke arahnya.


"Ada apa?" tanyaku setengah tak peduli.


Dia tak berkata apapun untuk menjawab pertanyaanku. Dia hanya menyodorkan kertas itu padaku diikuti dengan lirikan siswa di sekitar kami yang menatap curiga. Mereka begitu ingin tahu. "Apa itu surat cinta?" bisik mereka.


"Tidak mungkin," gumam yang lainnya. "Tapi, mungkin bisa jadi juga begitu."


Sementara itu, aku segera bertanya, "Apa ini?"


"Bukalah!" ucapnya. Lalu, ia pergi begitu saja dari hadapanku yang masih menatapnya.


Aku cukup penasaran sehingga segera membuka lipatan kertas itu. "Hahhh!" des*ahku sambil menyunggingkan senyuman.


Mei yang menyaksikan ekspresiku dari tempat duduknya pun menjadi penasaran. "Kertas apa itu?" tanyanya begitu aku kembali ke tempat dudukku.


"Bukan apa-apa," jawabku.


"Tidak mungkin," balas Mei segera.


Aku segera memandang wajah Mei yang tampak sedikit berkerut. Kemudian, dia berkata, "Aku melihat ekspresimu ketika membuka kertas itu."


"Apa yang tertulis di dalamnya?" tanyanya lagi.


Aku tersenyum ringan sambil berkata, "Mengapa? Kamu cemburu?"


Mei diam saja, namun tampak memalingkan wajahnya dariku. 'Sepertinya dia tidak suka,' pikirku.


"Baiklah, aku beritahu," ucapku untuk membujuknya. "Ini lihatlah!" Aku memberikan kertas itu pada Mei.


Mei membuka lipatan kertas itu dan tersenyum serasa tak percaya. "Ini konyol," ucapnya sambil segera mengembalikan kertas itu padaku tanpa melipatnya.


"Ini resep sambal tempoyak," ucapku.


"Untuk apa dia memberikan catatan resep itu padamu?" tanya Mei dengan nada sedikit tidak senang.


"Kamu tidak usah cemburu, Mei! Aku yang memintanya mencatatkan resep itu untukku."


"Aku tidak cemburu padanya," ucap Mei segera. "Mengapa aku harus cemburu?"

__ADS_1


'Benar juga,' pikirku. 'Mei tidak mungkin cemburu padanya. Gadis cerewet bukan siapa-siapa. Dia sama sekali tak sebanding dengan Mei. Ibarat bibit unggul dan tanaman hama.'


"Mengapa kau minta dia mencatatkan resep itu, Rhama?" Mei cukup heran.


"Karena sambal tempoyak itu sangat enak. Aku sangat menyukainya," jawabku segera dan kulihat ekspresi Mei tiba-tiba seperti merasa jijik.


"Itu durian busuk, Rhama," ucapnya.


"Tidaaaakkk," ucapku segera. "Tempoyak itu dari buah durian yang difermentasikan, bukan durian busuk."


"Hihhh, aku tidak suka. Baunya sangat menyengat. Wujudnya juga seperti... hihh, aku bisa muntah jika membayangkannya." Mei langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.


'Mei ternyata tidak suka tempoyak,' pikirku. 'Dengan membayangkannya saja dia merasa ingin muntah. Sangat berbeda dengan gadis cerewet.' Aku teringat gadis cerewet saat itu begitu lahap menyantap sambal tempoyaknya.


Tapi, kemudian aku berpikir, 'Hahh... tentu saja mereka berbeda. Mei sangat berkelas, sedangkan gadis cerewet adalah gadis yang kualitasnya sangat tidak jelas.' Lalu, aku tersenyum menatap Mei dan berkata, "Jika begitu aku tidak akan mengajakmu makan tempoyak ataupun durian."


Mei tersenyum lalu tiba-tiba dia teringat sesuatu. "Oh, ya Rhama... aku ingin mengajakmu ke mall. Bisakah hari ini kau menemaniku ke mall setelah pulang sekolah? Aku ingin membelikan hadiah ulang tahun untuk ibuku. Besok adalah hari ulang tahunnya. Tepat tengah malam nanti aku ingin memberikan kejutan pada ibu."


"Tapi, itu jika kau bisa. Jika tidak bisa, tidak apa-apa," tambahnya.


"Tentu saja aku bisa," ucapku segera. Aku malah senang bisa jalan-jalan dengan Mei. Anggap saja ini kencan pertama kami.


"Aku akan mengantarmu kemanapun kau mau." Aku begitu bersemangat.


Langkah kaki gadis cerewet segera terhenti. Reno pun lalu berkata, "Kau belum menjawab pertanyaanku kemarin?"


Gadis cerewet membalikkan badannya. Sekarang mereka saling bertemu pandang. "Pertanyaan apa?" tanya gadis cerewet.


"Bagaimana dengan penampilanku saat ini? Apa kau suka?" tanya Reno.


"Rapi," ucapnya.


"Apa kau suka dengan penampilanku?" tanya Reno lagi.


"Yaaa," jawab gadis cerewet tanpa menyiratkan ekspresi kesukaan. Namun, Reno yang mendengar jawaban itu menjadi begitu sangat senang. Senyum lebar spontan terkembang di wajahnya. Sementara itu, gadis cerewet segera membalikkan badannya dan berlalu dari hadapan Reno.


Sedangkan, Reno begitu girang dan hatinya berbunga-bunga. Satu kata jawaban dari gadis cerewet tadi sudah bisa membuat suasana hatinya sepanjang hari ini akan menjadi sangat menyenangkan.


Hingga jam pulang sekolah tiba, ia masih merasa sangat bahagia dan telah berdiri dengan motornya menunggu gadis cerewet tiba di depan gerbang. Begitu ia melihat gadis cerewet, ia segera memanggil, "Mimi!"


"Hahh!" Gadis cerewet spontan menoleh.

__ADS_1


"Ayo aku antar pulang!" ucapnya begitu percaya diri.


"Tidak, terima kasih," jawab gadis cerewet dengan mantap. Lalu, ia segera membalikkan badan dan mulai berjalan kaki untuk pulang. Sehingga, Reno segera berkata, "Tunggu dulu!"


Kejadian yang sama seperti dulu pun berulang kembali. Reno mengikuti langkah gadis cerewet berjalan kaki sambil membawa motornya dengan sangat pelan. Sepanjang perjalanan ia tak henti-henti untuk membujuk gadis cerewet agar mau diboncengnya pulang ke rumah. Namun, tetap saja gadis cerewet terus menolak.


Aku dan Mei pun kembali melihatnya dari dalam mobil yang kukendarai. Mei bergumam, "Hmmmh... Reno masih saja mengejar gadis itu."


Aku spontan menjawab, "Iya. Padahal, gadis cerewet sudah menolaknya." Suaraku terdengar sedikit kesal.


"Hmmh!" gumam Mei sambil langsung menatapku. "Kau sepertinya begitu banyak tahu tentang mereka. Kau dekat dengannya."


"Tidak, kami tidak dekat," tolakku segera. "Biasa saja," ucapku mengelak.


Sejujurnya hatiku kesal melihat Reno terus berusaha mendekati gadis cerewet itu. 'Mengapa ia masih saja bersikeras?' bisikku dalam hati. 'Ia bahkan mengubah penampilannya.'


Di saat yang sama Mei berkata, "Reno sampai mengubah penampilannya pasti demi gadis itu."


"Sepertinya dia benar-benar jatuh cinta. Dia serius," tambah Mei.


"Hahh, kelakuan pria preman seperti itu mana bisa dipercaya. Itu hanya sandiwara," ucapku. "Setelah berhasil mendapatkan cintanya, dia pasti akan mempermainkannya."


"Aku rasa Reno tidak seperti itu," ucap Mei dan entah mengapa perasaanku jadi bertambah kesal setelah mendengarnya.


"Mengapa kau bisa berkata seperti itu?" ucapku.


"Pria yang sulit jatuh cinta... biasanya akan serius dan setia pada pasangannya," ucap Mei.


"Hahh... itu adalah aku," ucapku. "Hahahahahaha...." Aku tertawa dengan garing dan Mei hanya menatapku. Sehingga, aku pun terpaksa menghentikan tawaku dan kembali fokus menyetir. Hingga akhirnya kami sampai di halaman parkir sebuah mall.


Sebelum turun dari mobil aku mengirim pesan lebih dulu pada mama yang isinya, 'Ma, aku tidak langsung pulang hari ini. Aku mengantar Mei membelikan hadiah untuk ibunya lebih dulu.' Dan, sesuai dugaanku mama begitu mendukung kedekatanku dengan Mei.


Mama pun segera membalas, 'Iya, Rhama. Jangan lupa ajak Mei makan siang dulu! Ini sudah lewat jam makan siang. Dia pasti sudah lapar.'


Sehingga, begitu masuk di mall aku segera mengajak Mei makan siang dulu sebelum berbelanja. Mei setuju dan aku bertanya, "Kamu suka makanan apa?"


"Pastinya bukan tempoyak," celetukku kemudian.


Mei tersenyum begitu manis. Lalu, ia berkata, "Bagaimana jika kita makan masakan Jepang?"


"Oke," jawabku segera. 'Apapun yang kau inginkan akan kuturuti Mei,' batinku. Sehingga, tak berapa lama kemudian kami sudah berada di dalam sebuah restoran Jepang terkenal dan memesan menunya.

__ADS_1


'Ini adalah kencan pertama kami,' pikirku sangat senang.


__ADS_2