
Sontak Tama berpaling muka, aku menoleh ke arah Bu Afifah. Aku bangkit dan membawa tisu tadi ke dalam genggaman.
"Ya, Bu. Ada apa?"
"Nggak apa-apa, Bu. Saya pikir Ibu ngapain. Ibu kenal sama yang di sebelah Ibu?"
"He uh?" Aku menoleh ke arah Tama yang sedang menonton dengan wajah serius. "Enggak."
"Oh, kirain kenal."
"Itu tadi, dia lagi cari pemantiknya yang jatuh, Bu. Kebetulan tisu saya juga jatuh."
"Oh."
"Saya ke toilet dulu ya, Bu."
"Ya."
Aku berjalan menuju toilet. Belum tiba di sana, pergelangan tanganku ditarik oleh seseorang. Ingin aku berteriak, tapi Tama membungkam mulutku dengan tangannya.
Kami menepi di sudut, jauh dari keramaian pengunjung. Tama memelukku erat, seraya menyapu punggungku. Hangat tubuhnya, ini mengingatkan akan kisah masa lalu yang pernah kami ukir bersama.
Semenit kemudian di melepaskannya. "Ta, kita ulangi lagi kisah dulu, ya."
"Enggak mungkin, Tama. Kamu udah punya istri, begitu juga denganku."
"Bener yang kamu bilang. Aku tahu, di hatimu masih ada aku, kan? Ya, kan Ta?"
Aku menunduk dalam, takut ada orang yang mengenalku. Posisi kami sekarang saling berhadapan, tangan Tama juga tengah memegangku. Pinggang rampingku ia tarik hingga tubuh ini mendekat padanya.
Aku mendongak menatap Tama yang semakin tampan. Sel otakku sudah berpikiran jauh melayang, bibir tipis itu sangat menggodaku. Ah, sial. Lagi-lagi, aku dikalahkan nafsu.
Aku mengecup bibirnya sekilas. Tama tampak terkejut, aku segera pergi. Malu. Tama mencegahku, ia justru semakin liar ******* bibirku.
Setelahnya aku mendorong tubuhnya pelan untuk menjauh. "Kamu mungkin hanya penasaran dengan tubuhku, Tama."
"Enggak, Ta. Dulu, bukankah aku sudah pernah melihat semuanya?"
Aku mundur satu langkah, ya benar memang yang dikatakannya. Kami pernah berada di ruangan tanpa sehelai benang yang menutupi tubuh kami. Itu sebabnya dia bilang hanya selaput dara yang ia robek.
Aku pernah bodoh memberikan hal yang harus kujaga. Namun, karena nafsu kami sempat menjurus ke sana. Bersyukur, aku masih mempertahankan yang namanya perawan. Itulah yang kini menjadi milik Satria.
Hingga dia sah menjadi suamiku, baru kulepas keperawananku padanya. Awalnya aku menolak untuk melakukan itu pada Satria. Namun, karena ia terus mengungkit gaya berpacaranku dengan Tama, aku jadi terpaksa melayaninya di malam pertama.
__ADS_1
Tanpa ampun, Satria menerobos hingga pecah malam itu juga. Ia tidak peduli denganku yang merasakan nyeri dan sakit luar biasa hingga ke ujung kepala. Setelah ia puas, dia tertidur lelap di sampingku.
Darah memenuhi sprei bekas kami bersenggama malam itu. Satria, mengambil sprei baru untuk kuganti detik itu juga. Berulang kali aku bilang padanya, bahagiaku hanya di atas pelaminan.
Selebihnya, rumah tanggaku menjadi rumah duka. Pernah satu hari aku datang bulan, warung di sekitar rumah tutup. Aku memintanya untuk membelikan pembalut, tapi ia menolak.
Waktu itu, tidak ada motor matic di rumah. Hanya motor kesayangannya yang ada, aku seorang wanita yang sama sekali tidak bisa mengendarainya. Menuntunnya saja aku tidak kuat.
Ingin aku menangis detik itu juga, tapi kutahan. Biarlah waktu yang membuka hatinya. Aku dengan terpaksa berjalan mencari warung yang buka, kebetulan itu mendekati lebaran. Sehingga sulit untukku menemukannya.
Lagi, berkali-kali aku menguatkan hati dengan berkata, "Ini pilihanku, aku harus bertanggung jawab untuk ini."
Aku kembali dengan raut wajah kecewa, menatap lelaki yang kini menjadi suamiku dengan perasaan yang campur aduk. Jika tidak mengingat kedua orangtuaku, mungkin aku sudah bercerai sejak lama.
"Ta, kamu masih sayang sama aku?"
"Ini bukan soal sayang atau nggak, Tama. Status kita udah beda."
"Nggak usah ngomongin status, Ta. Besok kamu pulang jam berapa?"
"Jam sepuluh sepertinya."
"Kita pergi ke kebun bunga, yuk, Ta."
"Ya, tempat yang dulu kamu sering ajak aku, tapi aku nggak pernah mau. Sekarang, aku ingin menebus itu, Ta."
Tama mengecup keningku lalu pergi. Aku kembali menemui Bu Afifah, dari yang terlihat filmnya sebentar lagi habis.
"Kok lama, Bu?"
"Ya. Antri, Bu."
Film yang kami tonton sudah habis, Bu Afifah mengajak pergi makan terlebih dahulu sebelum akhirnya pulang.
Dia memilih restoran Jepang, aku manut saja. Selagi di kantong uang masih aman. Perlahan benih cinta untuk Tama kembali bersemi.
Sampailah kami di tempat yanh banyak digandrungi anak-anak milenial. Aku memesan mie udon dan tidak lupa sushi. Bu Afifah memilih egg roll dan rice burger.
"Bu, saya kok penasaran ya sama suami Ibu."
"Suami saya?"
"Ya, nggak pernah ikut gabung sama kita kalau ada acara gathering. Ibu selalu aja sendirian."
__ADS_1
"Suami saya sibuk, Bu. Pulang kerja selalu malam. Sama saya aja susah ketemu."
Aku sengaja menutupi sifat Satria yang memang tidak pernah bisa jika aku ajak gabung kala ada acara. Undangan yang datang pada kami saja dia pilih-pilih untuk datang. Kalau acara khitanan, menyuruhku pergi sendirian. Terutama kalau acara itu dari pihak keluargaku.
Ia tidak akan pernah muncul di sana. Betapa bingungnya aku menjawab pertanyaan yang datang dari seluruh keluarga yang menayakan keberadaannya. Belum lagi, banyak mulut julid yang terus menghakimi dengan pertanyaan yang menjurus ke anak.
Bahkan, ada yang tidak percaya kalau aku sudah menikah. Beberapa waktu lalu begitu. Keluarga dari pihak mempelai pria datang, pandangannya terus tertuju padaku. Saat itu, salah satu sepupuku menikah.
Aku menjaga hidangan, pria di seberang sana datang mengambil makan. Dia berdiri tepat di depanku.
"Kak."
"Ya."
"Udah makan?" tanyanya yang membuatku menyatukan alis.
"Udah."
"Kakak udah menikah?" tanyanya lagi. Ya, Tuhan. Bocah ini kenapa tanya beginian. Dari segi wajah memang lebih tampan Satria. Aku juga tidak tertarik dengannya.
"Udah," jawabku yang melihatnya mengulum senyum.
"Nggak mungkin, suami Kakak mana kalau emang udah menikah?"
Aku menghela napas dalam, tidak perlu menjelaskan kehidupan pribadiku pada orang yang tidak kukenal. Kadang aku berpikir, apa Satria tidak pernah takut kehilangan aku?
Hem, entahlah. Aku tersadar dari bayangan masa lalu saat makanan yang kami pesan tiba. Mata Bu Afifah tengah menyorot semua yang ada di hadapannya. Mulutnya ternganga kagum.
"Wah, Bu. Aku kira cuma ada di drakor ini. Ternyata tampilan aslinya sama, ya."
Aku terkekeh sebentar melihat aksi Bu Afifah. Tidak lupa ia cepat-cepat mengambil ponsel untuk mengabadikan makanan indah yang ada di hadapannya.
"Bu, aku foto dulu, ya."
"Silakan, Bu."
Cekrek, cekrek.
"Aku mau posting, ah. Biar pada tau kalau kita lagi makan di sini."
"Ya, ampun, Bu. Besok-besok kita juga bisa makan di sini lagi."
"Lain momen kalau itu, Bu."
__ADS_1
"Terserah, Ibu deh."