Rindu Terhalang

Rindu Terhalang
Dicap Pelakor


__ADS_3

Aku berdiri diikuti Tama. Seorang perempuan tengah menggendong bocah berumur sekitar satu tahun.


"Kamu Ananta, kan?!"


Ia langsung menarik rambutku. Aku tertunduk malu. Hanya diam tak melawan, tubuhku bertubi-tubi ia pukul, hingga mundur satu langkah.


"Nala, cukup!"


"Kenapa, Bang? Gara-gara perempuan ini kamu itu nggak peduli lagi sama kami. Dia Ananta, mantan pacar kamu dulu, kan? Iya, kan?!" Suara perempuan itu begitu menggelegar, aku tidak berani menatapnya, hanya menunduk dalam.


Rambut menutupi wajahku. Aku menangis. Benar, tidak ada gunanya menyesal sekarang. Aku paham rasa sakitnya seperti apa, tapi tetap kulakukan. Di sini aku memang egois, hanya karena nafsu menghalalkan segala cara.


"Hei, pelakor! Kamu pasti sadar kan kalau Tama udah punya istri. Kenapa masih saja berhubungan dengannya!!" teriaknya lagi yang semakin menggila. Seluruh orang di sana berkerumun, kami menjadi pusat tontonan.


"Nala!" bentak Tama, aku memberanikan diri mengangkat wajah menatap ke arah gadis kecil dalam gendongan wanita yang bernama Nala itu. Miris, gadis kecil itu menatap kami bergantian.


Aku sudah berdosa pada bocah itu. Mengambil perhatian sang ayah darinya. Tangan Nala dicengkeram kuat oleh Tama dan berusaha menyeret istrinya keluar. Namun, wanita berambut sebatas pundak itu berontak.


"Heh, perempuan kegatelan. Tidak cukupkah suamimu saja, hingga kamu harus tidur dengan suamiku? Apa bedanya kamu dengan pelacur?" ucapnya lagi, Tama menarik tubuh istrinya kuat untuk membawanya pergi. Tangan Tama dibuang kasar olehnya.


"Nala, cukup!" bentak Tama lagi yang sudah mendaratkan kelima jarinya di pipi Nala. Nala memegangi bekas tamparan Tama.


"Apa?" Suara yang sangat aku kenal. Satria, ia sudah berdiri di tengah kerumunan.


Dua pria berseragam kemeja hitam datang membawa Nala dan Tama keluar. Aku dipandu Satria kembali ke kamar.


Ruang rawat inap yang hanya ada kami ini, mendadak hening. Wajah Satria datar, ia tampak berpikir keras. Sedangkan aku, duduk di brankar tanpa berkata apa pun.


Satria bangkit, entah akan ke mana. Dia selalu pergi tanpa pamit. Aku juga tidak heran dengan sikapnya.


Hingga malam menjelang, Satria tak kunjung datang. Aku sendirian, merenungi kisah masa lalu yang harusnya kubuang malah menjadi bomerang.


Kuputuskan untuk tidur, meski mata enggan terlelap. Terdengar suara perawat datang melakukan pemeriksaan. Bisik-bisik mereka tengah membicarakan aku.

__ADS_1


Aku tidak tuli, suara mereka yang tepat berada di sampingku begitu jelas terdengar. Benar, mereka semua menyebutku pelakor. Beruntung, tak seorang pun yang mengenalku sebagai tenaga pendidik.


"Kasihan, ya. Karena ulahnya sendiri, suaminya jadi nggak mau temenin. Padahal, suaminya kelihatan baik banget, loh."


"Udah, ah. Kita juga nggak tahu kehidupan kita setelah menikah nanti gimana."


Derap langkah mereka berdua terdengar meninggalkan ruanganku. Itu diperkuat dengan suara pintu yang ditarik dan ditutup rapat.


Aku membuka mata perlahan. Menatap langit-langit ruangan bercat putih ini. Aku bodoh memilih Tama yang sudah beristri. Ponselku berdering, kulirik ke arah nakas.


Pak Arbi, nama itu tertera di layar. Aku nggak akan berhubungan lagi dengan seseorang. Cukup bagiku dipermalukan di depan umum.


Aku duduk menatap ke arah luar jendela. Menarik napas panjang dan dalam. Suara ketukan pintu terdengar. Aku malas untuk menyahut, jelas itu bukan Satria.


"Bu Ananta?"


Aku mempertajam pendengaran, pandangan beralih ke arah pintu. Itu seperti suara Pak Arbi. Lagi, ia memanggil namaku.


"Sus, apa pasien sedang istirahat, ya?" tanyanya pada salah satu perawat yang melintas. Entah apa jawaban suster itu, aku tidak mendengarnya lagi. Aku mengirim pesan pada Pak Arbi.


Knop pintu bergerak, Pak Arbi membukanya dan berdiri di sana. Pandangannya berubah menjadi sendu, ia melangkah masuk dan mendekat.


"Anda baik-baik saja, Bu?"


Aku mengangguk, tapi bulir bening luruh begitu saja. Jatuh membasahi punggung tangan yang sejak tadi kuremas kuat. Pak Arbi diam mematung, mungkin dia bingung harus berbuat bagaimana melihatku yang menangis.


"Bukanksah saya pernah bilang, jangan bertahan pada orang yang tidak mau bersama dengan kita."


Semakin beranak sungai air mataku. Aku menangis hingga bahu ikut berguncang. Satu saja kesalahanku, Satria justru menghilang. Bahkan, Pak Arbi yang tidak ada hubungannya dengan semua ini datang untuk bertanya mengenai keadaanku.


Pak Arbi menyodorkan beberapa tisu. Kuambil tanpa melihatnya. Aku masih saja menunduk dalam dan menitikkan air mata.


Pak Arbi masih setia menemaniku. Ia duduk menopang satu kakinya di kursi samping brankar. Kedua tangannya dilipat di depan dada.

__ADS_1


Setelah aku mulai tenang, aku menatapnya dengan mata yang sudah bengkak.


"Pak Arbi ngapain malam-malam ke sini?"


"Saya khawatir sama Ibu."


"Saya baik-baik aja, Pak. Sekarang, Bapak lebih baik pulang. Nggak enak kalau suami saya berpikir yang bukan-bukan."


"Saya nggak peduli. Mana suami yang Anda sebutkan itu? Hanya karena masalah kecil begini dia sudah menghilang."


"Pak Arbi! Ini salah saya."


"Tidak. Semua ini terjadi karena kesalahan suami Anda yang terlalu membiarkan Anda sendiri dalam kesepian."


"Anda jangan menjelekkan suami saya. Siapa Anda?"


"Saya sudah menyukai Anda sejak kuliah dulu. Kalau begitu, saya permisi."


Sekian menit Pak Arbi pergi, aku menenggelamkan wajah di balik selimut. Setiap kata-kata yang terlontar dari mulut Pak Arbi selalu menyimpan misteri.


Aku tidak pandai menerka atau mengisi teka-teki. Aku hanya bisa memecahkan persoalan yang menggunakan rumus, entah seminim apa rumus itu.


Persoalan dengan Tama dan Satria saja tidak selesai-selesai. Kini, Pak Arbi harus ikut menambahnya. Ingin aku teriak saja melepaskan semua beban. Namun, aku sadar tengah berada di rumah sakit dan menjadi pasien di sini.


Cukup pelik dengan pemikiran-pemikiran yang begitu menguras emosi. Entah pukul berapa tepatnya aku terlelap. Cahaya mentari menyingsing masuk ke celah-celah gorden.


Aku mengerjap bangun, segera pergi ke kamar mandi dengan membawa tiang infus. Rasanya aku tidak perlu lagi mengenakan ini, sebab aku sudah merasa lebih baik.


Mencuci wajah dan berganti pakaian. Berharap hari ini bisa segera pulang. Aku sudah bosan di sini, belum lagi ocehan orang-orang mengenai kejadian kemarin.


Saat kembali, Satria sudah duduk di samping brankar. Aku mematung melihatnya yang tampak kacau. Sesekali ia meremas jemarinya, gusar. Ia pasti tengah kebingungan tentang semua ini.


Aku berjalan menuju brankar, Satria menoleh ke arahku. Aku duduk di tepi ranjang. Ia tertunduk sebentar, lalu memalingkan wajahnya.

__ADS_1


"Bang, bagaimana kalau kita cerai?" kataku mengawali percakapan dengannya. Satria langsung mendongak dan menatapku intens. Aku paham betul dengan sikapnya. Ia pasti sangat sulit mengatasi situasi ini. Belum lagi pihak keluarganya, andai mereka sudah tahu kejadiannya.


__ADS_2