Rindu Terhalang

Rindu Terhalang
Sah, Janda!


__ADS_3

Satria keluar tanpa aku antar. Aku hanya menatapnya pergi dari balik jendela. Ia tampak menyapu ekor mata, memandang rumah dari luar dengan tatapan sendu. Lalu beralih ke arah garasi, mungkin ia teringat akan motor kesayangannya.


Perih sebenarnya hatiku melihatnya yang begitu gigih ingin kembali. Namun, ini jalan yang terbaik untuk kami. Aku sangat berharap ia akan bahagia.


Sikap dinginnya, yang mengubah semua ini. Begitu juga dengan kesalahanku yang menghancurkan rumah tanggaku sendiri.


Satria pergi setelah menutup pagar. Aku masih setia berdiri di balik gorden transparan. Pilu, itu yang kurasakan. Namun, pada akhirnya ini yang akan membuat semuanya indah pada waktunya.


Seperti lagu dari salah satu penyanyi pria di Indonesia, jika mungkin bisa kuakan kembali. Kuakan mengubah, takdir cinta yang kupilih. Dan membawa semuanya kembali lewat mesin waktu.


***


Persidangan ceraiku diputuskan hari ini. Seperti janjinya padaku, Satria tidak hadir. Putusan mengenai harta gono-gini, Satria menyerahkan rumah juga sebagian uang dari penjualan mobil.


Uang tunjangan untukku ia berikan juga melalui pengacaranya. Memang, selagi aku belum menikah lagi. Uang tunjangan wajib diberikan oleh mantan suami. Itu dicatat dalam hukum.


Meski tidak besar, tapi cukup untuk membiayai kehidupanku. Pak Arbi terus berada di dekatku. Kami belum memutuskan akan ke mana hubungan ini dibawa, hanya saja Pak Arbi membantuku meski tidak pernah lagi mengatakan perasaannya.


Hal itu justru membuatku nyaman berada di dekatnya. Kami saling mengisi kekosongan. Hari ini, ia bahkan menjadi sopirku ke mana pun aku melangkah.


"Mau ke mana lagi sekarang?"


"Em, Pak Arbi sibuk?"


"Ck! Kenapa masih menggunakan panggilan formal, sih. Anda juga udah lama nggak bekerja di sekolah. Lagian, ini juga di luar lingkungan sekolah."


"Hehe, maaf, Pak. Udah kebiasaan."


"Kamu, tuh. Kenapa makin cantik, sih!" gerutunya pelan yang melihat ke arahku. Ia sudah berada di balik kemudi.


Aku menunduk malu. Sering kali aku menyuruhnya untuk pergi dari hidupku. Tapi, guru idola ini justru kembali lagi dan lagi.


Tempo hari, aku tengah kalut dengan kata-kata Satria yang begitu mengusik jantungku. Perpisahannya sungguh meninggalkan bekas yang mendalam di hatiku. Berbeda dengan menjalani kehidupan dengannya sepuluh tahun.


Anehnya, ia justru sadar setelah semuanya berakhir. Sikap dinginnya dulu masih menjadi misteri di otakku hingga kini. Tidak ada penjelasan mengenai hati dan sifatnya yang begitu.


Aku duduk di minimarket seraya menyeruput bir di kemasan kaleng. Wajahku terasa memanas kala itu, mungkin terlihat sudah memerah. Bukan hanya satu kaleng, tapi sudah berjejer tiga. Itu kali pertamanya aku meminum minuman model begitu.


Sensasinya luar biasa mendebarkan jantung juga menaikkan panas suhu tubuhku. Aku terlelap sebentar di depan teras minimarket. Saat membuka mata, Pak Arbi duduk memeluk tubuhnya.


"Pak Arbi?"


"Ya, ini saya."


"Ngapain Anda kemari?" tanyaku dengan mata sayup-sayup. Pak Arbi terlihat menarik sudut bibirnya kemudian terkekeh sebentar.

__ADS_1


"Nggak sengaja ketemu, Anda."


"Oh."


"Anda minum bir?"


"Hehe, sedikit, Pak. Sedi-kit sekali," ucapku yang sepertinya memang sudah mabuk kala itu.


"Ayo. Saya antar Anda pulang." Pak Arbi berusaha mengangkat tubuhku. Ia memeluk bahuku dan membawaku masuk ke mobilnya.


Sesampai di rumah, aku memberikan kunci pada Pak Arbi. Kulihat dia keluar dan membuka pintu pagar rumah. Setelahnya, membawaku ke dalam.


Pak Arbi merebahkan diri di sofa, aku menarik baju di bagian leher. Benar-benar panas di dalam tubuhku. Aku perlahan membuka baju asal.


Aku tidak sadar, Pak Arbi masih di dalam rumah. Hanya rasa gerah yang terus menguasai otakku. Mataku terpejam seraya terus sibuk membuang pakaian asal. Hanya menyisakan tanktop dan hotpants.


Sinar mentari membuatku membuka mata. Posisi terlungkup di atas sofa, aku mengerjap melihat sekeliling. Semua berantakan, Pak Arbi terlihat duduk di lantai dengan menopang kepalanya.


Aku melotot sempurna melihat diriku yang berbalut selimut berwarna biru. Aku membenarkan posisinya. Aku melongok ke dalam kain yang membungkus tubuh ini.


Hanya tanktop dan hotpants atau bisa dikatakan ****** ***** pendek. Aku berdecap kesal. Pak Arbi terlihat mengerutkan keningnya yang perlahan mengerjap pelan.


"Anda udah bangun?"


"Hem."


"Anda ...."


"Ya, saya tidur di sini semalam."


"Kita nggak ngelakuin apa-apa, kan?" tanyaku memastikan. Pak Arbi tersenyum menaikkan sudut bibirnya. Aku masih menanti jawabannya. Pak Arbi justru bangkit menuju kamar mandi.


"Pak?" ucapku yang mengejarnya hingga di depan pintu kamar mandi.


"Anda mau ikut saya?" tanyanya dari balik pintu yang membuatku mundur satu langkah dan menggeleng cepat.


Aku dengan cepat memungut pakaian dan mengenakannya di kamar. Aku bingung, melihat Pak Arbi yang tahu letak persisnya rumahku.


Apa mungkin ia tadi malam sudah kebingungan sendiri melihat aku yang sudah tidak sadarkan diri. Buktinya, lemariku sudah terbuka sempurna.


Aku keluar setelah rapi, Pak Arbi tengah berdiri di tengah-tengah ruang tamu juga kamar.


"Anda kenapa nggak pulang, Pak?"


"Saya nggak mungkin pulang, ban mobil saya bocor."

__ADS_1


"Terus? Anda lihat tubuh saya?"


"Hem."


Aku menarik napas panjang dan dalam. Menyilangkan kedua tangan di depan dada. Menutupi rasa malu, Pak Arbi menoleh sekilas.


"Ck! Saya sudah lihat semuanya."


"Ck! Menang banyak dong, Anda."


"Bukan salah saya!"


"Ya, ya."


Aku berjalan menuju dapur, mengeluarkan mie instan dari dalam lemari. Benda hasil rebutan kemarin dengan wanita tidak jelas.


Aku menyeduhnya dan menyodorkan satu mie pada Pak Arbi.


"Maaf, Pak. Hanya ini yang saya bisa kasih untuk mengawali hari ini."


"Ini saja sudah untung, Bu. Daripada harus makan angin," jawabnya sekenanya. Kami menikmati sarapan dengan tersenyum.


"Ananta," panggilnya yang membuatku mengaburkan khayalan.


"Pak Arbi? Anda panggil saya?"


"Ya, saya coba panggil nama biar akrab. Nggak mau terlalu formal."


"Tapi, Pak."


"Ananta, aku sama kamu itu sebaya."


"Tapi, Pak."


"Kalau kamu belum nyaman sekarang, pelan-pelan aja, ya," ucapnya yang mencubit pipiku. Aku tertegun, diam mematung menatap punggung Pak Arbi yang berjalan membuka pintu sebelah kiri mobilnya.


"Ayo, aku akan antar kamu."


"Pak Arbi?" kataku lagi yang masih memeluk map berisi putusan hakim. Aku sudah bebas sekarang. Ingin bertemu dan bercerita dengan siapa saja.


Pria bertubuh atletis ini mengenggam tanganku, mentitahku untuk masuk ke mobilnya. Entah ke mana motor trail yang biasa ia gunakan. Akhir-akhir ini jarang terlihat. Pak Arbi mengambil map dalam gendonganku, meletakkannya di jok belakang.


"Pak, apa Anda akan baik-baik saja setelah ini?"


"Maksud kamu? Aku nggak paham," katanya yang sudah duduk di balik kemudi.

__ADS_1


__ADS_2