
Kami pulang ke rumah Pak Arbi. Besok ia akan kembali beraktivitas seperti biasa. Memang, ini awal yang baru bagi kami berdua. Tugasku saat ini hanya mengurus keperluannya, terbesit ingin mengajar les matematika di rumah untuk mengisi kekosongan waktu.
Rumah sederhana yang akan menjadi tempat kami saling mencurahkan perasaan. Namun, mungkin akan bolak-balik. Mengingat rumah yang diberikan Satria untukku.
Sesampai di rumah Pak Arbi, ia bergelayut manja. Bukannya menyiapkan materi untuk besok mengajar.
"Kamu nggak siapkan materi untuk besok mengajar, Mas?"
"Sebentar lagi. Aku masih pengen manja sama kamu."
"Nggak bosen-bosen sih, Mas."
"Kamu udah bosen, ya?"
"Nggak, cuma susah bergerak."
Pak Arbi melepaskan kedua tangannya yang sejak tadi melingkarkan tangannya di pinggangku. Suara ketukan pintu terdengar, kami menoleh ke arah daun pintu kayu itu.
"Siapa?" tanyaku penuh telisik, ku lirik jam di dinding sudah pukul sembilan malam.
"Nggak tahu. Sebentar, ya, Ta."
Aku melongok dari jauh, melihat siapa yang datang. Wanita seumuran denganku datang membawa sesuatu di atas piring. Entah apa itu, terlihat jelas dari sini.
"Pak Arbi, Ibu suruh saya antar ini untuk Anda," ucapnya yang kemudian memandang Pak Arbi tanpa berkedip. Itu pasti salah satu fans Pak Arbi, mungkin itu yang dibilang Pak Arbi tempo hari, anak gadis tetangga sebelah.
"Makasih, Put. Sampaikan salam saya untuk Ibu kamu."
"Ya, Pak. Piringnya, Pak," ucap gadis itu yang menunjuk benda yang sudah dipegang Pak Arbi. Mungkin maksudnya, ia minta disuruh masuk oleh Pak Arbi agar bisa berlama-lama dengannya.
"Sayang," panggil Pak Arbi yang membuatku gugup, juga jadi salah tingkah. Gadis itu melirik penuh telisik sebelum aku akhirnya melangkah mendekati mereka berdua.
"Ya, Mas."
"Ini, kamu simpan, ya. Disalin, piringnya mau dibawa balik sama Putri."
"Ya, Mas," ucapku yang mengambil piring itu dari tangan Pak Arbi. Pak Arbi tampak menyuruhnya untuk masuk.
Gadis cantik berambut lurus itu terus saja memandangku, aku curi-curi pandang padanya.
__ADS_1
"Itu siapa, Pak?" tanya Putri yang tampak terkejut akan kehadiranku.
"Istri saya," jawab Pak Arbi santai.
"Istri?" tanya Putri lagi, ia sepertinya masih kurang yakin dengan yang didengarnya barusan.
"Ya, saya menikah di kampung. Tempat orang tua saya," lanjut Pak Arbi yang terlihat Putri sudah berwajah masam. Aku paham dengan situasinya sekarang, Putri salah satu penggemar Pak Arbi.
Sama dengan Indah dan kawan-kawan yang terpesona akan ketampanan Pak Arbi. Aku saja sempat tergoda olehnya. Hanya menahan diri mengingat status istri yang sudah kusandang.
Suasana mendadak hening, mata Putri tampak berkaca-kaca. Sepertinya itu cinta bertepuk sebelah tangan. Aku berdiri di samping Pak Arbi, menyapu lembut bahunya.
"Put, kenalin dia Ananta." Putri mengangguk pelan, tidak menerima uluran tanganku. Raut wajah kecewa terlihat jelas di sana. Bibirnya tampak bergetar seperti menahan tangis.
"Saya pulang dulu, Pak," ucapnya yang terus menundukkan pandangan. Setelah keluar dari rumah, ia tampak mengusap pipinya. Mungkin, bulir bening yang sejak tadi ia tahan jatuh perlahan.
"Mas, aku malu kamu panggil aku begitu di hadapan orang."
"Aku sengaja, Sayang. Aku nggak mau gadis itu berharap banyak denganku. Apalagi ibunya yang terlalu baik dan terus menjodohkan kami."
"Kenapa kamu nggak mau? Kamu lebih pantas sama dia," ucapku yang duduk di sisi kursi sebelah kiri. Pak Arbi membawaku ke pangkuannya.
"Ck! Gombalnya keseringan!" ucapku yang kemudian bangkit. Pak Arbi justru menggelitik perutku hingga aku tertawa geli dan terbahak-bahak.
***
Pagi, Pak Arbi bersiap akan berangkat. Aku sudah menyiapkan segala sesuatunya, sama seperti yang kulakukan dulu pada Satria. Itu caraku memanjakan dan menjaga suami agar tidak berpindah ke lain hati. Namun, Satria dulu buta untuk berterimakasih padaku.
"Makasih, Sayang," ucap Pak Arbi yang masih mengenakan handuk sebatas lutut. Ia mengecup keningku lembut.
"Selesai pake baju, sarapan ya, Mas."
"Oke, sarapan kamu? Boleh?"
Aku melipat tangan di depan dada, menggerakkan jari telunjuk naik turun. Pak Arbi tampak mengerutkan dahinya.
"Kenapa? Ada yang salah sama kata-kataku?"
"Enggak, tapi aku untuk dinner kamu aja, ya." Pak Arbi terkekeh. "Biar waktunya lebih panjang, dan lebih enak dinikmati saat lagi santai," bisikku nakal.
__ADS_1
"Ah, Sayang. Aku jadi nggak mau berangkat kerja!" teriaknya yang sudah aku tinggal menuju dapur. Menyiapkan sarapan juga bekal makan siang untuknya.
Pak Arbi keluar dengan pakaian yang sudah rapi juga tampan. Ia duduk di kursi meja makan yang ada dua bangku di sana.
"Ta, kalau Bu Afifah memaksa untuk mengundang guru-guru yang lain, gimana?"
"Terserah kamu, Mas."
"Kamu nggak keberatan?"
"Enggak, keputusan kamu, apa pun itu, aku ikut, ya."
"Makasih, Ta."
Sarapan berdua dengan pembicaraan santai menjadi impianku sejak lama. Bukan yang buru-buru akan selesai dan sibuk dengan rutinitas masing-masing.
Pak Arbi pergi, hanya ada aku sendirian di rumah ini. Lingkungan yang masih terasa asing, membuatku enggan bertemu banyak orang. Jika tidak dengan Pak Arbi, aku malas untuk keluar.
Aku membersihkan rumah dan mengurus segala isinya. Menghindari rasa bosan, kadang menonton televisi atau membuat kesibukan dengan memasak camilan.
Notifikasi pesan masuk di gawaiku. Entah siapa itu, malas untuk menanggapinya. Tidak henti-hentinya nada dering di ponsel berbunyi.
Akhirnya kubuka juga, banyak sekali hinaan dan cacian yang terlontar di sana. Aku paham, jika itu para penggemar Pak Arbi yang tidak terima dengan statusku yang menikahi guru idola mereka.
Indah juga ikut mengirim pesan lewat aplikasi hijau.
"Bu, meski saya marah pada Anda. Tapi, saya harap Anda bisa menjaga Pak Arbi. Tolong, jangan sakiti dia."
Aku hanya membacanya saja, tidak ingin berkomentar apa pun. Aku sudah pernah dibenci dan dihujat hingga kehilangan pekerjaan. Jadi, jika hanya cacian mereka yang tidak terima aku menikahi guru idolanya, itu hal yang biasa untukku.
Panggilan masuk dari Pak Arbi, aku menyapu layar mengangkat panggilannya.
"Ya, Mas."
"Sayang." Terdengar suara ricuh, aku melirik jam pukul sembilan lewat. Ya, ini waktunya para siswa istirahat. "Sayang, mereka semua mengejarku. Mereka memaksa ingin bertemu kamu. Mereka nggak terima aku...."
Panggilannya terputus, aku yakin saat ini Pak Arbi menjadi bulan-bulanan siswinya. Aku tahu bagaimana ekstremnya mereka. Aku saja yang di rumah menjadi bahan bullyan.
"Ta, kamu menikah lagi tanpa mengundangku?" Pesan itu masuk, nama Tama tertera di sana. Lelaki ini, kenapa masih saja mengusik kehidupanku yang damai tanpanya. Dia juga sudah bahagia dengan anak dan istrinya. Atau jangan-jangan, ia juga bercerai?
__ADS_1