
Ia menghentakkan kakinya pelan dan seperti orang siap-siap akan lari maraton. Gadis yang memakai baju tidur bergambar doraemon ini begitu antusias. Ia duduk dengan memukul-mukul meja pelan.
"Apa sih, Syah? Kamu kenapa?" tanyaku penasaran.
"Masya Allah, Kak. Kurirnya ganteng banget," ucapnya hingga meletakkan kedua tangannya di pipi. Pandangan matanya mengerling genit, membayangkan entah apa.
"Kamu tuh masih ABG, Syah. Jadi, belum banyak melihat dunia luar. Ingat dosa, Syah," tegurku mengingatkan. Jelas saja, Aisyah tinggal dan besar di pesantren. Pasti jarang bertatapan langsung dengan pria.
"Tapi yang ini beda, Kak," ucapnya masih dengan kegiatan mengkhayal.
"Apanya yang beda, Syah?" timpal ibu mertuaku yang sudah ikut bergabung.
"Ibu! Ganggu halusinasi Aisyah aja, sih," gerutunya kesal. Ibu mertuaku langsung menarik daun telinganya.
"Sejak kapan kamu jadi kurang sopan santun begini?" omel ibu mertuaku yang berdiri di samping Aisyah. Gadis itu meringis, padahal ia baru saja meletakkan jilbabnya sebentar. Kalau saja dia tetap memakai hijabnya, ia akan terhindar dari jeweran ibu mertuaku. Aku terkekeh dalam hati melihatnya yang sudah cemberut kesal.
"Bu, udah. Sekarang kita makan dulu, ya. Setelah itu baru lanjutin lagi ngomelin Aisyah," kataku memberi saran.
"Ya, kamu bener, Ta. Marah-marah juga perlu tenaga."
"Ibu, ih!"
"Apa?" tantang ibu melotot ke arah Aisyah yang langsung membuat Aisyah ciut dan menunduk dalam. Hanya bibir yang tampak komat-kamit, mungkin menggerutu dalam hati.
Selesai makan, aku masuk ke kamar. Aisyah sebelumnya aku ajak untuk tidur bersama. Namun, dia menolak dan lebih memilih tidur sama ibunya.
Aku mulai kembali mengirim pesan pada Pak Arbi, meski aku tahu sekarang ini ia harusnya istirahat dengan cukup. Hanya beberapa detik, ponselku sudah bergetar notifikasi balasan darinya.
Belum sempat aku jawab, Pak Arbi sudah melakukan panggilan video. Padahal, aku baru saja ingin mengganti pakaian untuk tidur.
"Halo, Sayang," ucapnya dari seberang sana sembari tersenyum.
"Mas, kamu harusnya udah tidur loh jam segini," protesku yang kulirik jam di dinding pukul sebelas.
"Nggak bisa tidur, Ta. Aku kangen kamu," jawabnya yang memasang wajah memelas.
__ADS_1
"Kan ada Kiyai di sana," timpalku lagi yang kini sudah berbaring di atas kasur. Pegal semua badan dan rasa remuk redam.
"Beda, Ta. Biasa aku tidur sambil peluk kamu, ini nggak ada apa-apa yang bisa dipeluk," ucapnya yang tampak mengerucutkan bibir. Sebenarnya aku juga merasakan hal yang sama. Beberapa bulan ini, dia selalu memberikan kehangatan dalam hati juga tubuhku.
"Jadi, gimana?"
"Nggak tahu. Aku pengen cepet pulang, biar bisa tidur di samping kamu lagi."
Benar memang, jarak menciptakan rasa sesak saat tengah sayang-sayangnya begini. Meski sudah menikah, tapi kami masih hangat-hangatnya menjadi sepasang pengantin baru.
"Mas, besok pagi kan aku bisa ke sana. Janji deh, pagi-pagi buta aku ke sana, ya."
"Bener, ya?" tanyanya penuh harap dan wajah yang dibuat sangat menggemaskan. Aku tersenyum penuh arti menanggapinya, sedetik kemudian ia beralih menjadi cemberut.
"Kenapa?"
"Kamu ketawain aku kan, Ta? Aku nggak suka!" Aku langsung menutup rapat bibirku. Semburat senyum tadi hilang dan menjadi hening dalam percakapan yang baru beberapa menit ini.
"Udah dulu ya, Mas. Aku capek mau istirahat. Kasihan Bijun kalau aku kelelahan."
Seketika mataku melebar dan berkedip cepat. Malu rasanya kalau sampai Kiyai Abdul Samad dengar. Itu termasuk percakapan vulgar. Ah, Pak Arbi selalu aja berbuat sesukanya, batinku meracau sendiri.
"Mas! Ngomong apa, sih?"
"Aku pengen lihatin Bijun, Ta."
Aku langsung memutuskan sambungan telepon itu sebelum Pak Arbi semakin aneh-aneh pembicaraannya. Sakit begitu, masih sempat-sempatnya mikirin soal segitiga. Anak Ustadz kok kelakuan kayak orang murtad, heran. Lebih baik tidur daripada kepikiran omongan Pak Arbi yang nggak jelas arahnya.
"Kita tidur ya, Nak," ucapku sembari mengelus perut yang masih rata.
***
Pagi, aku sengaja bangun cepat untuk membeli sarapan di sekitar kompleks. Tidak enak rasanya jika mertuaku harus kelaparan terlebih dahulu. Aisyah dan ibunya masih setia di dalam kamar. Ya, mereka pasti kelelahan.
Aku berjalan ke warung di pertigaan kompleks, memakai baju setelan rumah sebatas lutut dengan warna mustard.
__ADS_1
"Ih, yang lagi repot ngurus suami, nggak sempat dandan lagi, ya? Jelek kamu, tuh!" cibir ibunya Putri saat aku melintas di depan rumahnya. Memang, aku tidak memakai riasan apa pun. Entah, akhir-akhir ini memang tengah malas bersolek. Sekadar memakai lipstik saja malas, mungkin bawaan Bijun begitu.
Aku hanya berlalu, malas untuk meladeni wanita tak berakhlak itu. Anaknya yang gagal memikat hati Pak Arbi, kenapa harus aku yang disalahkan. Ingin mengumpat, tapi ingat pepatah. Kalau benci atau mengumpat seseorang, nanti anaknya mirip mereka.
Ya Allah, aku benar-benar nggak mau kalau Bijun mirip wanita itu. Lebih jelas, dia harus serupa denganku. Dia anakku, harusnya mewarisi perpaduan wajah kami berdua.
"Hei, Ananta!" teriaknya yang membuatku menghentikan langkah dan menoleh ke asal suara.
Byur!
Aku kaget bukan kepalang, tubuhku basah kuyup karenanya. Ia menyiram bekas air pel ke arahku. Jelas tercium dari aromanya, jika ia baru saja membersihkan rumahnya.
"Apa-apaan Anda?" bentakku tidak terima dengan perlakuannya. Putri tampak memegangi ibunya saat akan mendekat ke arahku.
"Lepasin Ibu, Put! Perempuan nggak tahu diri ini, memang pantes dapet yang kotor-kotor begini!"
"Hei," teriak seseorang yang membuat mulutku bungkam. Padahal, sejak tadi ingin sekali aku membalas mulut sampahnya dengan memakinya. Namun, semua itu terlebih dulu dipatahkan oleh Aisyah.
"Kamu sudah tua tapi minim akhlak!" ucap Aisyah seraya menunjuk-nunjuk wajah ibunya Putri yang sudah merah padam. Terlihat jelas di sana kalau ia tidak terima dengan sikap Aisyah yang memang tidak sopan.
"Hei, bocah! Kamu nggak ada urusan sama saya, nggak usah ikut-ikutan!"
Aisyah menarik sudut bibir, ia menyeringai dan menatap tajam ke arah wanita itu. Tatapannya siap membunuh, sepertinya. Ngeri.
"Anda, sejak tadi malam selalu membuat masalah dengan saya. Dan sekarang, Anda menyiram Kakak ipar saya, punya nyawa berapa Anda?" Aisyah berdiri tepat di depan Putri dan ibunya, Aisyah mengitari tubuh keduanya. "Punya nyawa berapa!" teriaknya lagi yang membuat beberapa orang di perumahan ini keluar. Jelas, suara Aisyah begitu lantang.
Termasuk ibu mertuaku yang tampak merapikan jilbab mendekat ke arahku.
"Ya Allah, kamu kenapa basah begini, Ta?"
"Aku nggak apa-apa, Bu," jawabku sembari mengelap sisa air yang menetes di beberapa bagian tubuh.
"Gara-gara perempuan nggak ada akhlak ini, Bu!" ucap Aisyah geram dan masih menunjuk ke arah wajah ibunya Putri.
"Aisyah! Jaga sopan santunmu!"
__ADS_1
"Maafkan anak saya, Bu," ucap mertuaku yang sontak membuat Aisyah semakin geram dan terlihat mengepalkan tangannya.