Rindu Terhalang

Rindu Terhalang
Satria Muncul Lagi


__ADS_3

Perban bekas jahitan Pak Arbi sudah dibuka, lukanya juga sudah kering sempurna. Tinggal menunggu bekasnya sama saja di sana.


"Ta, lusa kita undangan ,ya. Dapat undangan dari salah satu guru yang gantiin kamu." Aku yang melipat pakaian hanya berdehem mengiyakan.


"Kok responnya begitu aja, sih?"


"Harus gimana, Mas?"


"Antusias dong, Ta." Pak Arbi terlihat menyisir rambutnya meski masih mengenakan handuk sebatas lutut dan membiarkan dadanya terbuka.


"Pakai baju dulu, Mas."


"Mana ****** ***** aku, Ta," ucapnya manja. Aku menghela napas pelan, kelakuan kalau di rumah ada-ada aja.


Aku memberikan padanya benda yang dia minta, lengkap dengan kaos dan celana pendeknya. Kembali melanjutkan pekerjaan rumah yang belum selesai dan tidak ada habisnya.


Ia terlihat sudah tampan, kini duduk di sebelahku membantu melipat pakaian dalam. Sebagai ibu rumah tangga, sudah jelas dibantu dengan hal kecil begitu saja, sudah merasa bahagia.


"Kamu mau pergi, Ta?"


"Gimana, ya, Mas. Aku agak insecure, nih."


"Kamu tetap cantik, Sayang." Pak Arbi mencium pipiku sekilas. Hidung kembang kempis menahan senyum atas perlakuan manisnya.


Selesai dengan acara melipat, kini kami menonton televisi sambil berbaring di karpet. Pak Arbi menopang kepala dengan sebelah tangan, sebelahnya lagi mengelus perut.


"Ta, kira-kira, Bijun mirip siapa, ya?"


"Mirip kamu pasti, Mas."


"Belum tentu, Ta. Temen kuliah aku, anaknya malah mirip istrinya. Duplikatnya malah." Pak Arbi membawa kepalaku ke dalam pelukannya.


"Aw, sakit, Mas!"


"Gemes, Ta," ucapnya yang baru saja mengigit leherku. Memang random banget kelakuan. Jelas aku marah, bisa-bisanya buat kayak gitu. Aku berbalik memunggunginya.


"Maaf, Ta."


"Tau, ah!" Aku bangkit menuju kamar, memang begitu. Suami istri kala sudah berdua, awalnya bercerita dan bersenda gurau, ujung-ujungnya ribut.


Pak Arbi berusaha keras membujuk, tapi aku yang lagi di mode mood yang naik turun tidak gampang luluh. Apalagi tengah hamil begini, suka sensitif.


Hingga pagi, aku masih ngambek sama Pak Arbi. Sekadar bangun membuat sarapan, setelahnya diam. Pak Arbi menarik kepalaku mendekat padanya, mendaratkan kecupan hangat di pelipis.


"Pagi, Sayang."


"Hem."

__ADS_1


"Ck! Masih ngambek?" Aku hanya melirik sekilas. Masih malas untuk ngobrol apapun sama ini orang.


"Nanti kalau aku pulang cepat kita healing, ya?"


"Ke mana?"


Pak Arbi tampak berpikir keras, sembari berjalan mengambil handuk. Dia mengendikkan bahunya lalu masuk ke kamar mandi.


"Nggak jelas!" gerutuku pelan sembari menyuapkan roti sobek ke dalam mulut.


"Permisi, Bu Ananta," panggil seseorang dari luar. Aku melongo ke arah pintu. Satpam yang biasa berdiri di depan pagar.


"Ya, Pak. Ada apa, ya?"


"Emh, begini, Bu. Anak saya, dia...." ucapan pria paruh baya itu terhenti. Sejenak, aku mengernyit heran.


"Kenapa, Pak?"


"Engh, anu.... " Beliau tampak gelisah, lalu menggaruk pelipisnya. Ia juga memainkan jemarinya.


"Bilang aja, Pak. Selagi saya bisa, saya akan bantu."


"Anu, Bu. Anak saya ada kegiatan di sekolahnya, jadi saya mau minta tolong dibantu untuk make up sama pakai pakaian adatnya," jelasnya panjang lebar.


"Boleh, Pak. Bawa aja anak Bapak ke sini," ucapku setelah membuka pagar untuk mempersilakan beliau masuk.


"Masuk, Pak, Bu."


Mereka bertiga masuk dengan membawa kantong plastik yang mungkin berisi baju adat yang disewa.


"Bajunya, adat apa?" tanyaku saat gadis berpipi tirus itu sudah duduk di hadapanku.


"Adat melayu," jawabnya yang kemudian menunduk. Aku membiarkan kedua orang tuanya untuk duduk di sofa.


Pak Arbi terlihat masuk ke kamar dengan langkah cepat. Ya, dadanya terekspos sempurna. Aku turut serta, untuk mengambil alat make up seadanya.


"Pak satpam mau ngapain, Ta? Pinjam duit?" terkanya dengan suara yang amat pelan. Mungkin hanya aku yang dengar.


"Hush! Nggak boleh suudzon, Mas. Dia datang minta tolong make upin anaknya,"


"Oh." Aku menyiapkan pakaian yang akan dikenakan Pak Arbi. Ibu rumah tangga memang begitu, ya. Saat dengar kata healing, langsung moodnya berubah jadi baik.


Aku mengambil peralatan make up yang ada, menanti Pak Arbi hingga selesai berdandan. Tidak lupa kecupan di pipi, kening, juga bibir ia daratkan.


"Belum mau pergi kan, Mas?"


"Belum, sarapan aja belum, Ta."

__ADS_1


"Kok udah cium?"


"Takut di luar nggak bisa."


Aku hanya menarik garis bibir ke dalam, kami keluar bersamaan. Tiga pasang bola mata memandang kami secara serentak.


"Maaf, kalau lama."


"Nggak apa-apa, Bu." Kini aku mulai memoles wajah ayu gadis kecil ini, memang tidak begitu pandai dalam hal merias, tapi masih dikatakan bisa.


"Padahal saya bukan tukang make up loh, Pak. Kok Bapak bisa-bisanya ingat kemari."


"Pikiran saya cuma satu, Bu. Anda juga guru, jadi saya langsung aja kemari."


"Ya, tapi kan dulu, Pak. Guru matematika pula." Aku sambil menarikan kuas di sana, tidak lupa segala penunjang untuk mempercantik wajah gadis kecil ini aku sertakan.


Siap dengan merias, aku minta gadis kecil itu memakai pakaian yang ia bawa. Jelas, kebesaran. Aku mengambil peniti untuk mengakali agar pas di badan.


"Bu Ananta nggak niat kerja lagi?"


"Nggak tahu, Pak. Apalagi sekarang lagi hamil begini, agak susah."


"Saya memang nggak kasih izin untuk mengajar dulu, Pak. Saya pengen, Ananta fokus di rumah dulu," sambung Pak Arbi yang kini bergabung bersama kami.


Istri beliau terlihat hanya diam dan memperhatikan rumah kami dan interaksi yang terjadi.


"Ta, aku pergi, ya. Jaga Bijun baik-baik, ya. Kamu jangan lupa makan sama minum vitamin."


"Ya, Mas." Aku mencium takzim tangan Pak Arbi di depan semua orang.


Selanjutnya kembali sibuk dengan pakaian adat melayu yang masih harus memakaikan hiasan kepala yang di cucuk di bantalannya.


"Bu Ananta, nggak pernah ketemu Pak Satria?" tanya beliau hati-hati setelah Pak Arbi pergi jauh dari pekarangan rumah.


"Pernah, Pak. Itu pun hanya satu kali, waktu itu ibunya sakit dan panggil-panggil saya," jelasku mengatakan yang sebenarnya.


"Gimana perasaan suami ibu yang sekarang? Cemburu pasti kan?" tanya beliau lagi, aku hanya tersenyum simpul.


"Kalau saya jadi Bapak itu juga cemburu, Bu."


"Hehe, ya begitulah, Pak." Sekarang aku sudah siap mendandani sang putri. Wajah gadis imut itu berubah menjadi cantik. Lipstik yang tidak begitu terang menampakkan jati diri bocah itu agar tidak terlalu dewasa.


"Makasih, Bu Ananta," ucap mereka bersamaan. Kubalas dengan anggukan dan senyum puas. Tidak lupa memotret hasil karya pagi ini. Mengunggahnya di media sosial.


Kini, hanya aku sendiri yang tinggal di rumah minimalis ini. Pak Arbi sibuk bekerja, sedangkan aku sibuk tak menentu. Perut juga sudah mulai membuncit.


Nada dering panggilan masuk terdengar, aku terdiam sebentar saat nama Satria muncul di sana.

__ADS_1


__ADS_2