
Kulihat wajahnya merintih, jelas aku panik. Dia baru saja terkena luka tusukan. Entah itu pisau atau apa pun bendanya, yang jelas dia terluka.
Pak Arbi menarik tubuhku, ia memelukku erat. Jelas aku cengo dengan perlakuannya.
"Aku baik-baik aja, Ta." Sontak aku mendorong tubuhnya untuk melepaskan dekapannya. Memukul lengan atasnya bertubi-tubi.
"Aw, sakit, Ta," ucapnya memelas dan kubalas dengan wajah kesal.
"Syukurin!" kataku bersungut, perawat yang kupanggil tadi datang.
"Permisi, ada yang perlu saya bantu?"
"Enggak jadi, Mbak. Di sini cuma ada penipu!" geramku dengan kelakuan randomnya. Pak Arbi tampak tersenyum dengan mengusap tengkuk belakangnya.
Gadis berseragam rumah sakit itu pun undur diri. Aku masih malas melihat Pak Arbi. Bisa-bisanya dia bercanda soal sakitnya. Dia nggak tahu apa, aku tuh hampir copot jantung gara-gara dia.
"Ta," panggilnya, aku masih bersedekap tangan membelakanginya. "Ta, aku lagi sakit loh ini. Kok kamu sempet-sempetnya ngambek, sih?"
"Tau, ah!"
Aku mendaratkan bokong di kursi plastik berwarna biru yang berada di samping brankar. Masih tidak ingin melihatnya. Aku hanya melirik sekilas, ia tampak berusaha untuk bangkit.
Tangannya berusaha untuk meraih bahuku. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu akhirnya mengubah posisi duduk jadi menghadap ke arahnya.
"Mas mau apa?"
"Sini, Ta," ucapnya yang menepuk-nepuk kasur rumah sakit di sampingnya. Ia memintaku untuk duduk di sebelahnya. Aku pun menurutinya, tidak tega juga rasanya melihatnya.
Ia mengusap pipiku lembut, ia tidak berkedip untuk waktu yang lama. Aku membawa tangannya ke dalam genggamanku.
"Ada apa, Mas? Kenapa liatin aku begitu?"
"Aku sayang kamu, Ta," ucapnya yang kemudian mencium keningku lama sekali. Aku memejamkan mata, menikmati sentuhannya itu.
"Kalau sayang aku, janji jangan terluka lagi gara-gara aku," ucapku setelah ia melepaskan ciumannya. Ia menutup mata sebentar lalu mengangguk.
Tangannya mengelus perutku yang masih rata, atensi kami tertuju ke sana secara bersamaan. Lalu tersenyum bahagia, walau masih rata dan kecil. Tapi, dia akan tumbuh dan terus menjadi janin yang kami nantikan.
Saat ini ia masih segumpal darah yang bertengger di rahimku. Semoga dia akan terus berada di sana hingga waktunya tiba bertemu dengan kami semua.
"Ta, aku kok kepengen pulut kuning, ya?"
__ADS_1
"Hah? Pulut kuning?" tanyaku bingung dan menatap lekat wajah Pak Arbi. Ia mengangguk, menarik garis bibir ke dalam.
"Di mana nyarinya, Mas? Pulut kuning itu nggak sembarangan bisa dibuat, loh!"
"Nah, itu. Gimana? Aku pengen banget kayaknya, Ta."
"Kok kamu yang ngidam sih, Mas?" Ia hanya mengendikkan bahunya, ya mungkin dia juga tidak tahu kenapa bisa begitu.
Aku mengusap-usap perut sambil berkata, "Nak, kamu kok nyusahin Papa. Jangan minta yang aneh-aneh, ya. Kasihan, Papa."
Pak Arbi hanya mengukir senyum mendengar aku berbicara pada calon bayi kami. Aku teringat di pesantren, biasanya kalau ada yang naik Alquran, maka akan ada pulut kuning.
"Mas, coba kamu telepon Ibu," pintaku yang membuat Pak Arbi menyatukan kedua alisnya.
"Ngapain?"
"Pulut kuning. Biasanya kan yang naik Alquran mereka buat itu. Siapa tahu aja masih nasib baik kita, ada yang naik Alquran."
Ia memutar kepalanya mencari sesuatu. Aku yakin pasti tengah bingung meletakkan ponselnya di mana. Aku langsung merogoh tas dan menyodorkannya pada Pak Arbi. Sebelum ia sadar, perawat memberikan benda pipih itu padaku.
Ia langsung mengambil dengan tersenyum, mungkin sadar kalau dia itu teledor jika menyangkut barang-barang kecil. Ia tampak menyapu layar, lalu meletakkannya di daun telinga.
"Assalamualaikum, Bu," ucapnya yang aku masih setia duduk di kursi plastik. Sebenarnya, aku lelah tapi hanya aku yang dia punya di sini. Mungkin juga bawaan hamil yang buatku mudah kelelahan.
Aku menyapu punggung tangannya, tatapan kami bertemu. Sepertinya ia mendapat kecewa dari sana.
"Ananta lagi hamil, Bu. Entah kenapa, aku pengen pulut kuning yang ada intinya itu."
Pak Arbi membuat pengeras suara di ponselnya, dapat kudengar dengan jelas setiap kalimat yang terlontar dari ibu mertuaku itu.
"Ta, jaga kesehatan kamu, ya. Jangan capek-capek, Sayang."
"Ya, Bu."
"Nanti coba Ibu tanya sama Ayah, ya. Kalau rezeki, insya Allah dapat, ya."
"Ya, Bu."
***
Pulut kuning sudah berada dalam mika dan di tangan Pak Arbi. Mertuaku datang beserta keluarga, termasuk Kiyai Abdul Samad. Mereka sudah memenuhi ruangan rumah sakit.
__ADS_1
Aku mencium takzim punggung tangan mereka sebelumnya, tentu menyambut hangat kedatangan mereka semua. Aisyah langsung memelukku, bahkan sampai sekarang.
Pak Arbi sudah lahap memakan permintaannya sejak beberapa jam yang lalu. Anehnya, ia sama sekali tidak ingin berbagi denganku. Pelit, kan?
"Kak, aku nggak nyangka kalau aku bakalan punya keponakan secepat ini," ucap Aisyah yang masih memeluk lenganku.
"Allah kasih rezekinya cepat, Syah. Alhamdulillah."
Kini ibu mertuaku yang ikut gabung bersama kami, duduk di kursi depan ruangan Pak Arbi. Ia mengusap pucuk kepalaku, sontak aku menengadah memandangnya yang tampak tulus melakukan itu.
"Dijaga baik-baik cucu Ibu ya, Ta."
"Ya, Bu."
"Ibu begitu antusias dengar kamu hamil, Ibu juga langsung sibuk berjalan ke pesantren cari anak yang naik Alquran. Makanya sampe Ayah ikutan repot."
"Hah? Ayah ikutan repot, Bu?" tanyaku tidak percaya. Kiyai Samad yang tampak tenang ikuta repot perkara pulut kuning. Luar biasa kamu, Nak, batinku.
"Tapi Arbi baik-baik aja, kan, Ta?"
"Baik, Bu. Cuma dijahit beberapa centimeter saja. Aku juga sebel soal kelakuannya. Bukannya hati-hati, malah sok jagoan," ucapku dengan bibir yang sudah bersungut-sungut mengingat kejadian itu.
"Arbi memang begitu, Ta. Makanya, Ibu sudah nggak heran dan menyalahkan siapa pun. Ibu sudah paham bagaimana wataknya."
"Ya, Kak. Bang Arbi memang begitu. Aisyah aja, paling nggak suka sama sifatnya yang satu itu."
Aisyah ikutan marah dengan sifat Arbi yang tidak pernah hati-hati. Memang benar, dia harus melindungi kami semua. Tapi, nggak juga dengan dia celaka.
Hari sudah malam, Kiyai Abdul Samad keluar. Ia berdiri di ambang pintu.
"Kamu sebaiknya pulang, Ananta."
"Tapi, Kiyai?"
"Biar saya yang jaga Arbi."
Aku memandangi semuanya. Kenapa aku malah disuruh pulang? Pak Arbi itu suamiku, harusnya aku yang menjaganya.
Ibu mertuaku mengusap bahuku lembut. "Ya, Ta. Kamu masih hamil muda, jadi jangan terlalu capek. Kita istirahat di rumah, ya."
Aku akhirnya pasrah, benar kata mereka. Jika aku kelelahan, bagaimana dengan anakku. Aku sayang Pak Arbi, juga buah cinta kami.
__ADS_1
"Baik, Kiyai."