
Suara ketukan pintu terdengar, aku menatap ke arah itu dengan rasa takut. Entah siapa yang datang, mungkinkah Tama. Atau ... Putri yang kembali lagi.
"Permisi, Pak Arbi," panggil suara berat dari balik pintu. Siapa gerangan yang datang? Pak Arbi juga tidak ada di rumah.
Aku membuka pintu, lalu melongok ke arah luar. Dua pria berseragam cokelat lengkap dengan atributnya, ia sepertinya satpam di kompleks ini.
"Ya."
"Selamat siang, Bu. Pak Arbi ada?"
"Mas Arbi lagi mengajar. Ada apa, ya?"
"Oh, Anda siapanya Pak Arbi?"
"Saya istrinya."
"Boleh saya lihat kelengkapan surat-surat Anda. Hanya untuk mencegah kepanikan warga. Karena saya dapat laporan bahwa Pak Arbi menyimpan perempuan di rumahnya."
"Tunggu sebentar." Aku berjalan menuju kamar, tas yang dibawa Pak Arbi tadi diletakkan di sudut lantai dekat ranjang.
Merogoh isinya mencari keberadaan buku nikah yang baru saja siap dicetak. Entahlah, begini sekali menikah dengan guru idola. Banyak yang harus dikonfirmasi.
Kedua pria yang tadi masih setia berdiri di teras. Aku menyodorkan buku berwarna merah dan hijau itu pada mereka.
"Kalau untuk KTP, kami masih belum sempat mengurusnya, Pak. Ini saja baru selesai dicetak kemarin."
"Maaf untuk ketidaknyamanannya, ya Bu. Kami hanya mengikuti prosedur. Ini sudah lebih dari cukup bukti untuk mengakhiri kekhawatiran para warga. Kalau begitu kami permisi." Keduanya pamit, aku menarik napas panjang setelah kepergian mereka.
Hidup memang rumit dan aku justru semakin memperumit dengan menikahi Pak Arbi. Senja sudah muncul di ufuk barat, Pak Arbi masih belum juga menampakkan batang hidungnya.
Aku jelas cemas, mondar-mandir seperti setrikaan. Aku mencoba menelepon, tapi Pak Arbi tidak ada respons. Aku terus menatap pintu dan melihat ke arah luar jendela.
"Mas Arbi ke mana, sih? Ditelepon nggak diangkat, jangan bikin khawatir dong, Mas," gumamku sendiri.
Aku duduk di sofa, menenggelamkan wajah di sana. Aku takut terjadi apa-apa dengan Pak Arbi. Aku merasa frustasi sendiri, hingga tanpa sadar menangis.
Suara motor terdengar berhenti, aku langsung bangkit dan membuka lebar pintu. Kulihat ia pulang dengan selamat tanpa kekurangan apa pun. Aku berhamburan memeluknya dengan erat.
Tidak peduli dengan pandangan orang di lingkungan baru ini bagiku. Aku hanya mengekspresikan ketenangan hati melihat suami pulang dengan selamat.
"Mas Arbi," ucapku yang berjinjit memeluknya. Ia mengusap punggungku lembut.
"Kenapa, Sayang? Ada yang jahat sama kamu di sini?" Aku masih belum menjawab tanyanya, masih terus mengeratkan pelukan. "Sayang, ada apa ini? Coba jelasin," pintanya yang masih belum mengerti dengan kekhawatiranku.
Beberapa ibu-ibu tampak lewat dari depan rumah. Mereka saling berbisik seraya menunjuk kami. Pak Arbi sepertinya juga melihat kedua wanita umur empat puluhan itu.
__ADS_1
"Ayo, masuk dulu, ya. Kita bicara di dalam. Malu dilihat orang-orang."
Aku melepaskan pelukan itu, Pak Arbi menyapu pipiku yang basah. Putri terlihat berdiri di samping rumah, pandangannya tajam ke arah kami.
Aku langsung memeluk lengannya manja, Pak Arbi justru tersenyum. Entah tengah memikirkan apa dia. Putri masuk dengan membanting pintu rumahnya kuat hingga kami tersentak kaget.
"Udah mau azan. Ayo, masuk."
Aku mengangguk lalu masuk ke kamar. Pak Arbi mengganti pakaiannya. Ia melucuti satu persatu yang melekat di tubuh atletisnya.
"Aku mandi dulu, ya."
"Mas, kamu nggak mau tanya aku kenapa?" Dengan dada yang dibiarkan terbuka, ia berlutut di depanku. Menggenggam kedua tanganku, pandangannya lembut.
"Aku tadi udah tanya sama kamu. Tapi kamu belum siap menjawabnya. Sekarang, cerita. Sebenarnya kamu kenapa?"
"Aku takut, Mas."
"Takut apa?"
"Takut terjadi apa-apa sama kamu," ucapku yang sudah berderai air mata. Pak Arbi duduk di sampingku, ia menyandarkan kepalaku di bahunya. Mengusap lembut bahuku.
"Maafkan, aku, Ta. Aku udah buat kamu khawatir," ucapnya yang mencium pucuk kepalaku.
Aku mengangguk pasrah, menyapu air mata yang sudah banjir di pipi. Pak Arbi menyapu lembut pipiku.
"Sebentar ya, Ta."
Selagi ia mandi, aku menyiapkan pakaiannya. Lalu beranjak menuju dapur untuk mengambilkan makan malam untuknya.
Ia keluar dengan wajah segar dan berlalu ke dalam kamar. Tidak butuh waktu lama untuknya ikut bergabung denganku di meja makan.
"Makasih, Sayang."
"Ya, Mas."
Kami bercerita mengenai yang terjadi hari ini, bagaimana ia yang pulang dengan sangat terlambat. Hingga waktu tidur tiba, kami masih saja terus mengobrol.
Ada yang bilang, pernikahan itu tujuh puluh persennya mengobrol. Bukan main ponsel hingga begitu banyak waktu yang terlewat.
"Udah malam, Ta. Kita tidur, yuk."
"Ya, Mas."
Ternyata, Pak Arbi dikejar para fans siswinya hingga menuju kompleks. Ia terpaksa memutar arah, agar mereka tidak bisa bertemu denganku. Ia masuk ke masjid terlebih dahulu, untuk menghilangkan jejak sekaligus salat Ashar.
__ADS_1
Begitu berat harinya, aku seharusnya tidak menambah bebannya. Kupandangi lekat wajah tampannya, lalu mengecup keningnya lembut.
"Selamat tidur, Sayang."
***
Pagi tiba, aku melakukan rutinitas seperti biasa. Pak Arbi juga sudah siap akan berangkat.
"Hari ini, aku undang guru-guru lain untuk makan di rumah, ya? Mereka dari kemarin terus mendesak ingin datang memberi restu untuk kita."
"Aku harus masak apa, Mas?"
"Terserah kamu, Sayang. Yang penting kamu jangan kecapekan, ya. Entar nggak bisa lagi ngelayanin aku di ranjang."
"Ck! Kamu ini, masih pagi udah berpikiran begitu."
"Tadi malam kan, nggak?"
Aku memutar bola mata malas, Pak Arbi justru semakin menggodaku. Dasar suami lajang, memang begini sepertinya. Selalu kecanduan.
"Udah ah, kamu cepet berangkat. Biar aku bisa pergi belanja."
"Nggak nunggu aku pulang aja? Biar bisa aku bantuin."
"Nggak usah, Mas. Aku udah terbiasa sendiri, kok. "
"Oke, kalau ada apa-apa, langsung telepon, ya."
Aku menjawabnya dengan penuh suka cita, Pak Arbi mengecup keningku lalu pergi. Ia masih setia mengenakan motornya, entah mengapa. Dulu, ia terlihat jalan mengimbangiku.
Apa mungkin itu salah satu strateginya untuk bisa jalan bersama. Juga, ingin tahu bagaimana kehidupanku dengan Satria. Ah, entahlah. Aku belum sempat bertanya dengannya soal itu.
Aku sudah berpakaian rapi akan ke pasar. Bingung sebenarnya harus masak apa, memang tidak terlalu banyak orang yang akan datang. Kalau dihitung mungkin, sekitar sepuluh orang.
Aku keluar menuju jalan besar, menantikan angkot atau bus. Sebenarnya bisa memesan ojek online, cuma aku hanya ingin menghirup udara segar pagi-pagi begini.
Aku menanti bus di halte, mobil xpander yang dulu sering aku naiki berhenti tepat di depanku.
"Bag Satria?"
"Ta, kamu mau ke mana?'
"Ke pasar, Bang."
"Bareng aku aja, Ta."
__ADS_1