Rindu Terhalang

Rindu Terhalang
Wulan, Teman SMA Arbi


__ADS_3

"Tidak ada alasan untuk aku tidak mencintaimu, Ta. Jika gadismu aku tidak dapat, maka saat jandamu harus kudapat," ucapnya dengan yakin. Aku merasa geli dengan penuturannya barusan.


Ternyata sebegitu bertekadnya dia untuk menikahiku. Pak Arbi semakin mengeratkan pegangan tangannya. Kami berhenti di depan area bioskop.


"Kita beneran mau nonton?" tanyaku memastikan.


"Iya. Emang kenapa?"


"Kok rasanya sedikit asing, ya nonton sama kamu."


Pak Arbi justru tersenyum pertanda mengejek terlihat dari mimik wajahnya. Aku bingung harus bagaimana.


"Hai, Arbi kan, ya?" Aku mendelik melihat sosok wanita yang mendekati Pak Arbi. Gadis bertubuh semampai ini langsung menyapu punggung lebar Pak Arbi.


Aku merasa terbakar akan perlakuannya itu. Berani sekali ia menyentuh suamiku. Ya, Tuhan. Aku harus apa. Pak Arbi tampak kikuk dan canggung.


"Emh, Ta, ini temen SMA aku, Wulan." Pandangan Wulan menatapku sinis, lalu sedetik kemudian mimik wajahnya berubah yang dibuat semanis mungkin kala Pak Arbi menatapnya.


Aku mengulurkan tangan, kami saling berjabat dan menyebutkan nama masing-masing. Aku langsung memeluk lengan Pak Arbi, Pak Arbi mengulum senyum.


"Kita jadi nonton film itu, kan, Mas?"


"Ya, sebentar aku beli tiketnya dulu. Kamu juga mau nonton, Lan?"


"Iya, film yang sama dengan yang kalian tonton."


"Kamu sendirian?"


"Ya," jawab Wulan yang tampak menyelipkan rambutnya ke daun telinga.


"Mas, aku cuma pengen berduaan sama kamu. Bisa, kan?" ucapku yang membuat suaraku selembut sutra dan mimik wajah menampilkan sisi yang termanis.


"Ya, Sayang. Sebentar, ya."


Pak Arbi melangkah menuju penjual tiket, meninggalkan kami berdua. Wulan menatap sinis dan kubalas tatapan itu sama mematikannya. Wulan membuang wajah kasar, sembari memeluk dirinya sendiri.


"Sejak kapan Arbi menikah denganmu?"


"Aku tidak perlu menjawab pertanyaan kamu."

__ADS_1


"Heh! Sombong sekali kamu, mengenakan hijab sama sekali tidak menarik dipandang. Kamu kalah jauh denganku," ejeknya yang menatap dirinya sendiri dari atas ke bawah. Dengan bangganya ia memuji diri sendiri, dada rata seperti itu. Masih kalah jauh denganku.


"Kamu memang terlihat menarik, tapi aku lebih memuaskan mata dan ranjang, Arbi!" bisikku saat melintasinya. Tubuhnya, memang lebih tinggi dariku, tapi bentuk bodinya tidak ada apa-apanya dibandingkan aku.


Pinggangku berbentuk seperti biola, dada sedikit menonjol, benar-benar bentuk tubuh ideal para wanita. Bibirku sedikit tebal, tatapan mata tajam dan mematikan. Sedangkan, Wulan, hanya menang tinggi dan rata depan belakang.


Wulan menyenggol bahuku kuat, tidak terima dengan penuturanku yang jujur dan jelas-jelas menyindirnya.


"Sayang," panggil Pak Arbi yang membuatku langsung menoleh ke arahnya. Ia tersenyum lebar dengan dua popcorn dalam genggamannya.


Wulan tampak merapikan rambut juga bajunya yang tidak berlengan. Rambut lurus sepinggang berwarna cokelat terang dibiarkan terurai. Ia mencoba tebar pesona untuk mendapat perhatian Pak Arbi.


"Ini tiket kamu, Lan. Kursimu dua baris diatas kami." Pak Arbi menyerahkan tiketnya, lalu menyusupkan jarinya di sela jari-jariku. Pandangan Wulan melihat ke arah tangan kami yang sudah bertaut.


"Masih ada waktu sebelum filmnya main. Masih mau jalan-jalan?" tawar Pak Arbi menatapku dengan penuh cinta.


"Enggak usah, Mas. Aku lagi pengen berduaan sama kamu sambil cerita panjang lebar." Wulan memutar bola mata jengah, aku melihatnya sekilas.


"Mas, jadi kita nginap di hotel?" tanyaku sengaja memancing Pak Arbi. Ingin lihat bagaimana reaksi Wulan. Dari gerak-geriknya, ia seperti menyimpan perasaan pada Pak Arbi.


Wulan terlihat semakin menekuk wajahnya, tergambar jelas ia cemburu. Pak Arbi langsung mengambil ponselnya membuka aplikasi yang menawarkan rekomendasi hotel sekitar beserta harga dan fasilitas.


Setelah cukup berkutat dengan ponselnya, Pak Arbi melebarkan senyumnya.


"Bi, kamu menikah kok nggak undang-undang, sih? " potongnya yang mungkin ia sudah gerah dengan kemesraan kami.


"Aku memang tidak mengadakan pesta. Hanya keluarga dekat saja yang datang. Kami menikah juga di pesantren."


"Rumah kamu?"


"Ya."


"Bukannya kamu tinggal di Medan, ya?"


"Benar, tapi saat aku tiba di pesantren, Ayahku memaksa kami menikah."


"Apa? Berarti kamu menikah bukan atas dasar suka sama suka?"


Aku bersikap datar dengan basa-basi Wulan, Pak Arbi semakin mengeratkan tautannya padaku. Ibu jarinya mengusap ibu jariku. Sesekali ia menatapku dengan senyuman khasnya.

__ADS_1


"Pintu teather tiga, dibuka." Suara itu begitu menggema, aku melihat tiket yang kupegang. Itu film yang akan kami tonton.


"Mas, pintu bioskopnya udah terbuka."


"Oh, ya. Ya udah kita masuk, yuk. Ayo, Lan." Wulan tampak mengangguk, tapi wajahnya muram. Tergambar jelas tidak suka di sana. Aku menarik bibir mengulas senyum puas, melihat ekspresinya.


Kami duduk tanpa saling melepaskan genggaman, bercerita dengan saling tertawa. Sebenarnya, ada bongkahan rasa dongkol di hatiku. Namun, untuk saat ini sebaiknya kutepis. Aku tidak mau Wulan mengambil kesempatan yang menguntungkannya.


Lampu bioskop dimatikan, raut wajahku jelas tidak terlihat jika tidak diperhatikan secara intens. Aku sesekali melirik tempat duduk Wulan yang menatap tajam ke arah kami berdua. Aku memeluk lengan Pak Arbi dan menyandarkan kepala di sana.


"Sebenarnya aku lagi kesel sama kamu, Mas. Tapi untuk saat ini, aku lewatkan itu," ucapku dengan gigi yang beradu. Pak Arbi sedikit menjauhkan kepalanya, ia mencoba menerka ekspresiku.


"Tetap berekspresi seperti tadi. Awas aja kalau kamu kaku dan ketahuan!" ancamku yang sepertinya Pak Arbi mengerti maksudku.


"Kamu cemburu?" bisiknya yang bibirnya dekat sekali dengan dahiku.


"Biasa aja!"


"Jujur, kamu cemburu, kan?" terkanya yang diiringi tawa kecil di sana. Aku memukul bahunya pelan. Pak Arbi masih saja tertawa, begitu menemui adegan yang menggelitik, ia tertawa lepas. Bahagia sekali ekspresinya, itu campuran mengejekku.


"Lebay banget ketawanya!" protesku yang melotot menatapnya. Pak Arbi mencium pucuk kepalaku sekilas.


"Aku makin sayang kamu, Ta."


"Udah berapa banyak perempuan yang udah kamu bilang kayak gitu?"


"Cuma kamu dan satu-satunya," bisiknya yang sontak saja aku menarik bibir melengkungkan senyuman. Wanita mana yang tidak berbunga-bunga, apalagi aku yang seorang janda. Ah, sekarang status itu sudah berganti. Jadi, Nyonya Arbi.


"Pulang dari sini, kita langsung masuk hotel, ya. Tempur," bisiknya lagi.


"Ck! Jadi, ucapan yang tadi itu cuma untuk bisa tempur? Murahan sekali gombalan Anda!"


Pak Arbi semakin tergelak tawa, semua orang menoleh padanya. Pasalnya, adegan di film tidak ada yang lucu.


"Ketawa aja terus! Habis itu, kita disuruh keluar dari sini."


"Hehe. Maaf, Ta. Lagian, Wulan masih lihatin kita, loh."


"Nggak usah modus, Mas."

__ADS_1


"Aku beneran."


Perlu jeda untukku melihat ekspresi Wulan. Tidak bisa langsung menoleh padanya, itu sama saja dengan bunuh diri. Menunjukkan bahwa kami memang menceritakannya.


__ADS_2