Rindu Terhalang

Rindu Terhalang
Sifat Gila Tama


__ADS_3

"Saya cuma mau mengambil ini, Bu. Saya lihat tadi Bu Ananta tidak sampe untuk meraihnya."


"Oh," seru semua orang yang berdiri di ambang pintu. Mereka pun masuk duduk di meja masing-masing.


Aku dan Pak Arbi canggung, dan kembali ke meja kami. Harum parfum maskulin Pak Arbi tertinggal di kemejaku, sepertinya saat kami berdekatan tadi mungkin tertempel sebentar.


Jam istirahat sudah tiba, aku masih sibuk mengisi nilai untuk anak-anak. Aku menopang kepala, memang tengah berpikir keras dengan semua keadaan ini.


Atensiku kembali teralih dengan foto yang ada di dalam kotak. Pose kami tengah memadu kasih tempo dulu. Saat masih belia, kami berdiri di sebuah pantai lalu Tama mencium pipiku dengan sebelah tangan merangkul bahuku.


Siapa pun yang melihat pasti cemburu dengan kemesraan kami. Satu tahun bersama, tidak pernah sekalipun kami bertengkar. Jika marah, Tama hanya diam lalu meredam sesaat dan kembali menjadi dirinya yang hangat.


Pelukan hangatnya kala itu masih kuingat hingga kini. Namun, sayang semua hanya masa lalu yang menjadi kenangan bukan untuk dikenang.


Tama mengirim pesan melalu aplikasi balon warna biru. Ya, memang tidak aku blok dia di sana.


"Ta, bisakah kita mengulang kisah yang dulu lagi."


Perasaanku, jangan ditanya bagaimana dengan kata-kata yang tertulis di sana. Ah ... entahlah ini hati, sulit untukku jelaskan.


Setengah hati masih ingin bersama dengannya, tapi setengahnya lagi tidak bisa melewati batas yang sudah terlanjur terpampang di depan mata dan itu sah secara hukum dan agama, begitu juga dengannya.


"Bu, jadi nonton, kan?"


"He uh? Ah, ya. Ibu udah selesai emangnya?"


"Belum, sih. Masih ada satu kelas lagi," tutur Bu Afifah yang entah sejak kapan berada di depan wajahku. Padahal jarak meja kami cukup jauh, meja Bu Afifah berada di sudut sana.


"Tapi, Bu. Saya kok jadi penasaran sama penggemar Ibu, ya?"


Aku menatap tajam ke arah Bu Afifah. Tergambar jelas memang ia tengah memasang wajah penasaran. Matanya tertuju pada kotak hitam di sampingku. Dengan segera aku menurunkannya, agar dia teralih.

__ADS_1


"Saya aja nggak penasaran, Bu. Hehe," timpalku berusaha mengubah topik pembicaraan.


Bel kembali berbunyi. Kami melangkah menuju kelas masing-masing. Oh, ya, aku sempat lupa soal Pak Arbi yang memanggil Bagus ke ruangan BP.


Aku tiba di kelas yang berada di lantai dua, tepat di pojokan. Pohon bambu kuning memberi hawa sejuk pada kelas ini. Berbeda dengan kelas lain yang tampak gersang.


"Selamat pagi menjelang siang," sapaku pada mereka semua. Mereka pasti bingung harus menjawab apa. Benar saja, saat ini mereka terlihat saling melempar tatapan.


"Kalian nggak perlu menjawab, saya tahu kalian pasti bingung. Hehe. Oke, sampai di mana pelajaran kita semalam? Ada tugas?"


Seorang siswi yang berada di posisi depan tampak membuka-buka halaman.


"Halaman 53, Bu."


"Oke. Ada tugas?" tanyaku lagi mencoba mencari respons para murid. Mereka acuh tak acuh. Aku menarik bibir ke dalam. "Oke, kita lanjutkan, ya."


Aku menjelaskan setiap detailnya pelajaran hari ini. Menyingkat penjelasan agar seefisien mungkin mereka dapat mengerti dan menghemat waktuku. Matematika adalah pelajaran yang amat sangat sulit untuk dipahami. Kebanyakan orang, malas untuk belajar tentang angka ini.


Sama dengan kehidupanku. Tidak suka dengan ketidakpastian. Selesai mengajar, aku dan Bu Afifah pulang bersama menuju mall ternama yang memang ramai di kunjungi semua kalangan.


Sampai di depan bioskop, Bu Afifah membeli dua tiket, sedangkan aku membeli dua buah popcorn beserta esnya. Juga camilan seperti keripik kentang dan kacang-kacangan.


Bu Afifah memilih film dengan judul, 'Selesai' yang diperankan oleh Ariel Tatum dan Gading Marten. Dari sinopsisnya, ini cerita mengenai perselingkuhan. Aku agak merasa tersinggung sedikit, tapi ya ... mau bagaimana lagi.


Hati dan hariku selalu kosong meski ada pendamping yang menemani. Aku sebelumnya memberi kabar oleh Satria akan pergi dengan Bu Afifah menonton, dia hanya membalas dengan satu huruf, 'Y'


Tidak ada lagi sambungan. Sepatah, bukan tapi sehuruf. Ya, hanya itu yang bisa aku deskripsikan. Ah, ingin rasanya melepaskan diri dari pria yang entah apa bisa kusebut dia. Dingin, cuek, atau misterius.


"Ayo, masuk, Bu. Filmnya udah mau dimulai," kata Bu Afifah seraya memegang dua tiket. Aku mengangguk, memang pintu bioskop telah terbuka.


Aku mengekor Bu Afifah, ia tampak sibuk mencari nomor kursi yang dibantu petugas bioskop. Tertangkap di netraku seorang pria mengenakan jaket juga topi duduk di tengah atas barisan kami duduk sekarang. Ia menunduk begitu melihatku.

__ADS_1


Seketika lampu dimatikan, banyak orang berpasang-pasangan juga para bestie yang ingin menyaksikan film yang baru saja rilis beberapa hari lalu ini. Cuplikan adegan film viral di sosial media, apalagi pemainnya terlibat dengan dunia perpelakoran. Jelas, para wanita sebaya kami yang berbondong-bondong datang untuk menyaksikan versi lengkap.


Seorang pria duduk di sampingku. Aku menoleh, lalu mataku terbelalak saat melihat Tama di sana. Aku melotot tidak percaya, sebelah alis naik mencoba bertanya dia kenapa ada di sini dengan bahasa tubuh itu.


Netra kami bertemu, ia memandangku nanar. Lengkungan senyum terlukis di sana. Benih-benih cinta yang dulu, masih terselip di pancaran matanya.


"Kamu kok di sini?" Aku mengirim pesan padanya lewat aplikasi biru.


"Enggak sengaja ketemu kamu tadi waktu di lift arah ke sini," balasnya yang sontak kami saling memandang.


"Terus?"


"Ya, aku kangen kamu. Makanya aku di sini."


"Tam." Aku menulis di sana tapi raut wajah memelas bisa dilihat langsung oleh Tama.


"Stay cool, nggak ada yang tahu. Oke?"


Aku membuang napas pasrah. Tama memang bekerja dengan memasuki mall-mall dan supermarket untuk mengecek barang juga para sales promotionnya.


Bu Afifah fokus menonton dan sangat serius sambil memakan popcorn. Sedangkan aku, fokus menetralkan jantung yang tengah berpacu kencang. Punggung tanganku disapu lembut oleh Tama.


Perlahan ia menciumnya. Ya Tuhan, aku pikir adegan seperti ini hanya ada di drama korea yang tengah hits di kalangan remaja juga emak-emak sepertiku. Nyatanya, aku mengalami hal yang serupa.


Perlakuan manis ini, tidak pernah kudapat dari Satria. Bahkan, dia pulang malam saja tidak pernah memberi kabar.


Aku pura-pura menjatuhkan tisu mini pack ya kubawa, menunduk mengambilnya. Tama mengikutiku dengan melakukan yang sama. Lagi, kami saling pandang.


Tama mengecup bibirku sekilas. Aku melakukan itu sebenarnya akan memohon padanya untuk pergi, karena ada Bu Afifah di sampingku. Tapi, dia justru menciumku. Huh! Wajahku terasa memanas sekarang.


"Bu Ananta?"

__ADS_1


__ADS_2