
Beberapa detik kemudian, Pak Arbi melepaskan ciumannya. Aku menyapu kasar bibir bekas ciuman kecupan Pak Arbi.
"Ternyata Anda sama saja dengan pria lain."
"Tidak. Aku tidak sama dengan dua pria yang singgah di hidup Anda."
"Sungguh? Kalau begitu Anda bisa pergi dari kehidupan saya."
"Saya tidak mau. Saya akan datang dan datang lagi mengusik hati Anda hingga utuh tertulis nama saya di sana."
"Anda sudah gila!"
"Benar. Ayo sekarang kita makan dulu, di luar juga masih hujan," ajaknya yang langsung menarik pergelangan tanganku untuk masuk.
Aku duduk di salah satu meja, Pak Arbi tampak memesan di sana. Ia menoleh sebentar ke arahku lalu tersenyum entah dengan perasaan bagaimana.
Aku menopang dagu dan menunduk sebentar. Ada rasa malu di diriku. Belum lagi statusku sekarang yang masih masa iddah.
Sepuluh menit sudah Pak Arbi berdiri di sana, kini kaki jenjangnya melangkah mendekat dengan nampan di kedua tangannya.
Hamburger dan ayam goreng tepung beserta nasi dan minuman hangat sudah ada di hadapanku. Pak Arbi menyodorkan satu set ayam goreng, sedangkan ia menyantap roti berukuran besar itu.
Ia menggigitnya dengan lahap, aku menelan air liur melihat caranya makan. Sejujurnya, aku sedang menginginkan itu. Tapi, malu dan gengsi untuk bilang pada pria yang tiba-tiba saja mencuri ciuman di bibirku.
Pak Arbi mengunyah dengan sangat menggunggah seleraku. Ah, kenapa makanan yang begitu saja mampu membuatku menelan ludah. Ya Tuhan, bukan tidak mampu untuk membelinya.
"Anda mau punya saya?" tawar Pak Arbi yang mungkin melihatku begitu berselera dengan roti dalam genggamannya.
"Ck! Punya Anda yang mana?" tanyaku memastikan, atensiku beralih ke arah bibirnya yang tipis dan memutar ulang memori kejadian beberapa menit yang lalu.
"Ini," tunjuknya menyodorkan roti itu tepat di depan bibirnya.
Aku bergidik mengangkat bahu memikirkan hal lain, Pak Arbi sedikit maju dan membungkukkan badannya mengacak rambutku.
"Bu Ananta, Bu Ananta," ucap yang membuatku tertunduk malu. Kemudian terdengar suara kursi berderit. Aku mendongak, kulihat Pak Arbi kembali ke tempat kasir berdiri.
Beberapa menit setelahnya, ia membawa satu porsi hamburger dan kentang goreng.
"Silakan dimakan Bu Ananta."
"Untuk saya?" tanyaku menunjuk diri sendiri. Ia mengangguk.
"Sebanyak ini?"
__ADS_1
"Hem. Makanlah. Punya saya cukup ini saja."
Aku meruntuhkan tubuh, merengek bingung menghabiskan semuanya. Kemudian duduk tegak dan menggerakkan jemariku untuk bersiap memulainya. Berharap Pak Arbi akan ilfeel denganku.
Semua yang ada di depanku, kumakan satu persatu tidak meninggalkan sisa barang sebutir nasi.
"Bu Ananta, kapan sidang perceraian Anda?"
Aku tersedak mendengar ucapannya. Terbatuk karena makanan yang kucerna belum sepenuhnya masuk ke kerongkongan. Tangan dengan cepat menarik minuman, menyeruput air untuk memudahkannya makanan yang tersangkut menuju perut.
Pak Arbi justru tersenyum entah apa yang ada di pikirannya. Aku sendiri tidak tahu kapan sidang itu akan berlangsung, talak juga baru siang tadi dijatuhkan Satria padaku.
"Saya belum tahu, Pak."
"Boleh nanti saya temani? Kalau perlu, saya akan jadi orang ketiga untuk mempercepat perceraian Anda."
"Tidak perlu, Pak. Saya tidak ingin merepotkan Anda."
"Oke. Sekarang, apa rencana Anda ke depannya?"
"Entahlah, Pak."
**
Rumah yang kami tempati dulu, diserahkan Satria padaku. Sebagai harta gono-gini. Benar, rumah ini hasil kerja keras kami berdua. Mobil, akan Satria jual dan hasilnya dibagi dua.
Sidang perceraian kami akan diadakan besok. Berkas perkara sudah sampai di pengadilan. Alasan perceraian bukan karena perselingkuhan, Satria menulis bahwa ia yang bersalah karena tidak bisa memberi nafkah batin padaku.
Sejujurnya, itu semakin membuatku bersalah dan terluka. Aku ingin, perselingkuhan yang menyebabkan putusnya ikatan pernikahan ini, agar ia membenciku. Namun, rasa cintanya seolah memudarkan satu kesalahanku.
Suara bel terdengar, Arini terlihat berdiri di depan pagar. Aku melangkah keluar untuk membukanya.
"Kamu baik-baik saja?" tanyanya dengan wajah yang tampak lesu dan tidak bercahaya seperti dulu.
Aku mengangguk, ia menyodorkan rantang padaku. Aku mengerutkan dahi, menatapnya bingung.
"Aku tahu kamu belum makan. Ambillah," ucapnya yang melangkah masuk ke rumahku.
"Aku tidak merepotkan Anda."
"Enggak apa-apa," jawabnya yang sudah duduk di sofa ruang tamu. Pandangannya lurus ke depan, tatapannya kosong melihat ke arah rumahnya.
"Kapan sidang perceraianmu?"
__ADS_1
"Besok," kataku yang menata makanan yang ia bawa sambil sesekali melihatnya yang perlahan menjatuhkan bulir bening.
"Mungkin kita akan berada di tempat yang sama. Hanya saja, ruangannya yang berbeda."
"Maksud Anda?" tanyaku yang sudah duduk di sampingnya. Ia meremas kedua tangannya dan menarik napas panjang.
"Aku juga akan bercerai, Ananta."
"Anda serius?"
"Ya, Ananta. Aku mencintai pria lain."
"Apa?"
"Semuanya tidak sengaja. Secara kebetulan dan itu terjadi begitu saja."
"Maksudnya?" tanyaku yang masih tidak mengerti dengan ucapannya barusan.
"Tempo hari, saat kamu tengah kacau. Suamiku mengadakan pesta untuk teman-teman dan koleganya. Salah satunya ada seorang pelukis yang meninggalkan jejak gambar di atas kertas putih milik anakku. Dia, pria yang dulu mencari-cari keberadaanku. Hingga akhirnya, ia bercerai dengan istrinya dan dipertemukan kembali denganku."
Arini menarik napas panjang, pandangannya beralih ke arahku. Menatap dalam bola mataku. Aku menyapu lembut punggung tangannya.
"Mbak," panggilku memastikan kalau dia baik-baik saja. "Lalu apa yang terjadi, Mbak?"
"Seperti yang kamu tahu, aku peselingkuh. Aku mendatangi kediamannya, dan kisah itu terulang. Kami saling mencintai, bukan sekadar bermain-main api. Aku menggunakan hatiku, Ananta. Zaki memergokiku di sana. Ia membawaku paksa untuk ikut bersamanya, bahkan menyakitiku juga Alisha."
"Alisha?"
"Ya. Aku dilarang pergi dari rumah itu. Bahkan, untuk kemari saja sangat sulit bagiku. Aku dipenjara oleh Zaki, Ananta. Aku nggak sanggup. Aku diam-diam mengajukan gugatan cerai. Besok adalah sidang mediasi. Aku berharap, ia tidak akan pernah tahu."
Zaki sudah terlihat di depan pagar rumahku. Tanpa sengaja aku melihatnya saat berdiri akan mengambilkan minum untuk Arini. Suara bel berbunyi, aku melirik ke arah pintu.
"Zaki?" tanya Arini yang kujawab dengan anggukan.
"Baiklah, Ta. Tolong, rahasiakan ini, ya."
"Ya, Mbak.
"Sampai ketemu besok," ucapnya yang menyapu lembut bahuku.
Ada rasa miris melihatnya yang juga ikut hancur karena perselingkuhan dengan pria dari masa lalu. Begitu juga denganku, yang harusnya bisa belajar untuk membuang kisah masa lampau yang justru menghancurkan masa kini.
Nasi sudah menjadi bubur, apalagi yang bisa dilakukan selain ditelan dan dinikmati. Entah bagaimana ke depannya, hanya Tuhan yang tahu. Aku akan menjalani semuanya sebab akibat. Entah itu karma, atau rasa sesal.
__ADS_1