
Aisyah melengos pergi, tapi langkahnya tertahan saat ibunya meminta ia membawa serta aku untuk masuk. Badanku memang sudah basah kuyup, juga terpampang apa yang ada di balik kain basah itu.
"Bang Arbi kenapa pilih rumah di sebelah perempuan gila itu, sih, Kak!"
"Aisyah," lirih mertuaku yang masih mendengar gerutuan Aisyah sembari kami berjalan. Kulihat beliau masih berhadapan dengan ibu dan anak itu.
Kami masuk dan aku bersiap membersihkan diri. Kurang lebih lima belas menit, aku keluar dari kamar mandi. Heran, melihat empat orang yang duduk di sofa ruang tamu. Mereka berempat spontan memandangku yang masih menggunakan handuk di kepala.
"Setelah selesai, ikut gabung ya, Ta," pinta ibu mertuaku. Aisyah tampak menyerupai licik. Sedangkan Putri menunduk dalam, berbeda dengan ibunya yang tampak canggung dan salah tingkah.
"I-iya, Bu. Sebentar, rapikan rambut dulu," jawabku yang kemudian berjalan ke kamar. Puas berkutat di depan cermin dengan cara yang sesingkat-singkatnya, aku duduk di sebelah Aisyah.
"Saya nggak tahu Anda punya masalah apa dengan menantu saya. Tapi, melihat sikap Anda yang sangat kekanakan, jujur saya sebagai orang tua juga wanita dewasa tidak paham dengan kelakuan Anda," ucap mertuaku tiba-tiba dan terdengar sangat bijak. Wanita itu hanya melengos tidak menjawab.
"Boleh saya minta penjelasan atas sikap kekanakan Anda?"
"Bu" panggilku yang ia melirik ke arahku.
"Ini harus clear, Ta. Ibu nggak mau ada kejadian begini lagi yang jelas melukai harga diri kamu dan Arbi."
"Harga diri? Heh!" cibir ibunya Putri yang sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. "Harga diri yang mana yang Anda sebutkan untuk menantu Anda ini? Video dia jadi pelakor dan selingkuhan sudah tersebar ke mana-mana. Harga diri, katanya!" ucapnya yang kembali menyeringai tajam.
"Bu!" seru Putri yang memukul pelan lengan ibunya. Ia mungkin merasa tidak enak dengan ucapan ibunya itu yang terdengar sangat tidak sopan. Ibunya justru melotot ke arah Putri, ia menunduk dalam.
"Lalu masalahnya dengan Anda apa?" Dia diam, mengedarkan pandangan untuk tidak menatap ibu mertuaku. "Aisyah, ambilkan ponsel Ibu atau teleponkan Arbi. Ibu ingin dengar penjelasan darinya soal video itu."
"Bu, video itu benar," jawabku cepat mengakui semuanya. Sejujurnya, aku masih malu dengan kejadian itu. Tapi, jejak digital akan selalu ada sampai kapan pun.
Aku menunduk tidak berani memandang kedua orang yang tampak menyayangiku ini. Aku takut mereka kecewa dan hilang respect.
"Telepon Arbi, Syah!" perintah beliau. Aisyah menurut sepertinya, terdengar suara Pak Arbi yang sengaja dibuat pengeras suara oleh Aisyah.
"Assalamualaikum, Syah. Kalian kapan ke sini? Ananta mana? Kok dari tadi Abang telepon nggak diangkat-angkat?" cecarnya tidak sabar.
"Walaikumsalam.Bang, tanyanya satu-satu kenapa, sih. Bisa?" tanya Aisyah yang terdengar gelak tawa dari seberang telepon sana.
__ADS_1
"Ya, Maaf. Mana Ananta? Aku udah kangen ini sama Kakak kamu."
"Bang, Ibu mau ngomong sama Abang."
Aisyah menyodorkan ponsel pintarnya, aku perlahan mengangkat wajah ingin melihat respon mertuaku. Di sebelah kiriku, sudah jelas terlihat raut wajah kepanasan dari ibunya Putri. Sedangkan Putri, masih memasang wajah datar.
"Arbi, tolong katakan yang sejujurnya sama Ibu."
"Soal apa, Bu?"
"Soal Ananta," lanjut wanita berparas cantik ini. Aku deg-degan, pasalnya ini di hadapan semua orang.
"Ananta yang Ibu kenal, sama yang seperti Arbi kenal. Nggak ada yang ditutup-tutupi. Ada apa, Bu?" Pak Arbi sepertinya masih penasaran dengan apa yang terjadi di sini.
"Soal video, kamu sudah tahu?"
"Video?" Aku yakin, pikiran kami semua sama saat ini.
"Mas, jujur aja soal video aku yang viral kemarin. Aku mohon jangan ditutupi," kataku untuk memancing Pak Arbi jujur.
"Jadi, kamu nggak masalah dengan itu?"
"Nggak. Arbi cinta sama Ananta jauh sebelum kejadian itu, Ibu juga tahu ceritanya. Gimana perjuangan Arbi dapetin Ananta."
"Oke. Ibu tutup dulu teleponnya, ya. Assalamualaikum."
"Ada apa ini, Bu? Bu!" teriaknya dari seberang yang langsung dimatikan oleh Aisyah sembari meledek sang kakak yang masih penasaran.
Kedua wanita di sana menjembikkan bibirnya tidak suka. Tampak sangat sewot dan tidak terima.
"Anda sudah dengar?" Ibunya Putri hanya melengos dan bangkit ingin pergi sepertinya.
"Nggak ada lagi kan yang mau diomongin? Buang-buang waktu aja!" gerutunya yang sontak ibu juga berdiri.
"Minta maaf sama Ananta!" tegas ibu yang membuat wanita itu semakin menunjukkan mimik wajah tidak suka.
__ADS_1
"Minta maaf? Yang muda harusnya yang minta maaf."
"Menantu saya nggak ada salah sama Anda. Jelas Anda yang mencari keributan di sini."
"Bu, minta maaf sama Mbak Ananta," timpal Putri yang menggoyangkan lengan ibunya pelan. Wanita itu melotot ke arah Putri. Aku hanya geleng-geleng kepala dengan sikap wanita setengah baya yang berpikiran sempit seperti dia.
"Maaf," ucapnya melengos pergi.
"Memang pantas Anda diperlakukan tidak sopan, karena Anda yang mengajarkan itu," ucap mertuaku yang sontak membuat Aisyah membulatkan matanya tidak percaya. Aku bertatapan dengan Aisyah, mata melirik ke arah ibu mertua.
Seolah kami mengatakan, 'Ini beneran Ibu?' Aisyah saja yang anaknya bertanya-tanya akan sikap ibunya, apalagi aku?
Wanita itu menatap ibu bagai elang yang ingin menerkam mangsanya. Ibu juga tidak gentar, mereka solah saling mengumpat melalui tatapan mata yang tajam.
"Bu, ayo!" ajak Putri yang langsung memeluk lengan ibunya dan membawanya keluar dari rumah kami.
Pagar rumah ditutup dengan keras, sebenarnya ingin marah. Namun, itu sama saja akan menambah masalah. Anggap saja dia orang gila yang nggak perlu ditanggapi.
"Ish, kok ada sih manusia kayak gitu, Kak!"
"Banyak, Syah! Andai bisa, udah Kakak jual tetangga model begitu," ucapku diiringi tawa.
"Hahah. Kak Ananta ada-ada aja, sih! Emang ada yang mau beli?"
"Enggak ada sih, kayaknya. Soalnya udah pernah Kakak tawarin. Mereka pada bilang nggak mau, banyak minusnya."
"Haha, Kak Ananta iseng, ih!" Aisyah sampai memegang perutnya saking ngga kuat sama banyolan yang nggak masuk akal begini.
"Emang minusnya apa, Kak?"
"Masih aja dilanjutin, Syah," ucap Ibu mertua yang tampak tersenyum juga dengan kata-kata penghibur dariku.
"Minusnya tukang gosip sama tukang ngutang, Syah," jawabku asal. Sebenarnya aku juga nggak tahu mereka begitu atau nggak.
Tawa Aisyah semakin pecah dan menggelegar di ruangan tamu ini. Bahkan, ia sampai menunduk sembari memegang perutnya.
__ADS_1
"Ya Allah, Kak. Nggak kuat. Lambaikan tangan ke kamera, deh. Nyerah."