Rindu Terhalang

Rindu Terhalang
Benar, Pezina


__ADS_3

Pak Arbi pun berlalu, benar. Aku sudah punya suami, pandanganku tidak lepas dari punggung Pak Arbi yang kini ia sudah berlari kecil melanjutkan olahraga paginya.


Ia tidak menoleh ke arahku, meski mataku mengikuti pergerakannya. Sadar beliau berlalu, aku menunduk dalam. Menangisi keputusan dua tahun lalu yang menerima lamaran Satria.


Menyesali sekarang juga sudah terlanjur. Bertahan sakit, dilepas sulit. Aku bangkit meski raut wajah kutekuk. Berjalan tanpa semangat menju parkiran motor. Air mineral yang diberikan Pak Arbi kutinggal di bangku kayu itu.


Aku menarik napas dalam-dalam, mulai melajukan motor matic milikku. Meninggalkan taman, mengendarai motor dengan sedikit melamun.


Melewati jembatan dekat kampus lamaku, aku menatapnya sendu. Sungguh, masa kuliah itu lebih indah. Jika bukan karena sudah terlalu lama berpacaran dengannya, mungkin aku enggan memilih menikah.


Belum lagi, orangtua yang selalu mendesak. Selalu mengatakan umur sudah lewat batas, harus menunggu apa lagi. Benar, memang. Usia di atas 25 tahun itu sudah sepantasnya menikah. Tapi, bukankah kita berkomitmen dengan ikatan pernikahan itu tunggu waktu yang tepat, bukan cepat.


Aku mengembuskan napas pelan. Suara klakson terus saja mengusikku. Aku menepi memberi jalan, tapi terus saja membunyikannya lagi dan lagi. Aku berhenti sejenak, menatapnya dengan penuh emosi.


Tama berhenti tepat di sampingku dengan menampakkan barisan gigi putihnya.


"Kamu pasti mau marah, kan?"


Aku menaikkan kedua alis. "Ikut aku, yuk."


"Ke mana?"


"Udah, ikutin aja. Atau mau berboncengan?"


"Motorku gimana?"


Tama melirik ke arah kampusku. Mengisyaratkan untuk parkir di sana.


"Mmmhh ... nggak usah deh. Biar aku ikuti kamu aja."


"Oke, yuk!"


Tama berjalan pelan di depanku, aku mengekor. Entah dia akan ke mana. Menyusuri jalan yang cukup sepi kalau hari Minggu begini. Biasanya kendaraan padai merayap saat jam sibuk seperti sekarang.


Motornya berhenti di depan wisma atau hotel melati. Aku menyatukan alis menatapnya bingung.

__ADS_1


"Mau ngapain?"


"Aku pengen ngobrol intens sama kamu. Kalau di luar nanti ada mata-mata yang lapor ke istri atau suami kamu."


Masuk akal memang, tapi tempat ini juga nggak cocok untuk mengobrol. Aku dan Tama pernah menjalin hubungan, apa jadinya jika hanya kami berdua di dalam ruangan sempit takut ada apa-apa.


Tama menurunkan standart motornya berjalan mendekat ke arahku. Memandangku nanar. Degup jantung memang sedang tidak beraturan.


"Ta, aku kangen kamu."


"Heh! Kangen? Gara-gara kamu, Satria jadi ngira aku selingkuh! Kamu ngapain sih telepon pagi-pagi. Bukannya aku udah bilang ya, jangan hubungi aku kalau nggak aku yang hubungi kamu."


"Ya, Ta. Itu juga kepencet. Maaf, ya. Hem?" Tama mengambil tanganku dan membawanya di depan dada. Aku menariknya cepat.


"Kita obrolin di dalam, ya. Takutnya nanti ada yang kenal kita."


Berat sebenarnya hati untuk mengikuti Tama. Ia menangkupkan tangan di depan dada, wajah memelas.


"Aku janji, kita nggak akan ngapa-ngapain. Please," mohonnya yang membuatku tidak tega. Ya, itulah kelemahan di diriku. Ingin tega, tapi tetap tidak pernah bisa.


Aku pun menurut. Penjaga wisma langsung mendatangi kami dengan membawa handuk juga sabun. Ia berlari kecil, lalu menunjukkan kamar yang kosong. Berat hati memang, tapi berharap isi kepala yang ruwet ini bisa plong.


Memang, hotel melati di kota ini bentuknya seperti ini kebanyakan. Warna cat hijau pudar membawaku memarkir kendaraan roda dua di samping motor Tama.


Tama masuk terlebih dahulu, aku masih ragu-ragu. Seolah setan dan malaikat saling berbisik. Antara masuk dan jangan. Ah, entahlah. Akhirnya aku melangkah ke dalam juga.


Tama langsung menutup pintunya. Aku masih setia berdiri di dekat jendela yang bersebelahan dengan kusen kayu itu.


"Tam, ini kayaknya nggak bener. Aku keluar aja, ya." Aku melangkah untuk membuka pintu yang telah dikunci Tama.


"Udah dibayar loh, Ta. Sayang kalau nggak dipake. Lagian, kita nggak ngapa-ngapain," ucapnya yang menahan tanganku.


Aku gelisah, raut wajah bingung. Dada bergemuruh, entah bagaimana situasi ke depan nanti. Baru lima menit saja, jantungku sudah berpacu cepat.


Kami hanya berdua di sini. AC dihidupkan Tama. Jelas, udara di ruangan tiga meter lengkap dengan kamar mandi ini menjadi dingin hanya dalam hitungan menit.

__ADS_1


"Ta," ucap Tama mendekat sembari menyelipkan rambut di daun telinga. Bahu sebelah kananku naik, mencoba menghalau. Aku menepis tangannya.


"Kita hanya akan duduk, Ta," bisiknya yang memanduku duduk di tepi kasur enam kaki yang sudah lengkap dengan bantal juga sprei. Ponselnya ia letakkan di nakas.


"Tam, aku jujur nggak nyaman berada di sini sama kamu."


"Enggak apa-apa, Ta. Dulu juga kita sering ke tempat begini," ucapnya yang memutar ulang memoriku.


"Kapan?"


"Kamu nggak ingat, ya. Kita sering loh ke tempat-tempat intim begini, untuk sekadar aku mencium bibir kamu," katanya lagi yang aku tahu dengan jelas ke mana arah pembicaraannya.


Benar, dulu memang begitu. Kami sering ke pantai, dan menyewa pondok untuk memadu kasih. Bermesraan, untuk saling menyatakan cinta lebih intim. Bukan wisma atau hotel begini. Dan itulah kebodohanku yang mengikutinya.


"Tapi itu dulu, Tama. Bukan sekarang."


"Ya udah, sekarang kita bisa mengulanginya."


"Enggak, Tama."


Tama langsung mencium bibirku buas. Aku larut dengan lumatannya, mengenang kisah lama yang memang kurindukan sentuhan lembut bibirnya. Sementara aku diam, tidak membalas.


Tama melepaskan ciuman itu. Lalu memelukku. Aku masih kaku seperti patung. Aku memang haus sentuhan karena sikap dingin Satria, tapi yang aku lakukan ini juga salah.


"Ta, aku kangeeen ... sekali sama kamu, Ta." Tama mengusap punggungku, mencium rambutku lalu beralih ke leher jenjangku.


Bulu roma berdiri, jelas aku terangsang oleh sentuhannya. Aku wanita yang sudah menikah, ditambah lagi haus akan belaian, mendapat perlakuan begitu sedikit saja sungguh menaikkan libidoku.


Ah, ****! Aku mengumpat dalam hati, harusnya Satria yang agresif begini. Tama sepertinya paham dengan situasi tubuhku yang ikut terangsang oleh sentuhannya. Perlahan tangannya menjalar, menyusup ke dalam bajuku.


Kutahan semampunya. Ia membelai sisi perutku, aku menggigit bibir kuat. Napas sudah memburu tidak beraturan.


Tama mencium pipiku, sontak aku mengerang. Perlahan dia merebahkan tubuhku di kasur. Aku tidak bisa berpikir jernih dan menolak. Kami melakukannya.


Sentuhan dan serangan-serangan dari Tama membuatku sama menikmati permainan. Saling membalas dan benar-benar agresif. Memang, perbuatanku ini salah. Tapi, aku manusia yang punya hawa nafsu.

__ADS_1


Sial, lagi-lagi aku dikalahkan dengan nafsu dan perasaan yang memang merindukannya sejak lama. Ini pertama dan terakhir aku melakukannya.


Kalau kalian menyebutku pezina, ya itu memang benar. Tapi tidak akan terulang lagi, ah entahlah. Apa aku bisa berjanji tidak mengulangnya lagi.


__ADS_2