Rindu Terhalang

Rindu Terhalang
Tiba-Tiba Pingsan


__ADS_3

Sepulang dari nonton bareng Bu Afifah, aku teringat perlakuan Tama siang tadi. Kadang aku menggigit bibir bagian dalam. Di otak terus mengulang memori mendebarkan itu.


Terkadang tersenyum sendiri. Beruntung Satria belum pulang. Aku membersihkan diri, lalu duduk di sofa ruang tamu. Kebetulan di luar tengah hujan.


Kulihat beberapa anak main di bawah tetesan air dengan riangnya. Aku menopang dagu melihat aksi mereka yang meneduhkan jiwaku, entah mengapa bisa begitu.


Pikiranku melayang jauh, andai dulu aku menikah dengan Tama mungkin aku sudah bermain dengan anakku. Atau mungkin jika kisah dengan Satria tidak kumulai, kami akan hidup bahagia bersama dan kemungkinan-kemungkinan yang lainnya menyerang hatiku.


Pesan teks dari Tama masuk. Aku melirik jam, pukul lima sore. Bukannya dia harusnya sudah ada di rumah.


"Ta."


"Ya."


"Em, kamu lagi apa?"


"Nggak ada, lagi bengong aja."


"Satria belum pulang?"


"Belum. Istri kamu mana? Kok bisa bebas chat aku."


"Lagi di rumah ibunya."


Obrolan ini terus berlanjut ke panggilan suara dan beralih menjadi video. Aku sedikit malu rasanya melakukan itu, karena memang tidak pernah menggunakannya begini.


"Ta, besok aku tunggu di tempat pertama kali kita jumpa, ya." Aku mengangguk, benar aku sudah gila. Bermain serong dengan suami orang. Jelas, aku sadar dengan itu. Sebutannya, pelakor.


Benar, aku mengakui itu. Sejak kisah ini kumulai, aku sudah siap dengan konsekuensi dan tanggung jawab atas semuanya. Entah itu nama baik, reputasi juga pekerjaanku sebagai pendidik.


"Ta, sampai di taman besok, kita sewa pondok, ya. Aku ingin mengembalikan waktu kita yang telah hilang."


"Em ...."


Belum sempat aku menjawab, Satria tiba-tiba pulang. Tidak seperti biasanya yang pulang hampir tengah malam. Aku gelagapan dan langsung mengakhiri panggilan itu.


Memblokir nomor Tama. Arini melakukan panggilan video secara mendadak. Aku mempertajam pandangan ke arah rumahnya. Terlihat ia berdiri di balik gorden dan mengangguk.


Aku menangkap sinyal yang ia berikan. Aku menyapu layar, menjawab panggilannya.


"Kenapa mati panggilan video dari saya tadi?"


"He uh? Oh, maaf. Jaringan sepertinya tidak stabil. Kalau gitu, besok kita sambung lagi."

__ADS_1


Satria masuk tanpa menanyakan apa pun, cuek. Membiarkan aku bertindak sesukaku. Ia berjalan menuju kamar. Sedangkan, aku beralih ke dapur untuk menyiapkan makanan.


Pertengkaran kemarin hilang begitu saja tanpa ada kata maaf dari kami berdua. Rumah yang memang sepi jadi semakin dingin dan sesak tanpa ada komunikasi lebih.


Selalu aku bertanya padanya, rumah tangga apa ini? Jawabnya hanya sekenanya dan jauh dari harapan.


Aku berjalan menuju dapur, menyiapkan makanannya. Menu masih sama dengan yang tadi pagi. Aku telah lelah bekerja, bagiku masak cukup pagi saja. Belum lagi pekerjaan rumah yang lain yang harus dipegang.


Satria tidak mau tahu dengan apa pun mengenai pekerjaan rumah. Semua aku yang handle, bukankah aku bisa gila kapan saja? Lelah hati juga badan.


Satria keluar dari kamar mandi setelah membersihkan dirinya. Di kasur seperti biasa sudah tertata pakaiannya semua. Termasuk pakaian dalam.


Ia mengacak-acak rambutnya dengan handuk, lalu meletakkan handuk itu asal di kasur. Aku memperhatikan gerak-geriknya dari dapur yang memang dapat terlihat dengan jelas.


Setelahnya Satria keluar melenggang kangkung. Aku masuk ke kamar mengambil benda persegi yang ia buang di sana. Aku menghela napas panjang, meski kadang menggerutu.


Kini, aku berada di hadapannya. Ia memandang semua masakan yang tadi pagi. Satria mengembuskan napas kasar.


"Ini menu tadi pagi?"


"Ya."


"Bisa nggak, jangan kasih makan aku ini lagi? Aku bosan makan hal yang sama tiga kali sehari."


"Ya, tapi aku bosan."


"Jadi?"


Satria mengambil ponselnya. Tangannya bergerilya di sana. Mengabaikan makanan ini. Aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis, meski perih di hati bagai teriris-iris oleh silet tajam.


Aku mengambil nasi, menyendokkan makan. Berusaha untuk baik-baik saja meski telah berdarah dan nanah di hatiku.


Pesanan makanan dari salah satu aplikasi terdenga dari luar. Satria langsung bangkit, menuju pagar.


"Abang pesan makan dari luar?"


"Hem."


Aku tengah berada di posisi bertahan sakit, dilepas sulit. Meski berat, aku menelan satu persatu butiran nasi. Tidak bisakah dia hargai ini, untuk kali ini saja.


**


Aku mengenalan blazer berwarna sage lengkap dengan rok model payung sebatas lutut, sepatu warna putih kali ini aku kenakan.

__ADS_1


Aku sudah berada di ruang guru. Rambut aku ikat satu dengan mengambil sisi kanan dan kiri saja, sisanya dibiarkan terurai.


"Masha Allah, cantik bener, Bu Ananta." Aku hanya tersenyum menanggapi ocehan Bu Afifah.


"Tumben pake baju begini, Bu. Mau kencan sama pak suami, ya?"


"Ck! Hehe, mana mungkin suami aku mau diajak kencan, Bu. Kulkas lima pintu aja kalah dinginnya sama Bang Satria."


"Hehe, kirain sama kami doang yang kulkas, Bu. Ternyata sama ibu juga, ya."


Aku hanya berdehem. Melanjutkan aktivitas di sekolah. Aku mulai mengajar di kelas Indah, seperti biasa menjelaskan lalu memberikan tugas.


Masih berdiri menulis di papan tulis, tiba-tiba pandanganku kunang-kunang. Kupaksakan untuk terus mengajar, tidak ingin menelantarkan mereka hanya karena kondisi tubuh yang entah bagaimana aku menjelaskannya.


Aku memejamkan mata sejenak, berharap semua baik-baik saja. Aku memunggungi para murid dan perlahan membuka untuk melanjutkan menulis.


Tubuhku mulai gemetar, kunang-kunang semakin banyak di depan mataku. Lalu semuanya gelap gulita.


Aku tidak mendengar apapun lagi. Tindakan apa yang dilakukan mereka atas tubuhku, aku sama sekali tida merasakan apa-apa.


Saat membuka mata, bajuku telah berganti dengan pakaian pasien. Indah, Bu Afifah, Pak Arbi tengah memandangku serius. Wajah mereka menatapku sendu.


Selang infus sudah terpasang di tangan sebelah kiriku. Aku bangkit menyandarkan tubuh ke dinding, Bu Afifah sigap membantu.


"Kenapa saya dibawa ke sini, Bu? Terus kenapa semua orang ada di sini?"


"Anda masih tanya kenapa? Selama ini Anda tidak pernah mengetahui penyakit Anda?"


"Saya cuma anemia, Bu. Nggak punya penyakit lain."


"Anemia dan asam lambung itu dua penyakit yang mematikan, Bu kalau dibiarin!" tegas Bu Afifah yang tampak marah.


"Saya, nggak apa-apa, Bu."


"Sudah berapa lama saya pingsan, Bu? Kamu kenapa ikut ke sini, Indah?"


"Dua jam. Indah yang memberitahukan kami kalau kamu pingsan di kelasnya," jawab Pak Arbi yang terlihat duduk melipat tangan di depan dada.


"Ma--"


Belum selesai aku berucap terima kasih, pintu ruangan ini dibuka lebar oleh seseorang. Semua mata tertuju padanya, napasnya terdengar ngos-ngosan. Ia berjalan mendekat, semua orang yang hadir pamit keluar.


Satria, entah siapa yang memberi kabar padanya. Aku duduk bersungut, malas melihatnya. Suami yang tidak peka akan keberadaanku.

__ADS_1


"Kamu kenapa? Seberapa parah kondisimu?"


__ADS_2