
"Pak Arbi, bercandanya kelewatan deh. Mana bisa saya lepasin dahaga Bapak, emang saya minuman jelly drink penunda lapar itu," balasku yang berusaha tenang meski sebenarnya gugup bukan kepalang.
Pak Arbi tertawa yang kulihat matanya hilang dibalik tawanya. Dia tampan, meski kadang tidak sopan dan juga blak-blakan. Sering kali aku spot jantung.
"Kalau saya serius, gimana?" tanyanya lagi meski dengan wajah tersenyum. Aku tidak terjerumus dalam cintanya yang mungkin akan membuatku terluka lagi dan lagi.
"Pak Arbi, mentang-mentang saya menjelang janda ngomongnya suka godain, ih. Kita udah sepakat jadi partner, kan Pak? Atau Bapaka sama Bu Afifaj aja, deh, Pak. Cocok buat Bapak. Sama-sama cantik dan ganteng," balasku lagi yang memalingkan wajah sejenak dan membuang napas karena gugup.
"Tapi saya maunya Ibu."
"Udah, ah, Pak. Saya ambil minuman dulu buat Bapak, tunggu sebentar, ya."
Jelas memang aku tahu hatinya. Berkali-kali ia menunjukkan sikap peduli dan perhatian padaku. Aku melangkah masuk, menyeduh teh dan membawa beberapa buah roti kering.
Aku teringat akan Bu Afifah, kala mengungkitnya tadi. Bagaimana kabar beliau sekarang. Aku membawa nampan menuju ke teras, tempat Pak Arbi duduk di kursi rotan lengkap dengan meja senada.
"Silakan diminum, Pak."
"Lingkungan di sini lumayan nyaman, ya, Bu?" Mata Arbi berkeliling memperhatikan sekitar yang cukup tenang dan lumayan jauh dari hiruk pikuk suara bising kendaraan.
"Ya, lumayan, Pak. Sedikit bisa melepaskan penat kala bekerja seharian." Aku duduk di seberang kursi Pak Arbi, mengikuti arah matanya.
"Masih ada yang kosong?" tanyanya menatapku penuh harap.
"Kurang tahu, ya, Pak. Bapak bisa tanya ke satpam atau pihak properti. Atau nanti saya cari tahu kalau Anda berminat."
"Em, oke. Saya nanti pasti bakal minta bantuan Ibu."
"Silakan, Pak. Jangan sungkan. Saya siap membantu. Kita hidup kan harus saling tolong menolong. Oh, ya. Bu Afifah apa kabarnya, Pak?"
"Mana saya tahu, Bu. Kok tanya saya?" ucap Pak Arbi yang seperti ogah-ogahan menjawab mengenai Bu Afifah.
"Ya kan Anda satu sekolahan sama beliau. Kalau dulu, saya nggak perlu tanya Bapak, orang tiap hari ketemu." Aku menaikkan sudut bibir sebelah kiri menanggapi perkataannya Pak Arbi.
Pria jangkung ini terlihat menaikkan sebelah alisnya kemudian menjawab, "Sepertinya baik. Soal hatinya, saya nggak tahu. Kalau hati Anda mungkin saya bisa menebak."
"Ck! Pak Arbi, nggak henti-hentinya gombalin saya. Entar saya diserbu fansnya lagi, loh."
__ADS_1
Pak Arbi terkekeh, aku yakin dia tahu betul bagaimana sikap Indah dan teman-temannya jika tahu kalau guru idola mereka menggoda gadis lain.
"Serem, ya, Bu."
"Nah, itu Bapak tahu."
"Pantas aja banyak yang menghindari saya, ya. Ternyata mereka penyebabnya," balasnya yang menyalahkan para penggemarnya.
"Tapi, Anda memang sama sekali hilang kontak dengan Bu Afifah?" Aku mengangguk. Sejak kejadian di rumah sakit itu, aku tidak pernah lagi berkomunikasi dengan Bu Afifah. Entah bagaimana dia, yang jelas aku mendoakan semoga baik-baik saja.
"Kadang Bu Afifah melihat meja Anda dengan menarik napas panjang."
"Sungguh?"
"Ya. Anda mau ketemu sama Bu Afifah?"
"Nggak usah, Pak. Saya belum siap. Berita terkenalnya saya saja sudah cukup membuat saya malu dan menutup diri untuk dunia luar, Pak."
"Saya akan bantu Anda. Sebagai rekan, saya akan menjaga Anda."
"Terima kasih, Pak."
"Seandainya saya suami Anda, saya nggak perlu pulang, kan, Bu?"
"Hehe. Pak Arbi, mulai lagi gombalin saya. Awas lo, entar kalau ketemu saya leboh cantik dari ini digombalin lagi. Saya denda Bapak," godaku yang berhasil membuatnya tertunduk sebentar diringi tawa.
Mobil Pak Arbi pun pergi meninggalkan kediamanku. Aku memungut gelas dan akan membawanya ke dalam. Tangan berurat melingkar di pinggangku.
"Pak Arbi! Anda tidak sopan!" bentakku tanpa berbalik, sedetik kemudian aku membuang tangannya kasar.
"Bang?"
"Ta, aku mohon kita batalin perceraian kita, ya?"
"Bang, kesempatan yang sudah hilang dan kepercayaan yang sudah rusak. Keduanya itu harga mati yang tidak dapat dikembalikan seperti semula. Hargai selagi ada. Bukankah itu yang sering kita dengar?"
Satria perlahan melepaskan pelukannya. Semuanya sudah terlambat, tidak ada lagi kesempatan. Satria terlihat menunduk malu.
__ADS_1
"Pak Satria? Baru pulang dari luar kota, ya?"
Kami sontak menoleh ke asal suara. Satpam kompleks berhenti di depan rumah.
"I-iya," jawab Satria yang tampak bingung. Lalu meminta jawaban padaku melalui sorot matanya.
"Lagi keliling, Pak?" tanya Satria sekadar basa-basi.
"Ya, saya lanjut dulu. Silakan dilanjutkan melepas rindunya, Pak. Hehe," ejeknya yang membuatku memutar bola mata malas. Mau tidak mau, aku terpaksa menyuruh Satria masuk untuk menghindari ocehan mulut julid para tetangga.
"Kamu bilang sama mereka kalau aku ke luar kota?"
"Ya, Bang. Belum saatnya mereka tahu tentang rumah tangga kita."
Satria duduk di kursi meja makan, aku mengambilkan minum untuknya. Ia menopang kepalanya, bulu halus memenuhi sekitar area dagunya. Dulu, aku yang selalu mengingatkan dan bahkan mencukur untuknya.
Rambutnya juga sudah terlihat panjang, tampak tidak rapi. Aku duduk di hadapannya seraya menyeruput sirup yang kubuat untuk kami berdua tadi.
"Ibu gimana kabarnya, Bang?"
"Sampe sekarang, aku masih belum berani untuk kasih tahu Ibu. Aku masih berharap bisa memperbaikinya, Ta."
"Sudahlah, Bang. Kalau kita kembali bersama, kita akan saling menyakiti."
"Saling menyakiti?"
"Ya. Aku yakin, Abang berubah menjadi lebih menghargai kehadiranku di samping Abang. Hal itu justru membuatku semakin bersalah. Kekhilafan yang aku buat karena tidur dengan pria lain, menyiksa batinku terus menerus karena sikap baik Abang. Aku nggak mau hidup dengan rasa bersalah, Bang. Please, jangan minta aku kembali."
Aku menunduk dalam, perlahan menghapus hidung yang sudah berair. Sebab menangis dalam hati.
"Baiklah, Ta. Aku mengerti perasaanmu. Sekali lagi, aku talak kamu."
Aku menarik napas dalam-dalam. Itu artinya aku telah sah jadi janda di mata agama. Hanya perlu surat untuk menyatakan statusku dilegalkan.
"Aku pergi, Ta. Setelah ini, aku akan mengatakan yang sejujurnya pada Ibu. Aku harap, jika suatu saat aku memerlukan kamu. Kamu mau bantu aku."
"Aku akan bantu, selagi aku bisa, Bang."
__ADS_1
Satria bangkit, aku menatap punggungnya yang lebar. Punggung yang menjadi ratapan kesedihanku kala ia selalu menolak memberi nafkah batin padaku.
"Jaga diri kamu, Ta. Aku udah nggak ada hak menjagamu. Sidang berikutnya, aku nggak akan hadir. Tolong terima permintaan maafku. Terima kasih, untuk waktu yang udah kita lewati selama ini."