Rindu Terhalang

Rindu Terhalang
Tujuh Minggu


__ADS_3

Pak Arbi terlihat celingukan mencari tempat makan. Aku hanya pasrah dengan semua sikapnya. Warung kecil, ia menghentikan laju mobil di sana.


Melepas seat belt lalu memintaku untuk ikut bersamanya. Aku menggeleng pelan, enggan untuk turun.


"Oke, makan di mobil aja, ya."


"Ya, Mas."


Sepuluh menit Pak Arbi kembali dengan bungkusan. Ia membukanya, lauknya ayam goreng nasi uduk sepertinya yang ia beli. Tercium aromanya yang begitu khas, entah mengapa aku jadi suka wangi itu.


Aku mendekatkan indra penciuman di atas nasi yang sudah terbuka itu. Beberapa kali menghirup segar aroma daun salam.


"Makan, Ta." Pak Arbi secara tidak langsung menginterupsi untuk bergeser dari sana. Aku menarik diri, lalu duduk di jok mobil miring ke arahnya yang sudah siap dengan sendok dalam genggaman.


Aku membuka mulut, melahap yang ada di depan mata. Hanya tiga suap, aku sudah tidak ingin makan lagi.


"Serius udah makannya?"


"Ya, Mas."


"Masih banyak ini, Ta."


Aku menyodorkan tangannya untuk menjauh, hanya ingin mencium aromanya saja. Alhasil, Pak Arbi yang menghabiskannya. Selesai dengan acara mengunyah, ia pun kembali melanjutkan perjalanan menuju dokter kandungan.


Aku masih merasa pusing, perlahan memejamkan mata sembari menikmati jadi ibu hamil. Luar biasa, nikmatnya ternyata, batinku.


"Ta," panggil Pak Arbi yang membuatku membuka mata sebentar.


"Kamu baik-baik aja, kan?"


"Aduh, nggak tahu deh, Mas. Nikmatnya luar biasa ternyata," ucapku yang perlahan memijat kedu sisi kepala.


"Nikmat apanya?"


"Morning sickness."


Pak Arbi menyunggingkan senyum sembari mengusap pipiku dengan ibu jari. Kami tiba di tempat tujuan, plang dokter sudah terpampang jelas di depan kami.


Aku turun digandeng oleh Pak Arbi. Ia betul-betul. menjagaku. Tidak begitu banyak pasien, mungkin karena masih pagi.


Ada sekitar dua orang wanita dengan perut yang sudah membuncit, duduk di kursi tunggu. Mereka masing-masing ditemani sang suami. Kulihat salah satu pria tengah merokok di depan tadi.


Satu lagi memang duduk di sebelahnya, tapi justru sibuk dengan ponsel. Wanita rambut sebahu dengan dress panjang sebetis itu terlihat mengusap lembut perutnya.

__ADS_1


Pak Arbi berdiri di sudut, menghampiri suster yang bertugas. Ia sepertinya sudah membuat janji sebelumnya. Aku sendiri masih berdiri tidak jauh darinya.


Suster meminta data diri, kami duduk di hadapannya. Perempuan sedikit gempal itu memintaku untuk timbang badan. Lalu menggoreskan di buku khusus yang ada di atas mejanya.


"Berat badan ideal ya, Bu."


Selesai mendata, kami diminta duduk di ruang tunggu. Ia melewati kami menuju ruang dokter yang berada di samping kananku.


"Tunggu sebentar ya, Pak, Bu," ucap pada kami setelah keluar dari sana.


Aku menyandarkan kepala bagian belakang di dinding, Pak Arbi yang sepertinya sadar akan posisiku, membawa kepalaku ke bahunya.


"Sudah hamil berapa bulan?" tanya wanita yang tepat di samping kananku yang berjarak dua kursi tunggu.


"Belum tahu, Mbak. Baru mau periksa," jawabku yang melirik ke arahnya.


"Mbaknya, udah berapa bulan?" Aku tidak ingin mendapat kesan sombong, meski terdengar kepo.


"Sudah 25 minggu," jawabnya sambil mengelus perutnya.


"Pantes udah kelihatan besar," ucapku lagi yang hanya dibalas senyuman olehnya. Lalu, nomor urutnya dipanggil oleh salah satu perawat berjilbab hitam.


Aku memeluk lengan Pak Arbi, ia mengusap tanganku. Perlahan menghirup pucuk kepalaku. Ia tidak peduli jika sikapnya itu mengundang sorot mata tajam dari perawat yang di depannya.


Ia hanya terkekeh, tanpa sepengetahuanku kini, ia sudah mencium punggung tanganku. Aku menarik cepat, malu.


"Mas, ih."


"Biarin, dong. Aku bucin sama kamu, kok."


"Ya, tapi malu. Masih ada orang di sini."


Pak Arbi tetap saja memanjakan aku di sini. Wanita yang tadi keluar bersama dengan perawat. Sepertinya, mereka masih harus menunggu obat atau apalah itu.


Kami masih harus antri satu orang lagi. Ya, pria yang merokok di depan tadi. Sekarang giliran mereka. Saat pria itu lewat, mendadak aku mual.


Aku menutupi hidung dan berusaha untuk tidak memuntahkannya. Aroma parfumnya sangat memusingkan kepalaku.


"Mual lagi, Ta?" Aku mengangguk, Pak mengusap hidung mancungku pelan, memijat sisi kepala. Ia mengubah pelukan di lengannya jadi merangkul bahuku.


"Hamil anak pertama, ya?" tanya perempuan yang di sampingku. Kini ia duduk di seberang kami.


"Ya," jawabku pelan. Terlihat lengkungan senyum terlukis di sana.

__ADS_1


"Hamil anak pertama memang begitu. Disayang suami, apalagi masih awal-awal begini."


Pak Arbi menoleh ke arahku. Tatapannya berbinar, wajahnya juga berseri. Aku yang justru malu melihat sikapnya yang tidak melihat situasi.


Nama wanita itu dipanggil, ia pun menuju ke meja perawat gempal tadi. Terlihat bungkusan plastik putih bersama beberapa papan tablet.


Pria merokok tadi keluar bersama dengan istrinya, itu artinya kini giliranku. Masih beberapa menit lagi menunggu karena perawat berjilbab tadi belum keluar.


Kini, aku sudah berada di ruangan dokter, lengkap dengan alat ultrasonografinya. Pak Arbi diminta duduk di depan meja dokter itu sembari ia melakukan pemeriksaan, di perutku.


Alat itu bergerak memunculkan rahim yang tampak sudah dibuahi. Bentuk kecil seperti buah jarak terlihat jelas di sana.


"Ini sudah tujuh minggu," ucap dokter Andi.


"Hah? Tujuh minggu, Dok? Kami menikah baru lima minggu."


"Ya, Pak, Bu. Nggak usah kaget, hitungannya memang begitu. Dihitung dari haid terakhir Ibu," jelasnya.


Dokter sudah selesai dengan pemeriksaan di perut, ia kembali mendaratkan bokong di kursinya. Pak Arbi membantuku untuk bangkit dari brankar.


"Hati-hati, Sayang."


Kini kami sudah duduk di hadapan dokter, terlihat ia mencoret-coret di kertas putih berlogo namanya.


"Ada mual?"


"Ada, Dok. Sudah sejak kapan?" tanyanya lagi yang menatap kami berdua bergantian.


"Baru sekitar satu atau dua hari ini."


"Oke," ucap Dokter Andi yang menipiskan bibirnya lalu kembali menarikan pena di saba. Ia menyerahkan kertas pada perawat tadi. "Untuk sementara, berhubungan suami istrinya dikurangi, ya."


"Kenapa, Dok?" tanya Pak Arbi spontan dengan wajah bingung.


"Ya, dong. Kalau keseringan dikunjungi, nanti anaknya mau cepat-cepat keluar temuin, Bapak," sahut dokter yang membuat Pak Arbi masih belum paham akan banyolan dokter bertubuh kecil ini.


"Masih terlalu rawan, Pak. Dia belum tahan dengan goncangan.Tri semester pertama itu yang memang harus dijaga. Kalau bisa, jangan berhubungan dulu hingga janinnya berumur tiga bulan. Kalau, bisa!" ucap Dokter Andi penuh penekanan di kalimat terakhirnya.


"Tapi, kalau nggak bisa, seminggu sekali saja, ya, Pak. Itu pun, jangan menggebu. Hanya sekadar melepaskan candu."


Dokter Andi terlihat menyunggingkan senyum, ia sepertinya paham dengan mimik wajah Pak Arbi. Pak Arbi tampak mengerutkan alisnya, ia menatapku seolah ingin dibela.


"Harus seperti itu, Dok?"

__ADS_1


"Ya."


__ADS_2