Rindu Terhalang

Rindu Terhalang
Di Bus


__ADS_3

Sebenarnya, aku masih canggung berada di dekat Pak Arbi mengingat kejadian kemarin di puncak. Tapi, hari ini dia justru hadir di hadapanku tanpa berhenti berdebat.


Satria kembali keluar dari mobil. Ia menyuruhku untuk kembali masuk, sedangkan Pak Arbi menarik pergelangan tangan duduk di sebelah Satria.


"Cukup!" bentakku yang membuat keduanya terdiam sesaat. Aku menarik handle pintu belakang, duduk manis di sana. Kedua pria ini terlihat saling memalingkan wajah seraya menarik napas panjang.


Satria duduk di balik kemudi, sedangkan Pak Arbi ingin duduk di sampingku, langsung aku menguncinya. Membiarkan mereka untuk akur satu sama lain.


Keduanya saling membelakangi. Wajah mereka ditekuk sempurna dan sedemikian rupa sangat tidak enak dilihat. Aku sudah tertawa kegirangan dalam hati. Aku hanya mengulas senyum, kala Pak Arbi menoleh ke arah belakang.


"Anda beneran nggak mau duduk sama saya, Bu?" Aku mengendikkan bahu, Satria menatap dari kaca persegi di depannya. Melirik tajam ke arahku. Mungkin, ia tidak terima jika bukan aku yang bersanding dengannya.


"Ta, apa sebaiknya kita batalin aja proses perceraian kita?" tanya Satria tiba-tiba yang membuat Pak Arbi sontak menoleh ke arahnya menatap bingung, sama sepertiku yang tidak mengerti dengan jalan pikiran Satria.


"Hei, Bung. Apa maksud Anda?"


Satria terlihat mendengus kesal, menatap tajam ke arah Pak Arbi. Aku menarik napas panjang, sekuat apa pun Satria mencoba untuk kembali membangun rumah tangga, aku tetap pada pendirianku.


Seperti kaca yang pecah, meski kembali disatukan ia tidak akan pernah utuh dan sempurna seperti sedia kala. Akan ada celah yang terlihat di sana.


"Ta," panggil Satria yang mencoba memastikan jawabanku.


"Enggak, Bang. Aku tetap pada keputusanku." Satria mengunci bibirnya rapat, Pak Arbi terlihat mengulum senyum seraya berdehem penuh semangat. Aneh, pikirku.


Satria langsung menoleh ke arah Pak Arbi yang tampak menarik tangan seperti tengah menang dalam suatu kompetisi.


"Anda kenapa senyum-senyum gitu?"


"Nggak apa-apa," jawab Pak Arbi seraya menyapu bibirnya dengan ujung jari.


Kami akhirnya tiba di pengadilan. Aku turun dengan jantung yang berdetak cepat. Terasa gugup meski berjalan bersama dengan Satria juga Pak Arbi yang ikut turut serta.


Kami bertiga jalan serentak memasuki lorong dengan banyak ruang berbagai macam entah itu untuk mediasi atau memproses sidang perceraian.


Arini terlihat hadir di ujung lorong, tepat di depan pintu kayu bercelah model buka dua.


"Mbak Arini. Anda baru sampe juga?"


"Ya, kena macet."

__ADS_1


"Anda ngapain ke sini?" tanya Satria bingung. Jelas, aku tidak menceritakan apa yang terjadi pada Arini.


"Ya. Untuk mengurus sesuatu," jawab Arini yang langsung masuk.


Satria menoleh ke arahku yang berdiri di tengah-tengah mereka berdua.


"Ta, apa Mbak Arini akan cerai juga?"


Aku hanya menghela napas panjang tanpa menjawab. Satria mungkin mengerti jawaban dariku.


Proses mediasi berlangsung tanpa ada perselisihan dan langsung menemui titik terang. Aku dan Satria menyerahkan bukti masing-masing untuk kelengkapan berkas proses cerai.


Putusan sidang ditunda hingga sidang putusan berikutnya. Entah kapan waktu pastinya, pihak pengadilan agama yang akan mengirim informasi melalui email.


Pak Arbi memanduku untuk keluar, Satria masih berdiri menatapku dari belakang. Aku menoleh ke arahnya, sebentar.


"Pak Arbi," ucapku yang menurunkan tangannya pelan dari bahuku. Sedikit menjauh darinya.


"Kenapa, Bu?"


"Pak, soal kejadian semalam yang di puncak ...."


"Ehm, kalau Anda keberatan, anggap saja kita tidak pernah melakukannya. Kita bisa jadi partner yang saling mengisi satu sama lain."


"Saya akan bersikap biasa saja, jadi suasana di antara kita nggak terlalu canggung. Sekarang, saya akan anter Anda pulang."


"Naik apa? Bukannya mobil Bapak ditinggal di rumah saya."


"Samaku, aja!" ucap Satria tiba-tiba, aku memejamkan mata sebentar. Lalu pergi meninggalkan mereka berdua yang saling memunggungi.


Malas berurusan lagi dengan keduanya. Biarlah waktu yang menyembuhkan luka. Hidup itu pilihan, aku lebih memilih pergi untuk menjauhi sumber kegilaan. Terkadang, aku juga bersikap egois demi kesehatan mental yang lebih baik.


Keputusan ini yang kupilih untuk mengakhiri semuanya dengan Satria demi tetap menjaga kewarasanku.


"Ta?"


"He uh?"


"Ayo, pulang bareng aku, aja."

__ADS_1


"Nggak, deh. Aku lebih memilih pulang sendrian naik bus."


"Aku ikut kamu, Ta." Pak Arbi melangkah cepat berjalan beriringan denganku. Satria diam di tempat, ia yang paling paham sifatku. Semakin dikejar, aku akan semakin menjauh dan perlahan hilang tidak pernah kembali.


Aku dan Pak Arbi duduk di halte bus. Sejujurnya, aku benar-benar canggung dekat dengannya. Belum lagi ia terus saja menyapu bibirnya dengan lidah. Ah, otakku melanglang buana.


"Bukannya ini saat yang tidak tepat Anda melakukan itu?"


"Apa?"


"Itu," kataku menunjuknya dengan dagu, ditambah lagi entah sadar atau tidak Pak Arbi memakai lip balm di saat begini.


Aku kembali mengingat kejadian di puncak. Ranum bibirnya masih membekas di ingatanku. Padahal, bukan hanya dia pria yang menciumku.


"Pak!" bentakku yang membuatnya tersentak kaget dan perlahan menurunkan lip balm dari bibirnya.


"Apa?" katanya terlihat bengong.


"Anda sedang menggoda saya, ya?"


"Menggoda apa?" tanyanya yang masih tidak sadar akan tingkahnya barusan. Beberapa detik kemudian, ia sadar dengan yang ada di genggamannya. "Oh, ini?"


"Ya!" ucapku yang sudah bersungut. Bus yanh kutunggu pun tiba. Kami melangkah masuk. Pak Arbi terlihat terkekeh sebentar. Aku menaikkan sudut bibir, malas menatapnya.


"Bibit saya beneran lembab, Bu," ucap Pak Arbi polos. Tatapan matanya bening, terlihat indah bola matanya terkena sinar matahari. Cokelat terang berserat, jakun tipis di wajahnya menambah kesan manis padanya.


Aku terpaku oleh makhluk ciptaan Tuhan yang manis ini. Garis tegas wajahnya membuatku tertegun sebentar. Tangan Pak Arbi perlahan menarik pinggang rampingku untuk lebih mendekat padanya.


Aku berkedip sebentar, bus berhenti ada penumpang yang masuk. Siswa sekolah menengah atas dengan ransel besar membuat kami menatap ke arahnya. Namun, tas besarnya mengenai tubuh Pak Arbi yang langsung menindihku yang terhalang oleh kursi bus.


Degup jantung tidak beraturan, tata kesopanan sudah hampir hilang jika sudah berada di posisi begini. Peluhnya terlihat membasahi wajah, aku mendorongnya pelan.


"Maaf, Pak. Posisi Anda tidak nyaman buat saya."


"Eh, ya. Maaf," katanya yang langsung bangkit. Kami hening dan melamun hingga bus berhenti di tempat tujuanku.


Pak Arbi turut serta. Ya, mobilnya masih berada di sekitar rumahku. Tidak sopan rasanya memintanya untuk pulang dan menyuruhnya masuk.


Aku terlihat gugup dan menggaruk pelipis sebentar, lalu meminta Pak Arbi untuk masuk di pekarangan saja. Statusku masih istri Satria hingga ketuk palu tiga kali baru sudah sah menyatakan aku janda secara hukum negara.

__ADS_1


"Anda mau minum apa, Pak?"


"Kalau minta Anda mengisi dahaga saya, gimana?"


__ADS_2