
Satria membawa tubuhku untuk duduk di sofa ruang tamu. Ia begitu cekatan dan perhatian padaku. Pak Arbi juga mendaratkan bokongnya tepat di hadapanku.
Kaki beliau terbuka selebar bahu, kedua tangannya terletak di atas paha dan saling bertaut. Satria menyiapkan minum di dapur. Lalu kembali dengan nampan berisi dua gelas teh juga roti.
"Anda baik-baik saja, Bu?"
Aku mengangguk lemah, Satria duduk di sampingku. Ia merangkul bahuku, aku melirik ke arah jemarinya yang sudah bertengger di sana.
"Syukurlah. Saya sempat khawatir dengan keadaan Ibu."
"Alhamdulillah, istri saya baik-baik saja, Pak."
Satria mengambil sepotong roti, lalu menyuapkannya padaku. Aku menggeleng, tidak ingin makan apa pun. Bahkan, untuk menelan air putih saja aku enggan.
"Ta, please. Makan ini, ya?" ucapnya dengan wajah memelas. Aku sekuat tenaga menolak, tapi tidak enak mengumbar masalah rumah tangga di depan orang. Meski, sekarang keadaan kami tengah hancur satu sama lain.
Aku mengambil sepotong roti itu, lalu memakannya secuil. Satria mengusap pucuk kepalaku lembut. Tidak jarang ia mencium rambutku sekilas.
"Aku makin sayang kamu, Ta," ucapnya tidak segan di depan Pak Arbi. Aku mendelik melihat sikap anehnya, melotot tidak percaya. Pak Arbi terlihat menyunggingkan senyum di ujung bibir.
Mungkin dalam hatinya, Satria terlalu menampakkan diri tengah bersandiwara.
"Silakan diminum, Pak. Sampai lupa," kata Satria yang masih terus menggenggam jemariku.
"Saya dengar, Ibu dipecat dari sekolah. Apa itu benar, Bu?"
Aku menunduk dalam, menahan gejolak rasa di dada mengingat kejadian siang kemarin. Perlahan aku mengangkat wajahku.
Menarik napas dalam lalu berkata, "Ya, Pak."
"Apa? Kamu dipecat?" tanya Satria kaget. Ia terlihat menelengkan kepalanya mencoba mencari jawaban dariku. Namun, mulutku terkunci rapat. Dia bukan lagi keluargaku yang harus tahu detail soal hidupku.
"Jadi, apa rencana Anda selanjutnya?"
"Saya belum tahu, Pak."
"Ananta akan fokus mengurus rumah saja, Pak. Saya rasa, saya masih mampu membiayai hidup Ananta."
Pak Arbi menyeruput minumnya, lalu mengangguk-angguk. Dia terlihat menepuk kedua tangannya, entah apa maksudnya.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu. Semoga lekas sembuh, Bu."
"Ya."
__ADS_1
"Terima kasih, Pak sudah menjenguk istri saya."
Sepulang Pak Arbi, aku bergegas masuk ke kamar. Meninggalkan Satria di sana yang masih sibuk membereskan gelas bekas minum Pak Arbi.
Aku berbaring membelakangi posisi tidur biasanya Satria, meski ia belum berada di sana. Suara pintu berderit, derap langkahnya terdengar masuk. Ia menyapu bahuku lembut, tangannya mengusap lembut pucuk kepalaku.
"Ananta, kasih aku kesempatan. Aku akan berbuat lebih baik padamu," ucapnya yang kini tangannya sudah melingkar di pinggangku.
Aku hanya diam, tidak ada lagi cinta untuknya. Hasrat ingin bersamanya juga sudah menghilang dibawa tetesan air yang tumpah di kamar mandi tadi.
Embusan napasnya bisa kurasakan di tengkukku. Aku bergerak menghindari sentuhan dan aksinya yang membuatku jengah.
Sadar dengan penolakan dariku, Satria mengecup pelipisku. Lalu menjauh, aku menoleh sebentar. Ia tidur di sudut ranjang yang juga memunggungiku.
"Rasa sakit yang kau toreh terlalu dalam. Maaf, besok aku akan mengurus gugatan perceraian," lirihku dalam hati.
**
Pagi sudah tiba, Satria sudah tidak ada di sampingku. Aku bangkit dan melepaskan infus. Membuangnya kasar, sedikit berdarah di punggung tanganku.
Aku melangkah cepat untuk menuju ke pengadilan. Saat melintasi meja makan, aku melihat bubur dalam mangkok sedang juga sepucuk surat di sana.
"Aku berangkat lebih awal, ya. Jangan lupa sarapan. Kunci sengaja aku bawa."
Aku membuang apa pun yang ada di meja. Frustasi. Aku meruntuhkan diri di lantai, menangis histeris seperti orang gila. Aku dipenjara di rumah ini.
Rumah yang kami beli bersama menjadi kurungan untukku. Aku bangkit menggedor-gedor pintu minta tolong. Berharap ada seseorang yang melintas.
Cukup lama aku berteriak, tapi tak seorang pun datang menolong. Hingga tubuhku terkulai lemas, mata sembab.
Aku merutuki diri sendiri, menangis tanpa berhenti. Barang-barang yang diberikan Tama kubongkar dan membakarnya di atas karpet.
Asap mengepul, walaupun mati aku tidak peduli. Daripada harus hidup dengan pria yang penuh dengan sandiwara.
Aku sendiri sudah terbatuk-batuk sebab asap yang kutimbulkan. Aku memeluk lutut, menenggelamkan wajah di sana.
Knop pintu terdengar diputar. Satria langsung berlari mengambil air untuk memadamkan api yang belum begitu besar.
Kain yang basah juga ia lemparkan ke atas karpet yang sudah hangus sebagian. Aku menarik sudut bibir, melihatnya yang kalang kabut.
Setelah padam, atensinya beralih ke arahku yang masih menatap lekat perbuatanku tadi. Ia mendekat, berjongkok di depanku. Menarik tubuh ramping ini, dan mendekapnya erat.
"Kamu baik-baik saja?"
__ADS_1
Ia menciumi pucuk kepalaku, hati ini hambar rasanya. Perlakuannya yang begitu baik sekarang sudah tidak ada artinya lagi.
"Aku ingin cerai, Bang."
Satria melepaskan pelukannya, ia memegang kedua bahuku. Memandangku nanar, bulir bening perlahan menetes membasahi pipi.
Satria menarik leherku dan membawa kepalaku untuk menautkan di kepalanya. Ia tampak memejamkan mata sesaat, mengembuskan napas panjang.
"Apa kamu akan bahagia jika kita bercerai?"
Aku hanya diam dan menunduk. Aku sendiri tidak yakin dengan itu, tapi semakin lama hidup dengannya, rasa bersalah kian menjalar membuat dada semakin sesak.
"Aku nggak akan siap melihatmu menderita. Dengan siapa kamu akan bersandar? Pikirkan lagi, Ta. Aku janji, aku akan menjadi lebih baik lagi," ucapnya yang meremas tanganku lembut dan meletakkannya di depan dadanya.
Debaran itu masih sama seperti dulu. Saat pertama kali kami merajut kasih. Bedanya, di hatiku sudah tidak ada lagi desiran yang mendebarkan jantungku.
"Ta, aku sayang sama kamu."
Aku menunduk dalam, perjanjian di hadapan Tuhan harus pupus karena perselingkuhan. Tapi, bukankah bercerai juga diizinkan jika rumah tangga tidak bahagia.
"Ta, kasih aku waktu satu bulan untuk menebus semuanya. Aku tahu, kamu hanya mengisi kekosongan hati akibat sikapku. Please, Ta."
Aku bangkit, berjalan terseok-seok menuju kamar. Tatapanku kosong, meninggalkan Satria yang diam mematung. Pergelangan tanganku ditahan Satria saat akan melangkah masuk.
"Ta, jangan lakukan hal gila lagi."
Aku masih diam, bagai raga tanpa nyawa. Pernikahan ini sudah hancur berantakan. Ibarat cermin yang sudah pecah, meski kembali direkatkan hasilnya tidak akan sempurna seperti di awal.
**
Hari-hari berlalu, gugatan cerai tak kunjung aku layangkan. Benar memang, Satria menjadi berubah. Tidak sedingin dulu.
Dia lebih hangat, memprioritaskan aku, juga mencurahkan seluruh waktu dan tenaganya hanya untuk membahagiakan aku. Tapi, masih saja rasa itu tidak mampu muncul ke permukaan.
Saat ini, Satria mengajakku berjalan-jalan di taman bunga. Aku mengenakan dress santai berwarna nude, rambut kugerai, tas selempang sudah berada di bahu.
Kami berhenti di pagar kayu warna cokelat sekitar tangga yang ditumbuhi bunga-bunga berbagai warna. Aku menatap lurus ke depan dengan pemandangan danau yang begitu indah.
Satria memeluk tubuh rampingku dari belakang. Ia meletakkan dagunya di bahuku. Aku tetap diam tidak merespon perlakuan manisnya.
"Ta, makasih sudah memberi kesempatan itu. Aku berharap kita hingga tua bersama."
"Apa kau pernah tanyakan bagaimana hatiku sekarang?"
__ADS_1