
Satria hanya mengangkat kedua alis tebalnya. Aku tahu pria dingin ini pasti tengah cemburu. Sudah terlambat, Satria. Hati sudah tidak menyimpan namamu, lagi, batinku meracau.
Satria menarik tangannya, aku mengerutkan dahi. Dia mengambil paksa kain berisi es batu dari tanganku.
"Bukannya jawab pertanyaan aku malah ngambek. Heran, dari dulu nggak pernah berubah, selalu aja cemburu setiap ada pria lain dekat denganku," gerutuku pelan.
"Kamu ngomong, Ta?"
"Heuh?" Satria menatapku penuh telisik, aku nyengir kuda kemudian bangkit untuk membuatkan minuman untuknya.
"Sebentar, ya, Bang. Aku ambilin, minum."
Ia hanya berdehem seraya mengompres tangannya. Aku membuatkan teh untuknya sambil membawa kotak P3K untuk membalut tangannya.
"Diminum, Bang," kataku yang kemudian menekan remote kontrol di atas meja agar tidak terlalu hening suasana di rumah ini. Secara hukum dan agama kami masih bisa memperbaiki rumah tangga ini. Namun, hati sudah tidak bisa bersatu.
Adakalanya, kita hanya bisa mencintai tapi tidak untuk memiliki, ada pula sebaliknya. Dimiliki, tapi hati tidak pernah mecintai. Itu yang kini terjadi pada hatiku.
"Esnya udah habis, Ta. Ada lagi?"
"Hah? Ah ... ya. Masih sakit, Bang?"
"Lumayan."
"Abang sih, sok jagoan. Kan bisa kalau nggak pake kekerasan, Bang," ucapku yang berjalan menuju kulkas mengambil es.
"Aku nggak bisa lihat kamu dikasarin sama pria lain."
"Kalau Abang yang nyakitin dan kasarin aku, boleh gitu?" tanyaku santai tanpa disaring terlebih dahulu kata-kata yang terlontar. Satria langsung menatapku lekat.
Mungkin ia tidak ingat atau sadar akan perbuatannya yang pernah menyakitiku lahir dan batin. Dulu, ia pernah menendang kepalaku saat aku tengah tiduran di depan televisi. Meski itu tidak sakit, tapi rasanya luar biasa menghancurkan fitrahku sebagai istrinya yang tidak ada harganya.
Bukan masalah besar sebenarnya, hanya ada sedikit ucapanku yang tidak berkenan di hatinya. Saat ia akan melangkah melewatiku, kakinya sengaja menendang pelan kepalaku. Ah, entahlah bagaimana rasanya itu.
"Aku pulang, Ta."
"Loh, itu belum diminum, Bang?"
Ia dengan cepat menyeruput teh yang ada di hadapannya lalu melangkah pergi. Tidak lupa aku mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
Aku mengantarnya hingga ke depan pagar. Mobilnya ia tinggal entah di mana. Mungkin di parkir di sekitar minimarket.
"Bang, gimana kabar Ibu?"
Ia tampak mengatupkan bibirnya, lama sekali baru menjawab. Ia terlihat menggaruk kepala bagian belakangnya.
"Em ... sampai sekarang dia belum tahu kalau aku udah talak kamu, Ta."
"Oh? Terus apa rencana kamu ke depannya? Aku takut Ibu akan shock kalau dengar dari orang lain."
Satria terlihat menarik napas panjang dan mengembuskannya pelan. "Itu juga yang aku takutkan, Ta. Kalau jujur sekarang, aku yakin dia akan berusaha membuat kita rujuk. Dan hal itu, tidak kamu inginkan, bukan?"
Aku menunduk dalam lalu mengangguk lemah. Rasa itu sudah tidak ada untuk Satria. Cinta yang dulu menggebu hilang begitu saja. Benar, rasanya tidak lagi sama ketika sudah menikah bertahun-tahun.
Hujan badai yang telah kami lewati merusak isinya. Cintaku pada Satria tidak lagi membara seperti di awal pacaran. Sikapnya yang menghancurkan seluruh awak kapal yang telah kubina mati-matian hingga akhirnya memutuskan untuk menyerah daripada bertahan.
"Ta, hei," panggilnya menghalau pandanganku dengan kelima jarinya. Aku tersentak dari lamunan.
"Benar, Bang. Rasa itu tidak menggebu seperti di awal pacaran dan pernikahan."
"Maafkan aku, Ta. Aku merusak semuanya."
Aku mendongak, menahan tangis. Entah mengapa, aku tak kuasa untuk tidak menjatuhkan bulir bening setiap kali ia memutar ulang memori tentang pernikahan kami.
Satria memelukku dari belakang, semakin beranak sungai air mataku. Bahuku ikut terangkat karenanya.
"Aku rindu kamu, Ta."
"Pulanglah, Bang. Aku masih nggak bisa untuk kembali bersama kamu. Keputusan aku udah bulat, Bang."
Perlahan tangan kekar yang memelukku luruh dan derap langkahnya terdengar pelan meninggalkan aku. Kami saling tersakiti karena perpisahan ini. Namun, jika dilanjutkan, rasa bersalah akan terus menghantuiku setiap kali menatap wajah sendunya.
***
Mentari sudah mulai meninggi, aku mengenakan pakaian formal setelan blazer motif kotak berwarna navy, sepatu high heels lima centimeter menunjang penampilanku.
Kulihat Arini juga tengah bersiap akan mengemudikan mobil sedannya. Di sampingnya duduk Alisha dengan seragam sekolah berompi biru. Gadis kecil itu masih sekolah di taman kanak-kanak.
Tatapan kami bertemu, ia seperti memberi isyarat padaku. Benar, aku paham maksudnya. Aku dijemput Satria. Harusnya, kami pergi masing-masing. Tapi, ia bersikeras ingin menghadiri persidangan bersama-sama.
__ADS_1
Suara klakson mobil Satria membuatku mengalihkan pandangan ke arah Satria. Ia membukakan pintu untukku, itu yang tidak pernah ia lakukan dulu padaku. Kenapa baru sekarang? Setelah semuanya berada di ujung tanduk.
Sebelah kakiku akan melangkah masuk, Pak Arbi menarik lenganku. Hampir saja bokong ini mendarat di jok mobil Satria. Aku menatapnya intens dan bingung, saling pandang ke arah Satria juga Pak Arbi.
"Beruntung aku belum terlambat," katanya dengan suara yang ngos-ngosan.
"Pak Arbi?"
"Saya ingin menemani Anda. Boleh, kan?"
Aku menyatukan kedua alis, bingung harus bagaimana. Satria yang berada di balik kemudi juga ikut memegang sebelah lenganku.
"Bapak nggak mengajar?"
"Saya mengambil izin. Sengaja, supaya bisa antar Ibu ke pengadilan."
"Ananta akan pergi bersama saya."
"Bukankah lebih baik jika Ananta pergi dengan saya?"
Satria turun dari mobil dan berdiri di hadapan Pak Arbi. Dadanya terlihat membusung, begitu juga dengan Pak Arbi. Aku memijat dahi pelan, pusing melihat kelakuan dua pria yang tingginya hampir sama ini.
Aku melirik jam di pergelangan tangan kiriku yang sejak tadi sudah dilepaskan oleh kedua pria ini. Ya, semenjak mereka saling menantang, keduanya membuang tanganku pelan.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan lebih lima belas menit. Sidang akan berlangsung pukul 08.30WIB.
"Bang, kita akan terlambat."
"Anda sebaiknya pulang. Anda tidak dibutuhkan di sini."
"Anda yang sebaiknya tidak menghadiri sidang ini, agar prosesnya cepat selesai."
"Kalian berdua kenapa, sih? Ini tuh udah telat. Bisa nggak nanti aja berdebatnya?"
Satria duduk di balik kemudi, Pak Arbi membuka pintu planel tepat di belakangku. Namun, ia kembali turun dengan meminta tukar posisi denganku.
"Bu Ananta, sebaiknya Anda duduk di belakang."
"Hei, kenapa kamu yang ngatur? Ini mobilku," protes Satria yang tidak terima dengan perintah Pak Arbi. "Kamu di depan aja, Ta."
__ADS_1
"Enggak, Anda sebaiknya di belakang. Aku nggak rela kalau Anda duduk di samping masa lalu Anda."
"Ya, Tuhan!" ucapku menarik napas panjang. Memutar bola mata jengah melihat kelakuan keduanya. Tidak habis pikir dengan para pria manis ini.