Rindu Terhalang

Rindu Terhalang
Nginap di Hotel


__ADS_3

"Hehe, nanti ya, Syah. Selesaikan yang di sana dulu."


"Jangan lama-lama ya, Kak."


Aku hanya tersenyum, menanggapi ucapan Aisyah. Pak Arbi kembali mendekat, mengusap bahuku sekarang.


"Udah malam. Masuk, yuk."


"Bang, aku belum selesai."


Pak Arbi menarik sudut bibirnya, tampak tidak suka dengan ucapan Aisyah yang menghalangi niatnya untuk membawa Ananta ke dalam kamar. Pak Arbi menautkan jemarinya di jariku.


"Aku tunggu di sini, ya. Sekalian temeni kamu."


"Bang, aku risih ada Abang. Pergi sana!" usir Aisyah yang membuat Pak Arbi mendelik kesal padanya.


"Aisyah, aku lebih berhak membawa Ananta. Kamu lanjuti nulisnya, cepet!"


Dengan memonyongkan bibir, Aisyah melanjutkan tulisannya yang hampir selesai. Ia menggoreskan tinta di atas bukunya.


Beberapa menit kemudian ia siap dengan tugasnya, lalu menutup buku kesal dan membuang badan tanpa pamit pada Pak Arbi. Ia hanya berterimakasih pada Ananta lalu masuk.


"Yuk, ke kamar," ucap Pak Arbi yang tidak melepaskan genggamannya. Matanya terkesan nakal dan penuh dengan rencana licik dibaliknya.


Benar saja, begitu sampai di kamar Pak Arbi menggendong tubuhku dan langsung membawa ke pembaringan. Mengukung diri ini sempurna tanpa memberikan aku waktu untuk bernapas.


"Mas, malu ih, setiap hari basah rambut terus."


"Biarin, mumpung masih hot-hotnya."


Pagi, saat azan Subuh berkumandang, aku mengerjapkan mata. Kulihat Pak Arbi sudah duduk bersila di atas sajadah. Tubuhku terasa seperti dipukuli, remuk redam kelelahan akibat perpaduan setiap malam.


"Mas," panggilku setelah kulihat ia melipat sajadah. "Kenapa nggak bangunin aku?"


Pak Arbi duduk di tepi kasur, mengusap pipiku lembut.


"Kamu pasti capek, lagian terakhir kali aku ajak salat kamu malah nggak mau."


"Hem." Aku berdehem masih setengah nyawa yang kembali, Pak Arbi mengecup dahiku sekilas.


"Bangun, yuk. Kita kan mau pergi ke kota."


Masih dengan rasa malas, tangan Pak Arbi sudah berada di punggungku untuk membantu bangkit.


"Emang di kota ada apa?"


"Banyak macam-macam, restoran juga mall kecil."

__ADS_1


Perlahan aku bangkit, Pak Arbi yang tidak sabaran langsung menggendongku dan menceburkan aku ke dalam bak besar. Di kampung tidak ada bathup.


"Argh, Mas!"


Pak Arbi justru tertawa cekikikan. Aku menyiramnya dengan segayung penuh, baju kokonya basah kuyup, ia langsung menghambur dan memelukku. Kami bermain air di sana, saling siram.


Puas dengan acara mandi, kami keluar dari kamar. Jilbab masih tetap aku kenakan selama di sini, juga stok yang kemarin Pak Arbi beli belum habis. Masih dengan fungsi yang sama, menutupi bekas gigitan. Sekarang malah bertambah, bekas warna merah di sana.


Pak Arbi kembali mencium pipi sekilas saat aku sudah selesai berpakaian lengkap. Sorot matanya penuh kebahagiaan, apalagi dengan mengenakan pakaian yang lumayan longgar dan tertutup.q


"Ta, aku pengen kamu terus pakai jilbab."


"Sabar, ya. Aku masih belum siap, saat ini aku hanya menutupi bekas kenikmatan kamu tadi malam. Nih," tunjukku yang mengangkat jilbab membuka area leher.


"Kapan buatnya?"


Aku menaikkan sudut bibir, malas menanggapi ocehannya. Jelas tidak sadar, buktinya sampe merem melek begitu tadi malam. Ah, aku pun gila mengapa harus kujabarkan.


Kami keluar dengan pakaian yang sudah rapi, duduk di meja makan untuk ikut sarapan. Aisyah sudah berangkat terlebih dahulu. Hanya ada kami bertiga, Kiyai Samad sudah pasti berada di pesantren begitu juga Aisyah.


"Kalian jadi pergi?"


"Jadi, Bu."


"Hati-hati, ya. Ibu boleh titip sesuatu?"


"Apa, Bu?" tanya Pak Arbi yang tampak menantikan kelanjutan ucapan ibu mertuaku.


"Insya Allah, Bu. Tapi, kalau aku yang disakiti gimana?"


"Kalau kamu yang disakiti, kamu masih bisa mengadu sama Ibu. Kalau Ananta? Mau mengadu sama siapa? Hayo?"


"Hem, begitu amat sama anak sendiri, Bu."


Nur hanya tersenyum menanggapi kecemburuan putranya, aku menunduk mengulum senyum. Pak Arbi mencolek ujung hidungku.


"Jangan senyum-senyum gitu, Ta. Entar aku cium kamu di depan Ibu!" ancamnya yang membuatku membulatkan mata melihatnya yang sedang mengunyah.


"Udah, kita lanjutin aja sarapannya. Mumpung kalian masih di sini, jadi suasananya rame."


Selesai sarapan, aku dan Pak Arbi langsung menuju motor yang sudah dipanaskan sejak tadi. Kami berpamitan pada Nur, ibu mertuaku. Perlengkapan berkendara sudah terpasang di tubuh kami berdua, entah itu jaket juga helm.


Aku mengeratkan pelukan di tubuh Pak Arbi, joknya yang sempit membuat kami harus berdempetan. Pak Arbi terdengar sangat senang, sesekali ia mengusap punggung tanganku.


"Malam ini kita nggak usah pulang ya, Ta."


"Nggak pulang?"

__ADS_1


"Ya, kita nginap di hotel. Gimana?"


"Terserah kamu aja."


Satu jam lebih perjalanan yang kami tempuh untuk tiba di kota. Sekitar pukul sepuluh, Pak Arbi memarkirkan motornya di salah satu mall yang tidak begitu besar.


Setelahnya, ia menautkan jemarinya di sela-sela jariku dan tersenyum manis. Kami menyusuri mall yang menjual berbagai macam pakaian di lantai dasar.


"Kamu mau ini, Ta?" tanyanya yang menunjukkan setelan model jas yang dapat dipadukan dengan hijab. Sekalian ia mengambil jilbab model pashmina dengan warna senada.


"Boleh."


"Tapi, pakai jilbab, ya."


"Mas," gerutuku yang mendelik padanya.


"Bercanda," ucapnya yang mengusap pucuk kepalaku. "Tapi, kalau kamu mau, aku lebih senang."


"Mas, please. Aku belum siap."


"Oke," ucapnya yang mendekat lalu mengendus ujung rambutku. Kami membeli beberapa pasang pakaian. Lalu menikmati berjalan sambil bergandengan tangan menyusuri setiap lantai mall yang hanya terdiri dari empat tingkat.


"Nonton, yuk, Ta."


"Hah?"


"Film itu," tunjuknya dari poster yang ada di eskalator. Para pemainnya komika terkenal di Indonesia, yang jelas saja itu film komedi yang akan mengocok perut. 'Ngeri-Ngeri Sedap' itu judul yang tertera di sana.


"Aku tahu, kami hobi nonton. Waktu sama Bu Afifah, aku lihat kamu," bisiknya yang membuatku langsung menoleh ke arahnya. Sorot mataku meminta penjelasan darinya.


"Ma-maksud kamu? Jangan bilang kamu ada di sana juga?"


Pak Arbi menarik bibir tipisnya, lalu mengangguk lemah. "Aku juga tahu apa yang kamu lakuin di bawah sana," sambungnya yang membuatku semakin tidak percaya.


"Dengan Tama?"


"Ya," jawabnya datar. Pandangannya lurus, ada cemburu di kalimatnya.


"Aku kok nggak lihat kamu?"


"Kamu udah lihat," jawabnya sekenanya tapi pegangan tangannya mengerat di jemariku.


"Jangan bilang kamu yang duduk pake topi? Bukannya kamu ada di baris ke tiga di atas kami?"


"Aku pindah, duduk tepat di depanmu."


Aku menarik napas dalam-dalam dan panjang. Aku merasa sangat malu, kelakuanku yang dulu justru tertangkap basah oleh Pak Arbi.

__ADS_1


"Kamu tahu semua itu, dan ... masih mau bersamaku?"


Pak Arbi kini menatap mataku lekat, banyak cinta yang terpancar dari sana. Bahkan, Satria saja tidak pernah menatapku begitu sejak pertama pacaran hingga bercerai.


__ADS_2