
"Aw, ah!" Aku langsung bangkit menuju kamar mandi, malas menjawab ucapan Pak Arbi. Terdengar suaranya yang tertawa renyah, sedangkan aku melengos menutup pintu dengan sedikit membanting.
"Kak Ananta," sapa Aisyah saat aku tengah menjembikkan bibir. Aku berusaha sebisa mungkin mengubah mimik wajahku.
"Eh, Aisyah."
"Kak mau ngapain?"
"Mau ke kamar mandi," jawabku santai dan kulihat di tangannya penuh membawa beberapa piring dalam nampan.
"Mau aku bantuin, Syah?"
"Nggak usah, Kak. Di kamar Bang Arbi kan ada kamar mandinya, Kak."
"Ah, ya. Lupa, Syah," kilahku yang menyembunyikan sikap nakal kakaknya. Aku jadi tengsin dan permisi untuk kembali masuk ke kamar.
"Ya udah, kalau gitu aku masuk dulu ya, Syah."
"Ya, Kak. Jangan lupa, surat dari aku dibaca, ya. Soalnya, aku tadi lihat udah ada tandanya," bisiknya yang membuatku terbelalak tidak percaya. Ternyata, darah memang lebih kental dari air. Buktinya, dua-duanya sama. Huft!
Aku memutar kenop pintu, melangkah masuk. Pak Arbi tengah berdiri melipat tangan di depan dada.
"Kenapa balik lagi?"
Aku menaikkan sudut bibir, lalu meletakkan hijab asal. Pak Arbi melangkah mendekat setelah puas tertawa.
"Jangan dekat-dekat!"
"Emang kenapa?" Pak Arbi terus melangkah hingga aku tersudut di dinding. Aku celingukan, tapi Pak Arbi justru mengunciku dengan tatapan yang tajam dan mematikan.
"Awas, Pak."
"Ayo bilang, Pak lagi," godanya dengan mata liar dan nakal. Ia semakin mendekat, aku mendorong tubuhnya dengan sekuat tenaga. Pak Arbi justru mencengkeram bahuku kuat, mencium buas batang leherku.
Aku menggeliat resah, pergumulan di ranjang kembali kami lakukan. Ah, yang benar saja. Setiap kali ada kesempatan, Pak Arbi selalu melakukannya lagi dan lagi.
Kami bercerita dari hati ke hati di atas kasur. Aku meletakkan kepala di dada bidangnya yang tanpa busana.
"Pak, Anda anak kiyai, tapi kenapa justru tidak begitu taat dengan agama."
"Bukan tidak taat, kamu aja yang nggak lihat aku selalu mengutamakan Ibadah. Buktinya, barusan kita melakukan ibadah."
"Ck! Serius!"
"Sayang, tidak semua anak kiyai, ustadz, dan pemuka agama lainnya baik sebagaimana mestinya. Banyak contoh, anak seorang ustadz justru melakukan zina bahkan hamil di luar nikah. Kadang, ulama atau ustadz-ustadz yang ceramah di luar sana belum tentu bisa menceramahi dan mengajarkan anaknya tentang kebaikan. Kalaupun benar, mereka mengajarkan anak-anak mereka, belum tentu anaknya menerima sesuai yang diajarkan orang tuanya."
"Ya, tapi kan buah itu jatuh tidak jauh dari pohonnya. Harusnya kamu begitu, dong!"
"Ya udah, yuk sekarang buat buahnya," ucapnya lagi yang perlahan menindih tubuhku.
__ADS_1
"Argh, Pak Arbi!" rintihku geli.
Waktu makan malam tiba, kami diminta keluar oleh Aisyah. Aku juga masih penasaran sama surat Aisyah yang kemarin.
"Pak," panggilku yang membuat Pak Arbi mendelik dan melangkah mendekatiku. Ia menyisir rambutku pelan.
"Sayang, berapa kali harus aku bilang. Panggil Mas, ya."
"Canggung, Pak."
"Lihat dalamnya nggak canggung!"
"Ish, apaan sih! Nggak jauh-jauh dari anu," ucapku yang memukul bahunya pelan.
"Mas, pokoknya mulai detik ini panggil Mas. Kalau salah sebut, kamu tahu hukumannya," ucapnya yang mencolek ujung hidungku.
Pak Arbi bangkit menuju kamar mandi, aku mengekor dan langsung memeluk tubuh atletisnya dari belakang.
"Tumben?" ucapnya yang menoleh ke samping.
"Emang nggak boleh?"
"Boleh, dong." Pak Arbi berbalik dan mensejajarkan diri denganku. Mengecup bibirku sekilas.
"Yuk, mandi."
"Kamu duluan aja."
"Pak Arbi...!" teriakku tertawa geli. Kami kembali melakukan perpaduan di dalam bath up. Menenggelamkan tubuh kami yang tanpa sehelai benang.
Setelah selesai, kami masih merias diri di kamar. Aku duduk di kursi kecil depan cermin. Pak Arbi menyapu lembut bahuku lalu mencium pipi sekilas.
"Ta, gimana kalau kamu pakai jilbab?"
"Ya, nggak apa-apa, sih."
"Terus? Kamu mau?"
"Emh, jangan dulu kayaknya. Aku takut nggak sesuai."
"Oke, aku tunggu kamu sampai siap, ya," ucapnya mencium pelipisku. Pak Arbi melangkah menuju pintu akan keluar, aku memiringkan badan memastikan ia pergi.
"Mas? Aneh nggak, sih?" gumamku seraya menyisir rambut perlahan. "Kayaknya aku udah mulai yakin sama pernikahan ini. Apa sebaiknya aku menyerahkan dokumen untuk melegalkan hubungan kami secara hukum, aja."
Aku keluar dari kamar dengan rambut yang basah, tanpa mengenakan hijab. Semua mata tertuju padaku. Beberapa orang terlihat berbisik, membuatku risih saja.
Aku berjalan mencari keberadaan Pak Arbi yang entah di mana dia kini. Aku celingukan.
"Hayo, cari siapa, Kak?" Aisyah tiba-tiba ada di sampingku. Aku terlonjak kaget. "Bang Arbi, ya?" terkanya yang membuatku mengangguk.
__ADS_1
"Lagi di depan sama Ayah."
"Oh."
"Mau Aisyah panggilin?"
"Emh, nggak usah. Nanti Kakak panggil sendiri aja."
"Kak," ucap Aisyah yang mendekati daun telingaku. "Dracula masih suka gigit nggak?" Aisyah tertawa renyah dan berlari kecil meninggalkan aku sendiri.
Aku sontak menutupi leher bekas gigitan Pak Arbi kemarin. Sial, kenapa masih ada aja sisa-sisa kenikmatan kemarin.
Aku buru-buru berjalan ke kamar. Tengsin, malu, semua menjadi satu. Bahuku ditepuk pelan dari belakang.
"Ta, kita lanjut lagi, ya?"
"Nggak puas-puas."
Pak Arbi terlihat menggaruk kepalanya. Aku berlalu ke kamar meninggalkan Pak Arbi di ruang tengah sendirian. Derap langkahnya terdengar mengikuti pergerakanku.
"Kata Aisyah, tadi kamu cari aku. Ada apa?"
"Emh... gimana mulainya, ya," kataku bingung dan gelisah.
"Mulainya dari atas dulu, terus buka kancing baju kamu perlahan," ucapnya yang membuka kancing bajuku. Aku menampar tangannya pelan.
"Hehe."
"Em, gimana kalau kita urus surat nikah kita?"
"Aku udah urus!"
"Apa?!" ucapku kaget mendengar penuturannya. Pak Arbi terlihat santai dan cengar-cengir duduk di tepi ranjang.
"Kapan?"
"Delapan jam setelah kita akad."
"Maksud kamu, paginya??"
"Ya, Sayang."
"Kok kamu nggak bilang?"
"Maaf. Aku jadi egois setelah menikmati malam pertama sama kamu. Aku nggak mau kamu memikirkan ulang pernikahan kita. Juga, aku nggak ingin kamu cuma jadi istri siri, aku."
"Ya, tapi kamu harusnya tanya aku dulu. Kenapa kamu ambil keputusan sepihak, sih!"
Aku memunggunginya, menatap keluar jendela. Malas untuk melihat Pak Arbi, yang ia lakukan tidak salah. Justru hal baik, tapi terlalu cepat untuk mendaftarkan pernikahan kami.
__ADS_1
"Sayang, maaf, ya," ucapnya yang mengambil jemariku dan mencium punggung tanganku lembut. "Aku begitu yakin, hatimu telah memiliki namaku. Hingga aku lupa, jika memulai hubungan harusnya persetujuan kedua belah pihak. Maaf, ya. "
Aku jadi serba salah, satu sisi ia melakukan hal benar. Satu sisi lagi, justru menolaknya melakukan itu. Ah, entahlah. Aku sendiri tidak mengerti dengan hatiku.