Rindu Terhalang

Rindu Terhalang
Isi Hati Pak Arbi


__ADS_3

Aku paham yang dimaksud Pak Arbi, kata-kata itu pasti ditujukan untukku. Mengingat kejadian semalam pagi.


Sampai di pos satpam, lagi-lagi berbaju safari hitam itu menyerahkan setangkai mawar dengan kotak hitam berbalut pita silver.


"Wuih, dapet dari penggemar lagi nih, Bu," ejek Bu Afifah yang menyenggol bahuku, kubalas dengan gelengan kepala.


"Enak kali, Bu dapat macem-macem dari penggemar."


"Bu Afifah pengen penggemar juga?"


"Ya, jelaslah Bu." Kami sudha tiba di ruangan guru. Aku sudah bisa tebak siapa yang memberikan bunga itu. Dari gerak-geriknya pasti Tama. Satria tidak akan pernah melakukan itu.


Ulang tahunku saja dia selalu lupa dan tidak pernah memberi apa-apa. Bahkan, ucapan selamat saja tidak. Aku mengulas senyum ke arah Bu Afifah, mengesampingkan riwayat hidup dengan Satria yang begitu flat.


"Kalau saya bilang Ibu harus dekati Pak Arbi, mau nggak? Pak Arbi bisa loh, Bu jadi penggemar Ibu."


Ia bergidik, sambil mengangkat kedua bahunya. Wajahnya mengkerut. "Enggak ah, Bu. Fansnya Pak Arbi, serem."


"Hehe. Ya, sih. Saya aja jadi korbannya, bersyukur Pak Arbi nolongin. Kalau nggak, wajah saya udah penuh debu dan tapak sepatu anak-anak."


"Tuh, kan!" Bel sekolah berbunyi, hari ini aku punya dua kelas untuk mengajar. Waktunya juga tidak terlalu dekat, ada jeda setelah istirahat.


Aku melangkah pasti menuju kelas bersama dengan Bu Afifah. Ia terus saja mendesak untuk pergi menonton. Aku pun menyerah, dan mengiyakan ajakannya.


Sebelumnya, setangkai mawar tadi aku letakkan di atas tumpukan buku di mejaku. Bingkisan tadi masih kubiarkan, lepas mengajar baru unboxing. Takut, kalau-kalau Tama mengirim hal yang mengundang kecurigaan.


Semua akses Tama untuk menghubungiku, aku blok. Cukup, kemarin. Itu memang kesalahanku yang dikalahkan oleh nafsu yang tidak pernah tersalur dan tertahan terlalu lama.


Perbuatanku memang tidak bisa dibenarkan. Namun, siapa yang harus kusalahkan jika sudah begini. Ah ... entahlah.


Aku berjalan melewati koridor menuju kelas yang berada di ujung bangunan berbentuk L ini. Kadang suka heran dengan jadwal kelas mengajar, bisa-bisanya aku dan Pak Arbi selalu berada di kelas yang bersebelahan.


Pak Arbi berjalan di depanku. Ia melangkah dengan gagah sembari buku dalam genggaman, tanpa membawa tas selempang miliknya. Ya, selalu begitu stylenya kala mengajar. Jika ada yang materi yang lupa ia bawa, maka Pak Arbi meminta salah satu murid untuk ke ruangan guru mengambil tasnya.


Pak Arbi melangkah masuk, sebelum benar-benar hilang dari pandanganku, belia tersenyum dengan menaikkan sudut bibir. Terkesan meremehkan. Aku mengernyitk heran, segera kubuang jauh-jauh pikiran yang akan mengganggu konsentrasi.


Sesampai di kelas, aku mulai bekerja seperti biasa. Kali ini, tidak berada di kelas Indah. Namun, kelas Bagus yang diceritakan Bu Afifah kemarin. Huh, aku membuang napas kasar.

__ADS_1


Masih aku berdiri di tengah-tengah kelas. Bagus sontak bangkit dari duduknya. Ingin melangkah keluar, di ambang pintu kutahan dia.


"Tunggu."


"Heh!" katanya dengan berbalik menatapku. "Apa, Bu?" tanyanya lagi.


"Kembali duduk!" perintahku yang menggerakkan kepala ke arah kursinya semula.


"Kalau aku nggak mau kenapa?"


Aku berkacak pinggang, sebelah tangan menahan tubuh di atas meja. Kakiku silangkan.


"Kalau kamu ikut kelas saya, dan ... mendapat nila terbaik. Saya akan kabulkan satu permintaan kamu."


Bagus berdiri dengan gaya malas dan acuh. Lalu, ia menyapu pandangan ke arah kelas. Atensinya berhenti di salah satu murid terbaik dan cantik di kelas ini, menurutku.


"Kamu," tunjuknya pada gadis bermata bulat dengan hidung runcing itu. Gadis itu sontak menunjuk diri sendiri.


"Ya, kamu."


"Ada apa?"


"Bagus! Apa-apaan kamu!" bentakku yang mungkin terdengar ke kelas sebelah. Pak Arbi terlihat berjalan menuju entah ke mana. Lalu ia mengetuk pintu meminta izin masuk.


"Silakan, Pak."


"Bagus, kamu saya minta ke ruangan BP, ya."


"Ada apa ini, Pak?"


"Sudah nanti saya kasih tau di sana."


Pak Arbi pun pamit, meski masih sedikit bingung juga penasaran, aku kembali melanjutkan mengajar. Setelah menyapa anak-anak, aku berbalik dan menuliskan beberapa materi yang mungkin akan keluar saat ujian nanti.


Mata pelajaran yang aku ajarkan telah usai, aku kembali ke ruang guru. Masih ada satu kelas lagi yang harus diisi. Pandangaku beralih ke arah kotak berukuran sedang yang berada di sampingku.


Aku menghela sebentar, lalu memastikan sekitar ruangan yang memang tengah sunyi dan sepi. Hanya aku sendiri, guru-guru lain sibuk mengajar sesuai jadwal.

__ADS_1


Dalam hati sudah berdebar, ah entahlah bagaimana kugambarkan segumpal daging di dalam sana. Perlahan kubuka, dengan menyipitkan mata sebelah kiri.


Sekarang, kedua mataku terbelalak. Sebuah foto kini berada dalam genggamanku. Sedikit bergetar tanganku melihatnya. Aku kembali menyimpannya di tempat semula.


Menunduk frustasi, tak jarang menjambak rambutku. Memukul meja pelan dengan tangan yang mengepal.


"****! Gila! Tama, bener-bener kurang ajar!" geramku dengan gigi yang sudah beradu.


Seseorang mendekat, jelas aku mendongak. Pak Arbi duduk di meja, dengan sebelah kaki menggantung. Ia menyunggingkan senyum, lagi mengundang rasa sakit melihatnya begitu. Tubunya setengah membungkuk ke arahku.


"Gimana, Bu? Bisa saya ikut dalam daftar pria di list Ibu?"


"Pak Arbi!" teriakku yang cukup menggema di ruangan ini. Aku bangkit, takut terjadi keributan juga mengundang tanya pada guru yang mungkin melihat kami.


Pak Arbi berjalan mendekat, hingga aku terus melangkah mundur dan tersudut di tembok. Sebelah tangannya berada di samping pipiku, menahan diri ini untuk keluar dari kungkungannya.


"Bu Ananta, kenapa Anda begitu menggoda. Bahkan, saya sudah jatuh cinta pada Anda sejak menginjakkan kaki di sekolah ini."


"Anda tau status saya. Please, stop berharap."


"Ya, saya tahu. Tapi, hati ini," ucapnya yang meremas dada, "Anda begitu menguasai otak saya, Bu."


"Pak, tolong. Kita sedang ada di lingkungan sekolah. Sikap Anda ini bi ditiru anak-anak."


Pak Arbi menunduk dalam, terlihat frustasi. Ia membuang napas kasar, sebelah tangannya berada di saku celana.


"Pak," panggilku lagi meski hati sudah tidak aman di tempat. Jantung juga seperti roller coaster yang naik turun memacau adrenalin.


"Anda ingat kaos yang saya kasih?"


"I-iya."


"Saya berulang kali mengatakannya pada Anda. Meski dalam hati."


Aku bingung harus berkata apa, kenapa dia ikut-ikutan menguras isi pikiran. Memang benar, rasa suka datang pada siapa saja dan di mana saja, tapi ....


"Pak Arbi? Bu Ananta? Kalian lagi apa?"

__ADS_1


Kami berdua terperanjat, langsung menoleh ke asal suara. Pak Arbi mengangkat tangannya mengambil sesuatu dari atas lemari yang berada di sisi kiriku.


__ADS_2