Rindu Terhalang

Rindu Terhalang
Testpack


__ADS_3

Sesampai di rumahku, aku langsung berselonjor di sofa. Terlalu malas untuk beraktivitas, Pak Arbi hanya menggeleng pelan. Ia meletakkan rujak yang dibelinya tadi di atas meja.


Pak Arbi masuk ke kamar, ya dia sudah paham letak posisinya. Meski tidak pernah menginap di sini. Kala aku membersihkan rumah, Pak Arbi merebahkan diri di kasur


Aku begitu marah saat ia turun ketika lantai masih basah bekas pel. Makanya, tempat nyamannya di atas kasur.


Tas sedang Pak Arbi letakkan di kamar, lalu ia duduk di sampingku. Aku menyandarkan kepala di dada bidangnya. Pak Arbi mengusap pucuk kepalaku lembut.


"Mau?" tawarku menunjukkan buah kedondong padanya, ia mengangguk. Aku menyuapinya, seketika wajahnya berubah jadi masam. Yang tadinya cool dan tampan, sekarang justru merem sembari menjulurkan lidah.


"Aish, asem banget, Sayang," ucapnya yang terus mengecap bibirnya.


"Nggak asem, kok. Mas aja tuh yang nggak kuat."


"Lillahita'ala, itu asem beneran. Serius, deh," kata Pak Arbi lagi yang sudah menaikkan kedua jari berbentuk V.


Aku nggak percaya dengan ocehannya, buktinya aku santai makannya. Malah enak, mengunyah dengan renyah dan merasa gembira.


Pak Arbi hanya melongo tanpa ekspresi, aku masih setia menyandarkan kepala di sana.


"Ta, kamu yakin habis itu semua?"


"Kenapa, Mas?" tanyaku yang mengangkat wajah menatapnya. Ia menunduk untuk memandangku, sekilas mendaratkan kecupan di bibirku.


"Nggak apa-apa, itu banyak loh, Ta."


"Ya, makanya kamu bantuin."


"Aku nggak kuat, Sayang. Asemnya kebangetan."


Aku mengerucutkan bibir, tidak memaksanya untuk makan itu. Tangannya sibuk mengusap rambutku, detakan jantungnya terdengar stabil.


Entah mengapa, aku merasa mengantuk. Padahal masih pagi, sekitar jam sepuluh kalau tidak salah mataku yang sudah sayup-sayup ini melihat jam dinding di atas televisi. Pak Arbi terasa membenarkan posisiku.


"Tidur yang nyenyak ya, Sayang," ucapnya yang masih bisa kudengar. Satu kecupan hangat mendarat di keningku.


Kumandang azan terdengar, aku mengerjapkan mata. Mengucek-uceknya, lalu bangkit menuju kamar mandi. Keluar dari bilik kecil itu, aku tidak mendapati keberadaan suami terbucinku.


"Mas," panggilku yang berjalan menyusuri rumah hingga ke depan teras. Mobilnya terparkir di depan, motorku juga ada di garasi. Ke mana sebenarnya dia pergi?


Rujak yang tadi masih tertinggal di meja, sudah tidak terlihat entah di mana. Padahal, masih banyak. Aku juga masih menginginkannya.


Terdengar suara pagar dibuka, aku berjalan ke arah depan. Pak Arbi dengan kaos slim fit dan celana kolor sebatas lututnya datang dengan bungkusan plastik putih.


"Kamu udah bangun?" Aku mengangguk, ia langsung memelukku erat, menyapu pucuk kepala.

__ADS_1


"Kamu dari mana, Mas?" tanyaku yang sudah melingkarkan tangan di pinggangnya, kami melangkah masuk.


"Dari apotek depan."


"Apotek?"


"Ya. Ini," ucapnya seraya menyodorkan bungkusan tadi, aku menatap bingung plastik bening itu.


"Ini, apa?"


"Besok pagi dipakai, ya."


"Heuh?"


Ia mengacak rambutku, lalu melangkah ke kamar mandi. Masih penasaran dengan yang dibelinya tadi, aku melihat isinya.


"Testpack?" lirihku kaget. Aku berkedip dengan ritme cepat, apa maksudnya? Dia minta aku untuk tes kehamilan? Benar memang, bulan lalu tamu bulanan itu tidak datang dan itu tidak pernah terjadi selama aku mendapat haid dari awal.


Tidak pernah yang namanya terlambat datang bulan, atau seperti orang-orang yang beberapa bulan tidak mens. Aku tidak pernah seperti itu, selalu normal dan teratur.


Untuk kali pertama, ya bulan lalu. Memang, rasa penasaran itu menggangguku, tapi terlalu dini untuk periksa.


Pak Arbi keluar dengan handuk yang hanya menutupi perut ke bawah. Dada bidangnya dibiarkan terbuka, ia mengacak rambutnya. Roti sobek itu, menggugah imanku. Aku meraba perutnya, ia terkekeh geli.


"Mas, ih!" gerutuku kesal, "makanya jangan gangguin."


"Siapa yang gangguin. Mandi dulu, Sayang."


Aku bersungut, benar memang sudah senja. Tadi dia bukannya ngajak mandi bareng, malah ngeloyor sendirian masuk kamar mandi, gerutuku kesal.


Aku menuruti perintahnya, menyampirkan handuk di sebelah bahu dan pergi membersihkan diri. Kulihat Pak Arbi menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.


Kurang lebih setengah jam, aku kembali ke kamar untuk mengenakan pakaian. Pria itu, sudah berpakaian lengkap.


"Mas kok udah pakai baju?"


"Emang kenapa? Nggak boleh?"


"Ya, boleh, Mas. Cuma...."


"Cuma apa?" tantangnya yang berdiri mendekat ke arahku.


"Tau, ah!" Aku membuka lemari lalu mengambil pakaian, keluar dari sana. Malas rasanya dekat-dekat dengannya, biasanya juga dia yang selalu minta jatah. Huh!


Selesai berpakaian, aku kembali ke kamar. Memakai skincare yang dibelikannya tempo hari, berjongkok merogoh tas sedang tadi.

__ADS_1


Duduk di depan meja rias, Pak Arbi terlihat sibuk dengan ponselnya. Hanya sesekali memperhatikan aku. Jelas muncul rasa cemburu dan pikiran yang bukan-bukan. Apalagi, dia guru idola. Bukannya tidak percaya padanya, hanya saja seorang istri itu perlu diperhatikan.


Aku juga trauma akan sikap Satria dulu yang begitu kaku dan dingin, serta minim perhatian. Aku takut masa silam kembali terjadi.


Aku naik ke atas kasur setelah sibuk dengan wajahku, berbaring di sampingnya. Mencoba melihat apa yang menarik perhatiannya di ponsel. Pak Arbi justru berbalik membelakangiku.


Ah, ya Tuhan. Kenapa dia begitu? Hatiku seperti diremas rasanya, sedikit sakit. Sikapnya yang tadinya peduli berubah dalam sekejap, itu pun setelah membeli testpack.


"Mas," ucapku yang dengan mata yang sudah mengembun. Aku menunduk dalam, memilin ujung baju. Tidak ada respons, aku semakin sakit hati karenanya.


"Mas," panggilku lagi, kali ini air mataku sudah jatuh membasahi punggung tangan.


Pak Arbi langsung memeluk tubuhku, aku masih saja menangis di tempat yang sama.


"Kamu kenapa?"


"Sakit, Mas."


"Apanya?" tanya Pak Arbi yang kini sudah membingkai wajahku. Mengusap bulir bening dengan kedua ibu jarinya. "Apanya yang sakit, Sayang?"


"Hatiku, Mas."


"Maaf, ya. Mas tadinya nggak mau membebani kamu."


"Membebani?" ulangku yang sudah menyapu air mata yang membasahi pipi.


"Lihat," ucapnya yang menunjukkan layar ponsel itu dengan foto-foto anak bayi, juga cara mengetahui istri yang tengah hamil. Atensiku beralih menatapnya sendu.


Pak Arbi melengkungkan senyuman, bola matanya bergerak menyuruhku untuk mengambil benda pipihnya.


"Tidak ada yang aku sembunyikan dari kamu, Ta. Kamu saja, sudah cukup. Aku mengejar kamu itu lama, sa... ngat lama."


"Ya, tapi kamu cuekin aku."


"Maaf, Sayang. Aku sengaja menghindar."


"Apa perlu aku tes sekarang, Mas?"


"Emang bisa? Kata Mbak apoteker, itu harus pagi."


"Bisa, kalau hormonnya bagus, nggak perlu nunggu besok udah kelihatan hasilnya dari urine yang menetes di alatnya."


Pak Arbi tampak menipiskan bibirnya, lalu mengangguk. "Coba, gih."


Aku turun dari kasur, mengambil testpack tadi lalu berjalan ke kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2