Rindu Terhalang

Rindu Terhalang
Pengorbanan Apaan?


__ADS_3

Kami bertiga sudah berada di rumah sakit. Kiyai Abdul Samad meminta kunci mobil pada Aisyah. Mungkin, beliau ingin pulang dan beristirahat. Aku membawa nasi untuk makan siang kami.


Kalau Pak Arbi pasti dapat makanan dari rumah sakit. Jadi, tidak perlu khawatir soal itu.


"Sini, Ta," ucap Pak Arbi yang tampak menepuk-nepuk kasur di sampingnya. Aku melirik ke semua orang, canggung. Kalau kemarin hanya ada kami berdua, tapi hari ini semua berkumpul di sini. Aku menggeleng lemah.


"Ta," ucap Pak Arbi yang merengek. Bucinnya akut pake banget, sumpah! Pengen rasanya ngilang pake pintu doraemon. Dia nggak mikir apa, aku malu lagi ada mertua di sini.


"Ta, Ibu mau siapin makan Ayah dulu, ya. Kasihan udah capek nungguin Arbi sampe pagi."


"Aisyah juga, Kak. Mau keliling-keliling kota Medan."


Aku hanya mengangguk pasrah, perasaan semakin nggak enak kalau udah kayak gini. Aku antar mereka hingga ke lobi. Lalu kembali ke kamar rawat inap Pak Arbi setelah mereka benar-benar pergi.


"Mas, aku jadi tengsin sendiri ini, gara-gara ulah kamu."


Aku sudah tiba di kamar rawat inap Pak Arbi. Menutup pintu yang hanya ada kami berdua di sini.


"Mereka udah pada pulang, Ta?"


"Hem," jawabku menarik sudut bibir. Kelakuan bucinnya parah, aku jadi sebel. Padahal, tadinya kangen pake banget sama pria tampan yang duduk di ranjang rumah sakit ini.


Ia merentangkan tangan minta dipeluk, aku melengos. Pak Arbi tampak menyatukan alisnya.


"Nggak kangen, Ta?"


"Nggak!" jawabku asal. Aku berdiri melipat tangan di depan dada. Pak Arbi terlihat bangkit menyibakkan selimut.


"Oke, kalau gitu aku yang kangen." Pak Arbi langsung mendekap erat tubuhku. Menciumi wajahku hingga ia puas. Aku tertawa geli kena kumis tipisnya. Sampai di bibir, ia ********** cukup lama.


"Mesum banget, sih, Mas," ucapku di sela ciumannya.


"Nggh, biarin. Kalau bisa, aku pengen lihat Bijun sekarang," katanya lagi yang jemarinya sudah bergerak nakal menyentuh benda kenyal kembar ini. Aku memukul gerak tangannya.


"Kenapa?"


"Cepat pulang, malu lama-lama di sini." Kami mengakhiri sesi ciuman yang sudah mulai panas. Takut kejadian hal yang tidak diinginkan. Pak Arbi suka asal dan nggak lihat tempat kalau udah kumat.


***


Pak Arbi sudah diizinkan pulang, Aisyah juga mertuaku kembali ke rumah mereka setelah mendapat kabar baik. Menggunakan taksi online kami akhirnya tiba di rumahku.


Aku masih belum menjelaskan kejadian tempo hari pada Pak Arbi. Lebih baik disimpan dulu, kalau Pak Arbi tanya baru, aku jawab.

__ADS_1


"Mau makan apa?" tanyaku saat sudah tiba di rumah.


"Nggak usah repot, Ta. Aku nggak mau kamu kecapekan." Aku meletakkan tas sedang berisi pakaiannya dari rumah sakit. Aku mengistirahatkan Pak Arbi di kamar, lalu beranjak memilah baju kotor miliknya.


"Ta, mau ke mana?" Langkahku terhenti di ambang pintu, menoleh sebentar ke arahnya.


"Mau ke dapur, Mas."


Pak Arbi menarik pergelangan tanganku dan berhasil membawaku duduk di pangkuannya. Tangannya sudah berada di atas paha juga mengeratkan pelukan di pinggang rampingku.


"Aku kangen kamu, Ta. Pengen lihat Bijun."


Aku menghela napas kasar, memang kalau sudah soal hasrat, para pria tidak akan mampu untuk menahannya. Baiklah, karena terus-terusan merengek, aku akhirnya pasrah.


Diawali dengan pemanasan, diakhiri dengan pergulatan dan pergumulan hebat. Hingga ranjang yang semula tertata rapi menjadi berantakan tak terkendali.


Napas kami sudah tersengal, menghirup oksigen dengan rakus. Kami berbaring, aku meletakkan kepala di dada bidang Pak Arbi. Ia membelai lembut rambutku.


"Ta, itu Bijun nggak apa-apa kena guncangan dahsyat kayak tadi?"


Aku mendongak, memperhatikan wajahnya dengan saksama. Kenapa baru sekarang mikirnya, tadi menggebu-gebu. Bahkan lupa sama peringatan dari dokter.


"Insya Allah, Bijun kuat. Makanya, ingat pesan dokter. Ini, ngikutin hasrat melulu," omelku yang mencubit pelan roti sobeknya.


Pak Arbi hanya berdehem, mungkin tidak bisa menahan untuk terlalu lama. Ah, biarlah. Kami beranjak dari kasur dan mulai membersihkan diri. Duduk bersantai di teras depan rumah.


Arini tampak turun dari taksi, ia membuka kacamatanya pelan. Penampilan yang memang fashionable sejak ia pindah ke lingkungan ini. Meski sudah memiliki dua anak, tubuhnya terawat sempurna. Ia memakai rok span berbahan semi jeans, dengan belahan sebelah kanan hingga menampakkan setengah pahanya.


Sepatu boat sebatas lutut menambah penampilan sexy dan manis, rambutnya ia gerai sedikit bergelombang. Aku bangkit dari duduk dan membuka pagar rumah.


"Mbak Arini?" panggilku yang membuatnya menoleh dengan anggun. Kami berpelukan erat.


"Ananta. Maafin saya, ya?"


"Apa sih, Mbak. Mbak apa kabar?"


"Seperti yang kamu lihat, aku cukup baik untuk bisa sampai di sini," jawabnya yang kemudian kami melepaskan pelukan.


"Kamu nggak banyak berubah, Ta."


"Nggak banyak berubah apa, Mbak? Tuh," tunjukku dengan menggelengkan kepala ke arah Pak Arbi yang kini mulai bangkit dari kursinya.


"Suami kamu?"

__ADS_1


Aku menghela napas pelan, lalu mengangguk. Pak Arbi merangkul bahuku, mengusap pelan di sana.


"Siapa, Ta?"


"Kenalin, Mbak Arini. Mbak, ini Arbi suamiku."


Mereka berdua berjabat tangan, Arini kuajak masuk.


"Nanti aja ya, Ta. Aku mau lihat anak-anak dulu," tolaknya halus seraya memandang rumah besar bekas tempatnya tinggal dulu dengan pandangan sayu.


"Mbak, kamu nggak apa-apa?"


"Nggak apa-apa, Ta."


"Kalau ada apa-apa langsung panggil kami, Mbak," timpal Pak Arbi yang dari raut wajahnya dia cukup bingung dengan sosok Arini.


"Ya, saya masuk dulu, ya."


Kami pun melangkah berlawanan arah. Sesekali aku masih menoleh ke arah punggungnya.


"Dia kenapa, Ta?"


"Kamu ingat yang waktu aku sidang kemarin?" Pak Arbi mengangguk ragu, wajahnya masih menerka-nerka. Lalu matanya membulat, mungkin ia sudah ingat.


"Dia mengajukan cerai, dan sampai sekarang suaminya masih belum mau menceraikannya. Padahal, suaminya tahu kalau Mbak Arini punya selingkuhan. Justru, sekarang mereka sudah tinggal satu rumah sama selingkuhannya itu."


"Oh, ya?" Aku mengangguk menanggapinya.


"Itulah susahnya kami para perempuan, Mas. Jika kalian mengatakan tidak di hadapan pengadilan, maka sampai kapan pun tidak akan pernah keluar putusan cerai. Andai dulu Satria tida semudah itu melepaskan aku, mungkin kita nggak akan pernah nikah."


"Aku bakal culik kamu, terus aku hamilin."


Aku terkekeh sembari membuang wajah, sumpah aku jadi merasa geli sendiri dengan penuturan dan sikap polosnya Pak Arbi.


"Kamu nggak ada pengorbanannya banget, sih!" ejekku yang jelas saja dia tidak terima dengan perkataanku barusan.


"Loh? Itu udah perjuangan namanya, Sayang." Pak Arbi menggigit gemas pipiku, aku mengaduh perbuatannya barusan.


"Perjuangan apaan begitu?" kataku menjembikkan bibir.


"Aku bawa kabur istri orang, mana dihamilin lagi. Bisa dituntut hukum penjara loh! Kamu nggak lihat pengorbanan aku? Lama loh, Ta. Hampir sepuluh tahun, Ta. Bayangin, kredit mobil udah dapat dua itu," jelasnya bersungut.


"Ya, sekarang kamu juga udah dapat dua. Langsung malah, dalam waktu dua bulan."

__ADS_1


Pak Arbi mengelus perutku sembari mengajak ngobrol Bijun. Tawa riangnya membuatku tersenyum bahagia.


__ADS_2