Rindu Terhalang

Rindu Terhalang
Sisi Kesepianku


__ADS_3

Malam penuh dengan taburan bintang di langit. Aku memeluk diriku sendiri di balkon, menatap langit yang begitu indahnya. Aku menghirup atmosfer yang cukup untuk melepas rasa penat, atau setidaknya tetap menjaga kewarasan.


"Tutup pintunya, Ta. Banyak angin, nggak baik untuk tubuh kita," ucapnya yang berdiri di tengah-tengah ruangan, antara kamar dan dapur.


Aku menoleh ke arahnya yang berjalan mengambil segelas air. Sontak aku menutup pintu model slide ini. Lalu bergabung dengannya yang tengah duduk di meja makan.


"Bang, hari ini masa suburku, loh."


Satria mengerutkan keningnya, meletakkan gelas sedikit dihentakkan lalu berjalan ke kamar, meninggalkan aku sendirian. Aku mengusap wajah gusar. Sama sekali tidak mengerti dengan sikapnya, kadang hangat, kadang sedingin es.


Apa memang semua pria begitu? Awalnya manis dan penuh hasrat, lalu dengan seiring berjalannya waktu mulai bosan dan justru menghilang dari peredaran.


Setelah cukup dengan pemikiran-pemikiran yang rumit, aku masuk ke kamar. Satria sudah berada dibalik selimut, aku memeluknya dari belakang. Wanita juga ingin disentuh dan dimanja, meski hanya di ranjang.


"Bang, aku sedang masa ovulasi," ucapku sekali lagi.


"Tidurlah, aku capek. Banyak tugas kantor yang harus kuselesaikan besok," jawabnya tanpa berpaling menatapku.


Jujur, aku kecewa. Aku kembali ke posisiku, memunggunginya. Bulir bening lolos dari pelupuk mata. Ini sudah tiga bulan, ia tidak memberi nafkah batin.


Pagi, kuredam semua amarah dan rasa kecewa. Aku kembali ke mode biasa. Menyiapkan sarapan dan rutinitas lainnya seperti biasa.


Satria menarik kursi keluar, lalu duduk di sana. Sebelah tangan masih memegang handuk, lalu meletakkan kain persegi itu di sandaran sofa.


Aku menarik napas dalam dan panjang. Lalu mengambil handuk itu dan menyampirkannya ke jemuran. Satria justru sibuk dengan mengisi perut tanpa menghiraukan aku.


"Bang, nggak bisa rupanya melihat keberadaanku walau sebentar saja? Aku bukan pembantu yang harus siap melayani semua kebutuhan rumahmu! Bagaimana dengan kebutuhan batinku!" berontakku yang sudah tidak tahan akan semua perlakuannya.


Satria hanya diam dan menatapku seolah aku radio rusak yang berbicara tanpa perlu didengar. Aku berganti pakaian dan keluar dari rumah secepat mungkin dengan membanting pintu.


Sesampai di depan pagar, kulihat Arini tengah sarapan di balkon rumahnya. Tatapan mata kami bertemu. Cukup lama ia memandang ke arahku yang memang tengah kacau.


Aku berlalu pergi, rambut sedikit bergerak karena hentakan kaki yang mengayun.


"Tunggu." Aku menghentikan langkah lalu berbalik ragu, bukan Satria yang menahanku di sini. Tapi, Arini.


Ia menyodorkan kotak bekal kecil padaku. Aku hanya memandangnya bergantian dengan benda persegi yang ia pegang.


"Ambil untuk sarapan," katanya lagi.


Aku masih diam mematung, kulirik ke arah suaminya yang tampak menyunggingkan senyum.


"Suami Anda menunggu, sebaiknya Anda kembali." Aku memilih pergi, tidak ingin punya hubungan apa pun dengan tetangga baru itu.

__ADS_1


Aku naik angkot untuk tiba di sekolah. Sesampai di ruangan guru, Pak Kosim datang dengan membawa bungkusan hitam. Dari yang terlihat itu paket, aku jelas bingung. Ini juga masih pagi buta.


"Apa ini, Pak?"


"Paket, Bu."


"Paket?" tanyaku lagi yang memang masih membuatku bingung.


"Ya, semalam sore sampainya."


"Oh." Aku mengambilnya lalu Pak Kosim pun pergi.


Baru juga tiba, paket sudah datang. Tidak ada nama pengirim, hanya kertas kecil namaku yang tertera di sana. Tanpa menaruh curiga, aku membukanya.


Sebuah boneka teddy bear berwarna cokelat berukuran sekitar tiga puluh centimeter beserta ponsel merk abal-abal yang memang sempat aku punya dulu.


Nama dan bentuk yang sama persis seperti yang diberikan oleh Tama saat kami bersama dulu. Aku memejam mata cukup lama, tanganku menopang dahi.


Bahuku ditepuk seseorang, segera aku menoleh ke arah si empunya tangan. Bu Afifah ternyata, aku bisa menarik napas lega.


"Paket dari shopee, Bu?"


"Bukan, dari fans," kataku menggoda beliau yang sudah memicingkan mata.


"Kita semua cantik, Bu. Saya lebih cantik sih, karena sudah laku lebih dulu," balasku yang mengundang tawa. Terdengar juga tawa dengan suara berat.


Pak Arbi menutupi rasa gelinya dengan membuat kepalan tangan yang diposisikan dekat mulut.


"Pak Arbi, bahagia banget kayaknya, ya ngelihat saya insecure." Bu Afifah pikir, Pak Arbi menertawakan dirinya. Padahal, aku tahu itu tertuju pada siapa.


Sebenarnya aku tengah dongkol pada Satria. Dia tidak akan pernah menelepon untuk meminta maaf. Hidup dalam dunianya sendiri. Kadang aku bertanya-tanya dalam hati, mengapa ia menikah denganku? Untuk statuskah?


Ah, entahlah. Selalu penuh dengan misteri dan teka-teki jika menyangkut kepribadiannya. Sepuluh tahun ternyata masih kurang untuk mengenalnya lebih dalam.


"Saya nggak bermaksud begitu, Bu Afifah. Saya sedang membaca pesan dari teman, dan tidak sengaja jadi menyambung ke cerita Ibu."


Bel masuk pun berbunyi, kami bubar dari ruangan guru. Bu Afifah masih saja bersungut, dengan memeluk buku ia berjalan di sampingku.


"Kok saya sebel ya Bu sama Pak Arbi."


"Jangan sebel-sebel lho, Bu nanti malah jadi kebel."


"Kebel?" tanyanya yang mengerutkan dahi.

__ADS_1


"Ya, kebel ... et kawin, haha."


Sontak Bu Afifah memekikkan suaranya. "Bu Ananta ...!"


"Hehe, bercanda, Bu. Biar jangan tegang-tegang banget di pagi hari yang indah ini."


Aku menuju kelas, memang setiap hari mata pelajaranku ada jadwalnya. Kali ini di lantai dasar, entah mengapa selalu saja bersebelahan sama Pak Arbi. Bu Afifah melangkah ke arah tangga, dia mengajar di lantai dua.


"Pagi," sapaku pada murid-murid yang tampak segar dan rapi.


"Pagi, Bu."


Aku meletakkan tas dan buku-buku milikku di meja. Aku berdiri di tengah-tengah kelas.


"Oke, semalam sampai di mana pelajaran kita?"


"Halaman 42, Bu."


"Oke." Aku membolak-balik halaman melihat pelajaran terakhir. Memulai kegiatan belajar mengajar.


Sudah cukup menjelaskan, aku kembali ke tempat duduk. Memperhatikan murid satu persatu, sekalian mengabsen mereka. Daftar absen kelas dan absen milikku jelas berbeda.


Kelas ini cukup tenang dan tidak ricuh seperti kelas Indah. Mungkin karena kelas unggulan. Ya, siswa-siswa ini dipisahkan berdasarkan rangking kelas saat ujian semester lalu.


Sudah selesai dengan materi juga absen milikku, aku menyempatkan berkeliling ke lorong-lorong meja mereka. Tidak ada yang bermain ponsel seperti kelas Indah, mereka semua fokus.


Aku melirik jam di dinding, hampir waktunya istirahat. Sebenarnya, aku masih kepikiran soal paket tadi, jelas aku tahu siapa yang mengirim. Tama.


Kadang heran dengannya, ia sudah punya anak juga istri, kenapa menggebu ingin mendekatiku lagi. Apa aku hanya dijadikan pelampiasan rasa bosan, atau bertemu denganku membuka kembali memori lama baginya.


Ah, entahlah. Aku tidak ingin terjerat dan kembali mengulang kisah yang pernah ada. Rasa yang tertinggal, tidak bisa dipungkiri, masih terselip di sudut hati.


Sebuah pesan masuk di aplikasi biru dengan bunyi khas. Kulihat foto Tama di lingkaran yang muncul di layar. Di saat tengah ada masalah begini, pasti ada rasa ingin membalas pesan itu.


Aku menyentuh lingkaran bulat itu.


"Ta, maaf atas kesalahanku kemarin. Aku kurang ajar, Ta."


Aku tidak membalas, hanya membacanya saja. Lagi, ia terlihat mengetik. Mungkin dilihatnya, lingkaran kecil tanda pesan dibaca.


"Ta, please. Kasih kesempatan untuk aku bisa berbagi cerita denganmu. Kamu nggak tahu 'kan kehidupanku gimana?"


"Oke. Tapi stop hubungi aku duluan. Apalagi sampe kirim-kirim barang masa lalu kita."

__ADS_1


__ADS_2