Rindu Terhalang

Rindu Terhalang
Semangat Bikin Anak


__ADS_3

***


Pukul dia siang, para guru sudah datang memenuhi undangan Pak Arbi. Aku berusaha tampil sebaik mungkin. Meski pakaianku belum semuanya ada di sini.


Mereka masuk satu persatu di teras depan. Aku dibantu Pak Arbi mengeluarkan gelas juga minuman dingin. Ya, cuaca yang panas terik ini sangat cocok jika mereka disambut dengan es timun.


"Waduh, esnya timun. Aku jadi takut minumnya, Bu Ananta," seru Bu Lubis yang memang kuat sekali dalam hal bercanda.


"Kenapa, Bu? Kan seger, siang-siang minumnya begitu."


"Ah, Bu Ananta kayak yang nggak pengalaman aja, " ucapnya yang mencolek bahuku. "Taku becek, Bu," bisiknya yang membuatku menjadi malu mendengar penuturannya.


Pak Arbi yang mungkin mendengar itu langsung tersenyum simpul. Pak Arbi membagikan minuman kepada tiga orang guru pria termasuk kepala sekolah.


Rumah yang sunyi jadi berisik, tidak lupa Pak Arbi mengeluarkan sound sistem miliknya. Meminjam karaoke milik ibunya Putri yang kata Pak Arbi hobi karaokean.


Memang, tidak semua guru suka dengan bernyanyi, hanya saja biar tidak terlalu sepi. Pak Arbi menyuruh mereka untuk makan, aku sudah menyiapkannya di meja depan. Serentak semua mengambil piring. Menu yang aku masak tadi, sudah terpampang di depan mereka.


"Ini siapa yang masak, Bu?" tanya Bu Afifah dengan mata yang sudah melebar.


"Saya, Bu."


"Pantes Pak Arbi milihnya Bu Ananta, jago masak ternyata," ucap Bu Afifah seraya melirik Pak Arbi yang terlihat menggaruk pelipisnya.


Selesai makan, sesi menyanyi ala guru pun terjadi. Meski suara dan musik terkadang nggak nyambung, mereka cukup senang menikmati hiburan itu. Apalagi kalau di akhir pekan begini, pasti mereka sibuk dengan rutinitas di rumah.


Aku dulu merasakan begitu, jenuh dengan aktivitas yang itu-itu aja. Aku duduk berdampingan dengan Pak Arbi, ia terus saja menggenggam jemariku.


Perkataannya pagi tadi, masih mengambang. Aku belum memberi jawaban untuk itu. Aku sendiri masih tidak yakin, bisa hamil atau tidak.


Buktinya, setelah bertahun-tahun melakukannya, aku masih saja belum beruntung untuk menimang buah hati. Sempat melakukannya dengan Tama pun, belum juga hamil.


padahal, jelas-jelas Tama sudah memiliki anak. Ah, entahlah di mana letak kesalahannya. Pak Santo yang iseng mengajak Pak Arbi untuk menyanyi, pria jangkung ini perlahan melepaskan genggaman tangannya.


"Kamu jangan lengket terus toh, Mas. Mentang-mentang pengantin baru, saya juga pernah merasakan itu," ejek Pak Santo yang membuat Pak Arbi tengsin dan malu. Begitu juga denganku.


"Ayo, nyanyi, Ta," pintanya yang sudah memegang microphone, sembari tangan yang melambai memintaku untuk bergabung dengannya.


"Kamu duluan aja sama Pak Santo. Nanti aku nyusul, ya."


"Oke, Sayang." Pak Arbi memainkan sebelah matanya yang membuat ibu-ibu yang lain bersorak mengganggunya.


"Pak Arbi emang sebucin itu sama Ibu?"

__ADS_1


"Nggak tahu, emang kadang konyol si dia," ucapku yang perlahan melihat ke arah bawah.


"Sekarang, Bu Ananta lebih bahagia?" tanya Bu Afifah, yang membuatku sulit untuk menjawab.


Bu Lubis menyapu lembut bahuku, ia yang umurnya jauh di atas kami semua lebih pengalaman soal hidup.


"Bu Ananta, masa lalu memberi pelajar hidup untuk kita dan itu nggak bisa kita ubah. Raih kebahagiaan Ibu yang sekarang, video yang kemarin jadikan pembelajaran untuk Ibu menjadi pribadi yang lebih baik."


"Makasih, Bu."


Bu Lubis mendekat ke arah Pak Santo, meminta microphone yang dipegang Pak Arbi. Rupanya, wanita setengah baya dengan kaca mata ini, ingin berduet dengan sahabat lamanya.


Ya, mereka berdua memang sudah berteman sejak zaman kuliah. Begitu yang aku dengar dulu dari para guru-guru.


~Cinta, kini kau datang juga. Melanda dua insan, dirimu diriku.


Hati-hati cinta bisa membawa, duka


Batas lingkaran yang selalu membawa, suka~


Asyik memang lagu lawas yang dinyanyikan keduanya. Aku sendiri, jadi menyukai lagu itu setelah mendengar liriknya yang penuh pesan moral.


Puas bernyanyi, Pak Santo dan Bu Lubis memberikan microphone itu pada kami berdua. Mereka bilang, tidak afdhol rasanya jika si pengantin tidak ikut meramaikan acara yang kami buat.


"Terserah kamu, Mas."


"Lagu judika, ya. Sampai akhir."


Aku manut saja dengan pilihannya, dia yang lebih banyak menyumbangkan suaranya. Ramai mereka tepuk tangan melihat kami bernyanyi.


"Peluk, peluk," timpal Bu Afifah yang heboh sendiri. Disambut dengan ibu-ibu yang lain, aku jadi menutup wajahku. Bersembunyi dibalik microphone dan tangan yang mengepal.


Suara azan Ashar terdengar, kami menghentikan aktivitas senang-senang. Beberapa dari mereka ikut salat bersama Pak Arbi ke masjid yang tidak jauh dari rumah.


Meninggalkan aku dan Bu Afifah. Aku memang belum tahu alasanku, mengapa tidak menjalankan kewajiban itu.


"Bu," panggil Bu Afifah yang matanya tertuju padaku.


"Ya, Bu. Mau tambah es lagi?" tanyaku yang melihat gelas di genggamannya kosong.


"Ck! Bukan."


"Ibu kok bisa menikah sama Pak Arbi?"

__ADS_1


"Hem, sebenarnya nggak sengaja, Bu."


"Apa? Nggak sengaja? Nggak sengaja aja dapetnya Pak Arbi, gimana kalau sengaja!" serunya yang kemudian bertepuk tangan.


"Apaan sih, Bu. Kalau yang sengaja dapetnya kayak Bang Satria," sahutku cepat yang membuat gadis berjilbab ungu ini melirik tajam ke arahku.


"Hehe. Itu kalau disingkat, jadi BangSat loh, Bu."


"Eh, ya, ya. Haha, kok saya baru sadar, ya."


"Gimana ceritanya, Bu?"


Aku. menceritakan kisah pernikahan tanpa sengaja kami dari awal hingga akhir. Sampai kemarin yang Pak Arbi dikejar-kejar para fansnya.


"Ya, loh, Bu. Serem itu para penggemar Pak Arbi. Mereka sampai tungguin Pak Arbi yang lagi di. toilet, loh."


Aku melotot tidak percaya dengan yang dikatakan Bu Afifah, separah itu ternyata keadaan di luar sana.


"Serius, Bu?"


"Ya, murid-murid cewek pada nggak terima kalau Pak Arbi menikah. Tapi, Ibu nggak apa-apa, kan?"


"Alhamdulillah, nggak apa-apa, Bu."


"Sampai akhirnya, kepala sekolah mengambil tindakan hukum jika mereka masih anarki terhadap Pak Arbi. Tapi, itu semua juga berlaku di sekolah, Bu. Setelah keluar dari lingkungan sekolah, Pak Arbi masih diikutin mereka."


Mendengar penuturan Bu Afifah, aku jadi merasa sangat bersalah. Seharusnya, aku nggak menikah dengannya. Aku masih melamun dengan pikiran yang entah ke mana. Rambutku dibelai oleh seseorang.


"Mas," ucapku mendongak, ia sudah berdiri di sampingku.


"Lagi ngelamun?"


"Ah, nggak."


"Bu Afifah, mau tambah lagi minumnya?"


"Ck! Suami istri kok kompak, sih tanyain itu."


Kami terkekeh sebentar, Pak Arbi sudah tidak lagi malu menyentuhku di depan umum. Ia justru semakin menunjukkan sikap romantisnya, aku jadi takut kalau dia bakal diserbu para fansnya lagi.


"Udah, sore, nih," ucap Bu Afifah yang melirik jam di pergelangan tangannya.


"Bu, kami pamit pulang, ya. Langgeng terus. Pak Arbi, semangat bikin anak!" ucap mereka dengan suara-suara sumbang. Kami hanya tertawa menanggapinya.

__ADS_1


__ADS_2