
Satria memutar tubuhku untuk berhadapan. Ia memandangku lekat, aku menunduk dalam.
"Lihat aku, Ta!" perintahnya yang memegang kedua bahuku. Aku perlahan mengangkat wajah, menatap lurus ke dalam bola matanya.
"Ta, apa perubahan sikapku selama ini masih tidak mengubah hatimu?"
Perlahan bulir bening menetes membasahi pipi. Aku menyekanya cepat, tidak ingin suasana yang indah ini menjadi suram karenaku.
"Ta, jawab aku?" Satria menggoyangkan bahuku, aku lagi-lagi menunduk.
"Ta," panggilnya yang membuatku tersentak menarik napas dalam. Satria mundur satu langkah, melepaskan genggamannya di bahuku.
"Aku baru sadar, senyummu telah hilang sejak lama. Maafkan aku, Ta. Aku begitu kehilangan momen-momen indah wajahmu."
"Satria," panggilku yang ia sudah menjambak rambutnya dengan kedua tangan. Aku berjongkok merutuki dirinya sendiri.
"Aku bodoh, Ta. Bodoh!" ucapnya dengan memukul dirinya sendiri.
"Bukan salahmu. Ini salah hatiku."
Satria bangkit dan menarik napas panjang. Tubuhnya berdiri tegak, aku pun ikut mensejajarkan diri dengannya.
"Ananta, aku talak kamu," ucapnya dengan bulir bening lolos dari pelupuk matanya.
Duar!
Pecah tangisku mendengarnya. Tubuhku lemas seketika, aku menangis dengan bahu yang berguncang. Terduduk lemas menatap lurus ke depan.
Danau yang begitu menyejukkan mata menjadi saksi berakhirnya hubunganku dengan Satria. Benar, ini memang aku yang menginginkannya.
Aku berharap akan baik-baik saja, tapi nyatanya ... tetap menyakitkan. Satria masih setia berdiri di sampingku, aku mendongak.
Rintik hujan seakan ikut menangisi perpisahan kami. Satria tampak menggigit bibir dalam, dadanya tampak naik turun.
Aku paham dan tahu benar apa yang dirasakan Satria. Aku pun merasakan hal yang sama meski aku yang menginginkannya.
"Aku ingin perpisahan yang manis, tapi tetap saja menyakitkan," ucapku tak kuasa menahan sesak di dada. Air mata sudah beranak sungai mengalir membasahi pipi.
"Ayo, kita pulang, Ta."
Aku menggeleng cepat. Aku masih ingin menentramkan hati yang hancur berkeping. Jalan kehidupan selanjutnya, masih belum terbesit di pikiranku.
Biarlah, waktu yang menuntunku harus bagaimana dan jalan apa yang harus kutempuh.
"Ta, aku ingin pulang."
"Pulanglah, Bang. Aku masih ingin di sini."
__ADS_1
"Ada ongkosmu untuk pulang?" tanyanya yang masih memikirkan aku.
"Masih, pulanglah."
Satria melangkah pergi, aku masih menatap punggung lebar pria yang menemaniku satu dasawarsa itu dengan derai air mata.
Perlahan menghilang dari kerumunan orang-orang yang lalu lalang. Semua mata tertuju padaku yang berjongkok sambil menangis.
"Huhu ... Huhu." Aku melipat tangan di atas lutut. Aku terus merengek entah sebab apa. Hanya saja terasa ingin menumpahkannya.
"Ck! Malu, Bu."
Aku mendongak melihat Pak Arbi berdiri di sampingku. Aku mengusap derai air mata cepat dengan telapak tangan.
"Pak Arbi?"
"Aish! Anda nggak bisa apa menangis di rumah?" gerutunya kesal. Aku bangkit dan menghentakkan kaki berjalan meninggalkannya.
Sejujurnya, aku terlalu malu untuk berhadapn langsung dengan Pak Arbi. Sebab, dia selalu hadir di saat terpurukku. Entah itu tengah menangis, pingsan atau sakit.
Ia mengikuti langkahku, mengekor ke mana pun aku pergi.
"Pak, stop ngikuti saya!"
"Inginnya sih, begitu, Bu. Tapi saya takut."
Aku berhenti lalu memutar badan ke arahnya. Mengernyit heran dengan ucapannya.
"Saya takut Ibu melakukan hal gila. Orang kalau putus cinta suka hilang logika."
Aku menarik sudut bibir, memutar bola mata jengah. "Saya nggak segila itu, Pak."
"Ya, siapa tahu," ucapnya dengan menaikkan kedua bahunya.
"Anda akan ke mana?" tanyanya setelah aku melangkah beberapa meter darinya.
Aku melihat ke sekeliling, benar aku tidak tahu harus melangkah ke mana. Sebab, tadi Satria yang menuntunku hingga ke atas bukit ini.
Pergelangan tanganku langsung dicengkeram Pak Arbi. Aku menurut saja, entah ia akan melangkah ke mana.
"Ayo, saya antar pulang."
Aku hanya bisa parsah, aku juga bertanya-tanya mengapa ia selalu ada di mana pun aku terjatuh dan terpuruk. Apa benar yang dikatakan sebelumnya, bahwa jejaka satu ini sering memeperhatikanku.
Ia membawaku ke parkiran motor. Aku melihat diriku sendiri dari atas hingga ujung kaki. Aku memakai dress, bagaimana akan pulang dari bukit ini yang memakan waktu kurang lebih dua jam.
Pak Arbi yang sudah mengenakan helm menoleh ke arahku yang masih ragu-ragu akan naik di atas motornya atau tidak.
__ADS_1
Pak Arbi melepaskan jaketnya, lalu mengikatkan di pinggang rampingku. Aku mundur selangkah menjauh, tapi ia justru seperti menarikku untuk mendekat padanya.
"Pak, saya nggak us--"
"Ssst ...! Saya nggak tega lihat Ibu pulang sendirian."
"Tapi, Pak."
Pak Arbi hanya tersenyum. Kemeja lengan panjang yang dibiarkan terbuka menjadi pengganti jaketnya. Kulihat sepatu sport juga celana jeans warna denim ia kenakan untuk melengkapi penampilannya.
"Pak, saya takut ada fitnah
di antara kita."
"Biarkan saja mereka berbicara tentang kita, Bu. Saya nggak peduli!"
Aku sedikit kesulitan untuk naik ke atas motor model trail miliknya yang hanya cukup untuk dua orang. Pak Arbi menoleh ke belakang, ia kemudian turun meletakkan standartnya di tanah.
Ia menyokong pinggangku untuk naik ke atas motornya. Ingin berontak, tapi hanya dia sekarang yang bisa membantuku. Kini aku sudah berada di atas kuda besi miliknya.
Pak Arbi berada di depan bersiap mengemudi. Sesekali ia melirik ke arahku, aku memberi jarak padanya. Tidak ingin melekat padanya. Namun, curah hujan membuatku kedinginan.
Bibir mulai bergetar, bajuku cukup menerawang ketika basah. Sedikit curah hujan saja sudah terasa suhu di bawah nol derajat ketika berada di puncak gunung begini.
Pak Arbi menepi di sebuah restoran.cepat saji bergambar orang tua. Dengan cepat ia turun dari motor. Aku menolak ketika tangannya yang ingin menopang pinggangku.
"Enggak usah, Pak. Saya bisa turun sendiri. Maaf merepotkan."
"Kita makan dulu, ya."
Aku menggeleng, sembari memeluk tubuhku menutupi dada yang sudah terlihat tercap dari luar akibat tetesan hujan.
"Bu Ananta, kalau kita nggak makan Ibu bakalan sakit lagi."
"Biarin, Pak. Saya juga nggak perlu lagi menjaga tubuh saya."
"Heh!" Ia tertawa meremehkan dengan menaikkan sudut bibirnya. Aku menekuk wajah melihat sikapnya barusan.
"Kenapa? Ada yang salah?"
"Anda lucu."
"Lucu?"
"Ya. Anda yang menginginkan perpisahan, tapi Anda juga yang menjadi korban. Bukankah Anda lucu?"
"Bukan urusan Anda, Pak." Aku berbalik ingin menjauh darinya. Bahuku dicengkeram Pak Arbi, ia mendaratkan ciuman di bibirku.
__ADS_1
Aku diam mematung. Tidak ada perlawan atau penolakan. Aneh, aku menyentuh bagian kiri dada. Detakan jantung kuat dan berdebar tak menentu. Harusnya aku masih menjaga diri untuk tidak terjerat oleh pria mana pun selama masa idah.
Tapi ... ah, entahlah bagaimana bisa kukondisikan hati yang tengah bertalu-talu dengan pikiran yang tidak menentu. Aku mengangkat tangan ingin menamparnya, gerakanku ditahan oleh Pak Arbi.