
Sikap lembut Pak Arbi mampu meluluhkan hatiku. Tidak peduli cibiran orang di luar sana tentangku yang terlalu cepat mengambil keputusan menikah lagi.
"Ta, gimana kalau kamu mengajar di sini?" tawarnya yang meletakkan dagunya di bahuku.
"Itu artinya aku tinggal di sini?" Pak Arbi mengangguk, kedua tangannya melingkari pinggangku. "Kamu gimana?"
"Aku balik ke Medan dulu. Selesaikan surat kepindahan terus kita sama-sama ngajar di sini, gimana?"
"Aku masih belum nyaman untuk menetap di sini. Apalagi kalau tanpa kamu, nggak ah."
"Bilang aja kamu nggak bisa jauh-jauh dari aku."
"Ya, Tuhan. Mentang-mentang guru idola, banyak fansnya terus over pede."
Pak Arbi memutar tubuh kecilku untuk berhadapan dengannya. Ia menatap lurus ke dalam bola mataku.
"Ta, Lama-lama kamu akan terbiasa. Mau, ya. Daripada di sana bengong."
"Kok bengong? Aku kan udah jadi istri kamu."
"Ya, sih."
"Kapan kita pulang ke Medan?"
"Aku ambil cuti tiga hari. Masih ada sisa satu hari lagi, Ta. Besok main ke kota, yuk."
Benar, kami berada jauh dari hiruk pikuk kota. Kampung yang melewati perkebunan sawit yang luasnya berhektar-hektar.
"Ta, mau nggak?"
"Sebenarnya, nggak mau sih. Cuma aku pengen ngobrol banyak sama kamu soal semuanya dari awal sampe akhir."
"Kalau nggak mau nggak usah dipaksa, Ta. Sekarang, kita makan yuk. Ayah juga yang lainnya udah pada nungguin kayaknya, tapi kamu pakai jilbab dulu, ya." Pak Arbi mengambil kerudung yang aku buang asal tadi, ia langsung memakaikannya di kepalaku.
"Kok pake jilbab lagi?"
"Malu, Ta. Bekas gigitan aku masih ada di sana. Kalau cuma Aisyah yang nampak nggak apa-apa, kalau Ayah, aku malu."
"Ck! Tau malu juga ternyata," cibirku yang dibalas dengan senyuman.
Aku berjalan menuju nakas, mengambil tasku yang sudah sejak beberapa hari aku acuhkan. Benda pipih yang kemarin sempat mati, kembali aku hidupkan.
Banyak pesan yang masuk dan beberapa panggilan yang enggan aku jawab. Tama tidak henti-hentinya menghubungiku.
"Siapa, Sayang?" Pak Arbi mendekat dan melihat layar ponsel yang sedang kugenggam. Nama Tama tertera di sana, Pak Arbi langsung merampasnya.
__ADS_1
"Sini, Ta!"
"Aku nggak mau ada hubungan lagi sama dia, Mas."
"Apa? Ka-kamu panggil aku, Mas?" Wajahnya yang tadi beringas berubah menjadi ramah dan penuh senyum meski ponsel masih dalam genggamannya.
"Balikin," pintaku yang menjinjit berusaha merebut gawaiku.
"Panggil, Mas lagi. Ayo, Ta. Aku pengen denger lagi dan lagi."
"Balikin dulu. Kalau nggak, jangan harap!"
"Oke, nih." Pak Arbi menyerahkan ponsel, belum aku mengambilnya, ia menarik kembali benda pipih milikku. Aku mengerutkan kening.
"Kok diambil lagi?"
"Tapi, ingat. Kamu itu udah punya suami. Jangan genit sama si Tama-Tama itu."
"Ya, Mas. Puas?"
"Eh, kamu.... "
Aku menarik paksa ponsel dari genggamannya. Panggilan masuk dari Bu Afifah membuatku menatap tajam ke arah Pak Arbi. Arbi melongok ke arah layar benda pipihku.
"Angkat, Ta." Aku menyapu tombol hijau.
"Bu Ananta, kok udah lama nggak aktif teleponnya? Saya berkali-kali nelpon Ibu."
"Oh, ya. Maaf, Bu. Saya lagi di luar kota."
"Sama Pak Arbi, kan?"
Aku menjauhkan ponsel sebentar, mencoba mengkonfirmasi maksud Bu Afifah.
"Bu Afifah kok tahu kalau kita pergi bersama?" Pak Arbi menjawab dengan mengendikkan bahunya. Aku kembali meletakkan ponsel ke daun telinga.
"Kok Anda nebaknya begitu, Bu?"
"Bu Ananta, saya tahu Anda sudah menikah dengan Pak Arbi." Aku menyatukan kedua alis, bingung. Lalu menekan tombol pengeras suara, agar Pak Arbi ikut mendengarnya sekalian.
"Maaf, Bu Afifah. Anda tahu dari mana berita itu?"
"Saya tanpa sengaja melihat foto yang diunggah di story Pak Arbi beberapa waktu lalu. Benar, kan Bu Ananta menikah dengan Pak Arbi?"
Aku mendelik marah pada Pak Arbi, beliau hanya cengengesan sambil menggaruk kepala yang tampak tidak gatal.
__ADS_1
"Be-benar, Bu. Tapi, saya mohon rahasiakan ini untuk saya, ya."
"Loh, kok pake dirahasiain, sih, Bu. Berita baik itu harus disebar. Nanti, saya dan guru-guru lain akan datang setelah Ibu dan Pak Arbi kembali ke sini, ya. Kalau gitu, selamat menikmati bulan madu yang kedua ya, Bu. Saya aja yang pertama belum, Ibu udah dua kali. Hihi," ejeknya yang kemudian mengakhiri panggilan itu.
Aku meminta penjelasan Pak Arbi yang ia sendiri bingung menjawabnya.
"Aku baru mau ngomong sama kamu, Ta. Kalau kita kembali nanti, mau undang rekan-rekan guru. Maaf, ya. Aku euforia soalnya, jadi nggak sadar langsung upload foto pernikahan kita. Tapi, saat sadar langsung aku hapus, Ta. Beneran. Sumpah!" ucapnya mengangkat jari kedua jari. Aku melengos pergi, perut juga sudah keroncongan. Ingin rasanya kutelan ia hidup-hidup.
Aku sedikit membanting pintu, keluar dengan menatap tajam daun pintu bercat putih itu.
"Ananta?" sapa ibu mertuaku yang langsung mengusap bahuku.
"Ya, Bu." Beliau terlihat membawa mangkuk berisi sayur.
"Makan yuk, Nak."
"Eh, ya, Bu."
"Panggil Arbi."
"Ya, Bu." Belum sempat aku memanggilnya, Pak Arbi sudah berdiri di samping kami.
"Kebetulan. Yuk, makan."
Kami mengikuti ibu mertuaku yang berjalan menuju meja prasmanan yang sudah terpampang berbagai masakan. Aisyah sudah duduk di posisinya. Kami duduk di hadapan Aisyah, di tengah meja Kiyai Samad.
"Kak Ananta pakai jilbab gitu lebih cantik, loh Kak," puji Aisyah yang membuatku salah tingkah.
"Ya, Ta. Kamu belum mau berhijab?" tanya mertuaku yang semua mata tertuju padaku. Aku menutup rapat bibirku, takut salah bicara.
"Berhijab atau tidak itu sudah ada hadistnya masing-masing. Banyak ulama berbeda pendapat soal mengenakan hijab."
"Jadi, Ayah nggak masalah Ananta belum menggunakan jilbab?" Pak Arbi angkat suara soal ini. Aku menanti jawaban Kiyai Samad dengan jantung yang deg-degan.
"Ya, nggak apa-apa. Allah tidak memvonis harus lima tambah lima adalah sepuluh. Tapi, Allah minta sepuluh itu berapa tambah berapa. Ada tiga tambah tujuh dan bilangan lainnya untuk mencapai sepuluh itu. Maksudnya adalah, pintu hidayah Allah buka dari mana saja, tidak hanya satu pintu," jelas Kiyai Samad yang membuatku menarik napas lega.
"Dalam Islam, tata cara berpakaian sudah ada hadistnya, yang penting berpakaian dengan sopan dan berbuat baik," sambung Kiyai Samad yang di hadapannya sudah ada piring berisi nasi.
"Udah, ayo makan. Pimpin doa, Bi."
"Ya, Bu."
Pak Arbi memanjatkan doa, kami khusyuk mendengarkannya. Setelah selesai, kami makan bersama. Tidak hening, tidak juga ricuh.
"Kapan kalian akan kembali ke Medan?"
__ADS_1
"Insya Allah lusa, Bu. Besok masih mau bawa Ananta keliling kota dulu."
"Ya, puas-puasin di main di sini, ya, Ta."