
"Angkat, jangan. Angkat, jangan," gumamku sembari menimbang. Ponselku terus berdering, apalagi yang diinginkan Satria. Kemarin sepertinya sudah jelas, dia tahu aku menikah lagi.
Cukup lama berkutat dengan pikiran, aku putuskan kembali menghubunginya. Masih didering pertama, panggilan langsung terhubung.
"Ta, kamu bisa ke sini sekarang?" Aku mengigit bibir dalam mendengar penuturannya. Mau apa dia? Apa ini berhubungan dengan ibunya?
"Ada apa, Bang?"
"Aku minta tolong, kamu datang ya, Ta."
Aku berdehem, masih nggak tahu mau harus gimana. Dari nada suaranya terlihat frustasi. Mungkin ibunya kumat lagi.
Aku menyapu nama kontak Pak Arbi, yang tertulis di sana 'My Hubby' disertai emoji gambar hati tiga buah. Perasaan aku nggak pernah ubah. Ah, terserah. Sekarang bukan saatnya memikirkan itu.
"Ya, Sayang. Kamu udah kangen? Nanti malam, dong. Atau bentar lagi, ya? Hm?"
"Ih, apa sih, Mas. Kok ngelantur."
"Ya, kamu telepon aku untuk apa coba?" Aku memutar bola mata malas. Lagi berada di mode bucin kayaknya.
"Mas, aku mau minta izin untuk ketemu sama Bang Satria. Boleh?"
"Emh, gimana ya, Ta. Tunggu bentar lagi, bisa nggak? Biar sekalian aku temenin." Aku juga bingung kalau udah begini.
Aku putuskan untuk menanti kepulangan Pak Arbi Bagaimanapun suami tetap yang utama untuk ditaati. Aku juga sudah memberikan keputusanku yang akan datang bersama Pak Arbi.
Bersyukur dia mengerti. Detik dan menit berlalu, bahkan jam juga sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh pagi. Pak Arbi biasanya pulang tengah hari.
Suara mesin mobil terdengar, aku yakin itu Pak Arbi. Aku segera menyambutnya, sebelumnya aku sudah berdandan lebih dahulu agar tidak terlalu memakan waktu.
Mengenakan dress sebatas lutut tanpa lengan. Rambut aku kepang satu dari ujung kepala hingga tengkuk. Make up tipis menjadikan sempurna penampilan yang tampak manis.
"Kamu mau ke mana?"
Aku menyatukan alis mendengar pertanyaannya. Bukannya tadi aku sudah bilang akan bertemu Satria, kok dia malah tanya lagi? Pak Arbi melangkah masuk sembari membawa tasnya.
Aku mengekor, mengikuti pergerakannya.
"Sayang, kamu mau ke mana?" tanyanya lagi yang kini ia sudah merapikan anak rambut di sekitar wajah.
"Tadi bukannya aku udah bilang ya, Mas?"
"Pakai pakaian begini?" Aku melihat diri sendiri dari mulai dada hingga ke ujung kaki. Perasaan nggak ada yang salah dengan penampilanku. Aku juga tengah hamil, jadi lebih nyaman pakai pakaian longgar.
__ADS_1
"Ganti!" perintahnya yang masih membuatku bingung.
"Kenapa, Mas?"
"Pokoknya ganti, Ta."
"Ya, aku harus tau dong alasannya." Aku bukan membantah, hanya saja repot harus ganti lagi. Aku sedang buru-buru, akan memakan waktu kalau harus mengganti pakaian lagi.
"Kenapa? Nggak mau?"
"Bukan nggak mau, Mas. Tapi...."
"Ya udah, kalau gitu nggak usah pergi."
Ya Tuhan, Pak Arbi lagi kesambet apa sih. Perasaan waktu di telepon tadi baik-baik aja. Sekarang kok malah jadi gini? Aku menarik napas panjang lalu membuka lemari.
Sibuk memilah pakaian, ujung-ujungnya juga pakai dress. Lagi hamil, kayaknya kalau memakai celana jeans sedikit sesak. Aku keluar dengan gaun di bawah lutut dengan tangan menutupi sepertiga lengan dengan pita di kedua sisi.
"Ayo, Mas," ajakku yang membuatnya menghela napas panjang lalu mengusap wajah gusar. Kali ini, apalagi yang salah?
"Kenapa, Mas?"
"Ta, kamu terlalu menggemaskan pakai baju begitu. Ah!" umpatnya seraya menggaruk kepala. Aku mengernyit, jadi dari tadi dia suruh aku ganti baju karena terlalu menggemaskan?
"Sebentar," ucapnya yang berdiri di depan lemari. Dia berkacak pinggang kemudian mengambil salah satu kemeja lengan panjang juga rok.
"Nah, ini. Ini pas untuk kamu."
Aku akhirnya memakai baju pilihannya. Kemeja lengan panjang berbahan tipis tapi tidak menerawang itu aku gulung hingga siku, lalu memakai rok warna gelap model ombre di bagian bawah. Perutku terlihat membuncit di sana.
"Udah, Mas? Pak Arbi justru mengumpat kesal, Aneh, ini orang kenapa? Dia yang pilih baju masa' dia juga yang sebel. Pengen menjitak kepalanya jadi gemas sama kelakuannya
" Ganti lagi, Ta."
"Nggak! Udah nggak ada waktu, Mas. Kamu bikin aku naik darah tau nggak, Mas!"
"Kamu terlalu imut pake itu, aku nggak rela!" gerutunya. Aku dari tadi sudah berusaha sekuat tenaga untuk nggak kepancing emosi, eh malah dia yang buat naik tensi.
"Aw!" pekiknya sembari mengusap lengan bagian atas. Aku mencubitnya kuat, kesel dari tadi diikuti malah aneh-aneh.
Berjalan menyabet kunci mobil. Pak Arbi terlihat bersungut-sungut sambil mengekor. Aku duduk di kursi penumpang sebelah sopir.
Ia mendesah panjang, melirikku. Kubalas dengan tatapan menantang.
__ADS_1
"Apa? Jalan!" perintahku yang bersedekap tangan. Pak Arbi menggaruk kepala bagian belakang yang mungkin tidak gatal.
Mobil sudah terparkir di rumah ibunya Satria. Masih sama seperti dulu. Bangunannya, suasana asrinya, bahkan pohon mangga di sudut kanan rumah masih berdiri tegak.
Di sana dulu, kami sering bercerita kala ia membawaku main ke rumah ini. Saat pacaran dulu, bermain ayunan yang terbuat dari rantai besi juga papan sebagai alas duduknya.
"Kenapa, Ta?" Pak Arbi menyadarkanku dari lamunan tempo dulu.
"Ta, maaf aku jadi ngerepotin kamu," timpal Satria yang tampak menyambut kedatangan kami. Pak Arbi mengeratkan pelukannya dk bahuku.
"Nggak kok, Bang."
"Maaf ya, Pak Guru. Anda jadi ikutan repot."
"Santai, sih. Cuma, ya saya harus selalu jagain Ananta. Soalnya dia lagi hamil," ucap Pak Arbi penuh penekanan seolah mempertegas status pernikahan kami yang tidak mudah dipisahkan.
"Oh, ya? Selamat kalau begitu." Satria mengulurkan tangan memberi selamat. Pak Arbi langsung menyambutnya.
Kami berjalan berbarengan menuju ke dalam. Kulihat ibunya Satria duduk di kursi roda, pandangannya kosong dan terlihat melamun.
"Bu, lihat siapa yang datang." Sorot matanya langsung tertuju padaku. Ada binar bahagia yang terpancar dari sana.
"Ananta," panggilnya yang merentangkan kedua tangan. Aku berhambur memeluknya. "Kamu ke mana aja. Ibu kangen sama kamu."
"Ananta nggak ke mana-mana, Bu," jawabku seraya mengelus punggungnya lembut. Perlahan dekapannya mengendur.
"Kamu kok beberapa hari ini nggak tidur di rumah?"
"Ananta sama Bang Satria kan udah...." Aku mendadak bingung. Aku meneliti semua orang yang ada di ruangan. Terutama Satria, seolah mencari jawaban darinya.
"Bu, Ananta lagi dinas di luar kota. Maklum, ya. Ananta ada study tour di sana," jawab Satria yang berbohong. Ada apa ini? Kenapa dia nggak ngomong yang sejujurnya. Bukannya ibunya juga sudah tahu kalau kami sudah bercerai.
"Ada apa ini, Bang?"
"Maaf, Ta. Aku butuh waktu untuk ceritain semuanya"
note : Novel ini ada season dua, ya.
Tenang, season duanya nggak lama, kok. Bakalan update tiap hari. stay tune, ya.
Kalau masih penasaran sama mereka, jangan lupa ikutin pokoknya.
Love sekebon para reader's 🥰🥰😍😍😘😘
__ADS_1