Rindu Terhalang

Rindu Terhalang
Sakit Dulu, Baru Perhatian


__ADS_3

Satria keluar setelah mendengar penjelasanku. Aku kecewa dengan semuanya.


Aku berbaring membungkuk dengan menarik selimut. Bulir bening menetes perlahan. Aku kehilangan sandaran untuk berkeluh kesah.


Satria, raganya saja tidak bisa berada di dekatku. Sekarang, aku harus mengandalkan dia. Heh, lucu sekali. Dia saja tidak bisa menghargai keberadaanku.


Pintu berderit, Satria kembali masuk. Tangannya masih berada di knop pintu. "Aku akan pulang ambil bajumu."


Aku hanya meliriknya sekilas, tidak ada jawaban yang keluar. Satria kembali menutup pintu dan berlalu.


Aku mengambil ponsel di nakas. Tama mengirim banyak pesan. Aku sepertinya enggan membalas, tapi takut menimbulkan kehancuran antara aku dan Satria nanti.


"Tama, aku lagi di rumah sakit. Dua atau tiga hari lagi baru bisa pulang. Jangan hubungi aku dulu, Satria akan menemani aku di sini."


Setelah pesan itu kukirim, Tama langsung menelepon.


"Ta, kamu baik-baik aja? Aku jenguk kamu sekarang, ya."


"Jangan, Tama. Satria dan kamu saling mengenal. Please, ngerti, ya."


"Oke. Bahkan, ketika kamu sakit aku tidak bisa menjengukmu."


Aku mengakhiri panggilan itu. Biarlah semua berhenti untuk sejenak. Jika memungkinkan, aku ingin bercerai saja dengan Satria. Bukan karena kehadiran Tama, hanya saja aku sudah tidak mengenal pria yang hidup denganku.


Perawat datang memastikan kondisiku dengan membawa nampan berisi obat beberapa buah. "Kita lakukan tensi dulu ya, Bu. Sebentar lagi dokter datang akan memeriksa kondisi ibu."


"Terima kasih, Sus."


Sebuah pil berwarna putih ia tinggalkan di nakas. "Ini obatnya diminum sebelum makan, ya, Bu."


Aku mengangguk paham. Perawat pun berlalu pergi setelah melakukan tugasnya. Kuambil pil tadi lalu menelannya. Pahit, lidahku terasa sangat tidak enak.


Dengan cepat mengambil sebotol air mineral yang ada di sekitar. Bu Afifah dan yang lainnya mungkin sudah pulang karena kehadiran Satria sudah cukup untuk menjagaku.


"Bu, maaf kami pulang tanpa pamit. Karena menurut kami, Anda sudah ada yang menjaga. Cepat sembuh, ya, Bu."


"Ya, Bu. Terima kasih banyak. Sampaikan salam saya untuk yang lain juga. Maaf sudah merepotkan," balasku pada pesan yang baru saja masuk ke gawaiku.


Mataku mulai didera rasa kantuk. Mungkin efek obat tadi yang menyuruhku untuk istirahat total. Penuh dengan mimpi saat tengah asyik di pulau kapuk.


Salah satu mimpinya adalah almarhum kakekku yang datang dengan memakiku. Entah apa aku tengah diingatkan olehnya atau itu hanya bunga tidur saja.

__ADS_1


"Kamu mau cari yang apa lagi? Laki-laki tukang judi itu yang kamu pilih, ya!" aku tersentak dan langsung terkesiap bangun. Menyandarkan diri di kepala brankar.


Napasku tersengal, peluh sudah membanjiri tubuhku. Tidak pernah aku melihat kakek semarah itu kala ia masih hidup dulu. Ah, Tuhan. Memang jalan yang kupilih salah dan berdosa.


Satria masuk dengan membawa tas. Ia menatapku nanar. Tas sedang itu susun di lemari samping nakas.


"Kamu kenapa?"


Aku menggeleng, ia meletakkan bungkusan di atas nakas.


"Aku beli bubur ayam untukmu. Kata dokter, kamu sebaiknya makan bubur. Lambungmu tengah bermasalah, jadi harus makan yang mudah dicerna untuk sementara."


Satria duduk di kursi samping brankar. Aku masih saja enggan melihatnya. Pandanganku terus beralih darinya.


Satria mengusap lembut pucuk kepalaku. Mengecupnya sangat lama. Berlinang air mataku, entah rasa yang bagaimana saat ini. Butiran cinta memang masih sangat besar padanya. Hanya saja, sikapnya yang dingin dan misterius membuatku lelah bersama dengannya.


Lelah untuk melanjutkan hidup hingga tua dengannya. Lagi, ibu jarinya mengusap punggung tanganku.


"Jangan sakit lagi," ucapnya yang sedetik kemudian mencium punggung tanganku.


Aku menoleh ke arahnya. Rasa bersalah kini sudah bersarang di hatiku. Teringat kejadian di wisma bersama dengan Tama kemarin. Benar, apa pun kata yang keluar dari mulutku untuk melakukan pembenaran, tetap saja salah.


"Bang," ucapku menatapnya sendu. Ia terkesiap di depanku, menatap diri ini intens dan sangat dalam.


"Aku maafkan, apapun kesalahan kamu. Tapi tidak untuk satu hal."


"Apa?"


"Tidur dengan orang lain."


Deg!


Jantungku berhenti sejenak. Awalnya aku berniat mengatakannya. Namun, mendengarnya berkata begitu aku mengurungkan niatku.


Lebih baik disimpan dan dikubur dalam-dalam daripada harus dibuka menjadi perkara besar.


"Kenapa?"


"Seorang wanita, jika sudah memberi tubuhnya untuk pria lain, buat apa lagi bertahan denganku. Sungguh, aku jijik dengan itu."


Demi Tuhan, aku tidak akan pernah membongkar apa yang pernah aku lakuin kemarin. Meski harus mati, aku akan menutup mulutku.

__ADS_1


Aku diam tanpa melanjutkan pembicaraan lagi. Satria mengambil bubur ayam yang ia bawa tadi.


"Kamu makan, ya. Mumpung ini masih hangat."


Aku mengangguk dan perlahan bangkit, Satria membantu hingga aku terduduk. Ia menyuapiku. Perlahan membuka mulut sesuai arahannya.


Ada rasa bersalah yang menjalar memenuhi rongga hati. Entah mengapa sikapnya jadi begitu hangat. Apa perkataanku tadi pagi menamparnya untuk sadar.


Padahal, sering kali dia tidak takut jika harus kehilangan aku. Tapi hari ini justru berbanding terbalik dengan ucapannya.


"Bang, kalau aku minta sesuatu. Apa kamu akan kabulin?"


"Makan dulu. Nanti kita bicarakan tentang hari ini."


Ribuan pertanyaan bersarang di otakku melihat sikapnya hari ini. Apa aku harus sakit dan dirawat di sini dulu untuk dapat perhatiannya. Dulu, saat aku demam dan dititipkan obat berharap ia akan segera pulang, tapi pada kenyataannya, habis isya dia baru tiba di rumah. Ah, entahlah.


Bubur dalam genggamannya sudah habis. Satria beranjak keluar. Aku masih saja belum bisa menata hati dari rasa bersalah. Semakin ia berbuat baik, semakin aku terpenjara oleh rasa sesalku sendiri.


Entah ke mana perginya Satria. Hingga sore menjelang, ia masih belum kembali sejak pergi terakhir kali. Aku turun menapaki ubin dengan kaki telanjang.


Berjalan menatap langit sore dari balkon rumah sakit. Matahari terbenam, memancarkan sinar jingga di ufuk barat. Indah sekali. Aku duduk di kursi yang berjejer di dekat pintu kamarku.


Tiang infus setia menemani. Entah siapa yang ada di sebelahku yang berjarak tidak terlalu jauh. Mengenakan jaket hoodie berwarna abu, lengkap dengan maskernya.


"Ta, aku sengaja jenguk kamu. Aku khawatir, Ta."


Aku memperatajam pandangan, dari bentuk matanya, aku yakin itu Tama. Aku menoleh ke sekeliling.


"Kamu gila, Tama. Kalau Satria lihat kamu gimana?"


"Aku nggak peduli, Ta. Aku kangen kamu, aku khawatir sama kamu."


Kedua bahu dicengkeram Tama, aku membuangnya pelan.


"Please, Tama. Tolong, jangan kayak gini."


"Aku beneran khawatir sama kamu, Ta!"


"Oke, aku paham. Kamu harusnya lebih khawatir dengan anak dan istrimu, bukan aku."


"Ananta?"

__ADS_1


Sontak kami mematung, tidak berani menoleh ke asal suara yang berada di belakang punggungku.


__ADS_2