
Aku memandangi Arini dari balkon. Ia langsung dirangkul pinggangnya oleh Zaki. Arini tampak diam dan bagai patung yang hidup.
Mungkin, kedua anaknya yang menjadi bahan pertimbangan ia bertahan selama ini. Buktinya, ia selalu bercumbu dengan pria lain kala sore hari.
Aku melipat sebelah tangan di pinggang, sebelah tangan lagi memegang cangkir. Menghirup udara segar. Arini berbalik melihat ke arahku seraya mengangguk, Zaki juga mengikuti pandangan Arini. Kubalas dengan senyuman.
Sebenarnya, aku tengah gugup. Hari esok akan datang, meski menginginkannya. Aku justru khawatir dengan hati Satria. Satria, masih memberi nafkah padaku. Berdasarkan hukum dan agama, selama masa iddah mantan istri wajib mendapatkan nafkah iddah.
Aku masuk menutup pintu balkon model slide itu, meraih tas juga outer untuk sekadar berjalan-jalan menghindari pikiran yang ruwet dan khawatir soal esok. Meski tidak banyak, uang yang dikirim Satria cukup untuk biaya hidupku.
Aku berjalan santai menuju minimarket dekat kompleks. Satpam yang biasa menyapa tengah berkeliling untuk menjaga keamanan.
"Sore, Bu Ananta," sapanya lembut dari atas motor yang berjalan sangat pelan.
"Sore, Pak. Lagi tugas, ya?"
"Ya, Bu Ananta mau ke mana?"
"Mau ke minimarket depan, Pak."
"Oh. Baik, Bu. Silakan dilanjut perjalanannya. Tapi, kok sendiri? Pak Satria udah lama nggak kelihatan?"
"Ya, Pak. Bang Satria lagi keluar kota."
"Oh, baiklah kalau begitu, Bu. Saya duluan."
"Ya, Pak." Pria berperawakan awal lima puluhan itu tampak menaikkan sedikit gas motornya untuk meninggalkan aku.
Aku berjalan santai dan kini sudah hampir tiba di minimarket, kudorong pintu kaca itu dan masuk ke sana. Mengambil keranjang memilah barang yang ingin kubeli.
Benda pipihku berdering, Satria yang menelepon. Aku menyapu layar sentuh milikku.
"Ya, Bang."
"Aku cuma mau ingatkan soal besok. Jangan lupa, ya."
"Oh, ya. Makasih, udah mengingatkan."
"Apa ... sebaiknya besok aku nggak usah datang, ya?"
Aku menjepit ponsel di antara bahu dan daun telinga mengambil beberapa barang di rak minimarket belum menjawab tanya Satria. Seorang wanita sebaya denganku mengambil hal yang sama. Kami sempat berebutan, ia menarik paksa mie gelas yang sudah kupegang.
__ADS_1
Mataku tertuju padanya yang tampak menyunggingkan senyum meremehkan. Panggilan telepon masih terhubung, terdengar Satria memanggil namaku.
"Maaf, Mbak," panggilku menghentikannya yang berjalan melenggang kangkung di sampingku seraya mendorong troli kecil di genggamannya.
Ia hanya menoleh sekilas dan berjalan berlagak anggun dengan sedikit melenggokkan bagian pinggangnya. Aku membuang napas kasar.
"Mbak," panggilku lagi, ia menghentikan langkahnya.
"Saya?" tanyanya menunjuk dirinya sendiri.
"Ya, Anda."
"Ada apa? Kirain tadi bukan ngomong sama saya," kilahnya yang kemudian memutar bola mata malas.
"Anda tahu kalau tadi saya tengah memegang mie gelas itu?"
"Oh, ini?" tanyanya yang mengangkat benda yang kumaksud itu. Aku mengangguk.
"Tau," jawabnya santai. Benar-benar cari perkara rupanya gadis berambut pendek ini.
"Anda punya masalah dengan saya?"
Ia melipat tangan di depan dada lalu mengitariku, aku berkeliling melihat tingkahnya. Mengerutkan dahi menatapnya bingung.
"Anda tidak pantas mencampuri urusan kami!" tandasku yang mengambil kembali mie gelas tadi dari trolinya. Aku putuskan kembali ke rumah meninggalkan gadis bertubuh semampai itu dan hanya membeli dua buah mie gelas tadi.
Maksud hati ingin menenangkan pikiran dan hati, justru bad mood. Entah siapa gadis itu, sesuka hati berbicara yang bukan urusannya. Tidak lupa sebelum berada di kasir aku mengambil ice cream rasa coklat yang dibalut kacang.
Kata orang, untuk mengembalikan mood dengan makan coklat. Semoga saja mitos itu benar.
Sekantong plastik kecil warna putih sudah berada dalam genggaman, tidak lupa membuka kemasan ice cream dan menggigitnya perlahan, menikmati sensasi coklatnya. Ah, lumer di mulut.
"Ananta," panggil suara berat seseorang. Aku menoleh ke arahnya berdiri di belakang dengan mengenakan topi juga kemeja kotak-kotak berwarna abu juga putih, celana jeans warna hitam ia padupadankan.
Aku memutar bola mata jengah, tidak ingin lagi berhubungan dengannya. Sudah cukup bagiku. Aku segera melangkah pergi ketika kaki jenjang Tama mengejar.
"Ta," ucapnya menahan pergelangan tanganku, aku menepisnya kuat. "Ta, jangan menghindar dari aku, Ta."
"Tama, kita udah nggak ada hubungan lagi. Please, jangan pernah lagi muncul di hadapanku."
Ia menarik tubuhku untuk dibawa dalam dekapannya, aku meronta dan membuang tubuh Tama cepat. Masa iddahku belum selesai. Masih beberapa hari ke depan sebelum putusan cerai diadakan.
__ADS_1
"Lepasin, aku, Tama!"
"Enggak, Ta. Aku nggak mau lepasin kamu lagi!"
"Hiduplah dalam obsesimu. Aku udah nggak mau lagi terjebak sama cinta nafsumu itu!"
Tanganku dicengkeram kuat, Tama mengeratkan pegangannya. Aku meringis, memegangi jemarinya untuk melepaskanku.
"Tama, sakit!"
"Kamu yang buat aku ngelakuin ini sama kamu, Ta."
Aku terus memukul tangan beruratnya yang semakin mengencang. Satu uluran tangan menepuk bahu Tama.
"Bang Satria," lirihku yang melihatnya di belakang Tama. Tama menoleh dan langsung satu pukulan kuat dilayangkan Satria padanya.
"Argh!" teriakku kaget dan menutup mulut dengan kedua tangan. Aku mundur menjauh dari mereka.
"Berhenti ganggu istriku!" bentaknya yang sudah berada di atas Tama. Tama terjatuh di aspal pinggir jalan akibat pukulan Satria. Satria menarik baju Tama untuk dilayangkan satu pukulan lagi.
Kepalan tangannya sudah akan mendarat lagi di wajah Tama, aku menahannya. Bukan karena ada rasa aku menghentikan Satria, hanya saja aku tidak ingin Satria terlibat masalah hukum karena ini.
"Bang, cukup, Bang."
Satria menoleh ke arahku, pandangannya berubah teduh. Lalu bangkit dari posisinya. Aku menahan tubuhnya untuk tidak dekat-dekat dengan Tama.
"Kamu sebaiknya pergi, Tama."
"Sekali lagi, aku lihat kamu ganggu Ananta. Aku akan jebloskan penjara kamu, atau aku bunuh sekalian meski bukan dengan tanganku sendiri!" tandas Satria yang begitu murka dengan sikap Tama barusan.
Kulirik sekilas tangannya Satria yang tengah memar. Aku mengajaknya ke rumah untuk mengompres punggung tangannya yang mulai membengkak.
Aku menarik paksa lengannya untuk masuk ke rumah. Satria duduk di ruang tamu, ia sepertinya merasa asing di rumah ini.
"Maaf, aku bawa Abang ke rumah tanpa bilang-bilang dulu. Aku cuma mau kompres tangan kamu."
Satria tampak menggerak-gerakan jemarinya. Pasti tertinggal rasa sakit di sana. Entah bagaimana ceritanya ia bisa tiba-tiba ada di lingkungan rumah ini.
Aku duduk di sampingnya setelah membawa es batu juga kain. Aku membalut es dan meletakkannya perlahan di punggung tangannya. Ia terlihat meringis, aku meliriknya sekilas seraya mengulum senyum.
"Kenapa senyum?"
__ADS_1
"Nggak apa-apa," kataku yang masih sibuk mengulang kegiatan yang sama dengan beberapa menit lalu.
"Gimana? Masih sakit?"