
Aisyah mengemudikan mobil milik sang ayah, memang benar gadis itu belum lulus sekolah. Tapi, ia sudah tujuh belas tahun. Wajar saja jika ia memiliki SIM.
Aku membawa mereka ke rumah Pak Arbi, terlalu canggung membawanya ke rumahku. Kami tiba di depan gapura perumahan, aku memandu Aisyah untuk masuk di tempat kecil milik Pak Arbi.
"Ini rumahnya, Kak?" tanya Aisyah yang sudah menarik rem tangan dan menghentikan mobil.
"Ya, Syah. Sebentar aku buka pagarnya dulu."
Ibu mertuaku terlihat terlelap, memang perjalanan mereka cukup menguras tenaga.
"Biar aku aja, Kak." Ia menodong meminta kunci padaku. Aku menyerahkannya, lalu ikut turun bersama dengannya.
"Kamu, emang belum pernah kemari, Syah?"
"Belum, Kak. Kalau Ayah sama Ibu sih kayaknya udah."
Mulutku membulat, Asiyah menggeser mobil untuk masuk ke teras, sedangkan aku membuka pintu rumah. Aku lupa bertanya, mereka sudah makan belum. Di rumah ini kayaknya nggak ada bahan makanan.
Mana sekarang perutku yang keroncongan, aduh gimana, ya? Aku berjalan menuju dapur, kami sudah hampir dua bulan tidak tinggal di sini. Ya, semenjak hamil kami nggak pernah kemari.
Hanya bayar orang untuk bersih-bersih, atau kadang Pak Arbi yang membersihkan sendiri. Perutku mengeluarkan bunyi yang khas, aku juga lupa tadi beli makanan.
"Kamu laper, Ta?"
Aku terjengkit kaget saat ibu mertuaku sudah ada di sampingku. Aku memegangi dada karena spot jantung.
"Ya, Bu. Kadang suka laper tiba-tiba," jawabku yang masih memegang gagang pintu kitchen set ini. Aisyah masuk dengan menggerutu sebal.
"Kamu kenapa, Syah?" tanyaku dan ibu serentak.
"Tetangga di sini memang begitu ya Kak modelannya?" Aku menyatukan alis, masih belum begitu mengerti maksudnya apa.
"Maksudnya?" Ia melipat tangan di depan dada lalu duduk dengan kasar.
"Ada tuh ibu-ibu hobi nyinyir," ucapnya sembari melirik ke arah luar sambil bersungut.
"Kamu ngomong yang jelas, Syah," timpal ibu mertuaku yang mungkin sama denganku penasaran.
"Pengen aku lempar biji cabe ke mulutnya, Bu. Biar sama pedasnya kayak omongannya dia!" geram Aisyah sembari memasang wajah tidak suka. Tangan juga bergerak seolah sedang mengulek cabe.
__ADS_1
"Nggak boleh begitu, Syah. Ayah nggak pernah ngajarin kamu kayak gitu, kan?"
Aisyah tampak menarik napas dalam lalu membuangnya perlahan, ia lakukan hingga beberapa kali. Baru akhirnya cerita biduk permasalahannya.
Kami bertiga sudah duduk di sofa, siap mendengarkan keluh kesahnya. Baru juga tiba di rumah ini, ia justru sudah merutuki orang.
"Masa' tadi waktu Aisyah mau masukin mobil ke garasi ibu-ibu itu sibuk nyalahin Ibu. Dibilangnya, 'kok ibunya ngasih, ya. Anaknya masih kecil gitu udah bawa mobil. Kalau nabrak orang gimana? Kalau saya, nggak bakalan mau kasih. Entar malah ugal-ugalan di jalan. Kita juga yang repot."
Kami hanya menjadi pendengar yang baik. Aku mengusap-usap dada, mencoba menenangkan Aisyah. Sorot matanya tajam ke arah luar jendela, ia menaikkan sudut bibirnya.
Tiba-tiba, perutku kembali keroncongan. Aisyah sontak menatapku juga perut bergantian. Ia terkekeh sebentar.
"Random amat sih, Kak. Aku lagi tengah kesel kayak gini, bisa-bisanya kamu laper," cibir Aisyah yang membuatku nyengir kuda.
"Aku juga nggak tahu, Syah. Suka tiba-tiba laper sekarang," kataku yang membuat anak dan ibu ini jadi ketawa.
"Lucu ini kayaknya keponakan aku, Bu. Nggak boleh ngomel aku kayaknya," ucapnya terkekeh sendiri. Kami juga ikutan ketawa mendengar perkataan Aisyah barusan.
"Makanya, kamu jangan ngomel terus, Syah. Malu itu sama keponakan kamu yang masih di dalam perut."
"Hehe, ya, Bu. Kak Ananta mau makan apa?" tanyanya yang mungkin juga lapar. Ya, di rumah sakit tadi memang belum ada makan apa-apa. Mereka tidak sempat membawa apapun dari kampung, karena Pak Arbi yang telepon mendadak minta dibawain pulut kuning.
"Ya," jawab ibu yang melangkah mengambil tasnya.
Ibu dan Aisyah sudah selesai mandi, aku berselonjor di sofa. Entah mengapa,tiba-tiba begitu merindukan Pak Arbi. Bahkan, sangat ingin bertemu dengannya.
"Kak," panggil Aisyah yang membuatku menyapu ekor mata dengan ujung jari.
"Ya, Syah." Aku mengerjap pelan.
"Kakak nangis?" tanyanya yang duduk di hadapanku.
"Enggak."
"Yakin?" tanyanya lagi yang lebih menajamkan ekor tatapannya padaku.
"Jujur aja, Kak."
"Aku nggak apa-apa kok, Syah." Aku mengubah posisi duduk menjadi bersandar di sofa. Ibu mertua sudah ikut bergabung bersama kami.
__ADS_1
"Biasa kalau hamil muda memang begitu, Ta. Pengennya deket-deket suami terus."
"Masa iya, Bu?" tanyaku yang masih bingung akan ucapan beliau.
"Ya, Ibu dulu juga gitu waktu hamil Arbi. Mana Ayah kalian lagi ceramah di luar kota. Zaman dulu mana ada video call kayak sekarang," tutur ibu mertuaku panjang lebar.
"Berarti, itu hormon waktu hamil ya, Bu?" tanya Aisyah polos, sedang aku masih berpikir dengan ucapan ibu mertua.
"Ya," ucap beliau yang kini mencubit gemas pipi anak gadisnya itu.
"Jadi, Kak Aisyah mau ketemu sama Bang Arbi?" Aku merapatkan bibir, bingung harus apa. Juga, tidak enak rasanya menganggu istirahat mereka.
"Ngga usah, Syah. Nanti video call aja, besok pagi juga udah ketemu, Syah. Oh, ya, kamu sama Ibu mau makan apa? Maaf, aku nggak sempat buat jamuan untuk Ibu sama Aisyah." Aku menunduk dalam, seharusnya, aku yang menjamu kedatangan mereka. Sebab, selama aku di tempat mereka, Aisyah juga ibu sibuk melayani semua keperluanku.
"Nggak apa-apa, Ta. Kami juga yang salah datang mendadak. Ibu makan apa aja, sekarang Ibu mau rebahan dulu, pegel," ucapnya sembari memijit pundaknya lalu bangkit menuju kamar tamu.
Kini, hanya ada kami berdua di ruangan ini. Aisyah tampak berselancar di media sosial, entah sedang apa dia.
"Kak, mau makan apa?"
"Apa aja sih, Syah. Aku lagi nggak pengen apa-apa, cuma laper aja."
"Oke, aku pesan ayam penyet, ya?"
Aku mengangguk, Aisyah mungkin sedang memesan lewat aplikasi yang tengah tren sekarang.
"Ibu?" tanyaku memastikan makanan untuk ibunya, Aisyah menaikkan kedua alis pertanda sudah beres mungkin pesanan untuk sang bunda.
"Maksudnya apa?"
"Aku tahu selera Ibu, Kak. Udah, pokoknya Terima beres!"
Aku percayakan itu pada Aisyah, dia putrinya. Jelas dia tahu apa yang disuka atau tidak oleh ibunya. Aku mengirim pesan pada Pak Arbi, mengatakan sangat rindu padanya. Kami saling berbalas, rupanya ia juga sama sepertiku.
Dilanda rindu kala jauh. Dia ingin menelepon, tapi takut mengusik tidur Kiyai Abdul Samad.
Panggilan dari luar terdengar, itu sepertinya pesanan kami tadi. Maklum, rumah minimalis begini tidak punya bel. Cukup berteriak, maka sudah terdengar hingga ke dapur.
Aisyah bangkit dan keluar setelah aku serahkan dua lembar uang seratus ribuan. Bener menit, ia kembali dengan wajah yang memerah sumringah dan kegirangan.
__ADS_1
"Kamu kenapa, Syah?"