Rindu Terhalang

Rindu Terhalang
Modus


__ADS_3

Meski ragu dan sedikit bingung, aku mendekati Pak Arbi yang sudah berdiri di ambang pintu. Tangannya terulur di leherku, sontak aku ingat apa yang dia lakukan tadi malam.


"Kelihatan jelas, Ta."


Aku langsung menutupi area bekas tangannya tadi. Berarti Aisyah tadi lihat ini, batinku. Pantas aja, dia sibuk tanya soal kertasnya. Ya Tuhan, ternyata gara-gara ini. Padahal aku bukan darah suci. Hem.


"Ayo, Ta!" ajaknya yang langsung menarik tanganku.


"Ke mana?"


"Sungai."


"Ngapain? Aneh, kamu!"


"Ngangin aja di sana. Daripada kamu disuruh masak, mending ikut aku ke sungai."


"Tapi, nggak enak sama Bapak dan Ibu kamu."


Pak Arbi tidak peduli tentang pendapat orang lain. Ia tetap mengajakku pergi. Kami berjalan santai, Pak Arbi merangkul bahuku.


"Malu, ih!"


"Ngapain malu. Kamu istri aku."


"Bener, tapi ini lingkungan pesantren."


"Nah, itu kamu tahu! Kenapa nggak pake jilbab?"


Kena skakmat aku dengan omongan yang berbau Islam. Harusnya, nggak usah bawa-bawa agama, ucapku membatin.


"Belum lagi ini," sambung Pak Arbi yang menunjuk ke batang leherku. Aku langsung menutupnya dengan kedua tangan dan celingukan.


"Hai, gadis," sapanya pada santriwati yang melintas sambil membawa mushaf.


"Saya, Pak?" tunjuknya pada diri sendiri, aku menatap Pak Arbi dan gadis itu bergantian. Aku menepuk lengannya pelan.


"Saya boleh pinjam jilbab kamu?"


"Boleh, Pak. Sebentar, saya ambil dulu," ucap gadis itu yang kemudian pamit mungkin menuju kamar asramanya.


"Ngapain pinjam jilbabnya?"


"Biar kamu tambah cantik, Sayang," jawabnya yang mengelus pucuk kepalaku.


"Punya Aisyah, kan ada!" Pak Arbi menoleh ke arah rumahnya. "Malas balik lagi, Ta. Biar aja, tuh cewek ambil punya dia. Biar dia ada kerjaan."


Aku hanya menaikkan sudut bibir, terserah Pak Arbi. Wilayah di sini bukan daerahku. Lima belas menit sudah berlalu, gadis berkerudung cokelat datang. Ia menyerahkan kain penutup model masuk, seperti yang kebanyakan santri pakai.


"Ini, buat jajan," katanya menyodorkan uang dia puluh ribuan.

__ADS_1


"Nggak usah, Pak," tolaknya halus dan mendorong kembali uang yang diberikan Pak Arbi.


"Udah, ambil. Hitung-hitung saya sewa, ya."


"Terima kasih, Pak." Gadis itu pamit. Aku ogah-ogahan memakai jilbab itu. Pak Arbi langsung memasukkannya ke kepalaku. Aku membuang napas kasar. Terlihat tua mengenakan hijab model begini.


"Malu, kelihatan bekas gigitan aku," ucapnya yang terkekeh lalu menarik tanganku untuk berjalan bersama menuju sungai yang entah di mana itu persisnya letaknya.


Kami berjalan menyusuri pesantren, pergi jauh dari keramaian para santri. Sungai kecil dengan bebatuan besar terlihat di balik pesantren ini. Airnya jernih dan terdapat mata air kecil di seberang sana. Hutan sekitaran terlihat lebat dipenuhi pepohonan pinus. Sejuk dan terasa segar udara di sungai ini.


Pak Arbi langsung terjun ke sana. Air bening itu sebatas mata kakinya, lalu ia meminta tanganku dan ikut masuk bersamanya. Duduk di batuan sedang dengan memainkan air sambil bercerita.


"Pak, saya penasaran sama Bapak," kataku yang memiliki seribu pertanyaan dalam otak.


"Heh! Pake penasaran, kamu udah lihat semuanya, " jawabnya yang merangkul bahuku. Kami duduk bersebelahan sambil menikmati alam sekitar.


Aku memukul punggung tangannya pelan, ia terkekeh sebentar. "Tanya aja kalau kamu penasaran," sambungnya yang menopang kepalanya menatapku.


"Jawab serius, ya?"


"Ya, Sayang."


"Kamu kenapa nggak belajar di pesantren aja?"


Pak Arbi berganti posisi. Kini, ia menopang tubuhnya, melihat ke atas sekian detik kemudian beralih ke arahku.


"Nggak bisa lihat kamu," jawabnya sekenanya lalu tertawa riang.


Ia tampak berpikir keras lalu berkata, "Emh, entah ya. Kalau ditanya alasannya, aku juga nggak tahu. Mungkin, karena udah terbiasa dengan lingkungan ini, waktu sekolah dasar juga belajar di sini. Aku jadi punya keinginan untuk tahu dunia luar dibalik ini."


"Tapi, kan sayang."


"Ya, seperti sayangku padamu, Ta."


Aku memukul lengan berototnya bertubi-tubi, Pak Arbi terlihat meringis kesakitan. Aku jadi salah tingkah dengan rayuannya. Selama ini yang biasanya terlihat pendiam juga nggak banyak omong. Ternyata aku salah menilai, pikirku.


"Oke, oke. Aku serius akan jawab kamu," ucapnya yang mengusap lembut tanganku. Aku sudah bersungut-sungut dan malas mendengarkan ceritanya.


"Aku mau pulang!" ancamku yang aku sendiri sebenarnya tidak tahu jalan kembali ke pesantren. Perlahan turun dari bebatuan, Pak Arbi ikut serta dan memeluk tubuhku dari belakang.


"Emang tahu jalan pulang?"


"Tahu!"


"Sini, aku ceritai." Ia memandu untuk duduk di sampingnya seraya tangan yang terus memeluk tubuhku.


"Aku nggak pengen jadi seperti Ayah, Ta."


"Emang kenapa?"

__ADS_1


"Di dunianya hanya tentang Islam, tidak tahu teknologi dan era zaman seperti sekarang ini. Makanya, aku ambil kuliah di luar, Ta."


"Kamu anak Kiyai, kok hobinya nyosor?" Pak Arbi menoleh, menatap wajahku lekat.


"Hehe. Cuma sama kamu, Ta. Aku nggak pernah terlihat sama perempuan mana pun, selain kamu."


"Gombal banget, sih."


Ia justru mengeratkan pelukannya, aku pun sibuk menikmati hangat tubuhnya. Ini pernikahan kedua bagiku, justru menjadi awal yang bahagia.


"Pak."


"Emh, tuh kan. Masih aja panggil Pak. Menghilangkan suasana romantis aja, sih!"


"Kamu nggak menyesal menikahi janda sepertiku? Kamu tahu aku dulu berselingkuh. Kamu nggak takut aku akan mengulang kesalahan yang sama?"


"Ta, setiap manusia berhak memiliki kesempatan untuk berubah. Kamu berselingkuh bukan karena mau, hanya saja mantan suami kamu yang begitu tidak peduli akan kehadiranmu."


"Terus? Kalau aku melakukan hal yang sama, gimana?"


"Itu sebabnya aku bawa kamu ke sini!"


"Maksudnya?"


"Awalnya, aku mau kamu ngajar di pondok. Tapi, keadaan malah berubah. Kamu justru jadi istri aku."


"Kak Ananta, Bang Arbi...!" Suara itu sangat aku kenal. Aisyah berdiri di atas memanggil kami berdua. Perlahan ia turun menghampiri.


"Mau apa, Syah?"


"Kakak sama Abang dicariin Ayah." Kami saling pandang, pikiranku meracau yang bukan-bukan. Apa ada serangkaian adat lagi yang harus dijalani. Atau kiyai ingin memberi wejangan pada kami berdua.


"Ya, kamu duluan aja."


"Kira-kira, Kiyai mau ngapain?"


"Paling juga minta kain putih."


"Kain putih? Untuk apa?"


Pak Arbi menaikkan kedua bahunya, aku semakin penasaran dengan adat istiadat di sini. Jujur, entah mengapa aku mendadak betah di sini.


"Ayo, Ta." Pak Arbi turun dari bebatuan terlebih dahulu lalu menurunkan aku dari sana. Mengangkat pinggangku untuk turun bersamanya.


Aku seperti boneka kecil baginya, yang mudah dimainkan atau digendong.


"Kamu kok hobi, sih ngangkat aku dari pinggang."


"Aku suka aja di bagian itu, apalagi bokong kamu. Itu jadi favoritku sekarang."

__ADS_1


"Anak Kiyai kok kayak gini, sih? Mesumnya nggak ada obat. Berarti yang kemaren-kemaren di puncak itu, modus, ya!"


__ADS_2