
Menutup pintu kamar mandi, aku menampung urine di wadah bening dan kecil. Menyobek alat yang dibelikan Pak Arbi tadi. Memasukkan dua buah testpack, aku menggigit bibir bawah menunggu beberapa menit.
Sebenarnya masih belum yakin, karena terlalu cepat untuk melakukan pemeriksaan begini. Tapi, mengingat riwayat haid yang teratur, membuatku curiga.
Aku mondar-mandir sembari menggigit ujung kuku. Penasaran, khawatir juga. Takut, kalau Pak Arbi kecewa. Aku sudah beberapa kali melakukan test kehamilan, tapi baru kali ini yang membuatku deg-degan.
Tiga menit, ya hanya waktu singkat itu sudah bisa melihat hasilnya. Aku menutup sebelah mataku saat mengangkat benda kecil itu.
Satu garis merah sudah muncul dengan jelas, entah yang satu lagi. Aku masih takut, takut kecewa. Ketukan pintu kamar mandi diiringi suara Pak Arbi mengagetkanku.
"Ta, gimana? Kok lama? Kamu, baik-baik aja, kan?"
"Emmh, Mas...," ucapku yang membuka pintu perlahan. Aku sendiri masih belum lihat hasilnya. Aku menyodorkan dua buah benda kecil itu. Membiarkan Pak Arbi melihatnya. Pak Arbi memelukku sembari mengusap punggungku lembut.
"Ta," ucapnya yang terlihat menggantungkan kalimatnya. Bahuku melemah, aku tahu hasilnya. Jadi, dari tadi tidak berani berharap banyak soal itu.
"Sudahlah, Mas. Kita masih terlalu dini untuk itu. Baru satu bulan, kan?" ucapku yang kini mengeratkan pelukan di pinggang Pak Arbi.
"Ta, kamu hamil," ucap Pak Arbi yang melepaskan pelukanku. Ia menunjukkan hasilnya, padaku. Aku menunduk menatap garis dua yang tergambar di sana. Aku menutup mulut tidak percaya, menangis haru. Hal yang selama ini aku impikan, akhirnya terwujud.
"Mas, aku nggak mimpikan?" tanyaku memastikan. Pak Arbi menyesap bibirku, aku merasakan itu. Berarti benar, ini bukan mimpi.
Pak Arbi kembali memeluk tubuhku, ia menciumi bahuku. Aku menenggelamkan wajah di bahu lebarnya.
Aku sangat bahagia dan tentu saja terharu. Aku menangis, saking senangnya akan adanya nyawa di rahimku.
"Mas, aku benar-benar nggak percaya, ini. Aku beneran hamil, Mas?"
"Ya, Sayang. Kamu hamil," ucap Pak Arbi yang kini sudah menangkupkan wajahku. Ia mencium keningku untuk waktu yang lama.
"Besok, kita periksa kandungan, ya."
"Ya, Mas."
Kami kembali ke kamar, Pak Arbi menuntunku. Ia tidak melepaskan tangannya yang sejak tadi memeluk bahuku. Ia membaringkan tubuhku dengan sangat hati-hati.
Lalu ia tidur di sampingku, tangannya mengusap lembut perutku yang masih rata. Lalu memandang ku dengan senyuman yang tidak lepas darinya.
"Aku beruntung punya kamu, Ta. Jaga si Bijun, ya."
"Bijun?"
"Ya, Arbi Junior."
"Ya kalau kamu, Mas. Kalau aku, gimana?"
"Ya, kan aku yang buat."
__ADS_1
"Aku juga ikut andil, Mas."
Pak Arbi memintaku untuk memunggunginya, lalu ia meletakkan tangannya di perutku dari belakang.
"Pokoknya, Bijun."
"Bijin masih keren, Mas. Ala-ala artis Korea. Bijun entar dikira orang, bihun."
"Ck! Pokoknya, Bijun!"
"Terserah kamu, deh."
***
Pagi menyapa, aku jelas malas untuk bangkit. Hawa ngantuk selalu menghiasi harimu sejak minggu lalu. Pak. Arbi sudah segar dengan celana jeans juga kaos oblong warna putih.
Ia mendekat padaku yang masih dengan wajah bantal, rambut juga acak-acakan. Ia duduk dengan menyandarkan diri di kepala ranjang.
Aku memindahkan kepala ke pangkuannya, wajahku menghadap ke arah pinggangnya. Pak Arbi mengusap punggungku.
"Bangun, Sayang. Kita ke dokter kandungan."
"Kamu nggak kerja, Mas?"
"Aku udah izin untuk masuk di jam ketiga. Sengaja mau temenin kamu."
Pak Arbi meminta izin untuk pulang ke rumahnya dahulu, ia ingin mengambil beberapa bahan untuk mengajar.
"Kamu tunggu di sini dulu, ya. Mas nggak akan lama."
"Ya, Mas. Kamu mau sarapan apa?"
"Nggak usah, biar beli aja nanti."
Pak Arbi mengendarai mobilnya, aku sibuk menyapu rumah. Ya, sekadar untuk pekerjaan yang tidak berat. Aku juga takut, jika keadaan janinku nanti kenapa-kenapa.
Setengah jam berlalu, Pak Arbi sudah kembali dengan membawa tas yang biasa untuk mengajar miliknya. Aku keluar dari rumah, mengunci pintu juga pagar.
Satpam yang biasa berkeliling, lewat di depan rumah. Pria ini selalu saja ramah, entah jika dibarengi dengan kepo.
"Bu Ananta?"
"Ya, Pak."
"Mau ke mana? Pagi-pagi udah rapi," ucapnya lagi.
"Mau ke dokter kandungan," jawab Pak Arbi dengan penuh senyuman.
__ADS_1
"Bu Ananta hamil?" tanyanya yang melotot melihat ke arah perutku.
"Belum tahu, Pak. Ini masih mau dipastikan."
"Saya ikut senang, ternyata suami ibu ini mantap, ya." Aku menyatukan alis mendengar ucapannya yang langsung disambut dengan kekehan kecil dari Pak Arbi.
"Sekali cus langsung jadi," sambungnya lagi yang berhasil membuat Pak Arbi tertawa terbahak-bahak. Aku memukul pelan bahunya.
"Mas, udah ah."
"Kalau begitu, kami permisi dulu, ya Pak." Satpam itu mempersilakan kami untuk pergi, sebelumnya aku menyempatkan diri melihat ke arah rumah Arini sebelum masuk ke mobil. Aku masih berdiri di ambang pintu, atensiku belum beralih dari rumah besar itu.
"Bu Arini sudah beberapa minggu ini nggak kelihatan, Bu," ucap Pak Satpam saat mengerti pandanganku.
"Oh, ya?" Aku memang putus komunikasi selama ini, aku yang berada di pesantren susah mendapatkan sinyal. Ia tidak pernah menghubungiku. Begitu juga denganku yang sibuk, dengan status baru.
"Ayo, Sayang."
"Ah, ya Mas. Pak, kami pergi dulu, ya. Titip rumah," ucapku yang kini masuk di sebelah Pak Arbi.
Pak Arbi sibuk menyetir, sesekali menatapku. Pikiranku sekarang tengah melayang ke arang nasib Arini. Terakhir ketemu, saat sidang. Entah ke mana ia sekarang.
"Sayang, kita makan dulu, ya."
"Aku lagi nggak pengen makan, Mas."
"Sayang, Bijun perlu asupan makanan dari kamu, loh."
Aku menutup mata sebentar, lalu mengembuskan napas pelan. Kami sudah berada di jalan kota. Entah di mana dokter kandungan yang dikatakan Pak Arbi tadi.
"Ini masih jauh, Mas?"
"Enggak, emang kenapa?"
"Aku mual," ucapku yang sudah meletakkan punggung tangan di depan bibir.
"Mau aku pinggirin dulu mobilnya?"
Aku mengangguk, perlahan membuka pintu mobil dan berjongkok di sekitaran bahu jalan. Sambil memegangi perut, aku muntah di sana.
Pak Arbi mengusap punggungku, memijat sekitaran leher. Aku masih terus saja mengeluarkan isi perut yang memang masih kosong.
Cukup lama aku berjongkok di sana, tubuhku sudah lemas tidak bertenaga. Pak Arbi sigap menangkap bahuku yang mulai oleng. Kepala terasa pusing dan nyut-nyutan. Pandanganku kunang-kunang, Pak Arbi memapah untuk membawa diri ini masuk ke mobil.
"Makan dulu ya, Sayang."
Aku hanya mengangguk lemah, menurut saja apa yang menurut Pak Arbi terbaik. Aku percaya, dia nggak mungkin mencelakakan kami berdua.
__ADS_1