
Aku bangkit dan duduk diam di tepi ranjang. Kulihat Tama juga melakukan hal yang sama, lalu tersenyum miring.
"Kamu jauh lebih hot daripada istriku ternyata. Kalau tau begini, aku nggak akan rela kamu tinggalin, Ta."
Aku mendengkus kasar lalu bangkit memunguti pakaian yang sudah berserakan. Kupeluk pakaian menutup dada dan akan melangkah ke kamar mandi.
Bahuku dicengkeram Tama. "Sayang, ya. Dulu aku tidak sempat mengambil perawanmu. Hanya selaput dara saja yang pecah," bisiknya yang membuat dadaku bergemuruh dan mulai naik pitam.
"Aku malah bersyukur kamu nggak jadi suami aku."
"Oh, ya? Bukannya selama ini rasa rindu itu yang menyiksa kita?"
Tama menaikkan sudut bibir lalu menggelengkan kepalanya. Ia menyapu bibir dengan ujung jari.
"Yakin, kamu bersyukur menikah dengan Satria?" tanyanya lagi memastikan melihatku yang masih mematung.
"Ya," jawabku tegas.
"Buktinya, sekarang kamu tidur sama aku. Apa jadinya kalau Satria tahu," bisiknya lagi. Aku mengepal tangan geram.
"Cukup, Tama! Ya, ini kesalahanku yang pertama dan terakhir. Rasa rindu yang kau sebutkan itu, cukup mengajariku untuk lagi-lagi meninggalkanmu."
Aku berlalu menuju kamar mandi. Cukup berdebat dengannya. Aku memejamkan mata, menetralkan hati dan jantung yang sudah mencolos keluar. Kenapa hati dan otak selalu tidak pernah sinkron, ah ... entahlah.
Aku berjalan menuju pintu, membuka kunci dan kuputar knopnya. Berlalu meninggalkan Tama yang terlihat masih sibuk dengan acara mandinya.
***
Sesampai di rumah, Satria tidak ada di rumah. Entah ia keluar ke mana. Aku yang memiliki kunci ganda, masuk langsung menuju kamar mandi. Membersihkan diri dari sisa-sisa kenikmatan bersama Tama tadi.
Ada rasa bersalah yang kini menghantui hari-hariku. Selesai mandi, pintu rumah diketuk seseorang. Tubuhku amat terasa lelah, malas bangkit dan hanya ingin merebahkan diri di kasur.
Lagi, suara ketukan pintu kembali terdengar. Dengan wajah bantal aku menuju knop pintu.
Arini datang dengan sebuah piring berisi bolu. Apalagi sekarang, batinku melihatnya penuh keheranan.
"Boleh, saya masuk?"
"Mmmhh ...." Belum aku menjawab, Arini sudah melangkah masuk. Meletakkan piring yang ia bawa di atas meja ruang tamu.
Dia langsung duduk menyilangkan kakinya di sofa. Aku ikut menemani, duduk di hadapannya.
"Saya nggak dikasih minum?"
__ADS_1
Aku menatapnya datar, lalu perlahan bangkit menuju dapur. Membawa segelas teh untuknya, matanya bergerilya menatap dinding
Hanya ada foto pernikahan berukuran 24 inch dan beberapa foto kebersamaan kami sebelum menikah. Dulu, senyuman itu terlukis dengan lebar dan bahagia. Sekarang perlahan sirna seiring berjalannya waktu.
"Saya melihat Anda masuk dari wisma bersama seorang pria."
Aku tercengang, menoleh ke kiri dan kanan. Takut, jika saja tiba-tiba Satria muncul.
"Nggak usah takut, saya akan simpan rahasiamu. Tapi, tolong lakukan sesuatu untukku."
"Apa?" tanyaku menyatukan alis.
"Tolong, katakan pada suamiku kalau semalam kita bersama."
"Apa?" tanyaku lagi dengan mengerutkan dahi.
"Anda tahu selingkuh itu tidak baik, tapi Anda melakukannya."
"Ini adalah caraku untuk tetap menjaga kewarasanku."
Arini bangkit, lalu memutar knop pintu. "Bukankah kita memang berada di tempat yang sama?" katanya lagi yang membuatku terjebak dalam situasi ini.
Satria pulang dengan membawa dua bungkus makanan. Juga tas plastik dengan logo merk handphone ternama. Hatiku sudah semakin merasa bersalah melihatnya begitu.
Sikap diamnya, sisi misteriusnya memanh membuatku sulit menerka apa isi hatinya. Jujur, rasa bersalah menghantuiku setiap detiknya saat ia mulai melangkah masuk.
Aku pun ikut diam. Suasana di rumah hening. Rambut basah menyeruak memenuhi wajahku. Aku bangkit ingin menjauh darinya. Sebelah tangannya menahanku.
"Duduk, temani aku makan."
"Bang."
Tanpa menatap dan menjawab, Satria melanjutkan makannya tanpa ada kata lagi yang keluar dari mulutnya. Pergelanganku juga masih setia di genggamannya.
"Makan," katanya lagi tanpa menatapku. Mata yang dulu dipenuhi cinta tak lagi ingin bertukar pandang denganku.
Aku masih diam tidak mengambil makanan di depannya. Satria siap mengisi perutnya, ia menyodorkan plastik berlogo itu.
"Ini, untukmu."
Aku masih menatapnya yang kini sudah berdiri akan melangkah entah ke mana. Aku menunduk dalam, perlahan bulir bening menetes.
Tuhan, apa yang sebenarnya yang ada di isi hatinya. Mengapa dia selalu saja dingin. Terkadang berpikir, ini rumah tangga yang bagaimana? Apa aku hanya pajangan yang ia hias di sini.
__ADS_1
Ya, perhiasan ia belikan untuk kupakai. Dari mulai kalung, gelang, cincin dan rantai kaki. Semua itu disiapkan Satria untukku.
**
Aku kembali ke aktivitas biasa. Suasana dalam rumah tanggaku, ya masih seperti biasa. Dingin, aku juga tidak banyak bercerita dengan Satria.
Tidur malam tadi, kami hanya saling memunggungi. Aku dengan perasaan bersalah, entah dengannya. Aku hanya melihat punggung lebarnya yang mengenakan kaos putih.
Rutinitas pagi seperti biasa, bagaimanapun aku tetap menjalankan tugaskh sebagai istrinya. Tidak ada interaksi di antara kami.
Kini, aku sudah tiba di sekolah. Aku memilih berangkat sendiri, Satria pun tidak menawari untuk mengantarku. Ya, memang kami sedang berada di mode dingin.
"Pagi, Bu," sapa murid yang melintas.
"Pagi," balasku seraya melangkah pasti.
"Bu Ananta." Aku menoleh ke asal suara. Bu Afifah jauh di belakangku melambaikan tangan, aku menghentikan langkah menanti Bu Afifah.
Wanita berhijab ini berlari kecil ke arahku. Ia kini sudah berada di sampingku.
"Bu, siang nanti nonton bioskop, yuk!"
"He uh?"
Bu Afifah merogoh tasnya, lalu menunjukkan layar ponselnya. Poster sebuah film ada di sana.
"Film apa ini, Bu?"
"Ya ampun, Bu. Ini film lagi viral lho di tiktok. Ibu nggak lihat apa?" Aku menggeleng cepat.
"Ini tuh, film tentang perselingkuhan, Bu. Aktornya Gading Martin sama Ariel Tatum kalau nggak salah. Baru rilis kemarin."
Mulutku membulat menanggapi penjelasannya. "Gimana?" tanyanya lagi yang menyenggol bahuku.
"Mmmh ...."
"Jangan bertahan sama orang yang nggak ingin bersama kita," ucap Pak Arbi tiba-tiba. Aku dan Bu Afifah langsung menoleh ke arah pria dengan tas selempang sebelah kiri itu. Kami berdua saling menatap bingung.
Pak Arbi melangkah dengan santai, tanpa menghiraukan kami. Berlalu bagai angin yang berembus sepoi-sepoi melewati kami.
"Pak Arbi tad ngomong kan, ya?" tanya Bu Afifah yang masih terbengong. Aku mengangguk pelan. Kami mematung di sini, memandangi kemeja bagian belakang Pak Arbi yang perlahan hilang bersama dengan motornya.
"Nggak mungkin ngomong sama kita, kan, Bu?" tanya Bu Afifah lagi, aku menjembik dan menaikkan kedua bahu.
__ADS_1
"Aneh," ucap Bu Afifah yang sepertinya masih penasaran dengan ucapan Pak Arbi barusan.
"Udahlah, Bu. Ngapain ambil pusing. Mungkin Pak Arbi lagi ngoceh sendiri aja." Akhirnya aku buka suara. Dari ucapan Pak Arbi barusan, sepertinya itu ditujukan padaku.