
Beberapa menit setelah mengatakan itu, aku menoleh ke arah Wulan. Benar yang dikatakan Pak Arbi, gadis berwajah ayu itu masih menatap kami intens.
Aku memeluk lengan suamiku, Pak Arbi menyandarkan kepalanya di kepalaku. Aku melirik ke arah wajahnya yang tampak tersenyum penuh kemenangan.
Sampai film selesai, posisi kami masih seperti tadi. Pak Arbi curi-curi mencium pipiku. Benar-benar Pak Bucin yang tidak mengenal tempat.
"Langsung ke hotel, ya."
Aku berdehem menjawabnya dan menarik garis bibir. Wulan tampak menunggu di depan pintu bioskop. Entah apalagi yang akan ia katakan pada Pak Arbi.
"Bi, kita pisah di sini, ya." Tangannya menodong seperti meminta sesuatu pada Pak Arbi. Aku menatap keduanya bergantian. Apa ini maksudnya? Jantungku sudah tidak aman di tempat.
"Ponsel?" katanya lagi, Pak Arbi langsung merogoh saku celananya. Mengambil benda pipih itu.
Wulan mengetikkan sesuatu di sana, setelah Pak Arbi membuka kunci layar. Wallpaper dengan foto pernikahan kami tertangkap jelas di netraku. Wulan tampak menarik napas sebentar tadi sebelum mengetik.
"Ini nomor teleponku, jawab kalau aku telepon ya, Bi."
Pak Arbi hanya diam, tidak ada respons untuk perkataan Wulan. Aku langsung tersenyum dan menjawabnya.
"Ya, nanti kita berkabar lagi, ya," jawabku yang berusaha ramah meski dalam hati sudah sangat ingin mencabik-cabik wajah Wulan.
Sepatu boat sebatas mata kaki terlihat ia hentakkan meninggalkan kami setelah pamit. Jalan yang melenggok terkesan dibuat-buat. Aku langsung melihat ke ponsel Pak Arbi.
Wulan sengaja menuliskan namanya dilengkapi dengan emotikon hati, aku mengubahnya menjadi 'Nek Lampir' dengan mengganti tanda hati menjadi gambar dracula wanita.
"Ayo!" ajakku yang langsung memberikan ponselnya kepada sang pemilik. Pak Arbi melihat ke layar yang sengaja tidak aku kembalikan ke beranda.
Aku berjalan meninggalkan Pak Arbi, langkah jenjangnya terdengar mengejar. Pak Arbi langsung menautkan jemarinya.
"Kamu kalau lagi cemburu, nggemesin."
Aku hanya meliriknya sekilas, diiringi tersenyum getir. Kami melangkah menuju tempat parkir. Tujuan kami berikutnya adalah hotel.
Hanya Pak Arbi yang tahu di mana persisnya letak hotel yang dimaksud. Kami sudah berkendara kurang lebih setengah jam, lalu Pak Arbi masuk menuju tempat parkir bangunan luas yang bercat putih dan oranye.
Bangunan tiga tingkat dengan halaman yang luas ini menjadi pilihan Pak Arbi. Antariksa Hotel & Restauran, itu terlihat di plank depan sebelum masuk.
__ADS_1
Kami berjalan menuju resepsionis, Pak Arbi menunjukkan bukti bahwa ia sudah booking. Wanita berseragam hitam dengan rambut yang disanggul, melihat ke komputer sepertinya untuk memastikan kebenaran data konsumen.
Wanita muda itu meminta tanda pengenal, Pak Arbi menyodorkannya sekalian dengan sejumlah uang. Kunci kamar hotel sudah diberikan pada Pak Arbi.
Kami melangkah menuju kamar yang dimaksud. Kami berada di lantai dua, dengan nomor kamar 215.
Kamar dengan lantai marmer warna putih dan cat cokelat muda yang dilengkapi dengan satu single bed dengan sprei putih dan lapisannya berwarna emas. Ada pula handuk yang dibentuk hati, di atas ranjang.
Gorden warna cokelat tua, dilengkapi lemari dan televisi yang melekat di dinding. Sebuah meja hias juga ada di sudut kamar lengkap dengan sofa berukuran kecil.
Tidak terlalu besar luas kamar ini, sekitar enam meter kurang lebih. Kamar mandi dengan kloset duduk yang dibatasi dinding kaca.
Kami diantar housekeeping, setelah ia menjelaskan, ia pun pergi. Tidak banyak barang yang kami bawa, hanya pakaian yang melekat di badan dan tas selempang milikku juga beberapa kantong belanjaan tadi.
"Mandi, yuk, Ta. Gerah," ucapnya sambil mengipas-ngipas dirinya. Aku melihat ke atas, ada AC di sana. Aku mencari keberadaan remote AC, yang terletak di atas nakas.
Aku menekan tombol untuk menghidupkannya, supaya tidak ada alasan baginya untuk kepanasan. Ia melotot melihat aksiku yang sepertinya enggan menanggapi ocehannya.
"Kamu sudah telepon, Ibu?"
"Entar aja, tunggu agak maleman. Kalau sekarang, takutnya dipaksa pulang."
Aku yang melintasinya, langsung ditarik pergelangan tanganku. Aku duduk di pangkuannya sekarang.
Pak Arbi menatapku lekat, aku hanya menunduk malu dengan posisiku sekarang. Pak Arbi memeluk tubuh erat sekali.
"Ta, kenapa kamu bisa begitu cantik?"
Terlalu sering ia memberi pujian, wajahku terasa panas sekarang. Mungkin sudah memerah akibat ulahnya yang terus saja menggombal kala ada kesempatan.
"Aku mau mandi, Mas. Lepasin, ya."
"Tidak, aku tidak akan melepaskan kamu begitu saja. Apalagi di kamar hotel yang sudah kupesan khusus untuk kita."
"Ya, tapi di rumah juga bisa kalau hanya ingin seperti ini."
Pak Arbi memegang daguku, ia mengangkatnya membawa wajah ini untuk berhadapan dengannya. Sebelah tangannya masih setia, di atas pahaku.
__ADS_1
Ia mendaratkan kecupan manis dan hangat di sana. Entah mengapa, terasa berbeda di sini, atau mungkin hanya perasaanku saja. Atau, memang suasananya yang membuat begitu berbeda.
"Kamu suka aku perlakukan gimana?"
"Kenapa tanya begitu?"
"Aku takut, kalau aku salah memperlakukanmu dan itu jadi boomerang untukku, Ta."
"Dengan kamu menjadi dirimu sendiri dan tidak memaksaku dalam hal apa pun, aku lebih merasa dihargai."
"Dengan sikap omeshku yang sekarang, kamu suka?"
"Itu pengecualian!"
Kami tertawa bersama, jelas melakukan peraduan yang epik nan indah di atas ranjang empuk dan suasana yang memang cocok untuk kami pengantin baru.
Ah, aku sepertinya tidak pantas mengatakan jadi pengantin baru. Sebab, sudah pernah merasakan itu kala pertama dulu. Aku jadi teringat dengan Satria, apa kabarnya, ya.
Aku dipeluk hangat oleh Pak Arbi dari belakang. Ia mencium lembut bahuku, sambil mengeratkan pelukannya.
"Mandi, yuk, Mas."
"Sebentar lagi ya, Ta. Aku masih ingin menikmati aroma tubuhmu."
Aku membiarkannya selama beberapa menit, hingga akhirnya ia tertidur pulas dengan posisinya. Aku membalikkan badan untuk melihatnya yang terpejam.
Sejujurnya, aku tidak pernah melihatnya kala tenang dan diam. Ku pandangi wajahnya lekat, garis rahang tegasnya yang dipenuhi bulu halus menjadi ciri khas tersendiri untuknya.
Alis tebalnya, aku mengusap pelan. Lalu menyentuh pipinya lembut.
"Begitu banyak wanita di luar sana yang berebut ingin menjadi istrimu, tapi kenapa kamu memilihku? Aku merasa tidak pantas, Mas."
"Kamu pantas, Ta. Karena hatiku sudah memilihmu," ucapnya yang perlahan membuka mata. Aku tergugu, malu. Aku menutup wajah dengan selimut.
Pak Arbi menindihku, meski aku berbalut selimut. Ia terus saja menggoda dengan sikap usilnya. Aku bergerak, mendorongnya.
"Mas Arbi, curang!"
__ADS_1
"Curang apa?"
"Udah bangun kenapa nggak bilang-bilang. Aku malu!"