
"Pesantren?" kataku lagi yang membuat Pak Arbi menoleh sebentar lalu melajukan motor dengan kencang. Aku refleks memeluk tubuhnya.
Kertas tadi, aku takut akan terjatuh. Aku sibuk mengapitnya. Pak Arbi menarik tanganku untuk mengeratkan pelukan.
"Aku takut kamu jatuh."
Kami terus menyusuri jalan yang jauh dari kota. Entah akan mengarah ke mana tujuan Pak Arbi. Tas ranselnya ia letakkan di depan dada. Tangannya lengkap dengan sarung tangan hitam.
"Pak, aku masih penasaran kita akan pergi ke mana," teriakku yang sebagian suaraku terbawa angin. Rambut sudah pasti acak-acakan.
"Ikut aja, Ta."
Setelah setengah jam perjalanan, Pak Arbi berhenti di sebuah masjid. Ia memarkir motornya di dekat kamar mandi.
Aku berusaha menyisir rambut dengan tangan. Aku sama sekali tidak ada persiapan. Sedangkan Pak Arbi bawa ransel di dadanya.
"Kita istirahat sebentar, ya. Sekalian salat."
"Aku nggak, ya."
"Kenapa?" tanyanya sambil sibuk membuka sarung tangannya. Aku sudah duduk di tepi teras masjid dengan berselonjor.
Setelah perlengkapan berkendaranya, ia lepas. Pak Arbi mendekat dan membukakan helm milikku. Ya, aku memang lupa melepasnya. Terasa pegal semua badan. Aku memukul-mukul pelan lutut.
"Hehe. Baru pertama kali, ya naik motor sampe sejauh ini?"
Aku mengangguk lemah, kemudian merebahkan diri di lantai masjid. Membuang napas panjang. Suara tawa Pak Arbi begitu nyaring di telingaku.
Pak Arbi melangkah ke kamar mandi, meninggalkan aku sendirian.
Aku terlelap sebentar, terdengar suara dengkuran aku tersentak. Aku menoleh ke kiri dan kanan. Hanya ada diriku sendiri.
Aku mengulum senyum dan tertawa geli setelahnya. Bodoh, kaget dengan suara dengkuran sendiri, batinku dalam hati. Bahkan, azan saja terlewat di telingaku.
Aku melongok ke arah dalam masjid. Pak Arbi tampak khusyuk salat, sedangkan aku justru tertidur lelap di teras. Ada rasa malu yang menjalar di hatiku, sudah terlalu lama aku meninggalkan kewajibanku sebagai muslim.
Aku duduk memeluk lutut memandang sekitaran masjid yang cukup bersih dan cantik ini. Warna hijau mendominasi rumah suci ini.
"Ta," panggil Pak Arbi yang membuatku menoleh ke arahnya. Ia perlahan duduk di sampingku.
"Kamu kenapa nggak salat?"
__ADS_1
"Ya, ya? Kalau ditanya kenapa, aku juga nggak tahu jawabannya, Pak."
"Oh, oke. Kalau udah tahu jawabannya, kasih tau aku, ya."
"Heh, Anda lucu. Ngapain juga saya harus kasih tau Anda."
"Ya, nggak apa-apa, donk. Siapa tahu, aku bisa bantu kamu."
Aku hanya berdehem mendengar penuturannya. Pak Arbi bangkit menuju motor. Ia memberikan helm yang kukenakan tadi, Pak Arbi juga sibuk memakai perlengkapan berkendaranya.
"Ini kita lanjut lagi?" tanyaku yang masih belum puas beristirahat.
"Hehe, ya. Maaf, ya. Bawa kamu kejauhan. Habisnya dari tadi aku tanya kamu, kamunya nggak ada jawaban. Yah, terakhir aku yang punya ide buat ajak kamu. Maaf, ya," ucapnya lagi dengan wajah penuh penyesalan tapi tersirat sebuah lengkungan senyum di ujung bibirnya. Apa makna dari mimik wajahnya ini.
Kami melanjutkan perjalanan, entah ke mana. Pak Arbi hanya mengatakan jauh. Ya, itu memang benar. Buktinya, sekarang aku hanya melihat sawit di sepanjang jalan lintas.
Plang selamat datang terlihat melengkung di hadapan kami setelah melewati berbagai perkebunan. Jalan lintas Sumatera, itu yang tertangkap netraku saat ada alamat di depan toko.
"Pak, kita mau ke mana, sih? Kok kita ada di jalan lintas?"
"Kamu nggak sabaran, Ta. Satu setengah jam lagi kita sampe, kok."
Andai saja bisa ganti baru, mungkin sudah kutukar tambah. Badan terasa pegal dan mata mulai mengantuk.
***
Aku berdecap kagum melihat keindahan masjid yang ada di hadapanku sekarang. Rumah Allah yang dibangun sedemikian indah.
Masjid milik keluarga Abu Rizal Bakrie, bercat emas disertai hijau dan kuning pucat. Kubahnya indah sekali, luasnya kurang lebih satu setengah hektar ke belakang.
"Kita istirahat di sini dulu, ya, Ta. Aku mau salat Ashar." Aku mengangguk, mataku bergerilya mengelilingi sekitar. Letaknya yang di jalan lintas juga bersebelahan dengan taman kota yang asri. Kami sudah berada di kota Kisaran.
Dari yang aku dengar nama kota ini adalah singkatan. Kisaran yaitu kepanjangan dari kota indah, sejuk, asri,rapi, aman dan nyaman. Sesuai dengan slogannya yang ditetapkan di kota yang lebih kecil dari Medan ini.
Sejuk dan indah dipandang, ini pertama kalinya aku ke sini. Tidak ingin melewatkan tempat ini begitu saja. Aku meminta satpam yang bertugas untuk mengabadikan lewat kamera handphone.
Beberapa foto dengan gaya yang berbeda, cukup untuk menjadikannya kenangan dalam ponsel dan ingatanku.
"Aku juga mau foto bareng kamu, Ta." Suara berat Pak Arbi tiba-tiba ada di telingaku. Aku menoleh ke arahnya. Ia sedikit membungkukkan badannya dengan kedua tangan berada di belakang.
"Ck! Malas sih, Pak. Pak Arbi kalau mau foto sendiri aja," ucapku yang kemudian sibuk melihat gambar diriku tadi.
__ADS_1
Pak Arbi langsung menyabet ponsel dari genggamanku dan berpose dengan mendekatkan wajahnya padaku, sebelah tangannya terulur panjang. Aku bersungut, ia langsung menekan tombol untuk mengambil foto.
"Bagus, Ta. Ia tersenyum lebar, sedangkan aku mengerucutkan bibir. Benar-benar tidak adil rasanya, aku mencoba meraih ponselku kembali. Namun, Pak Arbi justru menggodaku dan membawa lari benda pipih berukuran slim itu.
"Pak Arbi ...!" teriakku yang malas mengejarnya. Pak Arbi berada cukup jauh dariku.
"Sini, ambil," ucapnya yang menyodorkan ponselku.
"Pak Arbi, aku capek ini. Malas, ah."
Pak Arbi justru tertawa lebar, lalu melangkah mendekat ke arahku.
"Aku senang kamu nggak bicara formal lagi, Ta. Seterusnya, ya. Cukup aku, kamu, dan kita."
Aku memang tidak sadar berbicara tidak formal padanya. Jadi terdengar lebih akrab dan santai. Bukan seperti murid dan guru atau sesama rekan kerja yang tidak saling mengenal.
Aku langsung mengambil ponselku dari genggamannya. Melihat foto kami tadi. Aku jelas menekan pilihan hapus untuk menghapus gambar yang menampakkan diri ini yang tidak indah.
Wanita mana yang rela fotonya jelek disimpan. Apalagi sekarang ada filter untuk mempercantik tampilan gambar.
"Jangan dihapus!" perintahnya yang mungkin melihatku akan menekan pilihan itu.
"Ye, emang kenapa?"
"Kalau kamu hapus, aku akan nikahi kamu."
"Ck! Nggak percaya, wueq!" ejekku dengan menjulurkan lidah. Aku tidak menghiraukan gertakannya. Aku menghapus foto yang diambilnya tadi.
"Oke. Jangan salahin aku, ya. Kamu yang minta!" ucap Pak Arbi lagi dengan wajah penuh kemenangan.
"Kita lanjutin perjalanan, ya. Dikit lagi sampe."
"Kenapa nggak naik mobil aja, sih?"
"Kan udah aku bilang, biar bisa kamu peluk. Yuk, aku udah nggak sabar pengen cepet-cepet nikah sama kamu."
Aku menyatukan kedua alis, masih tidak percaya dengan ocehannya soal menikah. Ya, orang yang akan mengikat janji seumur hidup itu pasti punya persiapan, bukan seenak jidat menikah begitu saja.
"Nggak percaya!"
"Oke, silakan aja nggak percaya."
__ADS_1