Rindu Terhalang

Rindu Terhalang
Rujak


__ADS_3

"Angkat, Mas." Pak Arbi menyapu layar, itu panggilan video.


"Assalamualaikum, Bang." Kami serentak menjawab salam Aisyah.


"Ada apa, Syah?"


Aisyah langsung memperlihatkan ibu, wanita paruh baya itu langsung mencecar kami dengan berbagai pertanyaan. Mengobrol santai sekadar menanyakan kabar.


Kurang lebih satu jam panggilan itu berlangsung, hingga Pak Arbi mengakhiri telepon itu. Entah apa alasannya, aku terus saja sibuk mengurus rumah.


Masih asyik mengepel, Pak Arbi memeluk pinggangku dari belakang, ia meletakkan kepalanya di bahuku.


"Aku lagi kerja ini, Mas."


Pak Arbi melemparkan kain pel ke sembarang tempat. Ia menggendong tubuhku ala bridal style. Aku mengalungkan tangan di lehernya.


"Ih, Mas," gerutuku manja.


"Kamu nggak aku suruh jadi pembantu, cukup diam dan jadi ratuku."


Ia melemparkan pelan tubuhku ke atas kasur, ia mengukungku. Sudah bisa dipastikan yang terjadi selanjutnya.


Kami sudah tanpa busana, pakaian yang melekat tadi sudah berserakan di lantai. Pak Arbi meletakkan sebelah tangannya di perutku. Ia sedikit bangkit dengan menopang kepalanya. Ia mencium bahuku lembut, tatapan kami bertemu untuk sesaat.


"Ta, gimana kalau kita program hamil? Kamu mau?" tanyanya dengan menyelipkan beberapa helai rambut yang menganggu pandanganku padanya.


"Apa nggak terlalu cepat ya, Mas. Kita nikah baru satu minggu."


Pak Arbi mencium bibirku sekilas, kusambut hangat kecupan itu. Ia kembali dengan berbaring di samping, sepertinya ia kecewa denganku.


Masih terlalu dini untuk melakukan program hamil, lagi pula, aku sudah melakukan itu. Hasilnya bagus, bahkan sel telurku bisa memiliki anak kembar.


Berarti bukan aku yang bermasalah. Aku dinyatakan dokter subur, meski itu sudah hasil tes laboratorium beberapa tahun yang lalu. Menikah dengan Pak Arbi masih satu minggu.


Tangannya masih melingkar di pinggangku, aku menoleh ke arahnya yang sudah terpejam. Menurut psikolog yang pernah kulihat, Laki-laki itu ngefly saat habis begituan ya tidur. Berbeda dengan perempuan.


***


Kami menjalani pernikahan seperti layaknya suami istri normal dan romantis. Pak Arbi jauh berbeda dari Satria. Ia lebih menghargai keberadaanku, tak jarang jika ia senggang membantu pekerjaan rumah.


Aku kembali ke rumahku satu bulan sekali. Seperti sekarang ini, kami tengah bersiap untuk menginap di sana beberapa hari. Bukan karena bosan, hanya saja, jika rumah tidak ada pemilik yang mengurusnya maka akan cepat rusak dan menjadi sarang tikus.


Sejak kejadian pagi hari itu, tidak ada lagi pembahasan mengenai program hamil. Pak Arbi sepertinya mengerti. Pak Arbi tengah menyusun pakaian untuk dibawa ke rumahku.


Ini pertama kalinya ia akan menginap di sana. Biasanya, kami hanya sekadar lewat untuk memeriksa rumah atau membersihkan dalamnya. Saat jalan-jalan sore, kami pasti mengambil rute untuk melewati kompleks perumahan yang dulu aku tinggali bersama Satria.

__ADS_1


"Ta, aku nggak usah bawa baju banyak, ya."


"Nggak bawa baju juga nggak apa-apa, Mas." Pak Arbi melangkah mendekat, ia menyatukan kening kami. Hidung kami sudah beradu, bahkan napas Pak Arbi terasa berembus di wajahku.


"Kamu lebih suka aku nggak pakai baju, ya?" ucapnya yang kini sudah mengecup bibirku sekilas.


"Bukan, Mas. Baju Satria masih ada tertinggal di sana. Kayaknya muat deh sama kamu."


"Ck! Masa' aku pakai baju bekas Satria, sih."


"Kamu pakai istri bekas Satria mau, masa' cuma bajunya aja kamu nggak mau." Pak Arbi berlalu, ia bersungut sebal. Wajahnya begitu ditekuk, ternyata aku sudah mengubah moodnya menjadi begitu jelek.


"Aku sudah pernah bilang, kan. Kalau kamu itu gadis bukan perawan."


"Tapi, Mas. Masa laluku itu tidak bisa diubah. Kenyataannya memang seperti itu."


Pak Arbi menatapku intens, kemudian dia memelukku. Ia terlihat merengek di sana, ia menyandarkan kepalanya di bahuku.


"Kenapa dulu kamu nggak lihat aku," ucapnya masih dengan suara rengekan manja.


"Udah dong, Mas. Malu, ih."


Aku meminta Pak Arbi untuk menyudahi drama manjanya, sekarang waktunya berangkat. Sudah satu bulan aku tidak menginap di rumahku yang imut itu.


Di dalam perjalanan, kami bercerita santai. Hingga akhirnya mataku tertuju pada gerobak tukang rujak. Entah mengapa, rasanya air liurku akan jatuh menetes.


Aku memukul pelan lengan Pak Arbi bertubi-tubi. Ia spontan menoleh ke arahku.


"Ada apa, Ta?"


"Itu, Mas," tunjukku ke arah gerobak rujak, Pak Arbi mengikuti pandanganku.


"Rujak?" tanyanya memastikan, aku mengangguk yakin.


Ia berhenti di bibir jalan, lalu mengeluarkan dompet dari saku celananya. Tidak lupa mengambil dua lembar uang lima puluh ribuan. Ia menyodorkannya padaku.


"Pergilah, beli. Aku tunggu di sini."


"Nggak, ah! Aku maunya kamu yang beliin, Mas."


"Tapi aku nggak tahu, kamu mau buah apa aja, Ta."


Aku ingin makan yang asam-asam kayaknya, entah mengapa mengunggah seleraku. Hingga aku menelan ludah.


"Buah apa aja, kecuali nanas, Mas. Lebih utama sama yang asem, sih."

__ADS_1


Pak Arbi menyatukan kedua alisnya, ia menoleh sebentar ke arah gerobak rujak itu. Ia terlihat menggaruk pelipisnya, tampak sekali wajah bingungnya.


"Mas?" panggilku memeluk lengannya penuh harap. Terdengar ******* panjang darinya.


Pak Arbi membuka sabuk pengamannya, lalu mendorong pintu untuk keluar.


Aku menatap punggung lebar suamiku yang sudah berjalan menuju tempat yang kumaksud.


"Dia benar-benar suami idaman," ucapku pelan yang ditinggal Pak Arbi di dalam mobil.


Panggilan masuk ke ponselku, Pak Arbi melakukan video.


"Ya, Mas."


"Abangnya tanya, kamu mau buah apa aja?"


"Kan tadi udah bilang, yang asem-asem."


"Ketek abangnya nih, asem. Kamu mau?" ucapnya yang membuatku tidak tertarik dengan ocehannya.


"Ada apa aja, Bang?"


Pak Arbi mengalihkan kameranya ke dalam steling rujaknya. Menampakkan semua buah yang ada di sana.


"Kedondong, mangga, belimbingnya asem nggak?"


"Lumayan," jawab si abang penjual.


"Mau, Ta?"


"Boleh."


Pak Arbi mengakhiri panggilan itu, aku menanti rujak dengan air liur yang sudah mengumpul di ujung bibir.


Pak Arbi kembali dengan bungkusan besar dan penuh. Terlihat bumbu rujak dan serbuk asin itu dipisah.


"Banyak banget belinya, Mas."


"Aku ngga tahu seberapa yang kamu mau. Aku beli aja sehabis buah yang kamu minta sama abangnya. Sampe dibilang yang jual kamu ngidam."


Aku jadi melebarkan mataku, benar saja. Kok bisa bulan ini aku belum kedatangan tamu. Biasanya di tanggal lima sampe delapan. Sekarang, malah sudah tanggal belasan.


"Aku lucu dengar abangnya bilang gitu, Ta. Baru juga nikah sebulan, dulu kamu nikah sampe bertahun-tahun malah belum. Aneh memang sih, Abangnya," ucap Pak Arbi diiringi tawa yang menggelikan hati.


Aku sendiri belum yakin, aku memang hamil atau tidak. Sebaiknya disembunyikan dulu, ketika sudah pasti baru mengatakan yang sejujurnya.

__ADS_1


__ADS_2